
"Apaan sih kamu kepo aja kak" Ucap Joy, memalingkan pandangannya.
"Kamu sama kakak sendiri gak mau cerita sih" Cia menguntupkan bibirnya hingga menjadi sangat tipis.
"Ya lagian kakak sih, mau tau urusanku" Joy menyondongkan badannya agak ke depan tepat di wajah Cia.
"Baik.. baik.. adik aku paling ganteng ini" Ucap Cia.
Joy tanpa sepatah kata, pergi begitu saja meninggalkan Cia. "Kak bayar makanan aku ya" Ucap Joy berjalan menjauh dari Cia.
Alana membelalakkan matanya, mendengar ucapan Joy tadi.
"Tu laki gak modal banget sih, masak kakaknya suruh bayarin. Lagian tu anak mau kemana, pergi gitu aja tanpa pamit." Decak Cia, segera beranjak menuju kasir.
"Bu.. berapa.?" Tanya Cia.
" 50rb non" ucap pejaga kasir kantin itu.
Cia segera mengeluarkan uanganya dari dalam saku baju khasnya.
"Ini bu, makasih ya" Ucap Cia, melemparkan senyum manis menatap pejaga kasir itu.
Penjaga kasir itu merasa sangat nyaman dengan Cia, karena setiap dia kesana selalu ramah, tak seperti anak-anak lainya. Bahkan dia terkadang kasih uang lebih padanya.
Cia melangkahkan kakinya, tiba-tiba teringat dengan Miko, dari tadi ia tidak melihatnya makan di kantin dengan Alana. Di mana dia sekarang. Apa mereka pergi keluar atau di kelas. Cia terus bergumam dalam hati.
Ia ingin melangkahkan kakinya, namun ia merasa sangat ragu, ingin menuju ke tempat Alana. Tapi percuma nanti juga di cuekin dengan Alana. Apalah daya, memang dia wanita cuek, lama-lama bikin emosi nantinya.
Ting..ting..ting...
Bel pelajaran ke dua sudah berbunyi ke penjuru sekolah, langkah Cia terdiam seketika. Ia memutar badanya, dan beranjak menuju ke kelas. Menatap sekilas ke dalam ruangan kelasnya. Tak ada Joy dan Miko di sana, di mana mereka?. Entahlah Cia juga tidak begitu tau. Cia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
Dan duduk di kursinya, lalu menarik tasnya di meja mengeluarkan buku yang sudah ia persiapkan di atas sendiri.
***
Di sisi lain Joy, berdiri di kejauhan menatap Alana, yang lagi sibuk dengan kegiatan di luar kelas, sepertinya ia memang sibuk melakukan penelitian terhadap tubuhan di depan kelasnya. Tak butuh waktu lama ia masuk ke dalam kelasnya lagi, membuat Joy berdengus kesal, tak dapat menatap wajah Alana.
"Kamana Miko tadi?" Ucap Joy, ia dari tadi memang tak melihat Joy bersama Alana. Hingga sebelum jam pelajaran di mulai dan sekarang pelajarannya sudah di mulai.
Joy beranjak pergi, namun ia masih ragu, melangkah atau tidak. "Kak!!" Terdengar suara seseorang yang mencegah langkahnya untuk pergi.
Joy menoleh, wajah Alana tepat berdiri di belakangnya. "Kak Joy, kenapa di sini?" tanya Alana dengan wajah datarnya.
"Alana!!. Gak tadi aku kasih buku kamu" Joy mengulurkan sebuah buku tentang kedokteran pada Alana.
"Ooo.. Ya makasih" Alana beranjak pergi menuju kamar Mandi.
Bahkan Joy tak berkutik, dan tetap berdiri di tempat Alana tadi menyapanya. Entah kenapa ia ingin menunggu Alana. Hatinya ingin mengucap kata lagi untuk Alana. Ia ingin memberi dia sesuatu. Kali ini sebuah buku yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Ia berharap Alana suka dengan buku yang ia bawakan,
Alana baru saja selesai dan keluar dari kamar Mandi, menadapati Joy masih berdiri di tempat ia menyapanya tadi. "Ada apa lagi kak" Tanya Alana.
Joy merasa sangat gugup, mau ngasih buku itu atau tidak, namun ini penting, karena dia lagi mencari buku itu di beberapa toko hari-hari ini. "Ini buku buwat kamu, semiga kamu suka"ucap Joy, mengulurkan buku yang memang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari untuk Alana. Dan gak ada kesempatan untuk memberikan padanya.
