My First Love

My First Love
Hubungan Alvin Dan Silvia semakin jauh



David membantu Alana untuk mencari ibunya entah di mana sekarang. Bahkan kini dia rela untuk berkeliling kota, sampai larut malam.


Sedangkan Alvin masih berada di kapal bersama dengan Silvia, ia masih merenungi apa yang sudah terjadi. Sejak kemarin, dia terus datang ke tempat yang sama, bahkan sekarang dia menyewa kapal sampai satu hari penuh untuk bisa berduaan lagi dengan Silvia, ia ingin melihat gimana Silvia padanya Apa dia perduli dengannya atau tidak. Selama ini tinggal di rumahnya, dia sangat perduli dengannya, selalu menyiapkan makanan di kamarnya, dan menyiapkan teh hangat untuknya setiap pagi. Perhatian kecil itu membuat Alvin mulai tersentuh hatinya.


----


"Silvia!!" panggil Alvin, berjalan mendekati Silvia hang berdiri si sampingnya memandang lautan yang gelap, dengan gemerlap lampu malam yang bagitu indah.


"Ada apa?" tanya Silvia, menoleh menatap Alvin.


"Makasih kamu sudah menemani aku, apa aku boleh bilang sesuatu padamu?" tanya Alvin memastikan.


"Memangnya kamu mau bilang apa?" tanya Silvia, perlahan ia mulai mencoba mereda amarahnya, ia tidak mau membuat suasana semakin kacau, Silvia sadar jika hari Alvin sedang kacau sekarang dia butuh ketenangan. Sampai wanita itu rela menunggu Alvin berada di kapal tepat di tengah laut sembari menatap pemandangan jembatan yang membentang di depannya.


Alvin memegang ke dia tangan Silvia, mengusap punggung tangannya lembut. "Apakah kamu mau menikah dengan aku, saat aku nanti resmi berpisah dnegan istri aku. Aku ingin kamu bisa menjadi ayah yang baik untuk anak aku Alana. Selama ini aku tidak pernah ada waktu buat dia."


"Tapi..." Silvia menutup mulutnya, saat telunjuk tangan Alvin menutup mulutnya.


"Aku tidak mau di tolak. Aku sudah bulat, memutuskan ini, aku akan menikahi kamu. Saat aku resmi bercerai dengannya. Dan aku ingin tinggal di Inggris bersama dengan kamu dan Alana, kita akan mulai hidup baru bersama di sana." ucap Alvin, jemari tangannya mengusap wajah Silvia yang tak hentinya terus menatapnya, wanita itu terkejut melihat apa yang sudah di katakan Alvin, sebuah keputusan yang membuat dia bingung harus menjawab apa, tidak ada sama sekali perasaan terhadapnya. Dan sia hanya masa laku yang pernah menyakiti, dan Alana juga bukan anak kandungnya. Dia adalah anak dari kakak sepupunya yang dulu meninggal dunia karena kecelakaan. Demi mendapatkan fasilitas yang baik untuk anaknya, dia harus bilang pada Alvin jika dia itu adalan anak kandung Alvin.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mau menikah dengan aku. Aku janji akan jadi laki-laki yang baik buat kamu. Dan aku yakin kamu wanita yang baik, aku juga dulu saat bekerja dengan kamu, tidak pernah sama sekali kamu dekat dengan laki-laki, dan kamu selaku cerita padaku jika kamu tidak pernah pacaran sama sekali." ucap Alvin.


"Memang aku tidak pernah pacaran sama sekali." ucap Silvia menundukkan kepalanya.


"Sekarang kamu jadi pacar aku, dan kita akan menikah secepatnya." jelas Alvin.


"Aku tidak mau pernikahan hanya untuk membuat kamu agar bisa melupakan istri yang kamu cintai, aku tahu kamu sangat mencintai dia, gak akan begitu mudah hati kamu berpaling darinya. Dan kamu hanya menjadikan aku pelampiasan kamu saja," Silvia melepaskan pegangan tangan Alvin, lalu membalikkan badanya, membelakanginya.


Alvin memeluk tubuh Silvia dari belakang, melingkarkan semakin erat tangannya di pinggang wanita itu. "Aku serius, aku janji padamu akan mencintai kamu sama seperti aku pernah mencintai istri aku dulu. Aku mohon padamu, hanya kamu yang bisa membantu aku."


