
Setelah makan bersama, ian membawa keyla untuk jalan-jalan keluar, tanpa menggunakan mobil, ia sengaja mengajak Keyla jalan menuju ke pantai yang memang jauh dari tempatnya, jika capek tinggal telepon sopir untuk menjemputnya nanti.
Terik matahari matahari tak menghalangi mereka untuk pergi jalan-jalan keluar dari rumahnya, untuk menikmati pemandangan rumah sekitarnya, mengingat semua kenangan yang ada dalam benak Keyla. Dan semuanya akan berjalan dengan kehidupan yang berbeda.
Di setiap langkah Ian selalu berbincang dengan Keyla, tapi tidak dengan wanita di sampingnya itu, yang lebih memilih diam, dengan wajah nampak kosong seakan banyak pikiran yang sekarang lagi mengganggunya.
Pikirannya melayang, membayangkan di mana saat dia bersama dengan Alvin berjalan menuju ke pantai.
#Flash back 10 tahun yang lalu
Alvin berjalan di belakang Keyla, mencubit tengkuk leher istrinya itu, lalu berlari pergi ke depan, berjalan mudur dengan pandangan mata mengarah padanya.
"Apa yang kamu lakukan, syang!!" teriak Keyla, melotot kesal ke arah Alvin.
"Lagian kamu melamun terus, aku bicara gak di perhatiin sama sekali," decak kesal Alvin, menarik bibirnya tipis, terukir senyum semringai di wajahnya, ia berjalan dengan langkah mundur, menggoda Keyla yang berjalan di depan pandangan matanya.
"Apa yang kamu lakukan syang!! Aku ingin sekali mencubit bibir kamu, atau pipi kamu yang nyebelin!!" decak kesal Keyla, menajamkan bibirnya, dengan ke dua tangan berkacak pinggang.
"Sudah-sudah, kalau memang kanu mau balas aku, sekarang kamu coba saja jalan cepat mengikuti aku. tapi ingat jangan lari," ucap Alvin.
"Awas ya, kamu!!" Keyla melangkah semakin cepat, mencoba mengikuti Alvin, yang sudah jauh berjalan di depannta, Alvin juga tak hentinya menggoda Keyla, melebarkan matanya, dan terus mengejek dirirnya, seakan seperti seorang yang lagi kasmaran lagi.
"Alvin aku capek!!" Keyla menundukkan badanya, dengan ke dua tangan memegang lutitnya, dan napasnya sudah mulai ngos-ngosan di buatnya.
"Aku gak mau lagi kalian, aku mau kamu gendong aku ke pantai!!" ucap keyla manja.
"Gak mau, lagian sudah punya dua anak, masih saja minta gendong. Berat tahu!!"
"Emangnya kamu pernah gendong aku, sampai kamu bilang jika aku berat?" tanya Keyla kesal, mengutupkan bibirnya, dan beranjak duduk, merengek seperti anak kecil.
"Terus kenapa kita di sini?" tanya Keyla kesal.
"Kiya libyran, sekali mau pacaran lagi. Selagi anak-anak bersama neneknya, jadi kita bermanja berdua dulu sebentar," ucap Alvin, dia berjalan mendekati keyla, mengulurkan tangannya ke depan, mencoba meraih tangan Keyla.
"Kalau kamu mau manjain aku, gendong aku sekarang!! Jika gak mau, u juga gak mau pergi!!" ucap Keyla, yang tak hantinya terus merengek seperti anak kecil yang belum di kasih permen.
"Baiklah!!" ucap Alvin, menghela napasnya kesal, ia membalikkan badannya, beranjak duduk jongkok." Cepat anik ke punggungku!!" ucap Alvin.
"Beneran?" tanya Keyla memastikan.
"Kamu gak mau? Kalau gak mau, ya sudah. aku berdiri lagi," Alvin beranjak berdiri, dan Keyla yang masih duduk menatap tajam ke arah Alvin, dan tak hentinya terus berdecak kesal.
"Ya sudah!! Aku pulang sekarang, ku marah sama kamu, aku gak mau lagi bicara dengan kamu, lebih baik kamu sekarang pergi sendiri sana. Kamu bisa senang-senang dan cari wanita baru sesuka kamu, bukanya itu mau kamu," gerutu Keyla kesal, menarik bibirnya sinis, memalingkan pandangannya berlawanan arah.
Alvin mencubit pipi Keyla. Membuat wanita itu semakin kesal. "Sudah sekarang kamu ikut dengan aku atau tidak, jangan marah terus, baby manisku!!" goda Alvin, beranjak duduk jongkok kembali.
"Mau gendong atau tidak?" tanya Alvin, mencoba menawarkan untuk yang ke dua kalinya.
