
Alvin yang kemarin pulang ke london, hanya satu hari. Dan langsung berangkat ke Sydney menemui Silvia, ia juga ingin mencari Alana. Putri kesayangannya itu, sangat ia rindukan. Sudah beberapa hari menghilang tidak ada kabar sama sekali.
Tokk... Tok.. Tok..
"Iya, siapa?" teriak Silvia, yang mulai membuka pintunya, dan ia spontan langsung menutup pintunya kembali.
"Via, dengarkan apa kataku dulu, aku ingin bicara dnegan kamu tentang Alana." teriak Alvin, mendengar nama anaknya Via membuka pintunya kembali.
"Masuklah!!" ucap Silvia datar.
Alvin tersenyum, dan bergegas masuk ke dalam Silvia.
"Setelah bicara cepat pergi, sudah malam!!" ucap Silvia yang masih terlihat sangat datar, wajahnya bahkan tanpa ekspresi sama sekali."
"Aku mau menginap di sini Karena aku ingin mencari Alana. Dan tenang aku tidak akan menyentuhmu, biarkan akan tidur di luar, aku bisa tidur di sofa nanti.
"Alan kemana?" tanya penasaran Silvia.
"Dia pergi ke Sydney, san entahbsekarang dia di kana?"
"Kenapa sia pergi ke kota ini, dengan siapa dia?"
"Aku juga tidak ymrahu, jadi kita bisa cari anak kita bersama."
Silvia terdiam,
Anak kita, sebenarnya...
"Silvia menghentikan lamunannya, dan beranjak pergi. Kamu tidurlah dulu. Besok kita cari. Aku yakin Alana bisa jaga dirinya"
Silvia bergegas kembali ke dalam, san membiarkan Alvin tidur di luar.
------
"Keyla, kamu gak apa-apa syang!!" Ian, memegang Keyla yang terlihat tak bisa jalan. Kakinya masih terasa sangat sakit. Miliknya benar-benar sudah tak bisa lagi menerima apapun masuk.
"Gak apa-apa, hanya saja nyeri." ucap Keyla.
"Apa ini masih nyeri," Ian memegang inti Keyla.
"iya? sakit!! Apa kamu mau lagi?"
"Maksud kamu?"
"Kita akan melakukannya lagi," bisik Ian, yang amsih berbaring di sampingnya. Bahkan miliknya sudha menerobos masuk.
"Jadi ini yabg membaut aku nyeri dari tadi?" ganya Keyla.
"Saat kamu tidur, aku ingin melakukanua. Jadi ya lanjugkan. Sampai entah berpa kali tadi. "
"Syang!! Kamu apa sudah gila, sakit!!" ucap Keyla.
"Sakit dikit , nanti juga akan sembuuh." ucap Ian.
"Oya, istri kamu di mana, apa dia tidak mencari kamu?"
"Habis ini aku akan pergi, tapi ingat jangan bilang siapa-siapa dulu. Aku akan memanjakanmu lagi."
Ian nelakukan aksinya, membiat Keyla menerima desahan kuat, dan rasa sakit menjalas. Namun ia kenahannya, menikmati perlakukan Ian. Ia membalas irama tubuhnya.
"Makasih!!"
"Untuk apa, Ian"
"Kamu membaals permainan aku, taoi aku ingin kamu yang melakuaknua, aku akan bebaring sekarang"
"Keyla diam, ia melakuakn apa yang di bilang Ian. Ia mula menggodangkan irama tubuhnya, dengan cepat, hingga setengah jam, membuta Keyla merasa sangat lelah, ia memeluk tubuh Ian. berbaring di atasnya. "Sudha syang?"
"Sudah, aku capem, sekaeang giliran aku percepat. Kamu tahan!!"
"Iya,"
Sekeyika gubuhnya merakaan hentakan keras, hampir meremukkan tulang-yulangnya. Rasa sakit semkain menjalar. Entah berapa kali Ian melakukannya dalm sehari. Bahkan puluhan kali, Sekana ia jadi budak nafsunya. Tapi hal gila ia mau begitu saja dengan perlakuan Ian, dan perlahan mulai menikmati.
