My First Love

My First Love
Berdua dengan David.



"David, bangun!! Gimana koper aku, kamu jangan enak-enakkan berbaring santai di sini." ucap Alana, menarik tangan David yang berbaring di sofa ruang tamu, sembari menatap ponselnya, yang sebenarnya sudah kembali, tapi dia sengaja berbohong pada Alana agar dia tidak terlalu memaksanya. Entah kenapa dia ingin Alana tetap tinggal bersama dengan dirinya meski hanya sebentar saja.


"Cepat bangun!!" Alana menarik-narik tangan David, dan.


Brukkk...


Tubuh David jatuh ke lantai, membuat laki-laki itu menggeram kesal, ia menatap tajam ke arah Alana, "Apa yang kamu lakukan?" ucap David kesal, bernajak berdiri mendekatkan wajahnya ke arah Alana.


"Aku sudah dengar apa yang kamu inginkan, tapi ingat, aku tidak akan membantu kamu jika kamu terus menerua menagnggu aku. Biarkan aku tenang dulu sekarang." ucap David, mendorong bahu Alana hingga terjatuh duduk di sofa, hembusan napasnya semakin cepat, tubuhmya seketika gemetar menatap takut jika David akan mententuhnya. Entah kenapa di pikirannta terbayang hal aneh dengan David.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya David, memegang dagu Alana, dengan badan sedikit menunduk.


"Apa kamu memikirkan aku?" Vino mendekatkan wajahnya semakin dekat, membuat hembusan napasnya slaing beradu dalam dekat, Alana yang merasa gugup, ia memalingkan pandangannya berlawanan arah dengan David.


"Jauhkan wajah kamu dariku;" ucap Alana tanpa menatap ke arah David.


"Oke!!" David melepaskan dagu Alana, mulai berdiri sempurna, dengan pandangan mata memutar malas, lalu duduk di sebelah Alana. "Kenapa kamu selalu menghindar saat aku ingin menatap dekat mata kamu, sedangkan jika dengan kakak kamu sendiri, kamu selalu menikmati setiap berdua dengannya, saling romantis, kecupan, pelukan, dan masih banyak lagi." ucap David, mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Alana. "Dan aku tahu, jika kamu sudah tidak Virgin," bisik David.


Alana yang tekejut langsung mendorong tubuh David menjauh darinya, dan beranjak berdiri. "Apa yang kamu ucapkan, jangan ikut campur urusan aku. Itu urusan aku dengan kakak aku. Jadi jangan pernah ikut campur, pa yang aku lakukan dengannya itu juga terserah aku. Dan sekarang aku mau kamu ambil koper aku krmbali, aku gak punya banyak waktu untuk tetap tinggal di sini. Aku ingin segera cari ibu aku!!" ucap Alana menggebu, meluapkan semua iai dalam hatinya, rasa sakit hati terhadap ucapannya David membuatnya semakin kesal dengannya.


"Ingat, jangan pernah lagi menemui aku, sebelum kamu dapatkan koper aku. Aku gak mau lihat wajah kamu lagi," umpat kesal Alana. Ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan David sendiri, beranjak menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Tunggu!!" panggil David, menghentikan langkah Alana.


"Aku akan bantu kamu cari ibu kamu besok, tapi kamu cepat mandi. Setelah itu temui aku di kamar aku, ada hal yang ingin aku katakan padamu," ucap David, mulai merasa bersalah dengan apa yang sudah ia katakan padanya tadi.


Alana hanya diam, lalu melanjutkan langkahnya lagi berjalan menuju ke kamarnya, menutup rapat kamarnya, dan mulai menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Kenapa semuanya jadi seperti ini, aku ingin sekali marah padanya. Apalagi dengan Joy, kenapa dia membiarkan semua berpikir buruk tentang hubungannya." ucap Alana, menatap atap langit. Merentangkan ke dua tangannya ke samping, lalu memejamkan matanya, ia mulai terbayang wajah Joy yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


"Kak Joy!! Kenapa aku tiba-tiba mengingat dia, lagian sekarang kakak aku pasti sebentar lagi akan bertunangan dengan Amera, an mereka pasti akan menjadi pasangan romantis. Sementara aku dan dia hanya sebatas kakak dan adik yang tidak akan pernah bersatu Kita saudara selamanya, tidak akan pernah jadi pasangan." gumam Alana, mulai membuka matanya, pandangan mata coklat madu, di depannya, membuat ia terkejut, seketika ia meloncat dari ranjangnya, sedikit mundur ke belakang. "Apa yang kamu lakukan di sini? Gimana kamu bisa masuk ke kamar aku?" tanya Alana, menarik selimut laku menutup tubuhnya.


