
Alana yang baru pulang bertemu dengan ibunya, ia segera mencari Joy untuk bicara dengannya. Ini saatnya dia untuk pergi, dia sudah menemukan ibunya kembali, dan koper miliknya juga sudah kembali, jadi ia tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal. Meski sudah menjelang malam, tapi ini saatnya untuk bicara dan pergi, sebelum Cia dan yang lainya pulang, dan akan terjadi pertengkaran di antara Joy dan Cia karena dirinya.
Alana tidak mau itu terjadi lagi, bagi dia hubungan saudara itu penting dan suatu saat akan saling membutuhkan satu sama lain. jadi jangan sampai bertengkar dengan saudara sendiri, itu prinsip Alana selama ini. Meski Joy sudah keterlaluan dengannya, Alan mencoba untuk tetap sabar menghadapinya, terkadang memang terlintas dalam benaknya ingin sekali marah-marah menampar keras wajah Joy berkali-kali, tapi hatinya tak sanggup melakukan itu semuanya.
"Alana kenapa kamu melamun di sini?" tanya David, mendorong punggung Alana masuk ke dalam rumahnya.
"Bukanya kamu ingin bicara dengan David, keburu malam lebih baim sekarang kamu berbicara terus terang dengannya, jika kamu ingin pergi!!" ucap David, tersenyum tipis.
"Iya, makasih. Kamu sudah banyak membantu aku..." ucap Alana, mengecup lembut pipi kanan david, membuat alki-laki itu seketika kaku, tubuhnya memastung, dengan tangan kanan memegang pipi kanan bekas kecupan Alana.
"Alana!!" panggil Joy, menahan amarahnya melihat Alana mengecup pipi David.
"Apa?" tanya Alana, memutar matanya, dan. Cup!
Sebuah kecupan tipis, mendarat tepat di bibir Alana beberapa detik, David yang melihatnya langsung beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Rasa bahagia dapat kecupan tak terduga tadi, wajahnya berubah muram, dengan wajah di tekuk ke bawah, ia menghentakkan kakinya kesal, melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alana dan Joy.
"Kenapa kamu mencium orang lain, aku tidak akan memperbolehkan jika kamu akan mencium pipi orang lain dengan bibir kamu." ucap Joy, mengusap ujung kepala Alana, lalu menurunkan tangannya menyentuh wajahnya, dan berhenti di bibirnya, jari tangannya mengusap lembut bibirnya, dengan ibu jari menyentuh setiap ukiran bibir tipis Alana.
"Ini hanya untukku, jangan biarkan di kecup orang lain algi... kamu harus ingat itu, sampai kapanpun tidak boleh!!" pungkas Joy, memegang lengan Alana, menariknya masuk ke dalam kamarnya.
"Sekarang kita duduk di sibi, ku ingin menunjukan sesuatu padamu,"
"Menunjukan apa?" tanya Alan bingung.
"Lihatlah ke atas!!" jelas Joy, telunjuknya menunjuk ke atas labgit, terlihat bintang kecil bertaburan di langit, dengan sinar terang rembulan yang menerangi malam indah ini.
Joy duduk di lantai, tanpa alas sama sekali, ia mendongakkan kepalanya ke atas, menikmati pemandangan malam. Dan di ikuti Alana yang duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di pundak Joy.
"Bintang yang indah!! Seperti hatimu, yang akan selaku jadi yang terindah di hatiku!!" ucap Alana, membuat Joy tersipu malu seketika.
"Kanu tahu sinar rembulan itu,"
"Kenapa memangnya?" tanya Alana.
"Tidak seindah rembulan di samping aku saat dia tersenyum tipis." gumam Joy, memegang pipi kiri Alana.
Alana juga memandang bintang di langit, dari balkon kamar Joy, mereka berdua menikmati pemandangan bintang itu berdua, saling menyandarkan kepalanya, dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
"Lihatlah!! Semua tersenyum memandang kamu!!" ucap Joy, melirik ke arah Alana, yang hanya terlihat hidung mancung Alana dari samping.