"Lepaskan pelukanmu, pak Alvin!!"


"Aku tidak akan melepaskan pelukan ini, aku tidak mau kamu pergi. Kamu jawab dulu pertanyaanku, setelah itu aku akan lepaskan." jelas Alvin, menyandarkan dagunya di pundak kanan Silvia.


Apa aku harus menerima tawaran Alvin. Tapi apa aku tidak semakin menghancurkan hubungan mereka. Tapi setelah kejadian malam itu, aku tidak bisa lupa sampai sekarang. Bahkan sampai aku tidak menikah dengan laki-laki lain, hanya karena kejadian malam yang tak pernah terlupakan, di mana saat dia merenggut kesucianku!!


"Gimana? Apa kamu sudah ada jawaban?" tanya Alvin, membalikkan badan Silvia, megang dagunya, laku mendongakkan kepalanya sedikit agar ia bisa menatap ke dua matanya. "Iya aku mau!!" ucap Silvia lirih, dan langsung pelukan erat mendarat di tubuhnya.


"Apa kamu yakin dengan jawab kamu. Aku tidak ingin kamu menyesal nantinya. Tapi aku janji tidak akan membuat kamu menyesal," ucap Alvin, melepaskan pelukannya, memegang ke dua bahu Silvia, laku mengecup bibirnya lembut.


Silvia hanya datar, ia membuka matanya lebar, saat merasakan bibir Alvin menyentuh bibirnya, tubuhnya terasa ada aliran listrik yang mengalir, masuk ke dalam hantungnya, ia hanya diam tak membalas kecupan Alvin, tetapi Alvin semakin mengecupnya dalam, memeluk tubuh Silvia mengusap punggungnya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Alvin, menghentikan kecupannya.


"Aku gak bisa!!" jawab Silvia datar.


Alvin memegang tangan Silvia, menariknya masuk ke dalam kapal kecil, di sebuah raungan khusus di dalam yang lengkap dengan sofa dan perlengkapan lainya. "Kenapa kamu bawa aku ke dalam?" tanya Silvia hang mulai sadar jika Alvin akan bertindak melecehkannya lagi.


"Aku tidak akan membuat kamu sakit lagi sekarang. Surat cerai aku sudah aku serahkan pada Keyla. Dan sekarang aku akan jadi milik kamu!!" ucap Alvin, melanjutkan kecupannya, menjatuhkan tubuh Silvia di sofa dengan posisi duduk. Alvin membuka kancing celana wanita itu, memasukan jemarinya di sela dalaman milik wanita di depannya itu. Membuat Silvia seketika menggeliat merasakan jemari tangan laki-laki itu bermain miliknya, tanpa sadar ia membaringkan tubuhnya di sofa, melepaskan kecupan Alvin, wanita itu hanya diam menikmati sentuhan jari calon suaminya.


"Apa kamu merasa enak?" tanya Alvin, yang melupakan hasratnya yang sempat terpendam. Sudah lama hampir 13 hari ia tidak berhubungan dengan istrinya, entah kenapa ia ingin melakukannya lagi. Tubuhnya butuh seseorang yang membelainya lagi.


"Pak Alvin!!" ucap Silvia, merasakan miliknya yang semakin lama semakin basah di buatnya


"Emmpp... Sentuhan pertamanya, baru kali ini ia merasakan nikmatnya di sentuh laki-laki, membuatnya tak ingin dia melepaskannya. Sudah puluhan tahu dia sendiri. Tanpa di sentuh sama sekali oleh laki-laki.


Alvin mengecup kembali bibir Silvia penuh gairah, dan langsung mendapatkan balasan dari wanita itu, mereka saling memeluk mengusap punggung bergantian. Dan Alvin melepaskan semua helaian kain yang menutupi tubuh Silvia.


"Maafkan aku, aku butuh tubuh kamu untuk memuaskan hasratku!!" ucap Alvin, dalam hatinya, ia mulai menelusuri setiap tubuh silvia dengan bibirmya, membuat wanita itu mengerang nikmat, miliknya semakin keluar lava semakin banyak,


"Kamu basah?" tanya Alvin.