"Tenang saja, aku tidak tertarik dengan tubuh kamu. Aku hanya ingin melihat kenapa kamu tiba-tiba marah padaku? Padahal tadi aku bilang kenyataan, dan sekarang kamu pasti lagi mikirin kakak kamu, kan?" tanya David, duduk dengan ke dua kaki di tekuk dan menyangga tubuhnya, menatap wajah Alana yang mulai panik melihatnya.


"Apa kamu ingin pergi sekarang?" tanya David, duduk di ranjang.


"Pergi kamana? Bukannya kamu akan menunggu aku di kamar kamu, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini. Dan bersiap untuk pergi mencari ibu aku." Alana mendorong punggung David menjauh dari ranjangnya.


David tak beranjak dari ranjangnya, ia membaringkan tubuhnya di ranjang Alana. Mengedipkan mata menggoda ke arah Alana.


"Aku ingin di sini sebentar!! Apa kamu mau menemani aku?"


"Jaga mulut kamu!!"


"Memangnya mulut aku kenapa?" tanya David.


"Makanya jadi wanita jangan selalu berpikir jorok tentang laki-laki, aku hanya ingin kamu berbaring di sampingku, tidak lebih. Dan aku tidak akan menyentuh kamu." jelas David, mendongakkan kepalanya menatap Alana di belakangnya, ia mencoba meraih kaki Alana, lalu menariknya hingga berbaring di sampingnya.


"Aw---"


"Sakit tahu," ucap Alana.


"Diamlah!!" David memegang tangan kanan Alana menggenggamnya sangat erat.


"Sekarang tutuplah mata kamu, rasakan semua yang ada di pikiran kamu. Perlahan kamu buang jauh-jauh hal buruk yang pernah terjadi. Jangan pikirkan orang yang selama ini menyakiti kamu." ucap David, tanpa menatap ke arah Alana.


Alana terdiam, memandang ke arah David yang sudah memejamkan matanya.


Sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia begitu perduli dengan aku sekarang. Tapi dia selalu bikin aku kesal, aku tidak akan tergoda olehnya. Mungkin ini trik dia untuk bisa dekat dengan wanita. Aku harus pergi sekarang.


Alan yang dari tadi terus menggerutu, ia mencoba melepaskan tangannya, dan beranjak pergi. Namun, David semakin mengenggamnya erat, mencegahnya untuk pergi dari sisinya. "Jangan pergi, cepat lakukan apa yang aku katakan yadi. Percayalah, aku tidak akan menyentuh kamu sama sekali. Aku hanya bantu kamu melupakan orang yang telah menyakiti kamu," ucap David, yang masih memejamkan matanya.


Alana mulai tertarik dengan ucapannya, ia menatap wajah David, lalu berbaring kembali di sampingnya, dan memejamkan matanya. "Bagus!! Sekarang perlahan ingat semua kenangan yang paling menyakitkan dari dia, lalu perlahan kamu ingat orang lain yang kini mulai mengisi hati kamu, entah itu ibu atau orang yang dekat dengan kamu!!"


Alan mengikuti semua apa yang di katakan David mengingat semua yang di lakukan joy padanya, termasuk hal yang paling menyakitkan, membuatnya semakin benci padanya. Dan semakin muak terus mengingat kejadian yang sudah lalu itu, hatinya semakin terluka di buatnya. Namun rasa luka itu tiba-tiba terbayang engan seorang laki-laki yang selalu mengganggunya, menganggu setiap hari-hatinya, bahkan laki-laki itu kini semakin dekat dengannya.


