
"Apa kamu teman Alana? Sejak kapan kalian berteman? Udah lama atau baru saja, terus di mana kamu kenal dengannya?" tanya Miko beruntun membuat Alana kesal. Ia terus nrngintrogasi Adrian seolah-olah dia adalah pacar Alana.
Namun, Adrian tidak menganggapnya serius. Ia hanya tersenyum. "Aku baru satu tahun berteman dengannya. Bertemu juga kebetulan di acara bakti sosial." ucap Adrian "Kamu teman satu kelas Alan?" lanjut Adrian bertanya pada Miko.
"Iya"
"Oya na maaf ya atas kejadian kemarin, kalau aku gak ajak kamu pergi ke sana dengan Joy gak mungkin seperti ini" gumam Adrian berdiri di samping Alana.
"Udah gak usah di pikirin kak, lagian aku gak apa-apa hanya akk Joy masih belum sadar. " gumam Alana menundukkan kepalanya.
Adrian menepuk pundak Alana. "Udah jangan sedih, kakak kamu pasti baik-baik saja."
"Iya kak!!"
"Oya kamu udah makan belum?" tanya Adrian.
"baru mau makan tadi kak!"
"Ya, udah. Aku suapin ya!!"
Miko yang melihat perbincangan mereka merasa kesal sendiri. Seakan tidak di anggap di sana. "Ehemm... Ehem..." Miko terus berdahem namun tetap tidak di hiraukan oleh Adrian dan Alana. Adrian menyuapi Alana sendok demi sendok.
"Dari tadi aku gak di hiraukan malah sekarang bermesraan berdua di depanku" gumam Miko.
"Alana!! Aku bawa makanan banyak buat kamu!!" teriak Cia, berjalan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Semua kompak menatap ke arah Cia yang berjalan masuk dengan mamanya. "Dia siapa?" tanya Keyla menatap ke arah Adrian.
"Aku Adrian tante!!" ucap Adrian.
"Oo, temannya Alana"
"Iya dia teman aku ma!!" sambung Alana.
"Kak Adrian kenalin dia mama aku, dan dia kakak aki Cia!!" ucap Alana mengenalkan keluarganya.
Iya, Ke dua mata Adrian dan Cia saling tertuju satu sama lain. "Laki-laki ini benar-benar beda, dia sangat sopan, lebih cocok dengan Alana." batin Cia, mengulurkan tangan ke arah Adrian.
"Kenalin aku Cia"
Adrian mengulurkan tangan ke arah Cia. "Aku Adrian!! Kamu di sekolah sama dengan Miko dan Alana" tanya Adrian.
"Iya!!"
"Oya ayo kita makan, aku udah bawa makanan banyak . Jadi kita makan sepuasnya." Alana berjalan meletakkan beberapa makanan di meja.
"Cia mama pergi dulu ya" ucap Keyla mengambil ponselnya di dalam tas.
"Mau kemana ma!!" tanya Cia menoleh ke arah mamanya.
"Ada telepon dari papa!!" ucap Keyla, segera beranjak pergi dari kamar Alana.
Keyla segera mengangangkat telepon Alvin. Yang daei tadi sepertinya tak berhenti menghubunginya.
"Syang!! Gimana keadaan Alana dan joy?" tanya Alvin sangat panik.
"Apa kamu sudah tahu jika anaka kamu hamoir tergelam" ucap keyla.
"Assisten aku yang memberi tahunya!!" ucap Alvin.
"Oo. Joy belum sadar, dan Alana baik-baik saja sekarang, mungkin besok sudah boleh pulang! Kapan kamu pulang?" tanya Keyla.
"Besok aku akan pulang!!" gumam Alvin.
"Oya, aku mau tanya kenapa kamu dari kemarin gak menghubungiku. Apa banyak kerjaan di kantor?"
"Gak ada sih, Kemarin aku ada di luar negeri, ponsel aku ketinggalan di rumah. Tapi aku udah beli batu sekarang. Makanya aku langsung menghubungi kamu!!" Alvin menutup matanya beberapa detik, sebenarnya ia tidak sanggup bohong dengan keyla. Tapi ia harus terpaksa bohong sekarang.
"Pantas dari tadi aku menghubungimu gak bisa, dan kenapa gak bilang. Dan cepat-cepat hubungi aku pakai nomor manajer kamu!! Atau nomor assiten kamu" gumam Keyla kesal mengutarakan isi perasaannya.
"Emm itu.. Manajer aku gak ikut!! Udah sekarang kamu rawat anak-anak dulu, aku akan segera oulang" ucap Alvin.
"Oo. Ya sudah sekarang aku mau lihat anak-anak dulu kalau begitu."
"Baiklah!!"
"Kamu cepat pulang!!" Keyla segera mengakhiri panggilannya.
