My First Love

My First Love
Senyumnya



Hingga 4 jam berlalu, semua mengikuti pelajaran dengan serius, bahkan Cia, Joy dan Miko hanya diam dan Fokus dengan pelajaran matematika yang di ernagkan giri terkenal sangat killer di sekolahan, ada slaah satu anak yang berbicara. Ia yak segan menghukum berdiri hormat di tiang jendela sampai jam istirahan tiba..


Hingga tak terasa jam istirahat pun berbunyi, Miko bergegas merapikan buku yang berserakan di atas mejanya.


Ia beranjak pergi dengan langkah terburu-buru msnujunke kelas khusus padara siswa akselerasi, tanpa mengucap kata apapun pada Cia , yang duduk di sampingnya.


"Pasti dia mau bertemu dengan Alana"Gumam Joy Dan Cia dalam hati bersamaan menatap diam Miko yang sudah beranjak pergi.


Cia bergegas berdiri, menarik tangan Joy untuk pergi ke kantin bersamanya. Ia tak mau jika Joy tahu jika Miko mendekati Alana lagi saat ini, pasti dia sangat marah nantinya. Bahkan akan memukuli Miko lagi.


"Joy!! Ayo ke kantin" Ucap Cia merengek menarik tangan Joy untuk beranjak dari duduknya.


"Iya-iya bentar" Gumam Joy, ia segera merapikan bukunya.


"Nah gitu dong, jarang-jarang kita ke kantin bersama kan"ucap Cia mengedipkan matanya pada Joy.


Joy sibuk ajak Alana ke kantin, sampai ia tak perdulikan Cia, bahkan meskipun Alana tidak mau di ajak ke kantin, ia selalu memaksanya hingga mau, meski hasilnya selalu nihil. Hanya satu kali kemarin saja, kebetulan Alana mau pergi ke kantin dengannya.


Di sisi lain Miko terus berjalan ringan menuju ke kelas Alana. Ia tak sabar menatap wajah cantik Alana lagi. Apalagi bisa melihat senyumnya. Mungkin akan membuat ia tak bisa tidur seharian, kemarin saja habis mengambadikan foto Alana, ia menempelnya di dinding kamanya, hingga saat tidur melihat senyumnya.


Bahkan ia tak berhenti memandang foto Alana,sampai ke bawa dalam alunan mimpi indah bersama Alana. Ia sekarang sudah bawa kamera lagi, ia ingin mengabadikan moment bersama Alana nanti.


Ia sudah berkerja keras mendekati Alana, semoga kali ini rencananya berjalan mulus dan benar-benar membuat Alana menjadi tertarik dengannya dan Joy semoga kamu bisa melihat kebersamaanku, mungkin semakin tertarik denganku.


Langkah Miko terhenti, melihat Alana keluar dari Kelasnya. Sepertinya ia lagi buang sampah. "Alana!!" Panggil Miko, ia berlari mendekati Alana.


Alana hanya menoleh sekilas, ia beranjak masuk ke dalam kelas. Namun langkah cepat Miko, berhasil meraih tangan Alana agar *** masuk ke dlama kelasnya.


"Hah.. untung aja aku begerak cepat" Gumam Miko. Melempar senyum menatap Alana.


Menatap mata indah Alana, ia merasa sangat gugup.bahkan dirinya hanya menggaruk kepala belakangnya yang merasa tak gatal itu.


"Eh.. aku..." ia seakan tak bisa meneruakan ucapannya. Tubuhnya terasa sangat gemetar kali ini karena terlalu gugup.


Alana hanya diam menyipitkan matanya manatap aneh ke arah Miko.


Miko mencoba merilekskan tubuhnya, menghilangkan rasa gugup yang semakin menjalar dalam tubuhnya.


"Emhh gak jadi.." Ucap Miko tersenyum simpul.


"Ya, udah aku masuk dulu" Ucap Alana.


Miko terdiam kaku seketika, ia membalas senyumannya. Bahkan hatinya kini merasa sangat senang. Baru kali ini Alana terlihat ramah dengannya bahkan dia bisa senyum tipis dengannya. Miko tak sengaja memegang tangan Alana lagi. Hingga membuat siswa yang melewatinya menatap mereka berdua.


