
"Keyla, kebih baik kamu istirahat saja sekarang!!"
"Gimana dengan pesawat kita. Bukanya kita akan segera ke Sydney sekarang. Dan anak-anak dengan istri kamu sudah menunggu kita" ucap Keyla, menatap Ian yang terlihat bingung berjalan modar-mandir menatap ponselnya, sepertinya dia sedang berusaha menghubungibisyrinya, yang dari tadi tidak bisa di hubungi sama sekali, semakin membuatnya gelisah, ia bahkan tak hentinya menatap ponselnya, seakan sedang sibuk menghubungi seseorang tanpa ada kabar darinya.
"Aku akan belikan kamu buat dulu, dan kamu bawa ponsel aku. Bilang pada istrimu Sheila, aku jika kita belum berangkat. nanti malam kita akan berangkat ke sana!" ucap Ian terlihat sangat khawatir dengan Sheila
Sepertinya memang Ian sudah suka dengan Sheila, tapi dia tidak sadar itu, dan bahkan dia tidak mau kehilangan sheila meski dia berhubungan dengannya berkali-kali, dan terus mengucapkan kata cinta padanya. dan itu masih tetap sama saja, dia merasa jika dia tidak bisa meninggalkan Sheila.
"Syang!! Kenapa kamu diam?" tanya Ian, mengusap ujung kepala keyla
"Aku diam saja!!! Lagian aku tidak mau pergi dari kamu. Dan kamu tidak bisa pergi dari Sheila. Dan aku yakin jika Sheila sangat mencintai kamu juga. Mungkin kita tidak di takdirkan bersatu. Dan mungkin nanti di sisa akhir hidup aku, aku ingin satu permintaan yang ingin aku katakan padamu," ucap Keyla.
"Apa yang kamu bilang itu, kamu akan selaku bersama dengan aku, Aku tidak akan pergi dari kamu. Dan kamu tidak akan kenapa-napa, kamu sehat-sehat saja sayang. Jadi jangan bicara tentang hal itu lagi. Aku tidak mau jika mengucapkan hal melantur lagi," ucap Ian, memeluk tubuh Keyla, menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan dada bidang Ian, dan ia semakin mempererat pelukannya, mengusap punggungnya.
"Maaf!! Sepertinya aku tidak bisa bertahan hidup lama. Aku gak tahu sakit apa. Tapi lebih baik kamu kembali lagi dengan istri kamu Sheila sudah menunggu keromantisan kalian berdua" ucap Keyla dalam hatinya.
"Keyla kenapa kamu hanya diam, kamu gak apa-apa, kan di rumah saja. Aku mau tebus obat kamu dulu." ucap Ian.
"Gak apa-apa syang!! Aku juga akan istirahat dulu, dan kamu hati-hati jangan lama-lama, atau kebut-kebutan kalau naik mobil," ucap Keyla. "Dan, Aku heran kenapa kamu tadi bia menghubungi dokter, kamu dapat nomor dokter dari mana?" tanya Keyla.
"Bukannya udah ada tulisan di sana. Kamu sendiri yang tulis, di bawah telepon rumah kamu!!" ucap Ian, tersenyum tipis, memandang ajah Keyla yang terlibat bengong.
"Iya, aku lupa!!" ucap Keyla menepuk keningnya.
"Udah sekarang kamu diam saja di rumah. Tunggu aku kembali," Ian mengecup kening Keyla, dan mengusap rambutnya sebentar, lalu beranjak pergi meninggalkan Keyla yang masih duduk di ranjang.
----------
Sedangkan Sheila di rumahnya terlihat sangat khawatir, ia melihat sekelilingnya, menatap dengan tatapan kosong foto pengantin mereka, di depan ruang tamu. Tak sadar tetesan air matanya tiba-tiba keluar dari mata indahnya.
"Tente? Kenapa menangis?" tanya Cia, bernajak duduk di samping Sheila.
"Gak kenaoa-napa, aku harap mama kamu dan om In segera kembali. Dan kalian juga pasti berharap jika mama kamu sudah sembuh dari sakit mentalnya yang selama beberapa hari kemarin terus tertekan.
"Iya, tante. Tapi bukanya mereka akan datang nanti?"
"Iya, tapi sepertinya mereka ada halangan. Dan aku juga belum tahu di mana mereka sekarang. Dan aku juga belum menghubunginya. Aku percaya dengan suami aku."
"Cia juga percaya dengan mama, jika mama tidak mungkin berbuat aneh-aneh berdua, mungkin mereka sekarang lagi ada halangan untuk datang. Jadi tante jangan khawatir, ya. Aku yakin mereka akan secepat pulang!!" ucap Cia dengan senyum ramahnya.
