
"serius lo? dengan alasan apa sih?", kata dr Risal masih merasa belum puas, entah apa tujuan dari kedua teman seperjuangan yang berada di depan nya ini....
"gua cuma bilang lo siapin aja, dan hubungi keluarga gue", jawab alvin
"lalu? cuma mau buat heboh gitu?", dr Risal sambil berdiri dan menghubungi bagian ruangan vip keluarga alvin
yang ditanya hanya tersenyum devil membuat risal berdigik ngeri melihat keanehan yang ada di depan nya ini sambil bergantian menatap ivan, sedang kan ivan hanya masih terus bersandar di kuri sambil menengadahkan kepala nya.
"hallo, tolong bereskan kamar vip nomor 1 secepat nya", kata dokter risal pada seseorang di seberang sana melalui telephone rumah sakit.
entah apa dan bagaimana di sebrang mereapon panggilan nya, hanya dia sendirilah yang tau.
"bagus", kata alvin
"tunggu dulu.. kallian tidak habis berantemkan?? ada apa dengan wajah kalian berdua?", kata dr Rizal sambil berdiri mendekati alvin dan ivan bergantian mondar mandir.
"justru karena itu maka nya kita kesini dan rawat inap", kali ini ivan yang semangat untuk berbicara pada dr Risal.
"yahh, tapi kenapa sampai seperti ini? kog aku baru ngeh yah", kata drRisal
"maka nya liat baik-baik dulu dong", cecar alvin
"tapi gak harus rawat inap segala, aneh-aneh aja kalian berdua kayak gak ada kerjaan di kantor", dr Risal sambil berjalan kembali kembali ke tempat nya dan duduk sambil menyilangkan kedua kaki nya
"suka-suka kita dong mau tidur dimana", dengus ivan tak terima dengan perkataan teman yang ada di depan nya saat ini.
"ya sudah... terserah kalian.., jadi gue meati gimana sekarang?", dr.Risal pin akhir nya mengalah dengan kedua teman nya itu. sebab ia tau betul, dua lelaki di hadapan nya ini sangat keras kepala.
"yah lo mesti pura-pura ngurusin kita lah, pokoknya lu bilang deh ke istri gue kalo gue tadi kecelakaan, selebih nya gue atur", kta alvin santai
"huhhhhh, berat hati gue rasa nya, apalagi cerita nya mau bohongin orang, astaga... mimpi apa gue semalem yah?", gerutu dr. Riki
"lo mau gue pecat?", ancam alvin
"oke deh, tapi cuma hubungi bini lo yah? gak sama om dan tante kan??", dr Risal bertanya lagi untuk meyakinkan diri nya sendiri sih sebenar nya. hehehe
"oke. bini gue aja", alvin melirik wajah ivan yang sudah mulai kelihatan kesal karena hanya dipintah untuk menghubungi dian saja. sedangkan bagaimana winda akan tau jika dia sedang di rawat? dengan cepat berkata "hubungi juga kantor saya, katakan bahwa kami mengalami kecelakaan bersama ivan", lalu alvin kembali melirik ivan, sudut bibir lelaki itu terangkat pertanda ia tersenyum senang.
"oke oke oke... kalian berdua pergi sana..!! ke ruangan vip, sudah disiapkan disana dan jangan berbuat ulah, kami akan nyusul dengan beberapa petugas mengurus bengkak wajah lo dan hidung ivan", kata dokter risal sambil membuka kan pintu untuk kedua lelaki itu.
ivan dan alvin berdiri dari tempat duduk dan berjalan berjejer keluar dari ruangan risal "ingat pesan gue, gak boleh berulah sampai gue kesana" pesan risal setengah berbisik pada keduateman nya. alvin dan ivan tetap melagkah tak memperdulikan risal.