"Jika mau cepat naik, dan ingat jangan banyak bicara lagi. jika kamu gak mau aku pulang sekarabg!!" ucap Alvin.
"Mau!!" Keyla menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis, laku beranjak berdiri, segera naik ke atas punggung Alvin, dengan ke dua tangan melingkar di lehernya. "Kamu pegangan erat!!" ucap Alvin, beranjak berdiri tegap.
"berat gak?" tanya Keyla.
"Berat banget!!" gumam Alvin, meski tubuh istrinya kini mulai terasa berat, ia tetap menggendong keyla sampai menuju ke pantai. Tanpa memperdulikan rasa cepek, menanggung beban berat tubuh Keyla.
-----
"Keyla! Kenapa kamu diam? Apa kamu gak dengar apa yang aku bicarakan pada kamu tadi?" tanya Ian, memegang pundak keyla membangunkannya dari lamunannya.
"Kamu lagi mikirin sesuatu ya"
"Emm.. enggak!!" keyla mencoba mengalihkan jawabannya agar tidak membuat Ian semakin khawatir dengannya, jika tahu kalau dirinya masih mengingat tentang Alvin. Cinta Alvin tidak bisa ia lupakan, dan tanpa tahu jika di balik keromantisan dulu ada penghianatan yang terselip di balik kebahagiaan kecil keluarganya.
"jujur!! jika kamu ada masalah, atau kamu lagi mikirin tentang sesuatu lebih baik kita bicara bersama. aku gak mau jika kamu banyak beban pikiran yang akan membuat kamu semakin stress dan tertekan nantinya," Ian memegang ke dua bahu Keyla, wajahnya terlihat mulai cemas dan khawatir pada kesehatan keyla semenjak cerai dengan suaminya, dan dalam hatinya ia ingin menggantikan Alvin yang sudah perlahan tumbuh di hatinya, meski kenangan indah itu tidak mudah di hilangkan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Dan kenangannya bersama dengan Keyla dulu juga sama, tidak semudah yang ia bayangkan jika melupakan masa indah remaja dengan keyla yang jadi cinta pertama dan pelabuhan terakhir baginya.
"Tidak usah di bahas. Lebih baik sekarang kita tepat menuju ke pantai, aku ingin menikmati pemandangan disana. Aku ingin bermain air hanya sejenak." gumam Keyla.
"Tapi... "
"Sudahlah!! Jangan banyak tanya lagi. Aku tidak memikirkan apa-apa, kamu harus percaya dengan aku. Lagian bukanya sebuah hubungan bisa terbangun jika saling percaya!!"
"Tapi bukanya kamu dulu dengan Alvin juga tidak percaya dengannya. Makanya sampai kamu bisa melirik aku lagi."
"Apa yang kamu jatakan? Kenapa kamu bisa bahas tentang Alvin, ku gak suka kamu bahas tentang dia!!" umpat kesal Alana.
"Memangnya kenapa? Apa kamu tadi memikirkan dia, tapi jika kamu mikirin dia gak masalah bagiku. Karena sebuah kenangan itu tak harus di lupakan, jadikan pelajaran hidup saja, agar kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik meski tanpa dia." ucap Ian sok bijak, memegang tangan Keyla, mengusapnya lembut.
"Sekarang kita lupakan sejenak kenangan itu. Kita habiskan waktu bersama, melewati hari-hari bersama!!" gumam Ian.
Keyla terdiam, mengernyitkan matanya, melihat sosok yang berbeda dari Ian, wajah Ian berubah seketika menjadi Alvin, membuatnya tersenyum tipis. Memandang wajah tampan Alvin berada di dalam bayangannya.
"Alvin!!" ucap Keyla, memegang ke dua pipi Ian, mengusapnya lembut, bayangin wajah Alvin semakin jelas, di balik wajah Ian. Dia tersenyum, memandang wajah Keyla.
"Aku gak menyangka jika kamu akan menemui aku. Aku kangen dengan kamu!!" ucap Keyla, meneteskan air matanya, dan langsung memeluk tubuh Ian, sangat erat. Dan ian hanya diam, ia tidak mau menganggu hayalan mata Keyla di sana, Keyla benar-benar tak bis melupakan alvin, meski di sisinya ada sosok laki-laki lain yang menemaninya saat ini.
"Kenapa Keyla masih membayangkan wajah Alvin? Apa dia masih sangat mencintai Alvin, kenapa dia tidak bisa melihat sisi baik ku sama sekali di pandangan matanya. Di hatinya kini sudah di penuhi dengan nama Alvin, dan Alvin" gumam ian kesal, namun ia tidak bisa marah dengannya, ia tidak mau jika terlalu posesif lagi dnegan orang yang ia sukai, udah cukup dia menyakiti Keyla, membuat hati Keyla hancur, dan membuatnya banyak pikiran membebaninya.