David membuka matanya, melepaskan tangan Alana yang sudah terlihat berkeringat, tubuhnya mulai berkeringat, dengan raut wajah sudah berubah menahan emosi dalam dirinya. "Sepertinya dia lagi kesal dengan seseorang," ucap David, menatap wajah Alana, mengusap keringat yang terus menetes di keningnya.


"Dia sangat cantik!! Tapi entah kenapa aku baru melihat kecantikan dia sekarang. Entah dulu aku buta tak melihat sisi baik dari dirinya," gumam David, menyentuh wajah Alana, mengusapnya perlahan agar Alana tidak tersadar dari tidur ta sementara.


"Aku akan pergi, dan kamu semoga bis melihat apa yang sebenarnya yang kamu lakukan terus mengingat orang yang telah menyakiti kamu itu salah. Ada orang yang selaku ada buat kamu, selaku memberi semangat kamu. Semoga kamu bisa mengerti itu. Kasihan pacar kamu yang sudah tulus menyukai kamu," bisik David, lalu beranjak pergi meninggalkan Alana yang masih menekankan matanya, puluh keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya.


"Jangan pergi, Miko!!" teriak Alana, mengangkat tangan kirinya, beranjak duduk dengan napas berpacu sangat cepat. "Apa tadi hanya mimpi?" gumam Alana, mengusap wajahnya, lalu merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya.


"Benar, aku sudah salah. Aku sudah punya pacar. Tapi kenapa aku malah menyakiti, Miko. Aku menganggap dia hanya sebagai pelarian cinta aku. Aku gak bisa terus seperti ini padanya, aku akan bilang pada Miko, jika aku tidak suka dengannya. Aku gak mau terus membohongi perasaannya." ucap Alana, mencoba mengatur napasnya sejenak, laku beranjak berdiri, meraih handuk, berjalan menuju ke kamar mandi, membasuh tubuhnya yang terasa kengket, ia masih belum sadar jika David sudah tidak ada di sampingnya.


"Apa kamu tidak ingin pergi dari sini?" tanya Alana pada dirinya sendiri, sembari menatap cermin di depannya.


"Oya, kenapa aku baru ibgat, jika tadi ada janji d3ngan David, tadi David di sini, sekarang di mana dia, kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja, tanpa perdulikan aku!!".


"Husaatt... apa yang aku katakan tadi, kenapa juga dia harus perdulikan aku. Sekarang aku cari dia, dia sudah janji akan membantu aku mencari ibu aku. Lebih cepat lebih baik aku bertemu dengan mereka. Aku gak akan pernah meninggalkan dia lagi sekarang. Aku ingin tinggal bersama dengan ibu aku, nanti!" gumam Alana penuh semanagat, ia bergegas pergi dari kamarnya menuju ke kamar David, yang dari tadi laki-laki itu juga sudah menunggunya sangat lama. Bahkan sudah berdandan sangat rapi dengan gayanya yang memang simpel tapi terlihat sangat tampan.


"Kamu sudah siap?" tanya Alana, berjalan masuk ke dalam kamar David.


"Kamu sangat cantik!!" ucap David lirih, tak hentinya ia memandang wajah Alana.


"Apa?" tanya Alana mengernyitkan wajahnya.


"Eh. gak lupain saja!!" ucap David gugup.


"Ya, sudah cepat kita pergi," Alan membalikkan badannya, langkahnya terhenti saat sebuah tangan memegang pergelangan tangannya erat, lalu menariknya membuat tubuh mungilnya berbalik, menempel dalam dekapan David.


Laki-laki itu memegang pinggang Alana, menatap detail wajahnya sangat dekat, ia melihat ada bulu mata jatuh di jantung mata kirinya. "Diamlah!!" ucap david mendekatkan wajahnya, membuat detak jantung Alana berdetak sangat cepat. Tubuhnya mulai grogi di buatnya.


"Apa yang kamu lakukan!!" Alan mendorong tubuh David menjauh darinya.


"Aku hanya ambil ini," David menegang tangan Alana, membuka telapak tangannya, meletakkan bulu mata yang rontok tepat di tengah telapak tangan kirinya, dan beranjak pergi meninggalkan Alana yang masih diam bengong menatap tangannya.


"Aku di tunggu kamu di luar!!" ucap David.


