
Joy seketika terbelalak, melihat pemandangan indah di depannya, namun ia mencoba berpegang teguh pada pendiriannya, untuk tetap setiap pada Alana, tidak menyentuh wanita lain selain Alana. Ia kini, berusaha untuk mencoba menghilangkan pikiran kotornya.
"Kenapa kamu pakai gaun seperti ini," ucap Joy, menatap aneh pada Amerta, gaun-nya sangat indah, dan apa dengan tubuhnya. Tapi kekurangan bahan, hingga terlihat punggung belakangnya, yang mulus dan putih. Sepertinya memang sengaja Amera memakai gaun seperti itu.
"Cantik gak?" tanya Amera, mendekatkan tubuhnya, terlihat bentuk dada Amera, yang memang beda dari wanita seumuran biasanya, karena memang sedikit berisi, hingga menyundul keluar dari gaunya.
Merasa tak ada jawaban dari pacarnya itu. Amera, langsung menarik tangan Joy masuk ke dalam kamar Cia, seketika matanya terbelalak melihat apa yang di lakukan Cia dam Amerta itu. Sebuah hiasan kamar penuh dengan foto dia dengan Amerta, di hiasi dengan, kemelip lampu yang indah, dam lampu remang membuat suasana semakin berbeda. "I love you, Joy" ucap Alana, mengecup pipi kiri Joy.
Joy melihat sebuah tulisan I love you, di tembok depannya, dengan menggunakan rumput hijau dari bahan plastik, di hiasi kemerlip lampu pinggirnya.
"Ini kamu yang buat?" tanya Joy, mematap ke arah Amerta.
Amerta hanya menangguhkan kepalanya kecil. Dengan senyum manis terukir di bibirnya. "Gimana kamu suka gak?" tanya Amerta, memegang lengan Joy, sedikit menggoyangkan tangannya. "Tadi aku seharian mengerjakan ini. Dan tadi waktu Cia pulang sekolah, dia membantu aku juga," gumam Amerta, mengedipkan matanya menggoda.
"Kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Joy datar. Membuat Amerta, menarik senyumnya, membuat ekspresi wajahnya berubah seketika.
"Kamu gak suka?" tanya Amerta, menundukkan wajahnya sedih.
Melihat Amerta seperti itu, Joy tidak tega, ia memegang pipi Amerta. "Aku suka, tapi harusnya jangan kamu yang melakukan ini. Biarkan aku saja." ucap Joy, membuat ekspresi wajah Amerta berubah, ia mengembangkan bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis di wajahnya.
"Aku ingin kamu berada di sisiku selamanya," ucap Amerta, memeluk tubuh Joy, membuat Joy menerima pelukan Amerta, mengusap punggungnya, mulus milik Amerta.
"Apa kamu sudah tahu tentang rencana orang tua kita, yang akan di umumkan besok," ucap Amerta, menatap wajah Joy, yang memang tinggi mereka sama.Hanya lebih beberapa senti saja.
"Aku sudah tahu," ucap Joy, duduk di ranjang milik Cia.
"Apa jawaban kamu, apa kamu akan menolaknya?" tanya Amera semakin penasaran, ia duduk di samping Joy.
"Aku gak tahu, aku masih belum ingin menikah. Aku ingin fokus dengan kuliahku lebih dulu." ucap Joy, menatap ke arah Amerta.
Merasa tahu jawaban apa yang akan di berikan Joy, Amerta menjatuhkan tubuh Joy, mengecup bibir Joy, meski tanpa balasan darinya.
Amera, apa yang kamu lakukan?" tanya Joy, memegang ke dua bahu Amera, menjauh darinya.
"Kenapa kamu gak mau, menciumku. Sedangkan kamu mencium adik kamu sendiri penuh gairah," decak kesal Amera. Mengungkapkan apa yang pernah ia lihat juga, dan tadi, saat memanggil Joy, ia tak sengaja melihat Alana ada di sana, bercanda mesra bersama. membuat hatinya semakin terpukul.
