
"Iya ini aku mau makan"ucap Cia yang mulai memakan satu mangkok bakso di depannya.
"Ya sudah cepat habiskan kalau gitu. Dan kita langusng balik ke rumah sakit, takutnya Alana entar nunggu lelaki tamoan ini."ucap Miko percaya diri.
Uhuk..uhuk...
Cia mendengar ucapan Miko, langsung kesendak kuah bakso yang terasa sangat pedas menyenhat di tenggorokkannya.
"Minum-minum"ucap Cia segera meraih air putih yang spontan di berikan bapak tukang bakso itu.
"Makanya kalah makan hati-hati."ucap Miko.
"Kamu tu kalau bicara jangan kepedean, nah ini jadinya kesendak"ucap Cia memberikan gelas kosong itu pada penjual bakso tadi.
"Udah sekarang cepag makan lagi"pinta Miko.
"Baiklah"Cia menunduk ia segera memakan habis bakso itu. Sebenarnya ingin sekali rasanya makan lebih lama dan terus memandang wajah Miko. Meski dia sahabatnya setiap hari juga bertemu dengannya di kelas, apa lagi tempat duduknya juga sebelahnya. Dan setiap saat menit, dan setiap jam bisa menatapnya. Tapi seakan itu belum cukup baginya. Ia ingin menatapnya lebih lama dan lama.
Meski perasaan itu tak pernah terbalas, baginya ia gak perduli asalkan, aku bisa melihatnya tersenyum itu lebih baik. Dan sekarang dia berada di depanku, makan di depanku tanpa menatapku. Ya meskipun begitu aku sudah bersyukur dia masih mau temenan denganku, gumam Cia.
"Pak berapa semuanya, sama es teh 2 tadi"ucap Miko pada penjual bakso. Ia yang sudah selesai makan langsung membayarnya. Dan Cia masih duduk diam menyeruput es teh di depannya.
"Semua 25 rb"ucap Penjual itu.
"Ini pak, kembalian buwat bapak saja. Itung-itung penglaris pak"ucap Miko sembari tersenyum lebar pada oenjual bakso itu.
"Baik nak, makasih ya. Apa kalian berdua pacaran. Kalian cocok banget"ucap Penjual bakso itu menggoda Miko.
"Gak pak, kita hanya teman. Wanita yang aku suka sedang sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit sebelah"ucap Miko.
Cia terdiam, merenung sejenak. Apa di pikirannya hanya Alana dan Alana. Apa tidak ada sedikitpun pikiran tentang dirinya saat ini.
"Semoga lekas sembuh ya"ucap penjual itu.
"Iya pak makasih"ucap Miko menarik tangan Cia segera pergi dari warung itu. Ia segera beranjak masuk lagi ke dalam rumah sakit. Miko tak mau membiarkan Alana jauh dengannya.
"Miko pelan-pelan napa, lagian kan Alana sekarang sudah sama nenek"ucap Cia yang sudah mulai ngos-ngosan.
"Tapi aku masih gak tega saja, aku mau tetap nemenin dia"ucap Miko, menjelaskan pada Cia.
"Oo ya udah, kita jaga Alana sama-sama saja. Dan gimana kalau kita sekalian berlajar bersama di sana. Siapa tahu di soal yang gak bisa Alana bisa bantu nantinya."ucap Cia. Ia ingin mengembalikan keharmonisan dalam persahabatan mereka tanpa ada jarak canggung lagi.
Meskipun sebanarnya yang canggung itu Cia, bila dekat dengan Miko rasanya ingin sekali selalu dekat. Dan itu yang membuat ia merasa sangat canggung dekat lama dengannya.
"Emm.. boleh juga. Tapi kamu kan gak bawa bukunya"ucap Miko.
"Gampang nanti biar Joy, yang ambil buku di rumah"ucap Cia.
"Ya udah, baiklah. Kita masuk ke dalam dulu sekarang"ucap Miko.
Cia segera meraih ponsel di sakunya. Ia mencari nomor Joy dan mulai chat dia untuk mebawa beberapa bukunya. Jemarinya sangat lihai mengetik pesan untuk mengirim pesan pada Joy.
"Cia mau sampai kapan kamu berdiri di situ?" Tanya Miko yang sudah berdiri di depan pintu kamar dimana Alana di rawat.
"Bentar aku hubungi Joy dulu"ucap Cia.
"Baiklah, aku masuk duluan ya"teriak Miko.
Cia hanya tersenyum, ia segera menatap ponselnya kembali. Tepat di walpaper ponselnya adalah foto saat ia bersama dengan Miko. Saat itu mereka masih sangat akrab bahkan seolah tak ada jarak di antara mereka. Namun kini semua berbeda saat Miko mulai suka dengan Alana. Ia mulai pergi dan agak menjauh darinya. Bahkan terus mengejar Alana meskipun beberapa kali di tolak.