Alana menatap David yang sudah berjalan menjauh, seketika ia langsung berlari mengikuti David dan berjalan di belakangnya.


"Maaf!!" ucap Alana jemari tangannya saling beroegangan, tepat di depannya. Menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.


"Maaf untuk apa?" tanya David, tanpa menghentikan langkahnya, bahkan tidak menatap sama sekali wajah Alan di belakangnya.


"Aku sudah curiga padamu tadi," lanjutnya.


"Sudah biasa aku di curigai, gak pernah di percaya." jawab David, yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Kamu naik mobil sispa?" tanya Alana bingung.


"Mobil aku!! Cepat naik, aku akan ceritakan nanti," gumam David, yang mulai menyalakan mesin mobilnya, dan Alana langsung naik di jok depan samping David.


David dengan sigap memakaikan sabuk pengaman Alana, wanita itu terus menatap setiap gerak-gerik David yang semakin hari membuat dia kagum. dia laki-laki yang sangat misterius gak bisa di tebak sifat aslinya gimana. Setiap hari selalu berubah tak pasti.


"Kamu tahu di mana alamat ibu kamu?" tanya Davin, menjalankan mobilnya menjauh dari halaman rumahnya.


Alana hanya menggelengkan kepalanya. Ia baru ingat jika dia tidak tahu di mana ibunya tinggal, bahkan dia lupa tidak menanyakan siapa nama ibunya pada papanya. Hanya bermodal foto ia harus mencari ibunya sekarang.


"Gimana kamu bisa cari ibu kamu jika kamu tidak tahu nama ibu kamu siapa dan alamatnya di mana. Sekarang kuta cari dia di Mana. Apa kita harus berkeliling benua Australia?" umpat kesal David.


"Tapi kamu mau bantu akun, kan!! Sekarang jika tidak dapat bantuan kamu, uang aku pasti habis buat muter-muter cari ibu aku untuk menyewa mobil atau naik bus berkali-kali buat keliling.


David menghela napasnya kesal. "Baiklah!! Sekarang kamu duduk sempurna, diam dan nikmati, lihat setiap jalan di samping. Ada ibu kamu atau tidak. Dan kamu harus hapal gimana wajah ibu kamu di foto yang kamu bawa itu," jelas David.


Alana menatap setiap detail wajah ibunya di dalam foto itu. Mengikuti lukisan wajah ibunya, menyimpannya dalam memori oataknya. "Sudah!!" ucap Alana, menatap wajah Devid sembari tersenyum tipis.


"Makasih!!" ucap Alana.


"Gak usah ucapkan terima kasih segala. Kita belum bertemu ibu jamu," ucap David, memegang pahanya, mengusapnya lembut, mencoba menenangkan Alana.


Gadis itu menatap wajah David, "Kenapa kamu menatapku seperi itu, apa kamu mengijinkan aku menyentuh kamu sepeti ini?" tanya David menggoda, semakin mengusap pahanya sedikit ke atas, membuat rom pendek ai atas lutut milik ya sedikit menyingkap.


Plaaakkk...


Alana memukul tangan David, sontak membuat laki-laki itu menarik tangannya dari paha Alana.


"Jangan kurang ajar, kamu!!" ancam Alana, menunjukan telunjuk tangannya ke wajah David.


"Tadi kamu diam saja, kenapa kamu sekarang melawan aku. Apa kamu baru sadar?" goda David.


"Lebih baim sekarang kamu fokus mengemudi." gumam Alana kesal.


."Dan, gimana bisa kamu dapatkan kunci mobil kamu kembali?" tanya Alana memastikan. Ia ingat jika David pernah cerita jika kunci mobilnya di bawa oleh papanya, tapi kenapa sekarang ada di tangannya kembali.


"Aku mengambilnya di kamar papa aku. Hanya untuk menemani kamu mencari ibu kamu. Aku sudah janji padamu, jadi aku tidak akan mengingkarinya. Bukan laki-laki sejati jika dia suka ingkar janji," ucap David, semakin membuat Alana kagum, di balik sifat mesumnya, dia punya sisi baik yang berbeda dari laki-laki alin. Meski dia tak sama dengan joy yang selalu membuat dia kesal tapi semakin membuat dia semakin rindu.