
Di balik sebuah desa. Seorang gadis duduk sendiri di kamarnya, ia yang semula sibuk tiba-tiba terdiam diri di kamar melihat sebuah kenangan kecil dari sosok yang sekarang ia rindukan.
Alana yang baru saja selesai membantu yang lainnya ia bersiap lagi suntuk memikirkan gimana seseorang yang sangat ia rindukan sekarang. Ia memutuskan untuk mencari tempat yang sepi dekat sungai biar ia bisa merasakan desiran air sungai menyapu pendengarannya, yang bisa membuat pikirannya jadi tenang nantinya. Ia berjalan seorang diri menelusuri sebuah hutan kecil. Ia yang semula ingin melihat pemandangan di sana, tersesat dan masuk ke dalam sebuah hutan terpencar dengan yang lainnya.
Joy yang menyadari Alana tidak ada, ia berjalan ke depan untuk bertaya pada yang lainya.
“Adrian!! Kamu lihat Alana tidak?” tanya Joy, yang dari tadi terus mencari Alana di sekitar rumahnya. Ia tidak melihat Alana dari tadi.
Adrian yang sibuk membantu yang lainnya bersiap untuk pulang, ia menatap ke Joy tepat berdiri di sampingnya. “Alana bukannya dia tadi di dalam!!” ucap Adrian dengan wajah nampak bingung, ia memang terakhir melihat Alana di dalam, dan setelah itu ia tidak melihatnya lagi. Karena terlalu sibuk dengan kegiatan di luar, membagikan beberapa makanan yang sudah ia pesan untuk keluarga yang terkena bencana, lalu membantu yang lainya untuk bersiap memasukan barang-barangnya ke dalam mobil.
“Dia gak ada di dalam!” jawab Joy bingung, ia memikirkan di mana Alana sekarang berada.
“Tadi sih terakhir aku lihat dia di kamar, katanya masu sendiri dulu. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan dia di kamar” saut Marsha.
Mata Adrian melebar seketika, saat mendengar hal itu, tapi ia tidak melihat Alana ada di dalam rumah.
“Maksud kamu? Tadi dia bilang padaku jika ke dalam sebentar untuk mengambil baju-bajunya yang masih ketinggalan.” Ucap Adrian, belum sempat menjawab ucapan Adrian Joy berlari masuk ke dalam rumahnya, menelusuri setiap ruangan di sana, hingga ia berhentin di pintu belakang rumah, telihat pintu itu terbuka. “pintu terbuka!” gumam Joy, segera kembali masuk ke dalam kamar Alana, ia melihat koper Alana sudah siap di atas ranjang.
“Pergi kemana dia?” tanya Joy dalam hatinya, ia mengusap rambutnya kasar, lalu mengusap mukanya dengan wajah penuh dengan penyesalan.
Adrian yang tadi di depan, ia berlari masuk ke kamar Alana yang mendapati Joy masih berdiri di sana. “Gimana kamu sudah bertemu dengan Alana?” tanya Adrian dengan nada terburu-buru, ia menarik napasnya, mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
“dia gak ada!!” ucap Joy, ia tidak begitu perdulikan Adrian yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu tahu pintu belakang itu menuju kemana?” tanya Joy.
“Pintu itu menju ke hutan, bukannya di belakang itu hutan lebat, menuju ke sungai deras yang ada di desa sini, dan pintu belakang tadi suda kau tutup, lagian semua anak juga sudah di depan semua.” ucap Adrian. “Memangnya kenapa?”
Tanpa menjawab pertanyaan Adrian, Joy berlari melewati pintu belakang menuju ke hutan.
“ALANA!!” teriak Joy menggema.
“Alana kamu di mana?”
“Alana!!”
Joy tak berhenti memanggil nama adiknya itu, ia terus berlari menuju ke tengah hutan, dan masih belum menemukan Alana. Ia yang semula berlari, kini ia harus berjalan melewati semak belukar dan beberapa ranting pohon yang berserakan di tanah.
