
Tak lama dokter tiba-tiba datang membuat Keyla yang semula meneteskan air matanya. Ia tersadar dan mengusap air matanya, menciba tersenyum menyambut kedaangan dokter itu.
"Maaf mengganggu anda!! Apa di sini benar ada yang bernama Alana?" tanya dokter laki-laki itu.
"Iya dok saya Alana, ada apa ya?" tanya Alana.
" pasien yang coma sudah mulai sadar. Dia sudah menunjukan gerakkan gerakan kecil. Dan selalu menyebut nama Alana" ucap dokter itu.
"Seketika Alana beranjak turun mendengar hal itu. Keyla segera menuntun Alana, "Jangan bahas itu lagi ya nak, mama gak tahu apa yang kami bicarakan. Jika papa kamu sudah pulang, kamu bisa tanyakan padanya. Dia yang lebih tahu segalanya. Mama hanya merawat kamu, membesarkanmu tulus seperti yang lainya." ucap Keyla.
Alana, terdiam. Ia menerima begitu saja Keyla memapahnya berjalan menuju kamar Joy.
"Sekarang labih baik kamu temui Joy dan bicara padanya. Aku akan coba berbicara nanti dengan papa kamu. Menanyakan soal hal ini."
Alana diam seribu bahasa, ia tidak bisa marah dengan mamanya Keyla, meskipun begitu dia adalah orang yang merawat dia sampai dewasa. Dia sangat baik padanya, dan adil dalam mengurus anak-anaknya. Tapi memang Alana saja yang jarang sekali di rumah, ia lebih memilih banyak kegiatan di luar rumah. Untuk menghilangkan pikiran yang membuat dia merasa sangat terpukul.
"Baiklah!!" ucap Alana lirih, di balas dengan senyum tipis dari Alana.
Mereka segera masuk ke dalam kamar Joy, melihat Anaknya yang masih terbaring di ranjangnya, Alana beranjak mendekatinya. "Alana!! Apa kamu pergi?"
"Alana!!" Joy terus menyebut nama Alana, meski ia sudah sadar namun matanya masih tertutup rapat.
Alana duduk di kursi, memegang tangan Joy. Menempelkan tanganya di pipi kirinya. "Kak joy!! Ini Alana, Alana sangat syang dengan kak Joy. Aku mohon kakak cepat sadar ya. Alana ada di samping kak Joy, dan. Tes...
Tetesan air mata jatuh dari pipinya, membuat Joy tiba-tiba menggerakkan tangannya, dan mata perlahan terbuka. "Kak Joy!! Ini Alana ada di samping Kak Joy!!" Ucap Alana beranjak berdiri, memegang pipi Joy.
"Perlahan Joy membuka matanya. Ia melihat wajah mungil Alana tepat di depannya. Membuat senyum tipis di bibirnya. Tangan Joy terangkat, memegang pipi Alana. "Kenapa kamu menangis?" tanya Joy, yang masih terasa sangat lemas.
"Alana nunggu kak Joy sadar, jika kak Joy kenapa-napa Alana nantinya yang akan terus merasa bersalah. Alana gak mau kak Joy kenapa-napa. Semua ini salah Alana, jika tidak pergi ke danau Kak Joy gak mungkin seperti ini"
Joy tersenyum, mengusap lembut kepala Alana. "Kamu ini kenapa Alana, jangan menyalahkan diri kamu sendiri."
"Sekarang duduklah, jangan terlalu khawatir. Aku gak apa-apa" gumam Joy.
"Tapi kak!!"
"Mohon maaf biarkan saya periksa keadaannya." sambung dokter yang berjalan mendekati Joy dan Alana.
"Iya dok" Alana melepaskan tangan Joy, dan melangkah dua langkah ke belakang.
Di rumahnya, Miko baru saja selesai mandi ia keluar dari kamar mandi, mencari baju yang katanya sudah di siapkan.
"Ini baju untukku?" gumam Miko, menatao baju yang sudah di sediakan Cia di atad ranjangnya. Ia mengangkat baju itu, menatap detail kaos biasa yang membuat dia tertarik.
"Bagus juga!!" ucap Miko, mengangguk\-anggukkan kepalanya pelan.
"MIKO, CEPAT KELUAR!!!" Teriak Cia menggema seisi rumah.
