
"Alana apa kamu di dalam?" teriak Cia, megentuk pintu Alana berkali-kali.
"Kemana Alana, kenapa dia gak menjawab dari tadi" gerutu Cia dalam hatinya.
"Alana gak ada?" tanya Miko, memastikan.
"Lebih baik, kita coba masuk. Bentar aku cek dulu pintunya," Cia mencoba untuk mengecek pintunya di kunci atau tidak.
"Sepertinya tidak di kunci, kemana dia?" pikir Cia, "Emm.. Udah, ayo masuk! Kita cari tahu, pa dia di dalam atau enggak, gak biasanya soalnya, pintu Alana di kunci." ucap Cia, menarik tangan Miko, membuat laki-laki itu menatap tangan Cia, yang terus menariknya masuk ke dalam kamar Alana. Langkah Cia terhenti saat ia melihat kamar itu kosong.
"Miko, di mana Alana? Apa dia sudha perhi? Tapi kenapa dia gak ikut ke pesta, bukanya ini ulang tahun aku, tapi doa gak perduli denganku, kakaknya sendiri." tanya Cia, memutar matanya, melihat jelas sekelilingya. Semua nampak sangat rapi.
Miko hanya diam, ia masih menatap wajah cantik Cia, seakan ingin sekali menyentuh wajah. Namun tak mungkin, Alana pasti akan marah.
Apa aku baru sadar jika Cia sangat cantik, saat memakai gaun seperti ini. Dia terlihat sangat berbeda sekarang. Jauh lebih feminim, dan cantik. Kenapa aku tidak melihat sisi dia saat ini saat aku, sebelum jatuh cinta dengan Alana. Sekarang hatiku sudah di miliki Alana
Miko yang masih menatap Cia, ia tidak sadar jika Cia berbicara padanya. "Miko!!" bentak Cia, menepuk tangan Miko keras.
"Eh.. Iya ada apa?" tanya Miko, yang baru tersadar dari lamunannya.
Kenapa dia menatapku seperti itu tadi, apa dia mulai memandang aku sekarang. Tapi kenapa pada saat seperti ini, saat di mana aku harus bertunangan dengan orang lain.
"Kenapa kamu melamun, Alana gak ada di kamarnya, apa dia tidak kirim pesan padamu tadi? Lagian kamu pacarnya, pasti ya kamu tahu kan?" tanya Cia, dengan wajah yang mulai sangat khawatir. David juga belum pulang, di tambah lagi Alana yang pergi entah kemana.
"Iya, aku memang menghubunginya tadi, tapi setelah aku mau berangkat ke sini. Dia sudah tidak bisa di hubungi. Bahkan sampai sekarang nomornya juga tidak aktif. Kamu yang satu rumah dengannya, gak tahu kemana dia pergi." jelas Miko, menatap wajah Alana.
Pandangan Cia tertuju pada meja belajar Alana, ia melihat sesuatu di saja. Dengan segera, Cia beranjak menuju meja belajar Alana, ia menemukan secarik kertas, dan ponsel Alana yang memang sengaja di tinggal di atas mejanya.
"Bentar, sepertinya ini ponsel Alana kan?" tanya Cia, pada Miko memastikan. Mengambil ponsel Alana, yang baru dia beli kemaein, dan membiarkan ponsel Joy tergeletak di dalam laci.
Miko meraih ponsel itu, ia menatap ponselnya. "Iya, sepertinya benar ini punya Alana. Tapi kenapa dia meninggalkan ponselnya? Apa memang dia senagaj pergi dari sini?" tanya Miko kembali, dan tidak di balas oleh Cia, gadis itu, mulai gemetar, rasa cemas mulai menyelimuti hatinya.
Ia berlari membuka semua lemari Alana, seketika tubuhnya lemas saat semua baju Alana sudah berada di dalam tidak ada. "Dia pergi, Miko." ucap Cia, duduk di ranjang, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing di buatnya.
Sedangkan, Miko berusaha membuka ponsel Alana, namun ia tidak tahu apa sandi Alana. Biar aku yang simpan, aku akan tanya pada kak Joy nanti siapa tahu dia mengerti sandi Alana. Karena ponsel ini sama persis dengan punya kak Joy dulu." ucap Cia, meraih ponsel Alana di tangan Miko.
"Baiklah!! Tapi kita baca dulu ini," ucap Cia, segera mengambil secarik surat, dan langsung di tarik oleh Miko begitu saja.
Cia menatap setiap tulisan di kertas, yang sekarang berada di tangan Miko.
Maaf semuanya, aku gak ikut datang merayakan pesta, aku ingin sendiri sekarang. Masalah yang berat terus menekanku. Aku tidak mau ada yang mencariku, percayalah aku tidak akan bertindak bodoh. Dan aku hanya butuh waktu sendiri, menenangkan hatiku. Dan untuk Miko jika kamu melihat surat ini. Tolong temani kak Cia, sahabat kamu di hari spesial untuknya. Jangan cari aku, aku akan menghubungimu lagi nanti. Saat aku sudah pulang ke rumah. Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja.