"Kak kamu tahu gak? Jika bulan dan matahari itu sangat dekat, tapi dia tidak bisa bersama. Mereka hanya bisa saling memandang dari jauh, mereka berbeda, Bulan di malam hari, dan matahari di siang hari. Dan itu sama seperti kita. Jika kita itu seperti bulan dan matahari, yang tidak akan pernah bisa bersatu, selamanya, kita bisa bersatu jika sudah saatnya dan itu hanya beberapa jam saja, dan akan kembali berpisah lagi." jelas Alana, membuat Joy duduk tegap, menatap ke arah Alana, dan di balas langsung oleh Alana, menatap ke arahnya. Ke dua mata mereka saling tertuju dalam diam, seakan mulut mereka terkunci rapat, tanpa seuntai kata keluar dari mulutnya.
Kenapa kamu bilang seperti itu Alana? Kenapa? Apa kamu tidak suka denganku?
Kak Joy maaf!! Aku mungkin bukan yang terbaik untuk kamu. Kita saudara selamanya kita saudara. Jangan salahkan takdir, telah membuat kita terperangkap dalam cinta yang tak semestinya. Cinta kita salah, cinta kita tak seharusnya ada. Dan aku harap kita harus bersama-sama keluar dari perangkap cinta ini, agar kita bisa selepas bebas tanpa ada orang yang menganggu kita lagi." ucap Alana, memegang tangan Joy, mengusap punggung tangannya lembut. "Dan kita bisa memilih untuk mencari pasangan yang sempurna untu bersanding dengan kita!!" lanjutnya.
"Kamu boleh berbicara seperti itu. Tapi aku akan buktikan pada kamu. Jika kamu aku bis menyangkal semua yang kamu katakan. Aku akan tunjukan pada kamu, jika cinta kita tidak salah, dan kita akan bersama, tanpa halangan apapun, tunggu waktunya, Alana. Aku akan buktikan semuanya padamu!!" ucap Joy tegas penuh keyakinan dalam dirinya, ia mengangkat tangannya, dengan tangan kanan mengepal, seakan memberikan semangat sendiri untuk tetap tegar dan semangat untuk perjuangkan cinta itu.
"Tapi...." Mulut Alana terhenti mengucapkan kata-katanya lagi, saat telunjuk tangan Joy menyentuh bibirnya, lalu beranjak ke bawah menyentuh dagunya, sedikit menariknya ke depan, membuat hembusan napas mereka saking berpacu.
"Kamu jangan apa yang menyerah. Jika memang kamu cinta padaku, maka kamu juga harus sedikit berkorban. Kamu harus menentang orang tua kita tentang cinta kita yang salah. Sama seperti aku. Aku tidak akan perdulikan apa kata mereka. Bagi aku kamu bagian dari hidup aku!!" ucap Joy, meletakkan tangannya di tangan kiri Alana yang berada tepat di tumpukan tangan kirinya di atas lutut kiri Joy.
"Maaf!! Tapi aku gak tahu, apa yang akan terjadi nanti. Jika memang aku beneran suka dengan kamu. Maka aku akan menyerahkan semua pada takdir, jika tidak maka semua akan pergi meninggalkan semua keluarga lama dan muali hidup baru lagi. Jika kamu nanti menemukan kertas yang aku berikan di rumah. Kamu pasti tahu, apa yang terjadi padaku Dan aku akan tinggal di mana kamu bisa mencariku suatu saat nanti!!" ucap Alana, melepaskan tangan Joy, menatap ke depan.
