My First Love

My First Love
32. Ber ujung nginap



"apa hubungan mu dengan dav?",


alvin bertanya pada dian setelah sambungan telephone antara sonya dengan nya terputus


"dav? david maksud anda?", dian balik bertatanya.


"iya", jawab alvin singkat tanpa melihat wajah dian yang kebingungan.


"saya dan pak dav hanya sebatas rekan kerja pak", jawab dian sambil mengerutkan dahi nya.


alvin tersenyum kecut mendengar nya, lalu berbalik menatap dian lagi, namun enggan untuk bertanya lebih jauh pada nya.


"sabar vin... sabar... sabarrrr, kamu akan leluasa jika sudah menjadi suami nya yang sah nanti", alvin membatin tanpa ekspresi dan kembli menatap kedepan.


dian yang melihat tingkah alvin barusan hanya bisa menggelengkan kepala nya pelan.


hari sudah semakin sore hingga akhir nya dian berpamitan pada alvin yang masih betah duduk di bangku taman sore itu. wanra awan yang khas seakan berpamitan pada dua sejoli yang duduk di bangku taman itu perlaman menghilang dibalik awan.


"maaf pak, sudah sore, saya mohon pamit pulang", dian berpamitan sebelun akhir nya ikut menghilang dari pandangan alvin bersamaan dengan terbenam nya sang surya.


alvin tak mau beranjak dari duduk nya, alvin menatap punggung dian lalu berbalik menatap sang surya yang tengah hilang


"kalian sama-sama di telan waktu",


gumam alvin lalu pergi meninggalkan taman blakang rumanh nya.


"alvin dimana nak?


pak albert bertanya pada dian yang kini memasuki rumah melalui pintu blakaang menuju ruangan keluarga, niat nya ingin pamit diri untuk pulang pada pemilik rumah.


"masih di blakang pah",


jawab dian sambil menunjuk kearah blakang


namun saat ingin menoleh mengikuti arah tangan nya, yang di cari pal albert akhir nya tiba.


"apa pah?", tanya alvin pada sang ayah.. alvin kadang panggil ayah nya dengan sebutan papa atau ayah, begitupun dengan ibu nya, kadang di panggil bunda, mama atau ibu. suka-suka alvin aja.


namun belum sempat pak albert menjawab pertanyaan anak nya, dian duluan membuka suara nya.


"maaf pah, kalau boleh dian mohon pamit pulang kw rumah", sambil memberikan senyuman nya pada pak albert dan alvin malah mengacuhkan senyuman tulus dian.


"kenapa cepat sekali pulang nya nak? apa gak boleh yah nginap disini aja nak?", seru bu dian yang mendengar pembicaraan ketiga nya dari arah dapur yang masih membuat makan malam.


bu shinta sangat pandai memasak, soal urusan dapur, bu shinta lah juara nya, meski di rumah besar bak istana kerajaan itu punya koki dan asistend rumah tangga, bu shinta masih saja sempat mengurus makanan didapur untuk suami dan anak tercinta nya.


dian hanya mematung di tempat nya dan menoleh ke arah wajah sang calon suami dan mertua nya. pak albert menganggukan kepala nya


"nak biarlah kamu nginap disini malam ini yah, nanti kan besok pagi, alvin bisa mengahantar mu pukang", pak albert meneruskan pembicaraan istri nya.


"tapi pah?", namub belun selesai alvin membantah nya, pak albert menoleh ke arah wajah nya


"gak ada tapi-tapian vin, cepat sana kamu mandi dan lekaslah kembali ke ruangan keluarga", pintah pak albert tak mau di bantah sang anak.


alvin berjalan menuju lift khusus menuju kamar nya, rasa nya alvin tak punya tenaga harus berjalan melalui tangga rumah.


"sial bangetbsih hidup gue, udah gak pernah pacaran, punya seseorang yang udah bertahun-tahun aku nyari tapi gak ketemu, sekarang, dimasa tua gue harus menikah dengan wanita yang gak gue kenal asal usul nya. astaga..... dosa apa yang gue perbuat dimasa lalu siih", gerutu alvin di dalam lift sambil menjongkok kan badan nya di pintu hingga tak ia sadari saat pintu lift terbuka, alvin malah jatuh tersungkur ke depan dan


"brukkkkk", tubuh nya benar-benar tersungkur ke lantai, alvin teriak kesakitan, namun tak ada yang mendengarkan nya.