"Silvia hanya tersenyum menganggukkan kepalanya, "Emmmpp .. "Silvia memegang kepala Alvin, menarik rambutnya, merasakan dadanya yang di hisap olehnya.


"Apa ia menatap tubuhnya di balik bermain di sampingnya, terlihat jelas tubuhnya tanpa helaian lain yang menutupi, dan begitu gilanya Alvin menjelajahi tubuhnya dengan tangan dan bibirnya, hingga bibirnya mengecup miliknya, semakin membuat dia gak henti terus mendesah, semakin kuat.


"Panggil namaku Syang!!" ucap Alvin, dengan ke dua tangannya memegang dada Silvia.


dan bibir menikmati daerah inti Silvia yang terlihat udah rapat kembali, seakan belum pernah ada yang memasukkannya lagi selain dia 16 tahun yang lalu.


Apa yang aku lakukan, ini gak boleh terjadi, dia sudah punya keluarga. Aku tidak boleh seperti ini Aku tidak boleh!! seperti ini, aku baru mengakhiri ini.


Silvia bernajak duduk, membaut Alvin mmmemghentikan mainya, "Kamu kenapa?" tanya Alvin, mendekatkan tubuhnya, dan langsung Silvia mendorong tubuh Alvin, menjauh darinya, ia menutup tubuhnya dengan bantal kecil di sofa, "Jangan teruskan!!" ucap Silvia.


"Memangnya kenapa?" tanya Alvin, mencoba mendekati Silvia lagi, dan dia terus menarik tubuhnya mundur.


"Kamus sudah basah syang!! Apa kamu gak ingin meneruskannya. Lagian aku akan menikahi kamu."


"Tapi ini gak boleh terjadi!! Gak boleh!!" Silvia menggelengkan kepalanta, dan. Tes.. Air mata tiba-tiba jatuh di pipi Silvia.


Alvin mengusap air mata yang membasahi pipi calon istrinya itu. "Jangan nangis, jika kamu tidak mau aku gak masalah. Tapi apa kamu yakin, aku gak mau kamu tersiksa nantinya, aku yakin setelah ini kamu akan menginginkannya lgi. Karena tadi melihat kamu mendesah nikmat saja, kamu terlihat sangat mrnikmati," ucap Alvin, memegang pipi Silvia.


"Tapi kamu sudah berkeluarga. Dan kamu juga sudah punya dua anak yang sudah dewasa, jika mereka tahu semua tentang ini. Dia pasti akan marah padamu. dan akan membenci kamu nantinya."


"Mereka tidak tahu, hanya kita yang tahu. Dan di sini jauh dari mata-mata nantinya. Jadi tidak akan ada yang tahu." jawab Alvin mencoba menyakinkan Silvia, perlahan ia mengambil bantal yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Jangan mendekat!!" ucap Silvia, beranjak berdiri, dan segera mengambil pakaiannya di lantai.


"Kamu kenapa menjauh dariku?" tanya Alvin, mendekati Silvia, memeluknya dari belakang, membuat benda keras miliknya menempel di punggung Silvia.


"Kamu merasakan itu, apa kamu tega membiarkannya,"


"Maksud kamu?" tanya Silvia, merasa sangat gugup merasakan benda keras itu menempel di punggungnya.


"Tolong jangan seperti ini, menjauhlah dariku," ucap Silvia mencoba menolak.


Tangan Alvin memegang daerah inti Silvia yang masih terlihat sangat basah.


"Mau tahu kamu menginginkannya. Lihatlah, kamu semakin basah!!" ucap Alvin, tepat di telinga kirinya.


Alvin memegang dada Silvia dari belakang, "Jangan pergi!!" ucap Alvin lirih, sembari mengecup leher belakang Silvia, semakin membuatnya bergairah, merasa sudah terbius dengan ucapannya, Alvin menjatuhkan tubuh Silvia di sofa, dan mulai melakukan hubungan tanpa penolakan lagi darinya.


Silvia berteriak kesakitan, mencengkeram punggung Alvin. Ujung jarinya, mencakar punggung Alvin, menikmati hentakan Alvin yang semakin menjadi. Hampir beberapa jam Mereka larut dalam irama yang sekarang hingga ketiduran bersama, dengan posisi sama, Silvia berbaring di atas tubuh Alvin di atas sofa..