My First Love

My First Love
Pacar David



"Kemana lagi dia, kenapa sudah hilang dari pandanganku. padahal baru saja aku menemukan dia di sini." gerutu Alana.


"Hai cantik.. Gimana kalau kamu ikut denganku sekarang?" Alana yang namoak begitu polos. tak pernah tahu tempat apa yang di datangi, yang ia tahu hanyalah beberapa minuman entah apa terpajang de rak bar club itu.


Alana bernajak pergi tanpa menghiraukan laki-laki yang mendekatinya. 


"Kamu mau kemana?" laki-laki itu, menarik tangannya. Dengan tangan yang berani melecehkannya, memegang pinggangnya. 


"Lepaskan!!" teriak Alana, membuat semua orang di sana menatapnya bingung.


Termasuk David, yang duduk menikmati minuman yang sudah ia pesan. 


Brakkk!!


David menggebrak mejanya keras, membuat wanita di sampingnya terkejut. 


"Ngapain wanita itu di sini," gumam David, beranjak berdiri dengan raut wajah yang sudah mulai mengerang menahan rasa kesal, Mengepalkan tangannya, dan siap untuk melayangkan tangannya ke wajah laki-laki hidung belang itu. 


"Jangan menyentuh wanita sembarangan." David, mencengkram erat tangan laki-laki itu, memitarnya ke belakalakng, dengan sedikit teknik, untuk melumpuhkan lawannya, menekan tangannya. 


"Kamu siapa? Lagian dia bukan pacar kamu, kenapa juga kamu marah?"


Alan menoleh ke arah David, 


Kenapa dia mau menolongku. Ternyata dia baik juga, meskipun dia laki-laki yang tidak bisa di andalkan. Aku kira baik, ternyata laki-laki peminum.


"Pergi dari sini!!" bentak David, melayangkan pukulan di wajah laki-laki yang tidak ia kenal. 


"Kamu berani menukulku," beberapa orang temannya, membalas David, namun dia tidak takut dan semakin brutal. 


"David udah!!" Alana mencoba Reva pacar David mencoba untuk memisahkan mereka. 


"Syang! Sudah jangan berantem lagi," ucap Reva, mengusap wajah David, memegang ke dua bahunya, menariknya mundur.


"Memangnya dia siapa? kenapa kamu berantem dengan laki-laki yang enggak kamu kenal," 


"Sudah ayo pergi, aku jadi gak mood di sini," ucap David, menarik tangan pacarnya itu pergi, meninggalkan Alana yang masih berdiri dengan tatapan bingungnya.


"Kenapa dia suka, main ninggalin aku begitu saja, apa dia gak ingat sama sekali siapa yang membantunya sampai sini. Dia itu gimana sih. Bikin aku greget banget.. Ingin sekali memukul wajahnya yang nyebelin itu." gerutu Alana, yang mulai melangkahkan kaki dengan segera keluar dari club itu, hari yang sudah menginjak sore, ia tidak menemukan penginapan sama sekali. Bahkan Tidak tahu harus pergi kemana lagi. Uang masih ada, tapi ia takut jika semuanya akan habis dalam sekejap nantinya, apalagi ia juga butuh buat sewa apartemen nanti di Inggris, agar bis tinggal dengan ibunya. Dan sekarang. 


Aku hari ini benar-benar sangat sial, kenapa juga aku mengikutinya. Dati oada uang habis, lebih baik aku pergi saja, cari penginapan, untuk iatirahat sebentar. Aku harus segera menemukan ibu aku.


Alana berjalan menelusuri jalanan yang terbentang panjang, tanpa tahu arah, dia terus berjalan, gadis itu mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menghubungi Miko, tapi batre nya habis, membuatnya semakin kesal.


"Aaaa... Kenapa semuanya terjadi secara kebetulan. Gara-gara David, ini semua gara-gara dia. Aku sebel dengannya." Teriak Alana, 


Alana kehilangan jejak David saat keluar dari bar, dan mungkin dia naik mobil dengan pacarnya. Sementara, entah Alan semakin bingung dengan apa yang akan dia lakukan.


Kruukkkkk...


Alana mengusap perutnya, yang dari tadu belum terusi apa-apa sama sekali. 


"Perutku lapar!!" ucap Alana, dia tidak menemukan restauran atau hotel sama sekali di sekelilingnya. 


"Apa aku harus berjalan lebih jauh lagi.. Aku capek!!" keluh Alana, ia menundukkan badannya yang sudah sangat cepek, dengan tangan terus menyeret kopernya.


Tit... Tit....


Wuussss....


Suara mobil melajuju dengan sangat cepat, Ia menginjam remnya sangat kerazs, membuat suara decitan rem, terdengar di telinganya. 