"aghhhh silallllll siallll siallll banget sih hidup gue nih, benar-benar sial", teriak nya lagi saat berada di dalam kamar. alvin berjalan menuju kamar mandi sambil memegangi dahi nya yang masih berdenyut karena terbentur lantai.


waktupun akhir nya cepat berlalu hingga sang mentari pagi datang menyapa sang penghuni dunia dengan malu-malu nya, perlahan-lahan akhirnya muncuk ke permukaan bumi.


alvin enggan untuk bangun lebih awal dari biasa nya, karena alvin sudah di cutikan sang ayah saat dian masih berada di rumah sakit demi memperlancarkan urusan pernikahan nya yang hanya terhitung hari saja.


dan dian telah rapih dengan balutan gaun berwarna gold di tubuh nya dan sepwrti biasa, mik up yang ia poles tipis. dian menuju lift dan saat yang bersaman alvin muncul juga disana. ternyata, kamar yang dian tempati bersebelahan demgan kamar alvin, dan di sebelah kamar alvi, ada kamar kosong yang biasa nya ivan tempati. namun belakangan ini seperti nya ivan sangat sibuk, entah apa yang ia kerjakan, bahkan hanya untuk sekedar membalas chating whats up pun ivan hampir tak punya.


"selamat pagi pak", sapa dian, nun tak ada jawaban bahkan anggukan kepalapun tak ia berikan.


alvin memasuki lift terlebih dahulu, sedangkan dian hanya memating, alvin yang melihat dian tertunduk di luar lift akhir nya berbicara juga.


"apa kamu mau berdoa saja diluar sama?",


suara alvin pun menyadarkan dian.


"saya pak?",


dian bertanya sambil menunjuk diri nya sendiri.


"ia.. kamu! siapalagi?",


jawab alvin.


"ba..baik pak",


dian akhir nya masuk kedalam lift bersama dengan alvin.


"satu lagi, jangan panggil saja pak, emang saya bapak kamu?", kata alvin dengan menunjukan nya pada dian.


"baik, tapi saya manggil dengan sebutan apa?", dian bertanya karena bingung harus memanggil nya dengan sebutan apa.


"panggil aja aku kak, atau apalah, jangan pak",


jawab alvin, sebenarnya alvinpun bingung harus mengajarkan dian memanggilnya dengan sebutan apa.


"baik kak", jawab dian pelan.


"waduhhh ngapain sih manggil nya kak, itukan buat cinta pertama ku aja", batin dian sambil menarik pinggiran gaun nya kebawah.


"kamu kenapa gelisah gitu?",


alvin bertanya pada dian yang sedari tadi berada di dalam lift, alvin sengaja belum menekan tombol dalam lift itu.


"tidak kenapa-kenapa pak.. eh kak",


jawab dian gugup.


"apa kamu keneratan?",


alvin bertanya lagi karena penasaran.


namun tetap dian tak mau menyampaikan apa yang sebenanr nya. alvin pun membiarkan dian memikirkan apa yang seharus nya dian pikirkan. liftpun membawa kedua nya ke lantai dasar rumah itu.


"good morning sayang", sapa bu shinta pada calon menantu nya.


"wahhh ternyata gaun itu cocok sama kamu nak, alvin pinter milih nya", kata bu shinta memuji menantu dan putra nya.


dian terkejut mendengarkan apa yang baru saja bu shinta katakan.


"si es bateng ini beliin aku baju? ahhh pantesan aja dia ngeliatin gue mulu tadi di lift, napa gak bilangin memang sih tadi? mungkin yah dia mau aku bilang trimakasih? aku bilang gak yah sekarang?", batin dian.


"trimakasih kak",


dian berterimakasih pada alvin dan alvin pun salah tingkah dan hanya mengangguk, tanpa melihat wajah dian lagi. dan mengepal kedua tangan nya keras.


.


.


.


hay guys.... jangan lupa like, komen, vote yah... trimakasiih 🥰😇🙏