My First Love

My First Love
54. TANGAN BERJAMUR



Alvin yang masih mematung di depan pintu ruangan kantor nya hanya menyaksikan perbincangan yang semakin menegang rasa nya saat itu sambil menyandarkan tubuh nya di tembok tanpa mengeluarkan suara lalu tersenyum memandang sang istri.


(hai guys, aku kasih contoh nya aja yah pakek foto sang oppa ganteng ini., kira² fisual nya keg gini aja deh.. ganteng kan. hehehe makasih 🥰🙏)



Alvin tetap saja pada posisi nya seakan menyaksikan sebuah drama di depan mata nya tanpa ingin mencampuri.


"heh apa kamu bilang? aku parasit? awas yah kamu!! kamu belum tau siapa aku?", kata wanita muda itu


"ia kamu parasit! hahahaha kamu punya otak gak? bukan kah aku bertanya pada mu? siapa kamu? datang ke ruangan suami saya tapi tidak dengan sopan nya, dan wajar kan saya tidak mengetahui mu? karena saya baru melihat mu sekarang", jawab Dian santai sambil memainkan jari telunjuk nya mengetuk meja. tok tok tok tok tok


"ssusuusuuaami??? hahahaha kok si Alvin merubah haluan sih? kenapa kamu memilih rongsokan beb?", kata wanita muda itu terbata-bata sambil menoleh ke arah Alvin meminta penjelasan nya.


"kamu dengar sendirikan apa yang sudah istri ku katakan? atau mau lebih jelas membuktikan nya? hem?", jawab Alvin sambil memainkan kedua alisnya naik turun


"kamu bohongkan? manamungkin kamu mau dengan rongsokan ini?", kata wanita itu


"hahahaha yang rongsokan itu kamu! bukan istriku!", kata Alvin sambil mendekati sang istri lalu mencium pucuk kepala Dian dengan lembut dan memeluk nya dengan cinta.


"gak usah kalian berpelukan di depan ku, mata ku masih suci", grutu gadis itu.


"kalau begitu pergilah dari sana", pintah Dian


"oh ya aku lupa, pacar mu sudah aku singkirkan dari kantor ku", kata Alvin lagi


"apa? pacar? siapa?", Gadis itu malah balik bertanya.


"jangan pura-pura bodoh Misel", jawab Alvin


"maksud kamu?", gadis yang bernama Misel itu akhir nya bertanya pada Alvin lagi


"Dave!", Alvin menyebut nama mantan pegawai nya.


"jadi kamu tau tentang aku dan Dave?", Misel masih bertanya lagi pada Alvin


"ya, apa yang tidak saya ketahui tentang kalian", jawab Alvin santai sambil menyisir rambut Dian dengan jemari tangan nya.


"sejak kapan kamu tau?", Misel bertanya lagi


namun Alvin tidak menjawab nya, sebab pintu ruangan nya terbuka, dan yang datang adalah Ivan dengan sebuah bingkai foto yang sangat besar di tangan nya bersama seorang lelaki yang juga membawakan bingkai besar.


"selamat siang pak, maaf mengganggu waktu anda, saya hanya membawakan pesanan ibu", jelas Ivan sambil setengah menundukan kepala nya.


"oh baik lah, silahkan", jawab Alvin sopan di depan tamu nya.


"pak Ivan, tolong di gantung disana bingkai besar itu", pintah Dian pada Ivan sambil tersenyum


"oke", jawab Ivan lalu melakukan yang seharus nya.


"wahh bagus sekali", gumam Alvin sambil tersenyum melihat foto yang di pajang


"yang itu simpan disini aja pak", kata Dian sambil meminta bingkai foto yang masih di pegangi Ivan lagi.


Ivan memberikan bingkai yang ada di sebelah nya, Dian pun menata bingkai yang ia terima dari Ivan di meja kerja sang suami


(dan yang ini adalah foto milik Alvin Dan Dian saat di potret oleh Winda beberapa waktu lalu, dan dikirimkan nya kepada Dian tanpa sepengetahuan Alvin)



"cantikan", gumam Dian tersenyum melihat foto yang kini berada di depan mata nya.


