My First Love

My First Love
Kemarahan joy



Alvin mengangkat tubuh Keyla, membawanya ke rumahnya kembali, rencana untuk ke pantai mulai tertunda, dan dia harus mengutamakan kesehatan Keyla lebih dulu.


"Keyla maafkan aku!! Aku sadar jika aku terlalu keterlaluan dengan kamu. Bahkan aku sudah menyakiti hati dan batin kamu. Dan aku sadar jika kamu terlalu mencintai Alvin. Tapi kenapa aku terlalu memaksakan takdir, dan sepertinya aku harus pergi dari kehidupan kamu nantinya. Benar kata kamu, jika kita tidak akan mungkin bersama," gumam Ian, berlari menuju ke rumah Keyla, dan membaringkan tubuh Keyla di sofa ruang tamu, ia mengambilkan air, dan handuk kecil, untuk membasuh wajahnya yang di penuhi dengan air mata. Dan mengambilkan satu gelas minuman hangat untuknya.


Ian segera membasuh tubub Keyla, menguspa wajahnya dengan handuk yang sudha ia basi dnegan air, ia mengusap air mata yangs udah mengering di pipinya. "Kamu cinta pertama yang tidak akan pernah aku lupakan Alana. Maafkan aku!!" Ian mengecup kening Keyla lembut hingga 2 menit, dan tes. Air mata tiba-iba keluar dari matanya menetes tepat jatuh di kening Keyla, membuat gadis itu seketika te5banfun dari pingsannya. Dengan mata yang masih mrngetnyit, menatap samar wajah Ian di deoannya. Wanita itu merasakan hembusan napas berat ian tepat di depannga, yang hanya berjarak dua telunjuk tangan dari tatapan matanya.


Ian melepaskan kecupannya, beranjak duduk, dengan jemari tangannya, menyilakan rambut Keyla yang menutupi keningnya.


"Apa yang kamu lakukan sekarang, aku tidak perduli. Semua sudah terjadi. Sekarang aku ingin menjalani kehadupanku sendiri. Mungkin ini sudah takdir aku untuk pergi dari kehidupan Alvin. Dan aku tidak akan pernah menemuinya lagi." ucap keyla, membuat ian yang duduk menatap aneh padanya, entah kenapa saat dia bangun dari oingsannya, ia berbicara seolah dia baru sadar dengan apa yang harus dia perbuat nantinya, pembicaraannya sangat aneh, dan entah gimana , apa yang harus aku lakukan nantinya.


"Keyla apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Ian, memegang ke dua tangan Keyla, berharap banyak jika dia akan memaafkannya, ia memasang wajah cemberutnya, dan sedikit memelas padanya.


"Iya, aku maafkan kamu!! Tapi kenapa kamu amsuk lagi dalam hidup aku, ian. Kamu memberikan warna lagi pada hidup aku.."


"Karena aku sangat mencintai kamu!!"


"Apa yang kanu masih ingat dalam kenangan kita, padahal kita tidak pernah berbuat apa-apa. Dan kita hanya sebatas pegangan tangan tidak lebih dari itu, kan?" tanya Keyla.


"Memang tidak!!" Tapi aku suka itu, aku sangat suka dengan percintaan kita dulu. Aku ingin bisa terulang lagi. Tapi semua terserah kamu. Jika kamu mau, maka aku akan tetap mencintai kamu, jika tidak aku akan pergi dari kehidupanmu, selamanya.


keyla terdiam, dia memegang tangannya, saling mengengfam, keringat dingin perlahan mulai keluar membasahi tubuhnya. "Jika kamu tak mau jawab. Aku sudah tahu jawabannya. Aku akan pergi dari kehidupan kamu!!" jelas Ian, menarik bibirnya tipis membentuk sebuah senyuman paksa, meski hatinya merasa sangat terluka dengan pilihan Keyla.


"Oya... Besok soal pertunangan Joy dan Amera akan segera di lakukan. Dan kamu juga sebahagai single mother, kamu juga harus tampil sangat cantik. Agar kamu bisa melihat siapa yang sebenarnya tulus mencintai kamu, dan aku yakin jika Alvin pasti akan datang di sana." ucap ian, mengusap pipi Keyla lembut, dan beranjak berdiri, memasukan handuk kecil yang dari tadi ada di genggaman tangan kirinya, ia masukan ke dalam baskom, an beranjak pergi.


"Tunggu!! Aku ingin!!" ucap Keyla, terhenti saat terbayang wajah Alvin lagi dalam pikirannya.