Amerta, tak kuasa membendung air mata di mata indahnya. Hingga, ia meneteskan air matanya. "Kamu pacar aku sekarang, meski baru satu hari. Tapi setidaknya. aku ingin kamu menganggap aku, tapi kamu pualng sekolah juga tidak perduliin aku," jelas Amerta.
Hikss.. Hikss..
Joy, memegang bahu Amerta. "Jangan seperti ini, bukanya aku gak mau menerimamu. Aku masih belum memutuskan untuk pernikahan, kita masih muda, masa depan kita masih panjang. Dan jangan seperti ini lagi," ucap Joy, mencoba keyakinkan Amerta.
Jemari tangan Joy, mengusap lembut air mata di pipi Amerta, "Sudah jangan nangis lagi ya," ucap Joy, seakan memberikan semnagat baru bagi Amerta.
"Tapi, apa kamu gak suka denganku?" tanya Amerta
"Aku suka dnegan kamu, tapi semua juga butuh waktu untuk memperdalamnya," Meski berbohong, ia tidak bisa melakukan cara lain, lagi.
"Terus kenapa kamu dengan Alana sangat mesra,"
"Dia adik aku, dan hubungan kita juga hak akan lebih dari itu."
"Kalau memang seperti itu, buktikan!!"
"Buktiin gimana?"
"Cium aku!!"
Joy, melebarkan matanya, ia penuh ragu melakukan hal itu. Tapi demi membuktikan pada Amera, ia tidak mau membuat dia curiga, ia memang ingin melupakan Alana, dengan cara mendekati Amera, karena hanya dia yang mencintainya tulus.
Joy menarik napasnya, memegang ke dua pipi Amera, lalu mengecup bibirnya lembut, beberapa detik. kecupan sebentar, yang tidak bisa di anggap sebagai ciuman itu, membaut Amera merasa kesal.
Amera menyingkap gaun mininya, membuat mata Joy melebar, melihat apa yang ada di baliknya. Namun ia mencoba menjegah pikiran kotor itu, lalu mamalingkan pandangannya. Amera, menarik rahanhnya agar menatap ke arahnya. dia memamg sengaja menggoda Joy, untuk menyentuh dan menggodanya.
Amera memegang tangan Joy, meletakkan di atas pahanya, sembari seikit mengusap pahanya sendiri dengan tangan Joy.
"Apa yang kamu lakukan Amera, apa kamu sudah gila?"
"Aku gila karena kamu Joy, Aku sudah lama menyukai kamu. Tapi kamu tidak membalasnya sama sekali. dan kecupan yang kamu berikan tidak sama seperti waktu kamu mencium Alana. Kamu taju, akus ering kirim pesan padamu, kamu tidak pernah menggubrisnya, tetapi aku tetap berupaya menghubungi kamu, tapi tetap saja, usaha aku sia-sia. Saat ini adalah kesempatan aku, untuk dekat denganmu." ucap Amera, dengan nada kesalnya. Meluapkan isi perasaan dalam hatinya.
Ia naik ke atas pangkuan Joy, membuat laki-laki itu semakin terkejut. Ia ingin mendorongnya, tapi dirinya tidak mau kasar dengan wanita, seperti bukan dirinya, jika menyakiti hati wanita dan kasar dengannya, hal itu yang membuat dia tidak bisa menyakiti Amera, meninggalkan dia begitu saja.
Dengan Amerta, mengecup bibir Joy, menjatuhkan tubuhnya lagi, dengan posisi di atas tubuh Joy, ia semakin ******* dalam, membuat Joy yang sebagai laki-laki biasa, tidak mungkin tidak tertarik, ia membalikkan tubuh Amera, menerima kecupannya semakin dalam, dengan tangan menyelinap di balik gaun mininya, yang memang sudah menyingkap, terlihat jelas dalaman Amera.