Alana yangbterkejut spontan langsung melangkah ke belakang. 


"Brakkk..!"


"Kamu punya mata atau enggak!!"


" Kaca mobil itu terbuka, sorang laki-laki, dyduk di samoing wanuta cantik yang ia temui di bar. 


"David!!"


"Maksud kamu?" tanya Alana bingung.


"Udah, cepat naik sekarang."


"Kenapa kamu ajak aku naik mobil ini?" tanya Alana, yang masih terdiam tak berkutik. 


"Kamu amu naik gak, kalau enggak. Ya, sudha, aku tinggal sekarang."


"Eh.. Tunggu!! Oke, aku naik sekarang" Alana segera membuka pintu mobilnya, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Entah itu mobil siapa, ia tidak perduli, asalkan tidak jalan lagi, kakinya sudah benar-benar mau patah, hampir beberapa jam berjalan tanpa tujuan kemana. Naik taksi juga itung-itung, jika tanpa tujuan sama saja, bayarnya mahal.


David mulai menjalankan lagi mobilnya, "Syang!! Apa dia teman kamu?" tanya Reva. 


"Dia sepupu aku," 


"Oo.. Aku kirain," Reva mengira jika dia adalah pacaran atau temannya. 


David mengusap rambut wanita itu, dengan tangan kiri, meletakkan di atas pundak Reva, hingga ujung jemarinya, entah di sengaja atau tidak, menyentuh bagian dada Reva yang menyundul ke atas. 


Alana yang melihatnya, hanya bisa menelan ludahnya, memalingkan pandangannya menatap ke arah David. Ia merasa jijik melihat apa yang akan mereka lakukan nantinya, buat jaga-jaga, Alan lebih memilih untuk memejamkan matanya, tanoa melihat ke depan, seuatu yang tidak boleh ia lihat.


"Apa yang akan kamu lakukan syang?" tanya Reva.


"Pegang dikit syang!!"


"Gak boleh!! Kamu gak malu ada sepuou kamu?"


"Enggak, lagian aku yakin dia juga sudah pernah sebelumnya."


"Tapi..." 


Davis melirik ke belakang, melihat Alana yang sudah tertidur, ia tidak tahu jika Alana hanya pura-pura tidur. 


"Dia sudah tidur," ucap David, sembari tangan mengusap lembut paha Reva. masuk ke dalam sela-sela pahanya. 


"Syang !! Aku malu!!"


"Jangan melu!! lagian dia juga sudah tidur," 


Alana mengintip sedikit apa yang mereka lekuk, desahan Reva membuat telinga alana gerah. 


"Ini gadis kenapa sih, kenapa menganggu tidurku," ucap Alana lirih. 


Alana seketika melebarkan matanya, saat melihat David, membuka gaun kekurangan bahan itu sedikit. 


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alana, seolah ia baru terbamgun, Suara lantang Alana membuat Davis dan Reva terkejut, dan langsung menyingkap gaunya lagi, duduk tegap seakan tidak terjadi apa-apa. 


"Kita gak ngap-ngapain," ucap David. 


"Udah tidur saja, kamu pasti capek,"


"Aku gak bisa tidur, tadi aku gak sengaja melihat suara-desahan, apa kalian lagi melihat film ya?" tanya Alana, mendekatkan tubuhnya ke depan. 


Seketika Reva dan David yertegun, ia menelan ludahnya malu. 


"Sudah duduk di tempat kamu, jangan banyak tanya." umpat kesal David.


"Baiklah!! Kalau mengemudi jangan main mata ke kanan dan ke belakang, fokus ke depan." sindir Alana, sembari menatap ke samping kaca mobil.


Kenapa wanita ini benar-benar menyebalkan, kalau bukan sepupu aku. Mendingan aku tibggali saja di sana. Kalau nanti orang tua angkatku tanya, bisa mati kutu aku jawab, mereka juga apsti akan marah. Apalagi bentar lagi mereka akan kembali ke Sydney.


"Syang, aku antar kamu pualng ke rumah. Nantia ku bisa pulang sendiri kok," ucao Revi.


"Kamu gak ke rumah aku dulu?"


"Emm... Gak usah, kagian kamu baru kembali, jadi aku langsung pulang saja." jawab Revi, ia sudah merasa sangat malu dengan apa yang sudah ia lanjukan tadi bersama David, dan tiba-tiba sepupunya itu melihatnya.


Alana hanya diam, mebahan matanya yang seakan sudah ingin terpejam. Tapi dia memaksakan matanya untuk tetap terbuka, agar dua orang di depannya itu tidak melakukannya lagi di mobil membuatnya merasa sangat terganggu nantinya.