"Masalah apa yang sebenarnya dia sembunyikan, kenapa dia tidak pernah cerira." ucap Cia, ke4tsal.
Miko menatap wajah Cia. Ia memegang ke dua pipi Cia. mengusapnya lembut, "Tenanglah!! Bukannya hari ini, hari spesial biar kamu. Sesuai isi pesan dari Alana. aku akan menemani kamu. Dan ingat jangan sedih, si hari spesial kamu. Kamu gak boleh sedih." ucap Miko, seketika ucapannya membius hari Cia, gadis itu terdiam, menatap dalam mata Miko yang sepertinya berbeda dari Miko yang biasanya.
Ada apa dengan Miko, kenapa dia perlakukan aku berbeda. Dari sangat lembut, berbeda dari biasanya. Dan sepertinya dia tidak terlalu khawatir dengan Alana. sia terlihat santai, saat Alana menuliskan surat itu. Apa dia sudah gak ada hubungan dengan Alana. Tapi itu tidak mungkin.
"Oya, aku membawakan sesuatu buat kamu?" ucap Miko, mengeluarkan sebuah kitak hitam untuk Cia.
Cia mengernyitkan keningnya. M
"Apa ini?" tanya Cia, mengambil kotak itu, dengan penuh senang hati. Jarang-jarang dia baik banget padanya.
"Bukalah!! Nanti kamu juga akan tahu sendiri, jadi gak usah di beri tahu, kamu juga akan tahu." ucap Miko.
Cia menatap Miko, mengembangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman manis di wajahnya. Cia segera membuka kotak hitam, dengan pita merah diatasnya. Membuat ia sangat tertarik. Ia tidak pernah dapat spesial di hari ulang tahunnya.
Mata Cia seakan mau melomoat keluar, melihat apa yang ada di depannya. Jemari tangannya seketika bergetar. "Ini jam, mahal Miko. Kamu memberikan padaku?" tanya Cia memastikan.
Miko mengangguk antusias,
"Iya, karena aku mau yang spesial juga buat teman aku. Cia, aku dan kamu temenan sejak lama. Jadi aku harus siapkan yang spesial juga untuk kamu," jelas Miko. mengusap ujung kepala Cia, mengacak-acak rambutnya sedikit.
Cia yang semula tersenyum, ia menarik sudut bibirnya ke bawah. Teringat dengan Alana, membuatnya tidak bisa menerima hadiah itu.
"Sepertinya aku gak bisa terima, lebih baik kamu berikan pada Alana, dia yang lebih pantas pakai jam tangan ini. Aku gak berhak Miko." Cia berusaha mengembalikan kotak hadiah itu lagi pada Miki, namun Miko bersikeras tidak mau juga di kembalikan.
"Ini buat kamu Cia, aku membawakan ini untuk kamu. Aku sudah mengumpulkan uang, lama untuk membelikan jam tangan ini padamu, di waktu kamu ulang tahun, yang ke 17." Miko, memegang tangan Cia, meletakkan di atas telapak tangannya.
"Ambilah. aku mihon, hargai usaha aku slemaa ini,"
"Miko? kenapa kamu melakukan ini padaku, bukanya kita hanya teman. dan kamu adalah pacar Alana. apa kamu tidak memikirkan hati Alana kalau sampai dia tahu." ucap Cia.
"Karena aku oerduli dengan kamu," ucap Miko, aontak membaut Cia melebarkan matanya.
Joy yang berdiri di luar, ia mendengar hal itu seketika lengaung masuk ks dalam kaamr Akaja.
Brakkk...
"Joy!!" gumam Cia.
"Dasar kurang ajar, kamu menyatakan cinta untuk Alana. Tapi kenapa kamu malah menyakiti dia, apa kamu bodoh dia sangat baik padamu. Dan dia sangat mencintai kamu." Joy menarik kerah Miko, dan langsung menghujani dengan beberapa pukulan sekaligus.
"Joy cukup, apa yang kamu lakukan?"
"Aki sudah bilang, jika kamu menyakiti Alana. Maka kamu akan berurusan denganku, ku tidak akan pernah terima. Jika kamu menyakiti Alana. Dia baru pertama pacaran, dan kamu menyakitinya" bentak Joy, yang terus menghujani pukulan-pulan di wajah Miko.
"Bukanya kamu suka dengan Alana. Dam dia juga suka dengan kamu," ucap Miko. "Dan aku tidak pernah menyakiti dia, kamu tahubsendiri, Cia itu spesial bagiku sebagai teman, soal hati dan cinta aku masih memberikan semuanya pada Alana." ucap Miko, menepis tangan Joy di kerahnya.
