
Alvin mencoba untuk berbicara lagi dengan Keyla saat ini. Ia tidak ingin hubungannya, dengan istrinya hancur gara-gara seorang yang membuat ia benar-benar hancur. Ia harus bisa ambil hati Keyla lagi. Dan tidak ingin jika Keyla akan meninggalkanya kemudian hari.
Alvin mengusap lembut rambut Keyla. Memanjakan istrinya yang lagi cembeut dari tadi.
"Syang!!" sapa Alvin.
"Iya ada apa?" tanya Keyla tanpa menatap ke arahnya. Ia fokus dengan tv di depannya.
"Jangan marah lagi ya!!" ucap Alvin.
"Siapa juga yang marah. Aku gak marah kok" gumam keyla tanpa ekspresi di wajahnya.
"Oya, Syang!! Bentar lagi kita akan pulang ke landon. Aku mau kemu jangan marah jika aku mengambil keputusan, yang mungkin akan mengejutkanmu" ucap Alvin, duduk bersandar di sofa samping istrinya.
"Keputusan apa?" keyla menatap ke arahnya. Dengan pandangan bingung, dengan apa yang di katakan suaminya.
"Sebuah keputusan yang mungkin akan menyakitkan bagi kita. Dan tapi kamu janji harus terima semua keputusan aku" ucap Alvin.
"Iya, asalkan kamu tidak dengan wanita lain" ucap Keyla jutek. Wajah yang semula sangat antusias, kini berubah sangat jutek dengannya.
"Alana akan tinggal dengan ibu kandungnya? Dan aku memutuskan ibu kandungnya kerja di kantor aku dengan suaminya. Dan aku harap kamu menerima keputusanku, ini juga untuk kamu, agar kamu bisa bersama dengan Alana. Tapi yang jadi masalah orang tuanya masih belum tahu, menerima tawaran aku atau tidak." ucap Alvin, menundukkan kepalanya. Wajahnya sangat takut jika Alana pergi meninggalkannya. Keluarga dia juga tidak akan lengkap jika tanpa Alana.
"Apa? Kenapa kamu ambil keputusan seperti itu? Apa kamu gak mikirin perasaan aku?" tanya Keyla, memukul dada bidang suaminya itu, air mata mulai pecah di mata bulatnya. Ia tak bisa menahan air mata yang semakin penuh. Amarahnya semakin menjadi. Dengan gumpalan emosi yang ada di dalam hatinya.
"Syang, maaf!! Aku gak bermaksud juga buat kamu marah. Tapi ini lebih baik." ucap Alvin, mengusap air mata Keyla lembut.
"Maaf, harusnya kamu pikirkan lerasaan aku dan anak kita, gimana kalau mereka tahu jika Alana bukan anak kandung kita?" tanya Keyla dengan nada tingginya.
"Alana adaalh pengganti anak aku yang sudah meninggal dulu. Dan itu semua juga gara-gara kamu. Tapi aku mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik. Meski hanya anak angkat aku bangga dengannya."
Alvin terdiam, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini sudah perjanjian dari awal. Selama masa kuliah Alana tinggal dengan ibu kandungnya. Dan akan kembali atau tidak setelah di lepas kuliah itu juga sudah keputusannya. Ia juga tidak mau memaksa keputusan anaknya itu.
"Kenapa kamu diam?" tanya Keyla dengan nada meninggi.
"Kamarin aku beri tahu kamu jika itu perjanjian aku. Tapi aku menyembut jika dalam perjanjian mereka akan tinggal bersama." ucap Alvin menjelaskan.
Keyla menarik napasnya dalam-dalam. Dengan terpaksa ia harus meng-iyakan apa yang di katakan Alvin.
"Baiklah, tapi setelah itu Alana tinggal dengan kita lagi. Aku gak mau jauh darinya. Jika memang dia tinggal dengan ibunya. Harus berada di dekat kita. Jangan pergi ke luar kota, maupun ke luar negeri." ucap Keyla, menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Iya, tapi sekarang biarkan dia tinggal dengan kita. setelah itu tersetah dia yang memutuskan"
Keyla mengedipkan matanya berbera detik. Ia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Ia gak mau jika Alana salah memilih nanti. Keyla juga masih berharap memilih tinggal bersamanya lgi.
"Baiklah" ucak keyla. "Tapi apa aapa Joy dan Cia menerima kenyataan ini. Apa mereka juga akan merima jika sebenarnya Alana bukan adik kandung mereka." lanjutnya.
"Aku yakin dia akan merimanya. Tapi mereka pasti akan marah dengaku. Karena memang semuanya juga aku yang salah. Aku penyebab semuanya." ucap Alvin penuh dengan penyesalan.