"Alvin!! kenapa kamu hanya diam? Apa kamu masih suka dengan aku? Apa kamu masih mencintai aku, atau tidak?" Keyla melepaskan pelukannya, menatap ke arah Alvin yang hanya diam, dan terus tersenyum di depannya.
"Oya, Syang!! Apa kamu ingat tempat ini adalah kenangan bagi kita. kita pernah meninggalkan ke dua anak kita di rumah, hanya untuk bermain di sini, dan kamu menyiapkan tempat romantis buat aku." Keyla memegang lengan Ian, menunjuk ke jalan depannya, seolah ia mengira jika dia benar-benar Alvin. Keyla mendongakkan kepalanya menatap ke arah Alvin di depannya.
"Alvin!! Aku masih berharap bisa dengan kamu lagi?" ucap Keyla, menyandarkan kepalanya di dada bidang Ian, yang masih ia anggap sebagai Alvin.
"Aku harap kamu bisa kembali dengan kamu. Menjalani hari-hari baru denganmu. Aku ingin mengulang kisah kita, mengulang kisah cinta kita berdua. Maafkan aku!! Yang sempat khilaf, melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan!!" ucap Keyla mengeluarkan semua isi hatinya yang terpendam beberapa hari ini.
Ian mengusap lembut rambut belakang Keyla, "Keyla!!" panggil Ian, mengecup lembut ujung kepala Keyla.
"Ini aku Ian, bukan Alvin." ucap Ian, membuyarkan pandangan sugesti Keyla, yang masih terbesit bayangan mantan suaminya itu. Keyla berdiri tegap menatap wajah Ian di depannya, ternyata bukan Alvin seperti yang di bayangan wajahnya, ia mengusap ke dua matanya berkali-kali, melihat Ian kembali, lalu mengusapnya lagi, dan memastikan apa benar tadi Alvin atau hanya halusinasinya saja.
"Ternyata benar kamu, ian. Maaf!!" ucap Keyla menundukkan kepalanya malu. Dari tadi ia bicara panjang lebar tentang Alvin, dan ternyata di depannya bukan sosok yang ia harapkan.
"Kenapa bisa kamu? Di mana Alvin? Aku tadi melihat Alvin... di mana dia sekarang, kamu bilang padaku, di mana dia. Aku ingin bertemu dengannya... Aku ingin bertemu dengannya.." keyla menarik-narik baju Ian, membuatnya terpental-pental, lalu menyadarkan kepalanya di dada bidang Ian, tangisannya semakin pecah, membasahi pipi manisnya.
Ian memegang ke dua bahu Keyla, membantu dia berdiri tegap, lalu tangan kanan mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Keyla. "Jangan menangis lagi.. Aku tahu kamu tidak bisa melupakannya, tapi semua sudah terjadi. Kita tidak bisa mengembalikan cerita yang dulu lagi!!".
Keyla memukul-mukul dada bidang Ian, meluapkan rasa emosi yang tiba-tiba menyelimuti hatinya, cintanya pada Keyla membuatnya tak bisa berpikir lagi tentang Ian yang pernah singgah juga di hatinya.
"Semuanya gara-gara kamu... Kamu yang membuat aku menderita, dulu meski dia menghianati aku, aku tetap cinta dengannya, tetap bahagia dengannya. Dan saat ada kamu, kamu merubah segalanya. Kamu merebut segalanya, kebahagiaanku. Dan cintaku.." ucap Keyla, menggebu.
"Keyla tenanglah!! Aku mungkin memang salah.. Maafkan aku!! Maaf!!" ucap Ian, memeluk erat tubuh Keyla, melingkarkan ke dua tangannya, i mmxi tangan keyla, membuat tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.
"Aku sangat mencintai kamu!! Aku gak bisa pergi jauh dari kamu .. Aku mohon jika kamu bisa menerima aku. Aku tahu jika aku salah!! Aku memang salah, aku laki-laki bejat yang hanya bisa merusak kehidupan indah kamu dulu. Kebahagiaan rumah tangga kamu." tapi aku gak bisa melupakan cinta aku," ian mengusap kepala Keyla mencoba menenangkan hatinya.
Keyla hanya diam, ia mengatur napasnya yang perlahan mulai hilang. Dan pandangan matanya mulai buram, ia perlahan menutup matanya, dan seketika pingsan di pelukan Ian.
"Keyla!! Kamu kenapa, Keyla," ucap Ian, menepuk-nepuk pipi kiri Keyla, mencoba menyadarkan Keyla.