Joy terdiam, sedikit menundukkan kepalanya. "Kenapa kamu diam?" tanya Miko, mendorong-dorong tubuh Joy.
"Shiitt.. Pergi sana," ucap kesal Cia.
Cia Menatap ke arah Miko, ia mengerti perasaan Miko. Dari dulu memang dia sangat spesial untuknya, tapi hanya spesial sebagi teman.
Cia memegang ujung bibir Miko. "Kamu gak napa-napa, biar aku kompres ya?" Cia terlihat panik, ia yidka tega melihat Miko terluka.
Miko memegang tangan Alana, yang kenyentuh ujung bibienya, ke dua mata mereka saling tertuju, dan.
Deg..
Tuhan.. Perasaan apa ini, kenapa perasaan ini semakin kaut, saat dia menatapku, seakan aku tidak bisa lepas darinya. Aku suka lagi dengannya.
"Cia, kenapa.kamu?" tanya Miko, menatap detail wajah Cia.
"Gak napa-napa, udah aku mau pergi." ucap Cia, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu!! Kita pergi bersama ke bawah," gumam Miko, memegang pergelangan tangan Cia. Seketika gadis itu, menoleh ke belakang, menatap Miko, penuh dengan senyuman, membuat hatinya semakin berdebar tidak teratur.
--------
Di sisi lain, Alana masih berada di pinggir pantai, melamun menatap ke pantai yang terhampar luas di depannya.
"Kamu melamun?" tanya David, duduk di sampingnya. Membawa dua kelapa muda.
"Kamu dari mana tadi?" tanya Alana.
"Ini buat kamu, minumlah," ucap David, tanpa menatap ke arah Alana.
"Tumben baik!! Tapi ini iklhas gak? Atau kamu may meracuniku?" ucap Alana curiga.
"Lagian kenapa juga aku meracunimu. Udah minum, kalau hak mu, biar aku minum sendiri." ucap David kesal.
"Iya, iya aku minum." Alana segera mengambil kelapa muda di tangan David.
"Jangan kebanyakan melamun, nanti malah, kamu yang kemasukan di sini." umpat David kesal. "Jadi aku yang repot nanti," lanjutnya
"Siapa juga yang melamun. Aku hanya memikirkan sesuatu." gumam Alana, tanpa menatap ke arah David.
"Kamu tadi, sudah jangan terlalu di pikir" ucap David datar.
"Oya, apa, aku boleh tanya?" tanya Alana, yang mencoba untuk memberanikan dirinya bertanya pada David, manusia es yang membuatnya naik darah dari tadi.
David, menatap ke arah Alana. "Mau tanya apa, asal tidak tanya masalah pribadi. Aku gak masalah" gumam David, sambil menikmati kelapa muda, yang ia bawa.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Alana, melirik ke arah David. Ke dua mata mereka saling tertuju beberapa detik.
David menarik satu sudut bibirnya. Meletakkan kepala muda di tangannya, di samping Alana dan beranjak berdiri, menembus desiran ombak yang menghantam pasir di depannya.
"Kamu pasti tahu, ada acara apa sekarang? Kamu juga pasti tahu semuanya, jadi jangan tanya lagi,"
"Apa kamu gak mau jika di jodohkan dengan Kak Cia. Bukanya kalian sangat dekat, setiap hari selalu bersama dan Kak Cia sangat menyukai kamu." tanya Alana yang semakin penasaran dengan laki-laki es seperti dia.
"Perasaanku bukan di bilang cinta sejati, aku hanya merasa nyaman saat bersamanya. Dia selalu mengerti aku, dan menghibur aku. Bukan berarti kita akan selamanya bersama. Soal cinta sejati, aku tidak pernah tahu, cinta sesungguhnya seperti apa. Dan entah kenapa, aku merasa tidak terlalu suka dengan perjodohan ini. Dan aku belum tahu betul perasaan aku sebenarnya. Jika di jodohkan rasanya terlalu memaksakan diriku, untuk mencintainya, untuk selalu bersamanya." jelas David, secara detail.
"Upss.. Aku gak sengaja baca soal hal itu. Jadi jangan bantak bicara, atau bertanya lagi tentang itu.
Kenapa David bisa bicara seperti itu. Apa semua laki-laki sama. Dan berarti kak Joy hanya sebatas suka, bukan cinta sejatiku. Dan dia belum tahu rasa cintanya seperti apa. Aku yakin pasti dia sama dengan Joy. Kak Joy saja gak bisa berpegang teguh pada pendiriannya.
David duduk kembali di samping Alana, dan kembali mengambil kelapa di samping Alana.
"Kamu kenapa melamun," tanya David datar.
"Gak napa-napa," ucap Alana, mencoba melupakan pikirannya tentang Joy.