Cia segera memasukan ponselnya ke saku jaketnya. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar Alana di rawat. Belum sempat masuk dia mlihat Miko memegang tangan Alana lagi saat tertidur. Dan ia terlihat mengusap lembut rambut Alana berkali-kali.
"Cepat sembuh ya, kamu harus sembuh dan sekolah lagi. Aku kangen di cuekin sama kamu."ucap Miko.
Cia yang mendengar di balik pintu, perlahan mulai masuk ke dalam ruangan itu. Membuat Miko menoleh seketika ke arahnya. "Cia!!. Aku kira kamu siapa?" Ucap Miko.
"Sepertinya habis minum obat tadi dia tertidur. Biarkan saja, kita jangan ganggu dia. Dan nenek juga sepertinya sedang capek tu tidur disofa"ucap Miko menoleh ke arah nenek Alana dan Cia.
Mereka mulai terdiam sambil nunggu Alana bangun dan nunggu Joy datang bawa buku Cia. Mereka lama berdiam diri dan sibuk dengan ponselnya masing-masing. Dan Miko sibuk dengan game onlinenya. Tapi Cia berbeda dia sibuk dengan group chattingnya.
"Cia kamu sibuk apa??" Tanya Miko yang masih setia memegang ponselnya.
"Chatting, kamu??" Tanya Cia tanpa memandang ke arah Miko.
"Hyoo.. chatiing sama siapa nih"tanya Miko penasaran. Ia mengintip sekilas ponsel Cia.
"Kepo banget sih"ucap Cia menyembunyikan ponselnya.
"Coba lihat"ucap Miko mencoba meraih ponsel Cia.
"Gak boleh"ucap Cia menjauhkan ponselnya. Namun Miko tetap berusaha meraih dengan tangannya. Tetap saja gak bisa. Cia langsung menyembunyikan di balik ia duduknya.
"Wekk... gak bisa ngambil sekarang"ejek Cia, menarik matanya dengan lidah menjular ke arah Miko.
"Awas ya kamu"ucap Miko mengancam. Ia kembali lagi denganponselnya dan game onlinenya pasti.
"Kamu main apa?" Tanya Cia.
"Main apa ya??" Ucap Miko, memalingkan ponselnya dari pandangan Cia yang mencoba mengintip ponselnya.
"Ih.. kamu juga gitu sama aku"ucap Cia mulai ngambek.
"Lagian kamu juga gitu, mau tahu dikit saja gak boleh"ucap Miko mencari alasan.
"Ya bukannya gak boleh, tapi kan ini rahasia wanita. Laki-laki gak boleh tahu"ucap Cia.
"Oo.. jadi laki-laki gak boleh tahu, memangnya tentang apa hayo.. bahas Vidio mesum ya" ucap Miko memejokkan Cia.
"Apaan sih Ko, aku gak seperti kamu ya, diam-diam lihat Vidio mesum. Mataku lebih bersih dari pada kamu. Mending lihat cogan-cogan ganteng masih banyak dan berkeliaran di mana-mana"ucap Cia mengelak.
"Ya, gak usah bohong kali, kalau gak boleh di lihat pasti foto mesum."ucap Miko menunjuk ke arah Cia.
"Gak!!" Jawab Cia tegas.
"Benaran gak, tu wajah kamu kenapa memerah gitu"tanya Miko.
"Apaan sih?"ucap Cia.
"Udah lah gak usah bohong. Aku tu sahabat kamu dari dulu. Lagian kamu juga diam-diam mesum"ucap Miko.
"Bukannya kebalik ya"ucap Cia mengelak.
Tak lama Joy datang membuka pintu kamar Alana. Ia melihat Cia dan Miko sedang asyik berbincang di sana.
Kedatangan joy membuat Cia berhenti berbicara. Mereka kompak menatap Joy yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan tajamnya ke arah Miko.
"Eh..Joy, mana bukuku" tanya Cia.
"Nih.."ucap Joy singkat melemparkan bukunya ke arah Cia.
"Yeelah kenapa sih ni anak, lempar-lempar buku segala"ucap Cia.
"Yang penting kan aku bantu kamu ambilkan buku itu"ucap Joy jutek.
"Joy sini kita belajar bareng-bareng yuk"ucap Cia.
"Apaan gak ah" ucap Joy menolak.
Cia beranjak berdiri dan menarik tangan joy duduk di sampingnya. Ia yang tahu Miko dan Joy gak akur lebih baik dia duduk di tengan jadi penghalang jarak di antara duduk mereka.