"Kanu belum tahu Cia, jika mama kamu dan Om Ian masih berhubungan. Bahkan tentu melihat dengan kepa tante sendiri saat Om Ian menyentuh tubuh Keyla, tante yang gak sanggup melihatnya, langsung lari masuk ke dalam kamarnya mengunci rapat kamar, menangis tersedu-sedu dalam kamarnya. Ia tidak tahu apa yang selanjutnya di lakukan Ian setelah itu." gumam Sheila dalamnhatinya, ia tak mau banyak bicara dan berkata jujur pada anak Keyla, takut mereka akan kecewa dengan apa yang yang di lakukan mamanya, dan keyla akan semakin tertekan jika ke dua anaknya juga benci dengannya.
"Ide bagus, kenapa aku sampai lupa jika besok adalah hari tunangan Amera dan Joy. Kita belum siapa-siap sama sekali, bahkan aku juga belum beli baju,"
"Cia juga belum tante. Sekarang aku panggilkan Joy dan Amera duku tante, kita akan bersiap untuk beli baju, dan semua desain semua sudah aku susun tadi bersama dengan yim," ucap Cia.
"Memangnya acara akan di lakukan di ruangan mana?" tanya Sheila menatap sekeliling ruangan ruamhanya, yang masih nampak kosong, padahal hari sudah menjelang malam. Hanya karena dia memikirkan Keyla dan Ian yang belum juga datang, hatinya merasa sangat hancurnya sampai lupa acara pertunangan anaknya sendiri. Dan undangan juga ia lupa, dari kemarin hanya diam memandang dengan tatapan kosong, tanpa memikirkan anak-anak, dan senyum yang terukir di bibirnya adalah senyum palsu yang ia keluarkan dengan terpaksa.
"Bentar, ya tante. Sekarang jangan banyak pikiran lagi. Semua sudah Cia dan Amera yang urus bersama dengan joy, tapi dia hanya diam tanpa membantu sama sekali," gumam Cia, menguntupkan bibirnya kesal.
"Sudah, yang penting semua sudah beres. Dan kalian benar-benar bisa di andalkan, apalah daya ku sekarang yang harus diam saja tanpa berbuat apa-apa, tapi aku gak tahu harus mengucapkan terima kasih gimana padamu Cia. Kamu hari ini sangat membantuku dan Amera, jika semua tidak berjalan dengan sempurna Amera pasti akan kecewa dan malu, dia juga pasti akan marah denganku!!" jelas Sheila, menundukkan kepalanya.
"Tante!! Amera dan Cia sadar jika tante banyak masalah? jadi Amera berencana untuk mengundang sendiri semua keluarga dan teman-temannya tanpa melibatkan tante, dan sia juga yang menyusun semua konsepnya, bahkan sia merubah semua desain awal menjadi desain di luar ruangan yang luar biasa hebat tante, pasti tante akan terkejut melihatnya," jelas Cia sangat bangga dengan kerja Amera calon iparnya nanti.
"Iya, makasih. Kamu telah membantunya,"
"Sudah tante, tidak apa-apa, aku suka bangun dia, lagian ini juga pernikahan saudara aku, jadi aku harus saling memvantu, aku harap tante jangan banyak pikiran lagi. Amera sedih melihat tante seperti itu," Cia memegang bahunSheila, mencoba menenangkan hati Sheila tante yang sangat akrab dengannya.
"Aku pergi dulu tante!!" ucap Cia yang langsung beranjak berdiri meninggalkan Sheila yang masih diam duduk menatapnya, dengan senyum tipisnya.
"Aku harus bangkit, kenapa juga aku seperi ini. Anak aku butuh aku buat acara besok, jangan sedih lagi. Aku yakin jika Ian pasti akan menepati janjinya, dan besok adalah pertunangan putrinya, tidak mungkin jika dia tidak datang.
-----
Cia yang sudah memanggil Amera dan joy yang sudah siap lebih dulu dari awal, mereka menghampiri Sheila yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Kalian sudah siap?" tanya Sheila.
"Siap!! Sekarang kita belanja, buat besok. Dan Joy kamu yang jadi sopir," ucap Cia.
"Kenapa harus aku?" tanya Joy.
"Karena kamu laki-laki sendiri di sini, dan karena David sedang pergi, jadi kita harus keluar sendiri tanpa dia" ucap Amera.
"Pergi kemana dia?"
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat
"Oya, Joy. Nanti kamu juga harus belikan David bajunjuga, ukuran tubuhnya seukuran tubuhmu kan, jadi kamu yang jadi patokan kita buat pilih baju untuknya." sambung Cia.
Mereka segera pergi ke mall dekat rumahnya, berbelanja kebutuhan untuk besok, dan tak lupa membelikan Amera cincin berlian, Joy yang sudah di beri uang oleh papanya untuk membelikan cincin Amera, dai langsung membelikannya tanpa sepengetahuan Amera yang jalan sendiri dengan Cia membeli baju.