Dan masuk kembali ke ruangan Alana. Bergabung makan bersama dengan yang teman-teman Alana yang sudah makan pizza dengan sangat lahapnya.
"Alana kamu gak makan lagi?" tanya Miko.
"Enggak aku udah kenyang!!"
"Ini enak lo, Coba deh!!" Miko menyuapi Alana potongan Pizza yang ia ambil. Alana yang semula malu-malu ia menermia begitu saja, pizza itu masuk dalam mulutnya.
"Alana tunggu!!" ucap Miko.
"Ada apa?"
"Ada sisa makanan di bibir kamu!!" Miko mengusap lembut bibir Alana, membuat hadi itu terdiam, dengan detak jantung berpacu sangat cepat. Pandangan mata mereka saling tertuju satu sama lain, membuat Keyla yang melihat mereka, tersenyum memutar kenangan dia dulu bersama dengan Ian.
"Entah di mana Ian sekarang, dan ngapain juga aku memikirkannya" Batin Keyla.
"Maa!! kenapa diam?" tanya Cia, menepuk pundak mamanya yang terlihat melamun dari tadi dengan potongan pizza yang masih tetap di tangannya.
"Eh.. gak apa-apa Cia!!" ucap keyla. "Apa kalian pacaran?" tanya Keyla mengalihkan pembicaraan.
"Gak!!" jawab Alana tegas, menepis tangan Miko di bibirnya.
"Gak kok tante hanya berteman!!" jawab Miko.
"pacaran juga tidak apa-apa, asalkan positif. Dan tidak mengganggu pelajaran kalian di sekolah" gumam Keyla.
"Ya, udah tante aku pergi dulu ya, aku masih banyak urusan sekarang!!" ucap Adrian, beranjak berdiri.
"Alana aku pergi dulu ya!! kamu harus cepat sembuh dan segera pulang. Aku akan jenguk kamu lagi nanti di rumah kamu!!"
"Iya kak!! hati-hati" ucap Alana dengan senyum tipisnya.
Adrian yang merasa hatinya sakit melihat apa yang ada di depannya. Ia segera pergi dari meninggalkana mereka semua.
"Ma, tadi papa bilang apa?" tanya Cia.
"Papa bilang besok pulang!!" Jawab Keyla.
"Emangnya papa sekarang ada di mana?" tanya Alana yang juga penasaran.
"Di luar negeri, tapi dia gak bilang kemana!!"
Alana terdiam seketika, saat mendengar jika papanya di luar negeri. kenapa dia di luar negeri, apa dia mencari seseorang, pikir Alana.
"Na!! kenapa kamu diam?" tanya Cia.
"Gak apa-apa, hanya saja aku lagi malas. Sekarang aku mau tidur" gumam Alana.
"Buat siapa?" jawab Cia antusias.
Alana tak menggubris ucapan Miko, ia beranjak berbaring sendiri di ranjangnya.
"Buat Alana!! Emangnya buat kamu!!" ucap Miko, melebarkan matanya seakan menatang Cia.
Cia beranjak berdiri, melihat apa yang berada di tangan tas kecil sehabis belanja di mall di tangan Miko. Ia mencoba mengintip apa isi tas itu.
"Apa isinya!!" ucap Cia.
Miko segera menyembunyikan tasnya. "Jangan lihat-lihat"
"Coba lihat!" Cia mencoba meraih tas di belakang punggung Miko.
"Gak boleh!!"
"Lihat!!"
"Enggak!!"
"Udah kenapa kalian malah ribut sendiri. Jangan berisik Alana sedang tidur." ucap Alana yang semula diam, melihat kelakuan anaknha tanpa tahu Alana sudah berbaring di ranjangnya.
"Gara-gara kamu, aku gak jadi berikan ini pada Alana" ucap kesal Miko.
"Kenapa aku!!"
"Kalau kamu gak kepo terus aku udah berikan ini pada Alana."
"Lagian kenapa gK dari tadi aps aku gak ada sekalian kalau kamu beri dia hadiah!!"
"Emm.. Tadi aku lupa!!"
"Salah sendiri lupa, sekarang itu buat aku!!" ucap Cia, duduk mendekati Miko.
"Gak beleh!! Ini hanya untuk Alana"
"Oke baiklah, kalau gitu kamu gak boleh jenguk Alana lagi!!"
"Kenapa kamu ngelunjak sih, ini bukan buat kamu. jadi jangan maksa, ini gak berhak untuk kamu. Lebih baik aku berikan pada Alana yang baru saja terkena musibah. Kalau kamu masih sehat gini, bisa beli sendiri entar" ucap Miko, beranjak berdiri meletakkan tasnya di atas meja samping ranjang pasien Alana.
"Udah!! Sekarang kalian jangan bertengkar terus, dan kamu Cia, hadiah itu untuk Alana jadi kamu jangan main ambil saja." ucap Keyla.
