My First Love

My First Love
Over



"Maaf" ucap Miko, ia terlihat Malu kali ini, bahkan tangannya tadi tak sengaja begitu nakalnya memegang bibir Alana.


Raut wajah Alana juga mulai memerah di buatnya, mereka saling tersipu malu satu sama lain. Baru kali ini Alana merasakan suatu hal yang belum ia rasakan. Namun ia berusaha menyangkal pikiran tentang itu. Ia tidak mau jatuh cinta lebih dulu, sebelum apa yang ia inginkan tercapai.


Ia ingin jadi dokter Ahli bertaraf internasional. Makanya ia di usianya yang masih belia baru 15 tahun, Ia mencoba belajar buku tentang ke dokteran dari berbagai ahli, yang mudah hingga level tersulit. Dan itu mampu ia pahami begitu mudahnya tanpa ada kendala dan masalah satu-pun.


"Kamu mau kamana lagi habis ini?" Tanya Miko, mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Langsung pulang saja" Ucap Alana, wajahnya kini datar kembali. Namun itu tak membuat Miko geram, ia segera menyalakan kameranya dan mencoba mengabadikan moment di wajah datarnya itu.


"Jangan foto aku" Ucap Alana, ia merasa sangat malu saat di foto, Ia segera menjauhkan kamera itu menjauh dari wajahnya, dengan telapak tangannya.


"Baiklah" Miko beranjak berdiri, ia mengulurkan tangannya ke arah Alana.


Alana menatap tangan Miko, ia sebenarnya tahu apa maksud Miko mengulurkan tangannya. Tanpa bertanya, ia segera menerima uluran tangan Miko, dan berdiri.


Alana bergegas memakai helm, dan naik ke montor Miko. Ya, seperti biasa tanpa suntai kata keluar dari mulutnya. Sepertinya dia mulai pendiam lagi kali ini.


Miko tak bertanya lebih, Saat mood Alana sedang tidak baik, ia bergegas menarik gas montornya, dan segera mengantarkan Alana pulang ke rumahnya.


Sampai di rumah Alana, tepat di sana Joy berdiri mondar-mandir seperti sedang bingung menunggu seseorang.


Alana segera turun dan beranjak masuk ke dalam rumahnya, ia tak mau melihat keributan yang di timbulkan kakaknya nanti. Tanpa mengucap terima kasih pada Miko, Ia langsung masuk ke dalam rumah.


Tatapan Joy mengarah tajam pada Miko, "kamu bawa kemana dia sampai larut malam begini" Tanya Joy menarik kerah Miko.


Miko menepis tangan Joy dari kerahnya, "Emang apa urusanmu" Ucap Miko dengan nada menantang, ia segera menarik gasnya menjauh dari Joy.


Alana menatap Miko dari balik Balkon kamarnya. Ia melihat mereka saling bertengkar karena masalah sepele.


Joy, manatap kesal ke arah Miko pergi, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Dengan perasaan kesal, bahkan ia tak perdulikan keluarganya yang duduk santai di ruang keluarga. Ia beranjak menaiki tangga menuju ke kamar Alana.


Tok..tok..


"Alana!! Apa kamu di dalam" panggil Joy di luar kamar Alana.


Alana hanya diam, dan membuka pintu kamarnya. "Ada apa kak?" Tanya Alana, memasang wajah datar tanpa ekpresi lagi.


"Kenapa kamu pulang sama Miko tadi, dari mana saja kamu?" Tanya Joy dengan perasaan kesalnya.


"Kenapa kakak Marah, itu bukan urusan kak Joy" Alana menutup pintunya kasar, ia tidak suka kakaknya terlalu over padanya. Bahkan hanya masalah pulang saja dia marah.


Joy terdiam, melihat Alana pertama kalinya marah dengannya. Bahkan ia menutup pintunya sangat kasar, membuat keluarga yang asik bercengkrama di dalam ruang keluarga seketika terkejut.


"Ada apa dengan Joy dan Alana, apa mereka bertengkar lagi" Gumam neneknya, pada Cia.


"Gak tau nek, mungkin dia sensi saja" Ucap Cia mencoba mengelak. Ia sebenarnya tahu jika Joy pasti marah dengan Miko.


Namun tak mungkin Cia bsrcerita dengan keluarganya.


"Ya, sudah biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka"Ucap Alvin. Ia melirik ke arah keyla di sampingnya.