"Syang!! Aku ingin menikah dengan kamu!!" ucap Ian.
"Kenapa?"
"Aku ingin seperri ini tanpa takut ada yang amrah lagi "
"Tapi semuanya gak mungkin,"
Ian, yang sudah mengakhirinya, ia beranjak duduk. Dan segera memwkai bajunya.
"Aku tinggal duly, nantu aku datang lagi. Kamu pakai baju seksi ya. Saat anak-anak gak ada di eumah aky ingin melakukannya.
"Tapi aku sudah berkali-kali, apa kamu belum puas."
"Ian menarik sudut bibirnya sini. Belum, aku ingin membuat kamu merasa sangat sakit dan sakit. Dan suami kamu meninggalkan kamu. Sekarang tubuh kamu milikku, dan tudak akan biarkan itu. Kamu harus jadi milikku,"
Drrtttt... Drrttt...
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ada hal penting. Aku angkat dulu," ucap keyla tanoa tahus iapa yang menghubunginya, karena nomor baru dan ia mulai mengangat telrponnya.
Tangan Ian memegang dadanya, membuat desahan tak sengaja keluar.
"Emm.. Siapa?"
"Aku alvin!!"
Seketika mata Keyla terebelalk, mendenafr kata Alvin, dia beranjak dududk, denfan tangan yangs udha mulai gemetar. Ian yang sadar itu Alvin, duduk di bekakang Keyla, dengan tangan daei bahu, menjalar ke bawah perut, membuat Keyla terus berdesah. Membuat ponsel itu jatuh ke ranjangnya. Ian membuat dia semakin sakit.
"Apa yang kamu lakukan, bodoh!!" teriak Alvin.
Namun Keyla benar-bemar sudah lupa, tubuhnya yang merasa takut seketika pudar, di ganti rasa nikmat.
"Berhanti, suami aku telepon!!" ucap Ian.
"Jadi itu suami kamu tadi?" ucap Ian, sekaan tidak tahu.
"Haloo... Syang, kamu di mana?" tanya Keyla.
"Dasar wanita ******, kamu wanita murahan. Aku mau kita segera oisah,"
Deg...
Jantung Keyla seakan berhenti berdetak, saat tahu apa yang sebenarnya. Tetesan air mata tiba-tiba keluar, saat mendnegar kata pisah. Seakan dia sangat berat jika berpisah dengannya. Ia tidak mau beroisah.
"Syang, apa yang kamu maksud?"
"Akubhanya ibgin memastikan, kamu ngapian di rumah saat aku pergi. Dan ternyata, kamu bermain dengan laki-laki lain, setiap aku telefon kamu mengangkatnya, tapi suara desahan nikmat kamu yang menjawabnya. Dasar wanita menjijikkan." ucap Alvin semakin menggebu.
"Jangan harap aku bisa menemui kamu lagi. Dan aku akan urus perpisahan kita secepatnya."
"Tapi apa kamu gak mikirin gimana perasaan anak-anak?"
"Kenapa? Anak-anak sudah dewasa dia tahu mana yang salah, mana yang benar. Dan aku punya banyak bukti kamu melakukan itu dengan seorang laki-laki.,"
Keyla seketika tubuhnya lemas, ia langsung pingsan tak berdaya menerima kenyataan rumah tangganya benar-benar hancur karena kebodohan dia sendiri tergoda dengan Ian. Bahkan tidak ada harapan lagi baginya, uantuk mempertahankan rumah tangganya. pikirannya semakin meluap tak bisa ia kendalikan.
Keyla jamu gak apa-apa?" tabya Ian, menggoyang-goyabgkan tubuh Keyla, mencoba untuk menyadarkan Keyla.