Alana terdiam, dari mana kakanya itu tahu jika dia sedang membutuhkan buku itu. Apalagi sekarang buku itu sangat sulit di dapatkan di indonesia.
"Makasih kak" Alana mengambil buku itu dari tangan kakanya.
"Ya, Sudah sekarang kamu masuk ke kelas" ucap Joy, beranjak pergi meninggalkan Alana.
Hingga jam sekolah pun berakhir. Alana sudah beranjak dari kelasnya lebih dulu. Karena memang saat ada tugas dia selalu mengerjakan dengan cepat, dan di perbolehkan pulang lebih dulu oleh gurunya.
Tak lama Joy keluar menemui Alana yang berdiri di depan gerbang sekolah. "Kenapa kamu masih di sini, gak masuk ke mobil" Tanya Joy, menarik tangan Alana untuk segera masuk.
Alana menepis tangan Joy, "Kakak pulang saja dulu sama Cia, aku ada urusan" ucap Alana.
Cia segera menarik tangan Joy masuk ke dalam mobil, ia tahu jika Miko akan pulang lagi bersama Alana. Hanya itunyang bisa ia bantu untuk Miko dan Alana. Ia berharap mereka bisa saling mencintai, dan saling menjaga.
"Pak jalan" Ucap Cia pada sopirnya.
"Kenapa kak Biarkan Alana sendiri" Ucap Joy, dengan nada kesalnya.
"Dia sudah dewasa Joy, mau sampai kapan kamu terus mengengkang dia" Gumam Cia.
**
Miko menghentikan laju montornya tepat di depan Alana, Ia mengulurkan helm untuk Alana. "Pakailah" Ucap Miko tersenyum tipis.
Alana tanpa banyak bicara, ia segera memakai helmnya. Melihat Alana kebingungan, ia segera memakaikan helm di kepala Alana.
Alana terdiam menatap mata Miko di depannya. Kenapa lelaki ini selalu ada saja cara mendekatiku, dan sikapnya juga membuatku semakin terhanyut dalam perasaan, Gumam Alana.
"Sudah naiklah, jangan lupa berpegangan ya" ucap Miko.
Alana tak menjawab, ia segera memegang jaket Miko dan bergegas naik di belakang montornya.
Montor itu segera melaju, menuju sebuah tempat di mana para pemulung, dan anak-anak terlantar berada.
Miko segera menuju ke tempat di mana sebuah mobil berhenti di pinggir jalan.
"Itu mobil kamu?" Tanya Alana, berjalan menghampiri Miko,
"Aku tadi suruh seseorang untuk memesan beberapa kotak makanan, untuk di bagi-bagikan. Kamu bantu aku bagikan ya" Ucap Miko, segera membuka bagasi mibil belakangnya.
Alana dengan senang hati membantu Miko, membagikan beberapa makanan untuk orang-orang si sana, saat Alana tersenyum Miko diam-diam mengambil gambarnya lagi. Ia tak mau kehilangan moment itu lagi.
Hingga tak tersa semua makanan sudah
habis, tinggal 2 kotak makanan yang tersisa. "Kamu mau makan?" Tanya Miko, mengulurkan kotak nasi ke arah Alana.
"Gak usah" Alana membalikkan kotak makanan itu pada Miko.
"Kamu harus makan, lihatlah mereka makan dengan lahapnya" Ucap Miko menunjuk ke arah para pemulung di depannya.
"Kamu harus menghargai, makanan yang di kasih ke kamu. Kamu harus bersyukur dengan semua yang sudah di berikan padamu. Kamu bisa lihat kan banyak anak-anak terlantar yang tidak bisa makan.
Alana terdiam seketika, ia memahami apa yang Miko katakan.
"Baiklah" Ucap Alana, segera meraih kotak makanan itu di tangan Miko.
Alana segera mengeluarkan tisu di tasnya, dan mulai makan dengan lahapnya bersama mereka semua,
"Alana, bentar ada sisa makanan di bibir kamu" Ucap Miko, meraih tisu di depannya segera mengusap lembut bibir Alana. Tatapan mereka saling tertuju hingga jantung mereka berdetak lebih cepat kali ini.
Apa yang aku rasakan, kenapa oerasaanku seperti ini, gumam Alana. Yang masih menatap Miko di depannya.
"Tolong letakkan tanganmu" Ucap Alana, menepis tangan Miko dari bibirnya.
"Maaf" Miko terlihat malu, ia segera menyingkirkan tangannya.