“Alana kamu pergi kemana? Kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang?” Joy terus bergumam dalam hatinya.
~~
“Aku ingin melihat suasana di pinggi sungai, pasti menyenangkan. Menghilangkan rasa suntuk kepalaku” ucap Alana berjalan semkain mendekat ke arah sungai, ia berjalan dengan langkah penuh kesenangan. Beban pikiran yang selama ini ia sembunyikan semuanya terasa penuh di otaknya, ia ingin bercerita dengan seseorang tapi baginya tidak ada yang dapat di percaya. Ia hanya meluapkan semua emosi dalam hatinya pada alam bebas di sekitarnya, jauh dari keramaian lalu lantang oarang yang melintas.
Alana duduk di pinggi sungai, berterik. “sungai, aku inin cerita padamu!’ teriak Alana.
“Kenapa aku harus hidup seperti ini jauh dari ibu aku yang sebenarnya, dia pergi kemana. Aku ingi mencarinya. Aku ingin hidup dengannya, meskipun aku harus hidup susah aku gak perduli” ucap Alana, menundukkan keplanya, perlahan butiran bening menetes dari kelopak matanya.
“Aku gak tahu, kenapa semuanya jahat padaku, kenapa semuanya tidak syang denganku!! Semua merasiakan keberadaan mama aku, semuanya jahat!!” ucap Alana meluapkan isi hatinya selama ini, ia tidak bisa menahan kesedihannya lagi, hingga tetesan air mata tidaknbisa lagi terbendungkan lagi, semakin membanjiri matanya.
“Alana!!” Joy memelankan suaranya saat melihat Alana berdiri di pinggiran sungai, terdiam mentap ke arah sungai di depannya.
Dari kejauhan Joy bberjalan menuju ke sungai dengan langkah sangat hati-hati, ia mencoba mengejutkan Alana.
Doorr..
Alana sontak menoleh mentap ke belakang, namun kakinya tiba-tiba terpeleset dan jatuh tejebur ke sungai.
“Alana!!” Teriak Joy, yang langsung spontan menceburkan dirinya ke sungai untuk menolong Alana, meski arus sungai terlihat sangat deras ia tidak perdulikan itu. Ia tahu jika Alana tidak bisa berenang. “Alana pegang tanganku, bertahanlah” ucap Joy, dalam hatinya. Ia terus mencoba meriah tangan Alana yang sudah semakin tergelam ke bawah.
Alana tersenyum, dan memejamkan matanya. “Entah apa aku bisa bertahan atau tidak, kakak jangan menolongku. Biarkan saja aku terbawa dalam air” batin Alana.
Joy dengan sigap menarik tangan Akana dalam dekapannya, dan mengecup bibir Alana agar ia bisa bertahan dalam air meski hanya sementara. Joy menarik tangan Alana agar dia sampai ke tepian lebih dulu, dan di sana sudah ada Adrian yang ternyata dari tadi berteriak minta tolong di sana, ia tahu jika Joy dan Alana ada di dasar sungai.
Adrian berhasil meraih tangan Alana menariknya ke pinggiran dan Joy terbawa arus, dan warga yang lain berusaha menolongnya.
“Alana, maafin mama!!” ucap Keyla yng mendampingi Alana di rumah sakit, ia menggenggam tangannya sangat erat hingga tetesan air mata tak tertahankan dari mata indahnya.
Semenjak kejadian tadi Adrian langsung membawa Alana ke rumah sakit pusat kota. Dan menghubungi pihak keluarga Alana. Dan Joy juga sudah di temukan dan sekarang dia masih koma di dalam rumah sakit.
Perlahan Alana membuka matanya, ia melihat sekelilingnya. “Aku dimana?” tanya Alana memegang kepalanya yang terasa masih pusing, karena tidur hampir beberapa jam.
“kamu di rumah sakit” ucap Keyla dengan tetesan air mata yang tak hentinya keluar dari matanya.