Ia meraih tangan Keyla, mengecup lembut tangannya beberapa detik. "Makasih!! Kamu sudah maafin aku. Aku salah, aku patit kamu salahkan. Au patut kamu benci." ucap Alvin, yang tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
Keyla, memegang tangan Alvin, ia tersenyum tipis. Tidak tega melihat Alvin terus memohon padnaya seperti itu. Meski dirinya sangat marah. Tapi rasa cintanya yang besar membuat marah itu perlaha pupus, meski masih ada rasa kecewa yang membekas dalam hatinya.
"Jangan bilang seperti itu. Aku sudah memaafkanmu. Aku syang dengan kamu. Mana bisa aku marah denganmu. Kamu juga yang sudah menemani aku selama ini. Selalu ada buat aku, selalu melindungi aku dan anak" ucap keyla menjelaskan.
"Makasih!! Kamu istri aku paling aku syang" Alvin memeluk erat tubuh keypa penuh dengan cinta.
-----
"Pemisi tuan," ucap pembantu Keyla, berjalan mendekatinya.
"Iya, bi ada apa?" tanya Keyla, menatap ke arahnya.
"Ada tuan Ian dan non Sheila" bi inah, pembantu Keyla, menunduk.
"Iya, Non."
"Sama siapa saja bi?" tanya Alvin.
"Sama anaknya Tuan,"
"Baiklah, suruh mereka masuk. Dan siapkan kamar untuk mereka ya bi" ucap Alvin, beranjak berdiri.
"Iya, tuan."
"Ayo, syang. Kita temui mereka. kAsihan mereka lema menunggu." ucap Alvin.
"Baiklah, aku akan biatkan minuman buat mereka. Kamu temui mereka dulu ya" ucap Keyla.
"Baik syang!!" Alvin tersenyum, mengusap lembut kepala belakang Keyla.
"Buatin aku juga ya" ucap Alvin, mengusap pipi istrinya.
Alvin segera berjalan menuju ruang tamu. Menyambut teman lama yang sudah lama sekali tidak pernah bertemu.
"Ian, Sheila" sapa Alvin, bersalaman dan duduk di depan. Oya, kalian jadi menginap di sini kan?" tanya Alvin.
"Jadi, mungkin sekitar dua sampai 4 minggu. Tergantung anak-anak aku. Katanya dia bosan di sana mau cari tempat liburan yang bagus." jawab Sheila.
"Emm. Syang sekali, Joy, dan anak aku yang lainya masih sekolah. Jadi gak bisa menemani kalian" ucap Alvin.
"Gak , apa-apa kok om" ucap Amera, salah satu anak Sheila.
"Oya, kalian langsung ke kamar saja. Semua sudah di bereskan. Dan kamu tidur dengan Joy ya, dan kanu Amera, kamu mau tidur dengan Alana, atau dengan Cia." ucap Alvin menjelaskan.
"Ayo, kalian minum dulu. Pasti haus kan. Perjalanam jauh!!" goda Keyla, meletakkan beberapa gelas minuman sirup di atas meja.
"Iya, Keyla. Kamu masih saja cantik seperti dulu." ucap Ian, seketika membuat Sheila menginjak kaki Ian.
"Iya, istri aku memang awet muda sekali." ucap Alvin, memegang tangan keyla, untuk duduk di sampingnya.
"Kalian masuk dulu saja. Taruh barang-barang kalian di kemar. Setelah itu, kalian boleh jalan-jalan." ucap Sheila.
"bener ma? Aku boleh jalan-jalan?" tanya Amera memastikan.
"Iya bener syang!!" ucap Sheila.
"Oya, kenapa kamu ganti nama anak kamu?" tanya Alvin.
"Entahlah... Aku kerasa gak cocok dengan nama yang dulu. Dan dia juga lebih cocok dengan nama yang sekarang." jawab Ian, dengan pandangan melirik ke arah Keyla.
Alvin, yang menyadarinya. Ia segera memegang tangan Keyla. Menggenggamnya erat.
Ia segera mengambil satu gelas minuman, lalu meneguknya. meletakkan kembali di tempatnya.
"Miko dan Cia yang kelasnya jam kosong. Ia pergi ke halaman belakang sekolah.
"Apa yang kamu bicarakan tadi benar?" tanya Cia.
"Aku juga gak tahu, tapi kamu bisa lihat sendiri. Gimana Joy dan Alana. "Dan sekarang lihatlah Joy gak ada kan" lanjut Miko
"Ya sudah sekarang. Aku akan selidiki sendiri nantinya" ucap Cia.
"Iya, ku juga ikut" gumam Miko.
"Gak usah, ini bukan urusan kamu. Ini urusan keluarga aku. Jadi kamu jangan ikut campur urusan aku" gumam Cia beranjak pergi meninggalkan Miko.