Brakkk... Cia membuka pintu kamarnya kasar, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Seketika langkahnya terhenti saat melihat sosok pemakai handuk putih di depannya. "AAaaa...." Cia menutup matanya, membalikkan badanya. "Kenapa kamu masih belum pakai baju?" tanya Cia, tanpa menatap ke arah Miko.
"Kamu memang sengaja ya mau melihat aku ganti baju?" ucap Miko, ia melangkah satu langkah ke depan, dan berbisik tepat di belakang Cia. "Jangan pura\-pura menutup mata, tapi padahal kamu memang sengaja mau masuk, mau melihat aku kan!!" goda Miko? sontak Cia mendorong tubuh Miko. Pria itu reflek memegang tangan Cia dan jatuh tepat di atas ranjangnya. Cia berada di atas tubuh Miko, dengan ke dia mata saling tertuju.
Perasaan apa ini, perasan yang membuat aku gila, pikir Cia yang tak berhenti saling memandang satu sama lain.
Miko, menarik alisnya ke atas. Dengan mata sedikit melebar. "Apa kamu mau terus di atasku?" tanya Miko menggoda.
Cia yang baru tersadar, ia beranjak berdiri cepat. "Kamu apa\-apaan sih!!" ucap Cia, mengusap tubuhnya. "Dasar mesum!!"
Miko duduk di ranjang Cia, ia menatap ke arah gadis di depanya. "Apa yang kamu bilang? Bukanya kamu sendiri yang memang menggodaku. Dasar gadis mesum"
Cia melebarkan matanya, ia mendekatkan tangannya ke wajah Miko. "Eh.. Asal kamu tahu ya, yang mesum itu kamu. Kamu yamg menarikku tadi. Dasar mesum!!" Cia membalikkan badannya, mulai melangkahkan kakinya pergi.
"Tunggu!!" seru Miko. "Di sini dulu!" lanjutnya.
Cia menoleh ke arah Miko, "Di sini dulu katamu. Apa kamu memang sengaja ingin aku melihat kamu pakai baju. Dasar otak mesum" umpat kesal Cia, melanjutkan langkahnya.
Miko, mencoba mecegah Cia, ia beranjak berdiri mencoba meraih tanganya, tiba\-tiba. Sreetttt... Brukkkk...
pria itu terpeleset terjatuh tepat di atas tubuh Cia. Dan ke dua bibir mereka saling mengecup tanpa sengaja. Ke dua mata mereka saling tertuju untuk yang ke dua kalinya. Jantung mereka saling berpacu cepat. "Wuaa.. Kenapa kamu menciumku" Cia mendorong tubuh Miko menjauh darinya. Ia mangusap bibirnya berkali\-kali dengan punggung tangannya.
"Kamu yang cari kesempatan!!"
"Kamu yang sengaja, lagian kenapa kamu memanggilku?" tanya Cia kesal, ia menatap tajam dengan rahang menggertak.
"Aku hanya tanya itu dalaman kamu di singkirin dulu" ucap Miko, menunjuk ke arah ranjangnya.
Cia menatap ke atas ranjangnya, ia lupa tadi jika dalaman milinya masih tergeletak.
"Ahhh.. Aku lupa!!" Ucap Cia beranjak berdiri, meraih dalamanya dan menyembunyikan di punggung belakangnya.
"Apa kamu sudah melihatnya?" tanya Cia, berjalan merayap pelan\-pelan ke samping, dan ke dua tangan di belakang punggungnya.
"Sudahlah, aku sudah memegangnya!!" ucap Miko.
"Dasar otak mesum!!" umpat kesal Cia.
Miko hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Cia yang benar\-benar bisa menghiburnya. "Dasar wanita aneh!!"
"Kamu yang aneh" jawab Cia tidak mau kalah. "Udah cepat pakai baju, dan aku tunggu di lantai bawah. Kita makan bersama!!" ucap Cia, membalikkan badanya.
"Tunggu!!" Miko memegang Lengan Cia, mencegahnya pergi.
"Ada apa lagi?" tanya Cia kesal, ia memutar badanya malas menatap ke belakang.
"Apa kamu gak cuci muka, itu masih ada bekas kecupan di bibir aku" goda Miko.