“Dirumah sakit?” tanya Alana terkejut. ia memegang kepalanya mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Ia yang semula berada dalam air tiba\-tiba berbaring di ranjang rumah sakit. ia tiba\-tiba teringat dengan seorang yang menolongnya.
"Iya, kak Joy mana aku mau lihat dia" Salsa mencoba berdiri mencari Joy.
"Na!! kamu di sini dulu, nanti juga Joy ke sini kok" ucap Cia, mencoba berbohong.
"Tapi kak! Aku mau melihat dia. Aku mau berterima kasih padanya!!"
Cia memegang ke dua bahu Alana agar tetap diam di tempatnya dan tidak banyak bergerak lagi. Kondirinya yangbelum sepenuhnya pulih, dari beberapa jam tertidur.
"Tapi dia baik\-baik saja kan?" tanya Alana, memandang wajah mamanya dan Cia bergantian.
Cia dan Mamanya salung memandang dalam diam, ia tidak tahu harus jujur pada Alana atau berbohong padanya. Jika kondiri Joy masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Ia masih terbaring lemah di rumah ICU.
"Ma! kenapa kalian diam? Kak Joy baik\-baik saja kan?" tanya Alana memastikan.
"Na, aku mohon kamu tenang dulu, ya. Sekarang kamu makan dulu. Nanti aku ceritakan kondisi Joy" ucap Cia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau tahu sekarang!!" Alana semakin meninggikan suaranya.
Keyla memegang tangan anaknya menciba menenagkan hatinya. Dan Cia menarik napasnya dalam\-dalam mencoba bercerita ya g sebenarnya pada adiknya itu.
Ckreeekkkk..
Suara pintu terbuka mengurungkan niat Cia untuk membari tahu Alana. Ia menghembuskan napasnya lega, dan menoleh ke arah sumber suara.
"Alana, kamu gak apa\-apa kan?" tanya Miko yang tahu kejadian Alana hampir tergrlam, ia langsung pergi menuju ke rumah sakit.
"Miko!!" ucap Cia terkejut melihat Miko berjalan terburu\-buru menghampiri Alana.
Alana hanya diam, tanpa mengeluarkan suara. Ia masih kepiran gimana keadaan Joy sekarang.
Gadis utu kembali menatap wajah Cia dan Mamanya yang berada di sampingnya.
"Ma, bilang di mana kak Joy sekarang?" tanya Alana dengan nada lembut dan sopannya.
Keyla hanya diam, ia melirik ke arah Cia seakan memberi kode pada anak tertuanya itu untuk bicara dengan Alana, tentang yang sesuangguhnya.
"Emangnya Joy sekarang kemana?" tanya Miko bingung.
Semua teridam, DanCia memutuskan untuk berceruta dengan adiknya. "Kak Joy sedang terbaring di ruang ICU, dia sekarang koma. Karena terlalu lama terombang\-ambing dan bahkan dia sudah hampir tergelam tadi. Untung ada salah satu warga yang menemukannya dan membawanya pergi ke rumah sakit." Cia menundukkan kepalanya, kesedihan membayangi wajahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Alana terdiam seakan kenangan itu terulang lagi dalam ingatannya, semua kebaikan Joy padanya, Dan. Tes...
Butiran kristal itu keluar dari mata indah Alana. Ia tidak menyangka kakak yang selama ini ia cuekin tapi dia sangat perduli dengannya. Ia masih belum menyangka hal itu terjadi.
"Na, aku harap kamu baik\-baik saja. Aku yakin jika Joy pasti bertahan" ucap Cia, memegang bahu Alana.
"Gimana aku bisa tenang kak? Gimana aku bisa senang\-senang seakan tidak ada masalah saat kakak aku sendiri hampir saja kehilangan nyawanya gara\-hara aku. Ini semua salah aku! Aku yang membuat kak Joy jadi terbaring.
"Syang! Ini semua bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri kamu sendiri" ucap Keyla pada anaknya itu.
"Iya, benar apa kata mama kamu, Na." Saut Miko, yang sudah tahu kejadiannya tapi ia tidak tahu jika Joy di rumah sakit juga.