Ian yang menghentikan langkahnya mendengar panggilan dari Keyla, ia hanya berbicara singkat, mencoba membiarkan Keyla menghalanginya atau tidak. "Ada apa?" tanya Ian jutek.


"Emmm... Gak ada apa-apa, ku hanya ingin bersama dnegan kamu sekarang. Apa aku boleh ikut kamu ke suatu tempat. " ucap Keula, beranjak be4tdiri, berjalan mendekati ian, memeluk tubuhnya dari bekakang, menyudatkan kepalanya di punggung lebar milik Ian.


Keyla melingkarkan sangat erat ke dua tangannya di perut Ian. Dan Ian memegang tangan keyla di tangannya, mengusap punggung tangannya, melirik tajam ke arah Keyla. "Apa yang harus aku lakukan sekarang. Mah sangat mencintai dia. Tapi aku gak bisa bersama dengannya. Mungkin aku harus pergi!!" ucap Alvin, menerima pelukan hangat tubuh Keyla, dan mengusap punggung bekakangnya.


"Ungkapkan semua uenk-unek dan isi hati kamu. Sekarang!! sebelum kamu menyesal kemudian. Dan aku harap kamu jangan terlalu khawatir dengan aku lagi. Dan aku hanya bisa membantu kamu. aku ingin menikah dengan kamu juga tidak bisa. Tapi aku berharap jika kita bisa menjadi teman lagi.. Setelah tahu jika di pikiran kamu hanya Alvin, aku tidak bisa terus seperti ini. Sama saja membuat aki geram." gumam Ian, dengan raut wajah datar, ia menundukkan keoalanya, dan beranjak pergi meninggalkan Keyla sendiri


Ian kamu mau kemana?" tanya Keyla.


"Aku mau pergi sebentar, apa kamu mau ikut denganku?" tanya Ian.


"Aku hanya ingin merenung sendiri di luar. Jika kamu sudah enakkab, aku sudah siapkan teh hangat untuk kamu. Dan maaf soal tadi!! ucap Ian, yang langsung melangkahkan kakinya pergi tanpa menunggu Keyla.


Dan Keyla hanya diam, ia duduk di sofa, memegang teh hangat di depannya. Dan langsung mengambil minumannya, meneguknya perlahan.


-----


Sementara Joy saat kejadian tadi ia langung membawa Alana pulang ke rumah tantenya, dia tidak mau keluar lagi mebiarkan Alan bertemu dengan ibunya. Dan saat sampai di depan rumahnya, ia mengangkat tubuh Alana dan langsung melemparnya ke ranjang kamarnya.


"Kak Joy kenapa kamu membawa aku pergi Kenapa kamu memisahkan aku dengan ibu aku," ucap Alana mebggebu, dari tadi ia hanya diam, karena Joy mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuatnya ketakutan. Dia benar-benar di luar kendali, mengemudi bak pembalap internasional.


"Aku gak suka jika kamu menemuinya. Dan ingat aku tidak akan biarkan kamu bertemu dengannya sampai kapanpun!!" ucap tegas Joy, semakin membaut Alan geram. Ia menarik satu sudut bibirnya tipis.


"Sekarang apa urusan kamu dengan aku. Aku gak suka jika kamu mengatur kehidupanku. Aku gak suka dan ingat itu, Lebih baik kamu urus kehidupan kamu dan keluarga kamu. Apalagi papa kamu yang harusnya kamu bawa pergi, agar tidak menggoda mama aku." gumam Alana menatap tajam, ia semakin menggeram kesal, menatap ke arah Joy kesal.


Joy menatap tajam, dengan rahang yang mulai menrgang, rasa amarah pada dirinya, mulai bangkit lagi saat dengan berani Alana berbicara seperti itu padanya, membangkitkan amarah yang bergejolak dalam dirinya, ia melangkah dua langkah lagi, mendekati Alana, menatap tajam sangat dekat dengannya, membuat hembusan kesal mereka saling tatap aliran listrik keluar dari tatapan mereka yang tak hentinya berseteru satu sama lain.


"Kamu bemar-benar kejam!!" umpat kesal Alana, mendorong tubuh Joy hingga terpental menjauh darinya.


"Kanu yang kejam, ibu kamu murahan dan kamu juga sama-sama murahnya denyanya," umpat penuh emosi Joy, mendekatkan wajahnya, dan tangan Alana melayang tepat di pipi kanan Joy.


Plakkk!


"Jangan bilang aku murahan. Bukanya kekasih kamu itu juga sama-sama murahan dan rendahan. Sudah menawarkan diri untuk di tiduri, pa itu tidak murahan."