Alana bahkan hanya diam menatap tangan Miko yang masih terus memegangnya. "Bisa lepaskan gak" Ucap Alana lirih.


"Emm... mau ks kantin sama aku gak?" Tanya Miko. Tatapannya seolah ia berharap Alana akan menerima ajaknnya. Dalam hati bahkan ia terus bergumam, semoga dia menerima, semoga dia mau makan denganku, Kali ini saja.


Alana menghela napasnya, "Maaf kak, aku lagi sibuk soalnya" Ucap Alana beranjak masuk ke kelasnya.


Degg.. bagai di tusuk jarum nihh sakitnya, ia menolaknya lagi, padahal baru ajak makan saja aku udah di tolak berkali-ali sama dia. Tetapi aku gak boleh nyerah, karena cinta butuh perjuangan. Semangat Miko, gumam Miko menyemangati dirinya sendiri.


Miko masih berdiam kaku di depan kelas Alana, ia masih menatapnya sekilas seblum ia menginjakkan kakinya pergi dari depan kelas Alana. Ternyata memang benar Alana sibuk dengan tugasnya, bahkan ia juga sibuk dengan berbagai buku di mejanya. Sepertinya aku gak boleh mengganggunya, ucap Miko, membalikkan abdanya beranjak pergi.


"Eh.. Ko" Sapa seorang lelaki yang tiba-tiba menepuk oundaknya dari belakang.


"Apaan" Ucapnya.


" Kamu kenapa beberapa hari ini gak latihan band, apa kamu sibuk dengan gadis cuek itu"Ucap Boy teman Miko dalam group bandnya.


"Biasa lah, tapi setidaknya ada perkembangan sedikit aku deketin dia"Ucap Miko merengkuh pundak Boy.


"Aku bingung denganmu, kamu bisa dapatkan wanita jauh lebih cantik dari dia, tetapi kamu malah bersikeras untuk dapatkan dia"Ucap Boy menatap bingung ke arah Miko.


"Karena, dia itu beda dari wanita lainnya, bahkan tak bisa di sentuh lelaki. Dari pada wanita liannya. Gampang banget di pegang tangan oleh lelaki lain bahkan ada juga yang murahan. Tapi dia itu sempurna, hatinya baik, pintar, cantik, dan cueknya itu bikin aku tambah meleleh menatapnya" Gumam Miko, membahangkan wajah Alana saat ia tersenyum dengan anak-anak jalanan dulu.


"Terserah kamu deh, ekarang kamu ke ruangan Band, kita akan latihan 1 minggu lagi ada pesta sekolahan. Band kita akan menyumbangkan beberapa lagu nanti" Ucap Boy.


Miko terdiam, seraya suatu ide bagus muncul dalam otaknya. Ia ingin membuat kejutan untuk Alana nanti. Ini kan pesta sekolahan pasti kelas akselerasi juga akan ikut, gumamnya.


"Oya, pesta itu untuk semua murid kan baik murid akselerasi juga" tanya Miko.


"Gak tahu, tapi jika murid akselerasi mau ikut sih, ya gak papa. Lagian jarang murid akselerasi yang ikut. Bahkan mereka saja tak pernah datang di kegiatan sekolah. Di pikirannya hanya belajar dan belajar" ucap boy menegaskan.


Miko terdiam lagi, ia bergumam dalam hatinya, bagaimana caranya ia ajak Alana nantinya, apa dia mau ikut atau gak. Dan Alana kan paling gak suka suara bising yang menganggu. Dan apa yang harus aku lakukan ya agar dia mau nantinya. Miko menarik bola matanya menatap ke atas, ia terlalu lama terdiam dan memikirkan cara untuk bisa memdekati Alana.


****


Di balik suasana kantin yang rame Joy sepertinya tidak nafsu makan, bahkan dia benar-benar murung. Dari tadi terus diam menatap makanannya. Sesuapun belum juga ia lakukan.


"Joy kenapa kamu diam, tu makanan kasihan, kamu acak-acak aja gak kamu makam" ucap Cia.


Joy masih diam, seraya ia tak mendengar apa yang Cia katakan padanya.


" Joy..." teriak Cia msmbuat cia terbangun dadi lamunannya.


" ada apa? Tanya Joy menatap terpaksa wajah wanita di dolam menatap Cia.


"Kenapa kamu hanya diam saja?"anya Cia,