My First Love

My First Love
59. Tunangan



"gak masalah kok ibu winda, saya hanya senang melakukan nya.", jawab ivan santai namun senyuman nya selalu saja menghiasi wajah imut lelaki tampan itu


kedua nya kini memasuki restoran ternama di kota jakarta itu sambil jalan ber iringan


setelah sampai pada sebuah meja khusus, pelayan datang dengan membawakan daftar menu makan dan kedua nya pun memesan makan juga minum untuk para tamu yang akan segera hadir.


ivan mengambil tablet pada tas nya lalu menggerakan jarir nya membuka file yang telah di kirimkan merri melalui surel pada nya.


sedangkan dian terlihat menundukan kepala mya tak tau harus melakukan apa, seban ia baru kali pertama mengikuti pertemuan seperti saat ini, ia sebenar nya ingin sekali bertanya pada ivan apa yang akan ia lakukan? namun di urungkan kembali niat nya.


ivan yang menyadari kehawatiran winda pun akhir nya bersuara


"ada apa bu winda??", pertanyaan ivan mengagetkan nya.


"ah yah pak, maaf sebelum nya, saya belum pernah mengikuti meeting di luar dengan atasan saya seperti ini, saya sedikit gugup dan saya bingung harus melakukan apa nanti nya", winda pun akhir nya berhasil mengungkap kan kehawatiran nya pada sang atasan


"oh kamu tak usah hawatir ibu winda, kamu cukup menulis apa saja yang penting dan inti dari pembicaraan kami, saya pun juga akan menulis nanti nya, setelah selesai meeting nya baru kita cocokan lagi apa yang penting dari hasil nya", ivan menjelaskan dan sambil memberikan agenda juga pena pada winda.


Winda menganggukan kepala nya beberapa kali tanda bahwa ia mengerti dengan penjelasan ivan saat ini


setekah 30 menit berlalu akhir nya yang di tunggu pun tiba


"selamat siang pak ivan, maaf membuat anda menunggu terlalu lama", kata orang itu pada ivan sambil membungkukan badan nya dan juga di balas oleh ivan juga winda.


meeting akhirnya berjalan dengan baik dan berakhir pada pukul 15:00 sore


"oh ia pak ivan, ngomong-ngomong wanita di samping anda ini sangat cantik, apa kamu sudah mempunyai calon atau sudah berkeluarga?", tanya lelaki muda itu pada winda.


deg deg deg


jantung ivan berpacu sangat cepat mendengarkan pertnayaan orang itu pada winda.


sedangkan winda hanya bisa menampilkan wajah semu merah nya saja, saat winda ingin menjawab nya, refleks ivan menggenggam tangan winda diatas meja dan menatap lembut pada nya mengisaratkan agar winda tak usah menjawab nya


"maaf pak, dia calon tunangan saya", kata ivan yang membuat seketika jantung winda berpacu sangat kencang seakan baru saja habis berlomba lari maraton


"ohh maaf pak ivan, saya pikir masih singel, hehehe maaf yah", kata lelaki itu lalu melirik winda lagi merasa bahwa ivan sendang membohonginnya.


"ia baik pak", jawab ivan


"kalau begitu, kapan anda berencana untuk menggelarkan acara tunangan nya pak?", pertanyaan memancing orang itu akhir nya membuat otak ivan berputar mencari cela agar keluar dari topik yang sedang ia hadapi


namun bukan ivan nama nya jika tidak mempunyai banyak akal yang masuk akal


ivan membalikan tubuh nya pada winda dan berpura-pura untuk bertanya lagi,


"beb apa aku harus membocorkan rahasia tanggal nya saja?", ivan bertanyab pada winda


"apa?? beb?? wah teduh baget tatapan nya", batin dian sebelum akhir nya ia menjawab dengan menggelengkan kepala nya sambil tersenyum lembut pada ivan


"baiklah beb", jawab ivan kalu berkata pada lelaki itu,


lelaki di depan nya yg merupakan teman bisnis baru yang sebentar lagi akan menjalankan kerjasama dengan perusahan milik keluarga pak albert itu terus saja menyunggingkan senyum sambil sesekali melirik ke arah winda.


