My First Love

My First Love
52. OTAK UDANG



pagipun menjemput hingga mentari pagi memasuki sela-sela kain tirai di kamar milik pasutri itu.


"kok berat banget sih selimut ini", dian menggerakan tubuh nya namun sulit seakan ada benda yang berat menindih sebagian tubuh nya.


dan ternyata tangan kekar milik sang suami yang memeluk nya erat dengan dengkuran halus berirama bertanda sang suami masih tertidur pulas


"ternyata tangan nya memeluk ku", batin dian sambil menggeser pelan tangan lelaki utu ke samping, perlahan dian bangun dari tidur nya lalu menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi nya.


dian menuju dapur berniat ingin membuatkan sarapan untuk sang suami.


"selamat pagi non, ada yang bisa kami bantu?", sapa seorang koki handal keluarga pak albert sinaga.


"maaf pak, apa boleh saya buatkan sarapan untuk suami saya?", dian meminta ijin pada sang koki, takut nya sang koki tersinggung dan berfikir bahwa dian meragukan nya.


"maaf nyonya, biar saya saja, lagian saya sudah buatkan sarapan pagi untuk semua nya", jawab sang koki


"ohh maaf pak, baiklah, terimakasih", kata dian lalu pergi meninggalkan sang koki melakukan pekerjaan nya lagi.


"selamat pagi menantu mama yang cantik jelita, udah bangun nak?", sapa sang ibu sinta


"pagi juga ma, ia ma", jawan dian sambil tersenyum lalu duduk di kursi kosong di meja makan itu.


"alvin belum bangun nak?", bu sinta bertanya pada dian, sebab tumben di hari senin ini, alvin masih tertidur saat jam 07:30 pagi.biasa nya kan jam 07:00 alvin sudah berada di meja makan bersama kedua orang tua nya.


"masih tidur ma, biar aku bangunin lagi yang ma", kata dian lalu berpamitan dan pergi meninggalkan sang ibu mertua sendiri di meja makan.


"apa meraka lembur semalam? tapi kog dian nya masih sama, apa mereka tidak seranjang? kapan aku punya cucu dong", gumam bu sinta


"apa sih mah, siapa yang pisah ranjang?", kata ivan sambil mendekati sang ibu sinta nya.


"itu loh saudara mu sama istri nya", kata bu sinta sambil memandangi ivan


"hahahah gak mungkin ma, semalam ketauan aku di kolam, ngapain malam-malam di dalam kolam basah kuyup, gak masuk angin apa", gumam ivan sambil mengambil roti tawar dan selai jeruk yang sudah di oleskan bu sinta untuk nya.


"kamu ngintip nak?? astaga kamu apaan sih nak, dosa loh mata mu yang suci itu nak", kata bu sinta


"siapa yang ngintipin siapa ma?", kata pak alber yang jiga baru saja datang dan bergabung di meja makan.


"ini loh pa, anak bandel ini...", bu sinta tak melanjutkan kata-kata nya karena ivan membekap mukut sang ibu sinta dengan tangan nya.


"itu pa, semalam ivan kira ada kucing di kolam renang, eh ternyata ada dedaunan gitu sama plastik-plastik, yah udah ivan bersihin sekalian gitu, ia kan ma", kata ivan sambil menjelaskan dan meyakin kan sang ibu sinta


bu sinta hanya bisa menarik nafas nya dalam lalu membuangnya secara kasar.


"pahh, mama ada ide.. gimana kalau kita jual aja rumah kita ini pahh", kata bu sinta sontak mengagetkan ivan yang sedang mengunyah makanan di mulut nya. dan pa albert menjatuhkan roti di tangan nya sambil membelalakn mata nya tidak percaya dengan ide sang istri.


"haaaa?? jual mah? ada apa? kog bisa gitu???", serentak ivan, pak alber dan juga alvin yang baru saja keluar dari dalam lift terkejut mendengarkan ide seorang ibu sinta.


"mah apa alvin salah dengar? kenapa bisa di jua l ma? inikan rumah bersejarah kita ma.. kenapa bisa di jual sih ma? ada apa?", tanya alvin tak percaya mendengar ide konyol sang ibu.


"ia ma, aneh-aneh deh, apa ada sesuatu yang membuat kita harus menjual rumah ini ma?", tanya pak albert


"ia ma, jawablah ma", kata ivan sambil menggoyangkan bahu sang bu sinta, sedangkan dian masih mencernah raut wajah sang ibu.


"seperti nya mama gak pengen jual beneran deh, tapi ada apa yah? kog di jual sih rumah inikan rumah sejak papa dan mama merintis perusahan sejak nol dan sampai saat ini rumah ini bersejarah gitu", batin dian


"eehem hem hem, iah jual aja rumah ini pah, kita pindah ke kantor aja", bu dian berdehem beberapa saat untuk menetralkan suara nya lalu lanjut mengutarakan keinginan konyol nya.


"tapi kenapa ma?", pak albert rupanya masih sangat penasaran dengan ide gila sang istri, sedangkan alvin dan dian mengnaggukann kepala nya menunggu jawaban sang ibu


"biar hidup mama tenang gak ada loh yang ribut-ribu, biat gak ada kucing yang mengganggu kolam renang, mungkin aja juga di kolam ada hantu pa, enakan di kantor selalu aja sepih ditengah banyak nya orang seperti tak berpenghuni gitu", kata bu sinta menjelaskan maksud nya secara rinci sambil melirik ivan dan alvin yang terlihat jengah dengan jawaban sang ibu.


dian yang mengerti dengan arah dan maksud tujuan bu sinta dengan cepat mengambil roti tawar lalu mengolesnya dengan selai kacang pada roti sang suami


alvin yang kini telah mencernah kata sang ibu lalu menatap ivan tajam meminta penjelasan, naun ivan malah mengabaikan tatapan alvin sambil meminum segelas susu coklat yang ada di samping nya


"ini pasti gara-gara ulah mulut nya yang bocor gak bisa nyimpen rahasia, awas aja lo tar gua tinju gigi lo abisan deh.. gemes gua sama lo", batin alvin sambil mengunyah roti seperti makan daging yang keras.


"loh kok makan roti sampai segitu nya? keras yah?", kata ivan sambil mengerutkan dahi nya berpura-pura tak tau apa yang di rencanakan alvin didalam otak nya.


"ia keras, keras banget, gua kayak pengen makan daging pagi-pagi", kata alvin sambil menekan kata-kata nya.


"tuh kan pah, mama pengen kita pindah ke kantor aja biar tenang", rengek bu sinta berpura-pura agar anak-anak nya tak selalu bertengkar


"van, vin, kalo kalian masih kayak anak kecil selalu bertengkar, mending rumah ini kita jual benaran, kita tinggal di kantor aja, biar kalian gak selalu berantem", kata pak albert pekah terhadap situasi yang ia hadapi.


"ah ia pa, janji gak lagi", kompak si kakak beradik sepupuan itu menjawab sang papa sambil tersenyum pada sang ibu


"gitu dong, kalian kalo akur, hati mama adem nak", kata bu sinta lalu melanjutkan sarapan nya yang tertunda.


"astaga pagi-pagi kok drama gini, aneh benar lelaki dewasa di hadapan ku ini si misua alias suami dan si ivan 🙄", batin dian


"awas aja lu ntar yah otak udang", batin ivan mengancam alvin


.


.


.


hay guys, terimakasih masih setia membaca dan selalu bersabar yah dalam menunggu waktu up novel ku ini..


mohon dukungan nya dengan memberikan vote sebanyak mungkin agar author nya semangat buat nulis novel. okay!!