Cia memegang bibirnya, "Aku cuci di kamar mandi lantai bawah. Dasar otak mesum, bilang saja kalau kamu mau menciumku kan?"
"Yeee... Siapa yang mau mencium kamu. Kepedean banget, mendingan dengan Alana" ucap Miko.
"Emang Alana mau denganmu, jangan mimpi" ucap Cia, bergegas pergi dari kamarnya. Setiap langkahnya ia tak berhenti terus mengumpat kesal berkali\-kali.
"Dasar Miko otak mesum!!" umpatnya kesal. "Alana gak boleh dekat dengan dia, sangat bahaya. Aku juga harus selalu mengawasi Miko saat dekat dengan Alana nantinya." gumam Cia, yang langsung menuju ke kamar mandi, ia berdiri di depan cermin dengan ke dau tangan memegang wastafel.
Gadis itu terus memegang bibirnya, ia mengingat kejadian tadi yang seakan membuat jantungnya seketika mau rontok. Bayangan kejadian tadi masih dalam otaknya, dan terus menghantuinya.
"Arrggg.. Engak boleh!! Aku gak boleh mengingatnya lagi... Lupakan Cia.. Lupakan!!" Gumam Cia, mengusap bibirnya berkali\-kali dengan air.
Cia bergegas menuju meja makan, semua makanan sudah di siapkan oleh para pembantunya. Dan Ia juga sudah menyiaplan makanan untu keluarganya yang masih berada di rumah sakit. Sekalian bawa cemilan di sana.
Cia duduk santai menunggu Miko yang belum juga turun dari tadi.
"Bukanya kamu sudah punya mata kan!! Jadi kamu lihat sendiri, makanan sudah siap belum" ucap Cia jutek.
"Gitu aja marah, apa kamu amsih ingat yang tadi. Jangan di ingat nanti kamu suka denganku lagi" Gida Miko, menarik kursinya dan duduk di samping Cia.
"Ih.. Amit, amit dah aku suka denganmu." Cia mengetuk mejanya bekali\-kali.
"Jangan bilang amit\-amit, nanti kalau kamu suka dengan aku beneran tau rasa!!" lanjut Miko yang tidak berhenti menggoda Cia.
"Eh.. kamu itu harusnya ngaca, punya kaca kan di rumah. Atau kamu mau aku ambilkan kacaku. Lagian apa yang patut di sukai dari pria mesum seperti kamu!!" ucap Cia, manarik alisnya, dengan mata melebar menatap Miko.
Miko mendekatkan wajahnya.
"Kita lihat saja nanti, sampai kita lulus sekolah. Aku yakin kamu akan mengungkapkan isi hatimu. Dan aku akan bilang padamu jika aku masih suka dengan Alana, dan selamanya hanya mencintai Alana" ucap Miko lirih.
Deg, Perkataan itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sementara. Sebuah ucapan yang entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Mulutnya seakan terkunci rapat untuk membalas ucapanya. perkataan yang benar\-benar menusuk hatinya, hatinya seakan di tusuk seribu duri di pagi hari.
"Hai, kenapa kamu diam?" Miko mengibaskan tanganya berkali\-kali ke arah wajah Cia.
"Udah ayo cepat makan" ucap Cia, yang seakan tidak terjadi apa\-apa, ia menahan rasa sakit dan kesedihan dalama dirinya. Ia tidak mau berkata tentang apa yabg ada dalam hatinya, karena itu percuma dan ia juga sudah tahu jawaban yang akan di utarakan Miko padanya nanti.
Miko menarik kelopak amtanya ke atas. "Baiklah!!" ucap Miko, segera mengambil nasi dan beberapa lauk yang ada di atas meja.
Cia yang semula tadi sangat lapar, kini ia merasa sudah tidak selera untuk makan lagi. Ia terus melamun, mengirak\-arik makanannya.
"Eh..Cia, kamu kenapa?" tanya Miko, dengan mulut penuh makanan, ia menoleh melihat Cia yang tidak selera makan.
"Gak apa\-apa, lagian aku hanya ingin ke toilet dulu!!" ucap Cia, beranjak berdiri.
Miko menarik tangan Cia untuk duduk kembali. "Duduklah, dan makan dulu ini!" ucap Miko, memeberikan makanan ke arah Cia.