winda pun yang merasa risih dengan lirikan lelaki asing di depan mata nya menoleh ke arah ivan dan ternyata lelaki itu peka dengan apa yang dirasakan winda, ia lalu menggenggam jemari winda dengan sangat cepat lalu menautkan jemari nya dengan jemari mungil wanita yang berada di samping kiri nya itu seolah memberikan sumber kekuatan agar winda tidak gugup.


winda bukan nya merasa risih namun ia merasa nyaman berada dalam genggaman ivan. winda pun tersenyum seakan mengucapkan kata terimakasih pada ivan.


"ahh kenapa dengan jantung ku, dan kenapa aku nyaman menggenggam jemari gadis ini. meski diluar sana begitu banyak wanita yang telah aku jumpai bahkan aku pacari, tak satupun seperti genggaman gadis ini. kulit nya sangat lembut dan terawat.


Tuhan... jika dia jodoh ku, tolong dekatkan lah, namun jika tidak, tolong lebih dekatkanlah... aku mohon.. gadis ciptaan mu ini sangat sempurna di mata ku.", batin ivan bermonolog


"pak ivan, apa saya boleh berbicara dengan pak alvin besok di kantor?", kata rekan bisnis nya itu.


ivan mengerutkan kening nya lalu ia menyadari maksud dari permintaan rekan bisnis baru keluarga nya itu.


"emm boleh saja pak, tapi kemungkinan bos akan cuti dalam dua bulan ini, jika anda berkenan maka bertemulah saat ia kembali nanti", timpal ivan membohongi


"apa? cuti? kenapa harus cuti pak?", tanya lelaki itu penasaran karena sejujur nya ia pun belum tau jika alvin mempunyai istri yang tidak kalah cantik nya dari winda.


"ia pak bur", jawab ivan dan ternyata lelaki itu bernama pak burhan yang singkat dengan pak bur


"tapi kenapa pak harus cuti, apa beliau sakit?", pak bur tetap kekeh bertanya karena penasaran


"nanti anda akan tau sendiri pak, tidak baik jika saya memberitahukan nya pada anda, bukan kah sudah ada undangan di kantor anda sejak kemarin?", jawab ivan lalu bertanya kembali pada lelaki didepan nya itu perihal undangan yang sudah ia kirimkan sejak kemarin.


"ohh yah benar pak, saya lupa jika undangan itu untuk nanti malam, saya akan menghadiri acara itu, apa anda pergi bersama dengan tunangan anda ini?", kata lelaki itu lalu bertanya lagi pada ivan tentang nanti malam akan membawa winda atau tidak


" oh ia tentu dong pak!! dia kan calon istri saya, jadi kemanapun saya pergi, maka dia akan selalu mengikuti", jawab ivan percaya diri tanpa memperdulikan perasaan winda seperti apa


"heheheh baiklah pak, kalau begitu kita sudahi saja dulu pertemuan kita kali ini yah, sampai ketemu nanti di tempat acara tuan anda, kalau begitu saya permisi pak", lelaki itu akhir nya pergi dari hadapan winda dan juga ivan.


ivan masih saja menggenggam jemari winda sedangkan winda sudah mulai risih dengan genggaman yang semakin erat saja itu.


"pak apa bisa lepaskan tangan saya?", suara winda merintih kesakitan membuat ivan akhir nya menyadari apa yang sedang terjadi pada wanita pujaan hati nya itu.


.


.


.


hay guys maaf yah baru upp lagi, soal nya author sibuk banget belakangan ini. banyak yang harus di kerjakan


tapi jangan lupa yah memberikan vote pada novel ku. dan semoga pandemi cepat berlalu yah, tetap jaga stamina tubuh dan lindungi diri anda dengan terapkan 3 M (mencuci tangan , menjaga jarak dan memakai masker dimanapun kalian berada) happy malming 🤭💚🖤


buat yang lagi jomblo, sabar yooo 🍂


terimakasih. god bless 😇