"ah yang, ini foto kapan? kayak nya ini waktu pulang dari makam ayah dan ibu yah?", Alvin bertanya pada sang istri


"bagus banget, siapa yang ngambilin gambar ini yang?", jawab Alvin lalu bertanya karena penasaran siapa sih yang mengikuti mereka dan siapa pula yang mengabadikan moment ini tanpa ijin.


"ada deh", jawab Dian


"apa jangan-jangan...", Alvin mencurigai Ivan mengikuti mereka


"jangan-jangan apa yang?", Dian bertanya pada suami nya yang tak melanjutkan pembicaraan nya.


"oh gak yang", sambil melirik Ivan


"ada apa lagi nih si otak udang, pasti dia mau nuduhin gua yang foto? enak aja, gua tonjok lo nanti kalo bini lo gak ada", batin Ivan dengan firasat buruk nya


Dian yang pekah dengan gerakan mata sang suami nya mengeluarkan suara


"bukan pak Ivan yang, itu kemarin winda yang gak sengaja bertemu kita di parkiran mall, lalu dia memotret deh dan mengirim nya ke whats upp aku, dia nanya, ngapain disini, tapi aku baru baca pas udah sampe rumah", kata dian lalu bergelut manja di lengan sang suami


"oooh baguslah yang, bagus kok hasil jepretan nya", jawab Alvin


"hehehehe", tawa dian rennyah


"gak usah sok!!", gerutu misel yang masih di dengar Ivan


"maaf ada keperluan apa anda kemari?", Ivan bertanya pada misel yang tepat di depan nya.


"ngapain lo pake bahasa formal ke gua", jawab misel sambil memicingkan mata nya pada ivan


"maaf jika anda selesai, mendingan anda segera pergi dari ruangan ini", kata ivan sambil mempersilahkan misel untuk pergi


"ehh ngapain lo nyuruh gua pergi, lo kan cuman seorang jongos yang Alvin sejak dulu, gak usah lo ngatur gue", jawab misel sombong


"eh sopan dikit napa? mulut mu gak tau sopan santun yah?", kata dian lalu berjalan mendekati misel


misel yang melihat gelagat dian hanya bisa tersenyum kecut


."kenapa? gak terima? lo seharus nya cocok berpasangan dengan lelaki s**l ini, atau lo mau gak kita bernegoisiasi dikit?", tawar misel pada dian


"aku gak akan bernegoisiasi dengan wanita tak tau sopan santun seperti kamu, kamu gak tau siapa pak Ivan bagi suami ku, mendingan kamu pergi dengan teratur dari ruangan ini atau kamu akan menyesali nya nanti",kata dian setengah berbisik pada misel sambil tersenyum kecil


"hahaha apa kamu tak ingin mendengar negosiasi ku? aku cuma bilang, bagaiman kalau kamu bercerai dengan alvin dan berikan dia pada ku, lalu kamu menikahi lelaki s**l ini, kalian kan cocok sama_sama barang rongsokan, hem. hahah, kata misel sambil tertawa, namun na'as nya, saat misel masih tertawa lepas tangan mungil dian melayang di udara


PLAKK


dian menampar pipi gadis cantik bermodel di depan nya hingga meninggakkan bekas tangan di wajah mulus milik misel.


"pe****r kamu!! kamu beraninya nampar aku hah? kamu pikir kamu itu siapa? kamu cuma s****h yang b***k di pungut alvin", kata misel lalu ingin membalas menampar pipi dian, nmaun sayang, sebelum tangan mendarat bebas di pipi dian, alvin menangkap tangan misel dan menghempas nya dengan kasar


"jangan sekalipun kamu mendaratkan tangan berjamur mu pada tubuh istri ku, jika hal itu terjadi meski tak sengaja, kamu aku gantung hidu-hidup", kata alvin sambil menekan pada setiap kalimat nya.


"dan yang perlu kamu tau, ivan adalah saudara sepupu kandung ku, dia berhak bebas menyingkirkan setiap parasit yang datang mendekati keluarga ku tanpa ampun, sekarang mendingan kamu pergi,! jika tidak, ketika kamu bangun esok, kamu berada di neraka, aku kirimkan kamu kesana", tegas alvin


.


.


.


hay guys jangn lupa dukung dengan memberikan vote pada novel ini, agar author nya makin semangat buat up cerita di episode beriku nya.


terimakasih


god bless🥰🙏😇