"Kenapa kamu membentakku?" tanya Joy tak mau kalah. Dia memegang leher belakang Alana, menekanya semakin kuay, mendekatkan wajahnya.


"Aw---" rintih Alana.


"Jangan macam-macam denganku. Aku tidak akan tinggal diam. Dan kamu, jangan beraninya kamu membuat aku marah, jika kamu tidak murahan lihat saja nanti. Apa kamu mau tidur dengan aku" ucap Joy, dengan tangan kanan memegang dagu Joy, mendekatkan wajahnya, lalu mengecup kasar bibir Alana, an langsung di balas dengan gigitan olehnya.


"Aku gak suka dengan sifat ego kamu. Apa kamu tahu aku suka dengan kamu tapi apa balasan kamu." bentak Alana.


Joy hanya diam, menarik bibirnya sinis, ia mengusap darah segar yang keluar dari bibirnya, akibat gigitan Alana yang membuatnya sakit.


"Aku akan mengurung kamu di sini, jika kamu masih kurang ajar dengan kamu," ucap Joy, menarik tangan Alana, Menutup mulutnya agar tidak bisa teriak, mengambilkan tali di lemarinya, dan langsung menali ke dua tangan Alana, dan kakinya dengan cepat tanpa Alana bisa berkutik lagi.


Alana mengigit tangan Joy, membuatnya meringis kesakitan.


"Shittt.. Apa yang kamu lakukan?" tanya Joy.


"Lagian juga apa yang kamu lakukan, lepaskan aku sekarang Aku ingin bertemu dengan Ibu aku. Dan mau janji akan pergi dari kehidupan kamu nantinya, dan kehidupan semuanya. aku tidak akan kembali lagi meliatmu, an melupakan semua yang terjadi," ucap Alana, mencoba meronta melepaskan tangannya dan kakinya


"Kamu tidak akan bis akeluar," ucap Joy sinis, ia menutup rapat mulut Alana.


Joy memegang dagu Alana.


"Kamu jangan harap bisa pergi dariku. Akh akan membuat kamu menyesal nantinya, dan ingat jangan pernah lagi mencoba melawan aku. Dan tidak akan ada yang berani melepaskanmu nantinya. Aku akan mengurung kamu di dalam kamarku, selama beberapa hari kamu harus menemaniku wanita murahan." ucap Joy, melemparkan dagu Alana. Seketika air matanya menetes, saat melihat kelakuan kakaknya yang sudah mirip dengan penjahat baginya, dia benar-benar tega dengan adiknya sendiri, hatinya seakan sudah di tutupi dengan rasa kesal dan amarah pada ke dua orang tuanya. dan Alana hanya sebagai pelampiasan semata untuk.


"Emmmpp.. Empp..."


"Kenapa apa kamu minta di lepaskan, tapi dengan sagu syarat. Kamu harus menemaniku malam ini. Dan aku akan biarkan kamu pergi. tapi jika kamu tidak mau maka aku akan membiarkan kamu terikat seperti ini di sini. Dan ingat, aku akan mengikat kamu di ruangan sebalah, ruangan buku yang kedap suara, an tidak akan bisa suara kamu terdengar dari luar, dan di sana kamu boleh tinggal, soal yang lain aku bis atur semuanya. dan kamu juga akan dapat jatah makan tenang saja" bisik joy, dan beranjak keluar dari kamarnya, mengambil beberapa botol minuman, dan air putih untuknya, sebelum semuanya kembali ia menyiapkan semuanya, untuk jatah dia makan sayu hari kemudian.


"Emmp.. Emp..." Alana terus metonta, dia yang duduk di ranjang, sampai jatuh tergeletak ke lantai, tetesan air matanya membasahi lantai di depannya.


"Kasihan dia!! Tao maafkan aku. Aku gak bisa jika kamu tinggal dengan dua orang murahan dan bajinga*n seperti dia. Aku tidak sanggup Alana. Tidak sanggup jika kamu akan seperti ibu kamu nantinya. Aku berharap kamu sadar siapa yang mencintai kamu, jangan sampai kamu salah pilih cinta!!" gumam Joy, menarik bibirnya membentuk senyuman tipis, dan beranjak duduk di sofa, dengan menatap tubuh Alana, ia tak hentinya terus melamun, memikirkan kejadian tadi, dengan tangan mencengkeram ujung meja kaca depannya, mencengkeram erat, tanpa sadar darah segar menetes jatuh ke bawah, tepat di lantai putih, dan Alana yang melihatnya tercengang, ia ingin menolongnya, menyadarkan dia, tapi kaki dan tangannya terikat tak bisa bergerak leluasa lagi.