"Iya benar itu apa kata mama kamu!!" ucap Miko.
"Nyeselin!!" umpat kesal Cia.
"Biarin!"
"Sana pulang!! Jangan lama-lama di sini, malas lihat wajah kamu"
"Aku gak mau pergi gimana!!" Miko mendekatkan wajahnya ke arah Salsa.
Pertengkaran mereka seolah sudah biasa di depan ibunya. Lagian Miko juga sudah sering bertemu ibunya saat tak sengaja ia bertemu Cia di mall untuk belanja.
"Kalian jangan berisik!! Aku amu tidur!!" Ucap Alana meninggikan suaranya, menoleh ke arah Cia dan Miko. "Kalian keluar! Aku mau sendiri di ruangan ini. Maaf!!" ucap Alana, melanjutkan tidurnya lagi.
"Baiklah!! Mama dan Cia akan tunggu kamu di luar" Keyla beranjak berdiri menghampiri Cia.
"Tapi Maaa"
"Udah ayo pergi!!" Keyla tersenyum tipis menatap Alana, menarik tangan Cia untuk segera pergi. Namun, pandangan Cia masih tertuju ke arah Miko, dengan mata melebar, tatapan menantang ke arah Miko.
"Kamu juga pergi kak!!" ucap Alana pada Miko.
"Aku pergi, terus kamu di sini sama siapa, kalau kamu butuh apa-apa gimana? Siapa yang membantu kamu nantinya" ucap Miko. "Gak amu gak mau pergi, aku akan tetap di sini menemani kamu di sini" lanjutnya.
"Aku bilang pergi!!" ucap Alana.
Miko memegang tangan Alana.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang tapi jangan lupa tidur nyenyak ya." ucap Miko.
"Iya!!" jawab Alana cuek.
"Kenapa kamu cuek, aku salah ya denganmu" ucap Miko, perlahan melepaskan tangan Alana.
"Kaka!! udah tolong kamu pergi ya dari sini" ucap Alana, berusaha berbicara lembut dengan Miko.
"Iya aku pergi!!" Miko segera melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Alana. Sebelum menginjakkan kakinya keluar dari ruangan itu, ia menoleh menatap Alana, yang sudah mulai memejamkan matanya.
Merasa sudah pergi semuanya Alana membuka matanya, ia melihat tas kecil di sampingnya. "Apa ini!! Kenapa Miko meninggalkannya di sini!" ucap Alana.
Alana beranjak duduk, dan mulai membuka apa isi di tas itu. "Buku!! Kenapa dia mengirim aku novel ini" gumam Alana lirih. Alana mengambil aebuah kertas kecil di ablik buku itu.
Untuk Alana, semoga celat sembuh. Aku kirimkan buku ini untuk menemani kamu di rumah sakit. Dari pada bosan baca buku pelajaran. Aku beri kamu buku novel yang cocok dengan perasaan kamu.
"apa-apaan Miko" gumam Alana, mencoba membuka buku itu. Sebuah novel cinta. "Em tapi sepertinya tidak ada salahnya jika aku baca novel sebentar" gumam Alana.
Di Australia.
Alvin bersama dengan assistennya, mencari seorang wanita yang pernah hilang beberapa tahun yang lalu. Ia ingin menjelaskan padanya.
"Tuan!! Apa sekarang tuan mau pulang ke rumah atau tetap mencari wanita itu?" tanya Assisten Alvin yang berdiri di belakangnya.
"Bentar, bukannya di depan adalah rumahnya, kurang sebentar lagi aku bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf dengannya." ucap Alvin.
Alvin segera mengetuk pintu rumah yang terlihat sangat sederhana.
Tok.. Tok.. Tok..
"Siapa?"
Seorang wanita cantik yang terlihat masih sangat muda, membuka pintu rumahnya. Sontak, ia membuka matanta lebar, melihat Alvin berdiri di depan matanya, ia melangkahkan kakinya ke belakang dua langkah.
Dan segera menutip pintunya kembali. Dengan sigap Alvin memegang tangan wanita itu. "Kenapa kamu diam, dan tiba-tiba menghindar" gumam Alvin.
"Lepaskan aku!!"
"Enggak akan!! aku mau bicara dengamu!" ucap Alvin.
"Gak ada yang perlu di bicarakan, sekarang kalian pergilah" ucap wanita itu.
"Sebentar saja!!"
"Kalau kamu mau bicara dengan aku, sekarang kembalikkan anak aku!!" ucap waniga itu.
Alvin langsung masuk ke dalam rumah wanita itu. "Kamu jaga di luar, aku mau bicara dengannya" ucap Alvin, segera menutup pintunya.
"Pergi dari sini, ku gak mau suami aku tahu kamu ada di sini" ucap Wanita itu mendorong-dorong tubuhnya.