Amera semakin bergairah dengan sentuhan Joy, hingga kecupan Joy, semakin turun ke baha, menciumi lehernya, dan turun ke bawah, menurunkan gaunya sedikit, yang sepertinya memang Amera sengaja tidak memakai bra untuk menggoda Joy.
Apa yang di lakukan Joy, seakan kehilangan kesadaran, akibat kecupan menggoda Amera, yang sangat panas. Dengan sentuhan jemarinya yang menggoda, membuatnya juga tergoda.
Ia mengecup dada Amera, menghisapnya, membuat erangan semakin keras.
"Joy! Makasih," ucap Amera, memegang kepala Joy. Semakin menekannya di balik belahan dadanya. Membuat Joy semakin menikamati, perlahan menururnkan dalaman Amera. Permainan jemari Joy, membuat Amera semakin mengeliat, mencengram erat, sprei kamar Cia.
"Kamu masih Virgin?" gumam Joy.
"Iya, aku mau melepasnya untukmu, Joy." ucap Amera, sembari terus mendesah.
"Sakit ya," ucap Joy.
Amera hanya mengangguk kepalanya pelan. Mengigit bibir bawahnya.
"Kak Joy, apa kamu di dalam" ucap Alana, yang tiba-tiba langsung membuka pintu kamar Cia, yang memang sepertinya Amera lupa untuk menguncinya. Langkahnya terhenti dengan mata, menatap kejadian yang tak seharusnya ia lihat.
"Shiiitt.." umpat Amera.
Joy yang masih pada posisinya, dengan tangan masih memainkan inti Amera.
"Emm.. Joy.." ucap Amera, melirik ke arah Alana. Dnegan senyum senis menatapnya.
Alana, kamu bisa lihat, Joy sangat menikmatinya. Aku yakin dengan ini, kamu akan pergi jauh dari kehidupan Joy. Dan tidak akan mengganggunya lagi.
"Kak, Joy!!" ucap Alana lirih. Dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, ia menggelengkan kepalanya, menutup mulutnya rapat, ia masih tidak percaya, kak Joy yang ia kenal baik, ternayat laki-laki mesum.
mendengar suara yang familiar di telingannya itu, Joy menoleh, menatap Alana sudah meneteskan air matanya. Ia seketika melompat dari ranjang, membiarkan Amera. Masih terlentang di atas ranjang.
melihat Alana sudah berdiri di depan pintu, dengan tatapan terkejutnya, dengan tatapan matanya, masih melihat Amera sudah tanpa helaian kain yang menutupi tubuhnya.
"Kalian sama-sama gak tahu malu. Dan sangat menjijikkan, coc9k jika kalian menikah," umpat kesal Alana, mencoba untuk tersenyum. menyeka air matanya.
"Alana!!" Joy, merasa bersalah dengan Alana.
"Apa yang kalian lakukan, itu. Benar-benar jijik melihatnya, apalagi denganmu kak!" pekik Alana, meneteskan air matanya semakin deras.
"Alana aku bisa jelaskan," Joy mencoba mendekati Alana, namun tangan Amera, mencegahnya pergi. Ia masih menujukan tubuhnya, sembari perlahan menutupi dengan selimut.
"Joy, kita belum selesai," ucap Amera, penuh nada manjanya, menarik tangan Joy mendekat ke arahnya, membuat Alana semakin marah, ia beranjak pergi, menghentakkan kakinya, membalikkan badannya dan menutup pintunya kasar.
Brakkk...
Alan bergegas masuk ke dalam kamarnya, dengan tangisan semakin menjadi. Ia mengunci rapat pintu kamarnya, dan pintu balkon kamar, ia menutup semua kelambu kamarnya. Agar Joy tidak bisa masuk seenaknya ke kamarnya lagi.
"Hikksss.. Hiksss.."
Alana terus menangis, ia menjatuhkan tubuhnya, ke ranjang miliknya, tidur tengkurap, menutupi wajahnya.
