My First Love

My First Love
bab 22



"semoga saja ada tumbuh benih cinta selama perjalanan rumah tangga ku kelak bersama nya", jawab dian lirih pada sahabat nya yang masih setia memeluk tubuh nya dengan lembut sambil mengelus pelan punggung nya. winda yang mendengar nya menyunggingkan senyum dan menatap manik indah bola mata coklat milik dian seakan memberikanan kekuatan melalui senyum nya untuk gadis didepan mata nya. ada kesedihan yang tak mampu dian jelas kan, namun mata nya seakan berbicara pada winda tentang perasaan nya kini, winda yang mengerti arti dari tatapan dian menggenggam tangan nya "jangan sedih, ini adalah pilihan yang sudah kamu tentukan, jika memang kamu tak kuasa menjalani pilihan mu, kamu dapat merubah nya sebelum waktu nya tiba, sebab pernikahan adalah ikatan antara pasangan, tidak ada yang bisah di pisahkan manusia selain tuhan, ikutilah apa kata hati mu, aku percaya apapun keputusan mu adalah yang terbaik untuj masadepan mu kelak", kata winda sambil tersenyum, dian yang mendengar nya kembali memeluk sahabat baik nya itu. "terimakasih win, lo memang sahabat terbaik gue, gue sayang sama lo, semoga lo juga kelak mendapatkn jodoh yang benar-mencintai lo apa ada nya yah", kata dian "amiiin...amiinnn..", jawab winda.


"sepertinya calon istri si alvin ini baik deh, gak mun**k seperti yang di bilangin alvin, gadis ini polos, tapi kenapa alvin malah menuduh nya yang bukan bukan yah?", batin dimas yang sejak tadi mengintai kedua gadis yang berada di lobi studio tempat nya. dimas adalah salah satu sahabat masa kecik alvin dan ivan. dimas sangat sibuk dan selalu tak memperdulikan wanita yang berada di sekitar nya. meskipun begitu banyak gadis yang mengejari nya, dimas tak memperdulikan gadis-gadis, baginya memiliki pacar hanya membuang-buang waktu nya saja. itulah dimas.


kring..kring..kring... "hallo selamat siang", jawab ivan sopan dari sebrang telephone. "hallo van, ini gua dimas, tadi gua hubungi hp lo tapi gak aktif, maka nya gua telpon nomor kantor lo", jawab dimas, "ooh lo mas, ia handpbone gua mati lagi di cas. ada apa bro?", jawab ivan lalu bertanya. "emmm jadi gini, nanti sore minun di *** ada yang pengen gua tanya sama lo dan ini penting banget, lo harus kesana, gua nungguin lo jam 19:00. ok.!", tut tut sambungan terputus sebelun ivan menjawab nya. "kebiasaan ni orang main matiin sambungan telephone sebelum di jawab, dia kira gua gak ada kerjaan apa!", gumam ivan sambil melihat gagang telphone yang masih ia genggam, lalu menyimpan kembali ke tempat nya.


kring...kring... "ada apa lagi!!!!!!", seru ivan mengangkat kembali gagang telephone mendekat ke arah telinga nya. "ke ruangan gue sekarang", jawab alvin dengan penuh penekanan pada setiap kalimat nya. tut tut tut "astaga tamatlah aku", gumam ivan. "lagian ngapain sih", gerutu ivan lagi sambil melangkah lebar menujh ruanga bos nya.


"apa anda memanggil saya pak?", ivan bertanya pada alvin sesampai di dalam ruangan nya. "duduk!", pintah alvin sambil melangkah ke arah sofa yang berada di ruangan nya. ivan menuruti nya "songong amat, serius pula, ada apa yah, kog gua gak tenang gini", gerutu ivan membatin. setelah kurang lebih 10 menit kedua nya tak bersuara, alvin melangkah menuju pintu ruangan, lalu mengunci nya dari dalam dan menutup tirai jendela agar tak seoraangpun yang melihati mereka berdua "ehh lo ngapain pake kunci pintu segala, tuh tirai ngapain di tutupi, lo gak ada niat jahat kan ma gue", cercah ivan sambil berdigik ngeri. "gak usah sok-sokan lo, ngapain gue jahatin lo, ada nya juga lo yang selalu nyakitin hati gue", alvin tak mau di tuduh sahabat sekaligus asistand nya. "ciih, yah udah ada apa lo manggil gue", ivan bertanya sambil mendengus tak suka pada bos nya yang selalu seenak nya saja memerintah bawahan tanpa memperdulikan perasaan bawahan nya, termasuk ivan sahabat nya sendiri.


"bantuin gue cari rumah baru, yang mewah, setelah nikah, gua tinggal sendiri sama istri gue", pinta alvin pada ivan. "haaa??? rumah??? ngapain lo mau tinggal pisah sama bokap nyokap lo, lo kan bisa tinggal aja di rumah keluarg lo, aneh banget lo, masa ninggain bokap nyokap lo sendirian sih", timpal ivan. "gua mau mandiri aja, gak bergantunga sama bokap nyokap gue", jawab alvin santai. "huuhh itu aja kan?", ivan bertanya sekedar memastikan. "hem", jawab alvin. "lo mendingan kalau mau nyuru, jangan seperti ini lagi, mendingan li kirim pesan lewat sms kek, whatsup kek, email kek, atau tekfon gue, males gue..!!!!", ngomel ivan lalu berdiri hendak keluar dari ruangan kedap suara itu. "ehh mau kemana lo", suara alvin menghalangi langkah kaki ivan. "nyari rumah buat lo", jawab ivan sambil mengerutkan kening nya. "gua belum selesai", sambil mengarahkan jari telunjuk kearag sahabat nya. "apa lagi sih, tadi kan lo bilng gak ada lagi", jawab ivan memutar bola mata nya. "ngaco lo, emang kapan gua bilang kek gitu?", alvin malah balik bertanya pura-pura memasang muka kebingungan nya,. "udahlh yah, sultan mah bebas mau ngapain aja", jawab ivan pasrah karena fak ingin berdebat dengan sahabat nya. lalu kembali membantingkan diri nya di sofa itu.


.


.


.


hay guys, terimakasih sudah membaca novel ku ini, jangan lupa like dan beri komentar nya yah 😘😘😘🙏🙏