"Syang, kamu mau gak keluar sama anak-anak. Lagian kan kita juga jarang liburan kan" ucap Alvin memegang tangan istrinya itu.


"Tergantung anak-anak mau gak keluar, memangnya kita mau kemana?" Tanya Keyla pada suaminya.


Alvin bersandar di pundak istrinya yang lagi sibuk dengan tenunan yang ia bikin. Entah buwat siapa ia menenun sebuah baju.


"Kita ke luar negeri" Ucap Alvin, ia tak sungkan dengan anaknya Cia dan mertuanya. Dan Joy beranjak turun menemui mereka.


"Joy!!" Ucap Keyla, ia beranjak berdiri mendekati anaknya itu.


Namun Joy sekaan tak perdulikan ibunya, ia berjalan mendekati papanya.


"Pa!! Alana tahun ini kan sudah lulus bareng sama kita, dia mau kuliah di mana?" Tanya Joy pada Alvin.


Alvin terlihat bingung tiba-tiba anaknya tanya tentang Alana. Ia juga bingung mau jawab gimana, Alana saja tidak pernah bilang padanya mau kuliah di mana. Bahkan ia juga tak cerita mana fakultas yang ia minati.


"Kenapa papa dia saja?" tanya Joy , berdiri di depan Alvin.


"Duduklah dulu" Ucap Alvin menarik tangan anaknya itu.


Joy segera duduk disamping Alvin. "Soal Alana ia tak pernah cerita pada kita, dimana ia akan melanjutkan sekolahnya. Tapi bukannya dia dapat beasiswa kan di Ansterdam. Tapi terserah keputusannya dia gimana" gumam Alvin.


Joy merasa belum puas dapat jawaban dari ayahnya. Lagian ia juga bingung mau kuliah di mana nantinya. Kalau Alana di luar negeri. Maka dia juga ikut dengannya kemanapun dia pergi, Joy merasa ingin sekali menjaganya kapanpun dan dimanapun.


"Ya, sudah" Ucap Joy pasrah. Mungkin jika ada kesempatan berbicara dengan Alana ia ingin tanya dimana ia ingin meneruskan sekolahnya.


"Oya Joy. Kamu mau liburan kemana tahun ini saat liburan sekolah" tanya Keyla, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Terserah kalian" Ucap Joy. Ia beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Sepertinya Joy juga terlihat sangat kesal, tapi kenapa dia selalu tanya tentang Alana" Gumam Keyla, melirik ke arah Alvin.


Alvin menatap keyla, seraya ia tahu apa yang ada dalam pikiran keyla saat ini. Dan Cia sibuk dengan kakek dan neneknya. Mereka bercanda tanpa perhatikan obrolan orang tuanya dengan Joy tadi.


Alana berdiam diri di kamarnya, ia merasa gak ingin membaca kali ini. Hampir semua buku sudah ia baca, ia lupa belum sempat mampir ke toko buku untuk membeli beberapa buku lagi.


Alana berjalan menuju balkon kamarnya, ia menatap Joy, merenung sendiri di atas belkon kamarnya, tepat bersebelahan dengan kamar Alana. Ia yang masih merasa kesal tak perdulikan Joy melamun sendiri. Alana beranjak masuk kembali dan mulai membaringkan tubuhnya.


Tiba-tiba ia teringat buku yang di belikan Joy tadi, ia segera beranjak dari ranjangnya dan membuka tas sekolah di meja belajarnya. Ia mengambil buku kedokteran yang ada di tasnya. Masih tersampul rapi dengan balutan plastik putih, menandakan masih tersegel, dan belum terbuka.


Ia membalik buku itu, menemukan sebuah tulisan di sana dengan spidol permanent di balik plastik.


"Semangat belajarnya, kakak berharap kamu bisa mencapai apa yang kamu inginkan nanti. Maaf kakak terlalu over padamu. Karena kakak sangat sayang denganmu sebagai adik. Kamu jangan pernah salah paham dengan kakak" Di balik secarik tulisan di plastik.


"Kakak memang selalu baik denganku, tapi kebaikannya terlalu over, membuatku merasa risih dan gak suka" Gumam Alana. Ia segera membaca sekilas buku itu.


"Benar ini buku yang aku cari, bagaimana cara mengatasi penyakit langka" Gumam Alana, melemparkan tubuhnya ke ranjang miliknya. Ia segera membaca setiap lembar demi lembar buku itu. Hingga tak sadar, ia membaca hingga larut malam, dan tertidur pulas dengan buku, menutupi wajahnya.