"Kak Joy, aku sudah jijik melihatmu. Aku kira kamu baik, ternyata kamu sama saja, dengan laki-laki hidung belang, di luaran sana." decak kesal Alana, memukul ranjangnya, dengan wajah ia tenggelamkan pada bantalnya.
"Setelah apa yang di dapatkan dari aku, ekarang dia menggoda wanita lain."
"DASAR MENJIJIKKAN!!" teriak Alana, di balik bantal miliknya
-------
"Dasar wanita ******!!" umpat kesal Joy, menepis tangan Joy kasar.
"Jika aku ******, kenapa kamu mau denganku, dan kenapa tadi kamu melakukan itu, aku tahu jika kamu pasti nafsu melihatku." umpat kesal Amera, beranjak berdiri, memeluk tubuh Joy dari belakang.
"Sekarang Cia gak ada, dia menginap di rumah teman perempuannya. Jadi kita bisa berdua di sini." ucap Amera, semakin mempererat pelukannya.
"Pakailah bajumu, aku ada urusan sekarang," ucap Joy, melepaskan pelukan Amera, di tangannya.
"Gak mau!! Temani aku," ucap Amera.
Joy melepaskan tangan Amera, membalikkan badannya, memegang ke dua pipi Amera, mencoba berbicara lembut padanya.
"Aku gak bisa Amera, kita belum menikah. Dan maaf soal tadi, aku khilaf. Aku gak akan mengulanginya lagi. Dan sekarang kamu pakailah bajumu," ucap Joy, mengambilkan baju gaun Amera tergeletak di ranjang, mengulurkan padanya, tanpa menatap ke arahnya.
Alana hanya diam, tak menggubris ucapan Joy.
"Pakailah!! Jangan jadi perempuan murahan, jangan jual harga diri kamu hanya untuk mendapatkan cinta." pesan Joy, sok bijak.
Amera, memeluk tubuh Joy. "Apa kamu mau menikahiki nantinya?" tanya Amera.
Joy berdengus kesal, tubuh Amera masih melekat di tubuhnya, membuat ia semakin risih. Ia tidak mau terjadi lagi seperti tadi.
"Aku akan menikahi kamu kelak nanti, tapi tidak sekarang. Aku masih ingin menyelesaikan kuliahku," ucap Joy, melepaskan pelukan Amera. dan bwrnajak pergi.
"Aku harap kamu akan selalu mengingat kejadian malam ini, agar kamu tidak berpaling lagi dariku. Aku gak mau kamu terus menyimpan cinta pada asik kamu sendiri," umpat Amera, membuat alngkah Joy terhenti sejenak, lalu melanjutkan kembali langkahnya, membuka pintu kamar Amera, lalu menurupnya kembali.
"Amera seketika lemas, ia duduk di ranjang, mengingat kejadian tadi, yang membuat ia tidak akan pernah lupa.
kamu pernah membaut aku mendesah. Sampai kapanpun aku akn mengajarmu Joy, ku tidak akan biarkan kamu bersama dengan Alana maupun dekat dengannya. Aku akan memisahkan kalian, bagaimanapun caranya, kamu harus jadi milikku Joy. Tidak ada yang boleh memilikimu.
Amera beranjak berdiri, berjalan menuju ke kamar mandi, merendam tubuhnya yang terasa basah, puluh keringat, bermanja dengan Joy. Hampir 30 menit, ia segera mengangmbil baju di kopernya, selesai memakai baju kembali yang jauh lebih tertutup. Ia berniat menemui orang tua Joy.
------
Joy, yang sudah berada di dalam kamarnya, ia duduk di ranjang. Memegang ke dua kepalanya, yang terasa sangat penat.
"Aku telah menyakiti wanita. Dan kenapa semua ini terjadi. Aku hanya ingin melupakanmu Alan. Tapi kenapa aku malah menyakitimu, tapi jika aku meninggalkan Amera begitu saja. Dia pasti akan tambah marah denganku. " decak kesal Joy, meratapi semua yang terjadi.