"Gak mau udah kenyang!!"
krukkk...
Suara perut Cia membuat Miko tersenyum tipis. Gimana bisa Cia berbicara tidak lapar, tapi perutnya sangat lapar.
"Itu bunyi perus siapa?" Goda Miko.
"Bukan, tadi itu hanya mules dan sekarang aku mau ke kamar mandi" ucap Cia menciba beralasan
"Aku tahu kamu lapar, sekarang kamu duduk. Kalau enggak nurut aku akan bicarakan pada orang tua kamu jika kamu tadi mencoba menciumku" ancam Miko.
Cia melebarkan matanya, ia menatap tajam ke arah Miko yang hari ini benar\-benar membuatnya kesal.
"Jangan bertindak bodoh, awas saja jika kamu bernuat bodoh itu."
"Makanya sekarang kamu diam saja!!" ucap Miko.
Dnegan terpaksa Cia hanya diam, dan duduk menatap makanan yang seakan terus menggodanya. Namun, ia malu jika memakannya di depan Miko, apalagi dia sudha terlanjur bilang gak lapar.
Miko menarik dagu Cia, menyuapkan paksa satu sendok makanan hingga masuk ke mulutnya!
"Apa yang kamu lakukan!!" ucap Cia, menepis tangan Miko, namun makanan itu berhasil masuk dalam mulutnya.
"Makan dulu baru bicara!!" ucap Miko, menarik salah satu alisnya ke atas.
Cia berusaha menelan makanannya lebih cepat. "Dasar nyesel\-\-\-" Cia, memukul lengan Miko, dan. Oppp.. Satu sendok makanan lagi berhasil masuk ke mulut Cia lagi.
"Bilang saja kalau kamh lapar, jadi jangan pura\-pura gak lapar. Atau kamu memang sengaja aku mau nyuapin kamu" ucap Miko.
Seketika Cia menelan makanannya langsung, "Apa katamu? Siapa juga yang mau kamu suapi aku, ogah banget." kata Cia, dengan tangan bersendekap, memalingkan pandangannya berlawanan arah.
"Lagian kalau gak mau aku siapi, tapi makanan di mulut kamu juga sudah cepat habis" goda Miko.
"Oo.. jadi kamu mau aku ngeluarin semua makanan yang aku telan tadi. Oke tunggu nanti!!"
"Udah\-udah, aku hanya bercanda. Kenapa kamh jadi sensi gitu. Lagi M ya?" tanya Moko.
"enggak!!" jawab cia jutek.
"Terus kenapa kamu marah\-marah dengaku!!"
"Siapa yang marah!! udah sana makan jangan banyak berdebat. Keburu makanannya dingin. Lagian aku juga mau kembali ke rumah sakit nantinya." ucap Cia, yang kini ia mulai berani menyantap makanan di piringnya.
kling....
Ponsel Cia tiba\-tiba berbunyi, menghentikan makana mereka. Cia meletakkan sendok dan garbunya, segera meraih ponsel di sampingnya. Sebuah pesan dari 'mama'.
Ia segera membuka pesan itu, dan mulai membacanya. "Cia, Joy sudah sadar sekarang. Dan Alana juga sudah boleh pulang"
Wajah Cia seketika tersenyum lebar, Ia meletakkan ponselnya. Dan melanjutkan makananya sangat lahap, sampai semua makanan di piringnya habis.
Miko, menatap Cia dengan mulut setangah menganga, ia bingung dengan kelakuan Cia yang tiba\-tiba jadi aneh. "Cia, kamu gak apa\-apa kan?" tanya Miko, yang sudah selesai makan juga.
"Aku senang banget!! Alana sudah boleh pulang, dan Joy juga sudah sadar sekarang! Jadi kita harus segera bersiap ke rumah sakit. Makanan untuk mereka juga sudah siap" gumam Cia.
"Benar Alana sudah boleh pulang, kalau gitu aku bisa menemani dia tiap hari di rumah. Smabil goda kakaknya yang mesum ini" ucap Miko,
"Yang mesum itu kamu bukan aku, asar pria mesum!!" umpat kesal Cia.
"Udah ayo segera siap\-siap, jangan terlalu banyak bicara lagi!!" ucap Miko, beranjak berdiri.
Mereka segera bersiap menuju ke rumah sakit.