**********
dikantor, dian sedang mengikuti rapat, sedangkan handphone nya berada di mode silent , berkali kali pihak rumah sakit menghubungi nomor nya, dian tidak mengetahui, apalagi handphone nya diletakan di dalam tas.
setelah 30 menit berlalu barulah dian mengambil hp nya dan betapa terkejut nya ia melihat panggilan yang sangat banyak.
ia mengerutkan kening nya "kenapa banyak sekali panggilan masuk? nomor tak dikenal pula", gumam dian tapi tak berniat untuk menghubungi kembali nomor tersebut.
dian baru saja ingin melangkah mebinggalkan ruangan rapat dan kembali ke ruangan nya, pak dimas malah menemui nya. "buk maaf mengganggu", kata pak dimas sopan
"ya,. ada apa pak?", dian bertanya pada pak dimas yang terlihat sedikit cemas.
"maaf bu, tadi ada telephone dari rumah sakit buat ibu", kata pak dimas tapi tidak berniat untuk melanjutkan nya melihat perubahan di wajah dian
"a..a..ap.apa? pak? ada apa?", dian gelagapan dan bertanya
dian selalu trauma jika berhubungan dengan rumah sakit. sebab terakir kali ia mendapatkan berita memiluhkan dari rumah sakit terkait kecelakaan kedua orang tua nya hingga meregangkan nya orag yang sangat di cintai nya di dunia ini.
"apa ibu baik-baik saja?", tanya pak dimas khawatir ibu bos nya kenapa-napa.
"oh ya pak, silahkan lanjutkan.. ada apa?", dian bertanya lagi.
"bapak kecelakaan tadi pagi, dan sekarang berada di rumah sakit AA, tapi tidak perlu terllau khawatir karena bapak....", belum sempat pak dimas menyelesaikan pembicaraan nya, dian berlari meninggalkan pak dimas yang masih mematung sambil menekan panggilan melalui hp android nya menghubungi pan supir pribadi dian.
didalam mobil dian sangat khawatir dan selalu berusaha menghubungi nomor hp sang suami, berharap sang suami mau menerima panggilan dari nya.
"astaga tuhan.. bagaimana ini? apa dia baik-baik saja? dan kenapa tadi pagi aku tidak memperdulikan nya? what's wrong with me?", batin dian sambil menggigit ujung jari telunjuk nya saking khawatir nya ia saat ini.
"ya tuhan , jika saja suami ku terluka parah, mungkin aku tak akan memaafkan diri ku sendiri", batin dian lgi. dian hampir saja gila rasa nya dengan kemacetan kota jakarta hari ini. rasa nya seperti setahun berada di jalanan.
di rumah sakit alvin tidak merespon sedikitpun panggilan telephon dari sang istri. "biarin aja kamu, siapa suru kamu cuek sama aku", gumam alvin sambil menatap layar hp nya.
"ayolah simpan hp mu itu, gimana kalo bini lo tiba-tiba datang? hah? kan gue yang ikut di salahin nanti, di kira nya kerja sama gue ma elu berdua", geritu riski sambil menarik hp milik alvin dan alvin pun hanya menatap nya jengah.
"gimana kalo lo pura-pura tidur aja dan gak boleh bergerak sampai istri lo dateng", kata riski lagi.
"ia... ia deh... bawel banget lo, udah kayak emak-emak aja", gerutu alvin
"pinter... gitukan lebih imut kamu nya",puji riski tersenyum-senyum melihat kelakuan teman nya.
"kapan lagi bisa kerjain si nih bos besar? sekali kalikan boleh.. hahaha", batin riski.
dua puluh delapan menit telah berlalu, akhir nya yang di nantipun tiba.
dian melangkah dengan setengah berlari menuju ruangan vip keluarga pak albert.
"bruk", dian menabrak seseorang di lorong rumah sakit
"maaf mbak... maaf... saya gak sengaja", kata dian pada wanita yang berada di depan nya sambil menunduk memungut lembaran hasil usg dokter.
dan ketika ia ingin memberikan lembaran itu, malah ia tercengang melihat wanita yang berada di depan nya saat ini.
"kamu???", kata wanita itu sambil melebarkan mata nya menatapi dian yang tercengang melihat nya.
.
.
.
hay guys, terimakasih masih setia membaca novel ku in.. jangan luapa klij tombol like, vavorite, dan bagikan cerita nya yah..
terimakasih.