"Lebih baik sekarang aku pergi!! Ada hal yang akan aku kerjakan. Kamu kembalilah jemput Cia dan Amera, karena kekasih kamu hanya diam. Bukan aku, ingat itu, jangan pernah anggap aku lebih dari adik. Pada dasarnya kita akan sama, yaitu kakak adik!!" ucap Alana, menarik dua sudut bibirnya tipis, mengukir sebuah senyuman yang tak hentinya terus tersenyum manis di depannya, dengan mata menyipit, terlihat lebih imut, Alana beranjak berdiri, menoleh sejenak ke arah Joy lagi, menganggukkan kepalanya satu kali, dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Joy yang masih diam duduk di sofa, menatap kepergian Alana, yang sudah mulai berjalan menjauh darinya.
"Alana!!" panggil Joy, saat Alana tepat berdiri di luar pintu kamarnya. Membaut alngkah Alana terhenti, ia diam sejenak, laku menatap ke belakang, melihat Joy yang sudha beranjak dari duduknya.
"Ada apa lagi, kak!!"
"Bukanya kamu malam ini akan tinggal di sini?" tanya Joy, sembari melirik jam dinding yang menempel di dinding klasik bernuasna hitam dan merah di samping kanannya. Jarum jam menunjukan pukul 3 sore.
"Maaf!!" ucapnya lagi, lalu menundukkan kepalanya,
"Hari bergitu cepat, saat aku bersama dengan kamu, seakan semua berjalan dengan cepatnya Dan dengan cepat juga kamu pergi lagi!!" ucap Joy meninggikan suaranya.
"Kita juga akan tetap berpisah. Aku bukan untuk pergi hari ini saja. Bukanya aju sudha bialng apda kamu. Lebih baik kamu fokus untuk mengrmbalikan keluarga kamu yang utuh. Jangan sampai mereka berpisah. Kasihan mama kamu. Aku gak mau jika dia kenapa-napa. Akubakan menrmui ibu kandung aku dan memberi tahunya jika pilihannya itu salah." ucap Alana, menutup pintu kamar Joy dari luar secara perlahan, dan ke dua mata mereka tak berhenti terus tertuju sebelum pintunya perlahan mulai tertutup rapat.
Alana menunduk sejenak, menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengontrol hatinya saat ini, "Aku harus pergi!! Kamu gak boleh cengeng Alana. Ingat ada hal yang harus kamu lakukan!!" gumam Alana dalam hatinya, ia mencoba memberikan semnagat untuk dirinya sendiri, sebelum semuanya betpisah satu satu sama lain.
Puk! Puk!
"Alana!!" suara berat serang laki-laki, yang tiba-tiba menepuk pundaknya membuat lamunannya terbangun, ia membuka matanya lebar, melirik ke sumber suara, menatap sosok David yang sudah berdiri di samoingnya, dengan tangan kanan memegang pundaknya.
"David!!" Aku sudah serahkan koper kamu. Apa kamu akan pergi sekarang?" tanya David, menatap mata Alana, yang terlihat masih berkaca-kaca. David memegang ke dua pundak Alana, membalikkan badannya menatap ke arahnya.
"Alana!! Aku tahu jika kamu akan segera pergi . Tapi apa kamu tidak mau di sini dulu satu hari lagi. Aku janji tidak akan membuat kamu semudah itu di sakiti oleh mereka." ucap David meyakinkan.
Alana memegang tangan David, menurunkan perlahan tangan David dari pundaknya. Dan berkata lirih padanya.
"Maaf!! Tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi, ibu aku pasti sudah menunggu aku di sana. Dan aku gak bisa hanya diam di sini. Dan bilang sama mama kamu, makasih atas tempat tinggalnya. Dan maaf aku gak bisa sampai menunggu dia pulang lebih dulu." kata Alana, memegang tangan kiri David, agar laki-laki itu tidak terlalu khawatir dengannya.
"Baiklah, lebih baik aku antarkan kamu sekarang. Aku gak mau kamu pergi sendiri"
"Maaf!! Gak usah. Aku punya uang dan pergi sendiri. Selama aku ada kiper ini, aku bisa pergi ke mana saja."
"Terus kenapa dulu kanu mau bersama dengan aku menemani aku sampai minum, dan membuat koper kamu ketinggalan." ucap David menggebu.
"Apa kamu tidak bisa dua hari lagi tinggal di sini. Setelah itu pergilah, menemui ibu kamu. Aku tidak mau jauh dari kamu!!" ucap David, membuat Alana terkejut dengan ucapan terakhirnya.
"Gak tahu!! Mungkin aku hanya ingin membawa kamu pulang, agar kamu tidak kenapa-napa saat minum." ucap Alana, memegang kopernya, membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi, membiarkan David yang masih menunduk kesal dengan keputusan Alana. "Aku sudah rindu dengan Ibu aku. Jadi malam ini aku akan tidur dengannya Menikmati malam indah berdua dan seterusnya aku akan bersamanya," lanjut Alana.
Alana menghentikan langkahnya, melirik sejenak, memberikan sebuah senyuman selamat tinggal untuknya.
"Terima kasih semuanya, Joy! David! Aku benar-benar bangga punya teman yang punya sifat aneh seperti kalian. Kalian saudara sekaligus teman aku." ucap Alana tersenyum simpul, dan melangkah kan kakinya keluar dari rumah David, tanpa ada pencegahan dari David.
"Alana!!" Joy berlari berdiri tepat di depan Alana, mencegahnya pergi.
"Jangan pergi!! Benar kata David, kamu bermalam dua hari dulu di sini duku. Setelah itu oke kamu pergilah. Aku juga akan pergi!!" ucap Joy, memegang ke dua tangan Alana.
Alana menarik bibirnya tipis, mencoba untuk tersenyum di depan Joy.
"Apa kamu ingin aku melihat kamu dan Amera bertunangan. Apa kamu ingin menunjukan padamu, jika kamu bis amelupakanku? Dan kamu bisa menikah dengan orang pilihan orang tua kamu!!" ucap Alana mengungkapkan rasa kecewa hatinya. Dalam hati kecil Alana, ia sebenarnya tidak mau jika Joy menikah dengan Amera, hatinya seakan di cambuk dengan rotan panjang berkali-kali mendengar hal itu.
"Bukanya kamu adik aku!! Jadi aku akan undangan kamu di pesta pertunangan aku dan Amera!!"
"Jika kamu merasa tak ingin hadir di pertunangan mereka. Kamu bisa pergi dengan aku, Alana. Aku gak mau kamu pergi dulu!!" ucap David, menyela pembicaraan Joy dan Alana.
Dan langsung di balas dengan tatapan tajam dari Joy, yang tidak suka jika David selaku menyela apa yang ia katakan pada Alana, sepertinya dia memang sengaja membuat Joy cemburu jika dia dekat dengan Alana.
Alana melirik sekilas ke arah David, lalu melirik ke arah Alana. Dia melepaskan ke dua tangan Joy yang menyentuh lembut ke dua tangannya. Ia mendekatkan tubuhnya, dan berbisik pelan pada Joy. "Kamu mau membuat hati aku sakit, melihat itu semua!!" Alana tersenyum mendorong tubuh Joy menjauh darinya. Dan bergegas menuju ke mobil Alvin yang sudah menunggunya di depan gerbang rumahnya.
"Alana, sampai kapanpun, perasaanku padamu masih sama. Aku suka dnegan kamu, dan selamanya seperti itu, tidak akan pernah hilang!!" teriak Joy, dan tak berpengaruh sama sekali dengan langkah Alana yang mulai masuk ke dalam mobil Alvin, tanpa melihat ke arah Joy dan David sama sekali.
"Maafkan aku kak, aku gak sanggup melihat kamu bersama wanita lain. Meski aku tahu jika kamu tidak suka dengannya. Tapi sama saja aku kecewa denganmu," ucap Alana dalam hatinya, dan. Tes...
Air mata perlahan menetes membasahi pipinya.
"Kamu gak apa-apa, Alana?" tanya Alvin, mengusap ujung kepala Alana.
"Tidak apa-apa, pa!" ucap Alana, menyeka air matanya dengan punggung tangannya.