Ian terdiam sejenak, menatap ponsel Keyla di tangan kanannya, masih belum di matikan telepon dari Alvin. Seketika. Ia tersenyum kemenangan, dan mengambil ponsel Keyla, yang masih belum di matikan panggilannya. "Ternyata kamu sudah tahu, gimana. Apa kamu masih mau dengan istri kamu. Sekarang sudah jadi wanita bekas orang. Bahkan miliknya sudah jadi milikku. Aku akan kirimkan paket dvd, kamu bisa melihatnya apa yang Keyla lakuin selama ini denganku. Dan makasih. Kamu telah menceraikannya. Aku akan segera menikahinya nanti."
"Selamat kalian berdua sangat menjijikkan!! Kalian sekarnag bisa menikmati hersama. tapi jangan harap kalian bisa hidup tenang. Kalian belum tahu siapa aku, dan aku akan menunjukan sebuah permainan yangbakan bagus nantinya, tunggu saja dan saksikan semuanya." ucap Alvin, yang langsung mematikan ponselnya.
------
Pov Alvin.
Setelah mendengar tentang kabar itu, Alvin segera menghubungi manajernya. Dengan wajah penuh dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Hallo.. Kamu bantu aku urus surat perpisahan, dan untuk semua harta aku akan jatuh pada anak aku. Jadi jangan berikan sedikitpun pada Keyla. Aku ingin melihat dia bisa menderita dengan selingkuhannya. Dan kamu harus membuat perusahaan Ian hancur. Aku tunggu berita itu dalam satu 2 hari. Dan ingat kamu harus bermain bersih."
"Baik tuan!!"
Alvin menutup teleponnya, mencengkram erat ponselnya, tanpa perdyli rusak atau tidak, Ia melemparnya ke tembok. Membuat hancur berantakan, seperti hatinya yang kini sudah berantakan.
"Arrggg... Kenapa semua terjadi Aku benci dengan semuanya. Aku benci denganmu, Keyla. Wanita murahan, menjijikkan." umpat kesal Alvin.
"Aku akan membuktikan padamu jika aku juga bisa seperti kamu. Aku akan menikahi orang lain. Setelah surat itu keluar. Aku tidak akan membuat kamu semakin menderita dnegan selingkuhan kamu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya sorang wanita.
"Silvia, apa kamu tahu, sebenarnya?"
"Tahu apa?"
Alvin mengepalkan ke dua tangannya sangat erat, penuh dengan amarah yang menggebu. Ia mensongakkan kepalanya, menatap tajam ke arah.
"Silvia, aku gak tahu algi. Aoa yang harua aku alkukan. Dan kemapa sekua yabg akus yangi sekarang pergi. Aku gak tahu kenaoa aku bis akneikah dengan wanita yang tak bis ameluoakan masa lalu, dan dia melakukan hal menjijijkan berkali-kali." ucap Alvin, memegang ke dua tangan Silvia.
"Will you marry me" ucap Alvin, menatap wajah Silvia, ia ingin menunjukan padanya Keyla jika dia langsung menikah sesegera, karena tak mau menyakiti Wanita seperti yang di lakukan Ian. Ia ingin hidup berasama dengan cara yang kitor."
Silvia mengerutkan keningnya bingung, dengan apa yang di katakan Alvin.
"Maksud kamu apa?" ucap Via, "Aku sudah punyabsuami?".
"Mau sampai kapan kamu bohongi aku tentang suami kamu. Kemarin malam aku tidur di sofa kamu. Tapi tidak ada suara langkah kaki masuk kerja. Apa kamu bohong tentang suami kamu itu?" Via tercengang.
Kenapa dia bisa tahu, sekarang apa yang harus kau katakan, jika dia sudah mengetahui semuanya.
"Aku gak bohong" ucap Via mengelak.
"Kamu jangan pura-pura lagi. Besok ikut aku ke London, kita akan segera menikah di sana. Tenang saja aku tidak akan menyentuhmu, sebelum aku menikah secara sah. Dan waktu lalu, itu kesalahan yang tak sengaja. Jadi maaf!!"
"Apa yang kamu katakan, kamu hanya mencintai istri kamu. Kamu dengan aku hanya pelampiasan semata. Jika kanu menikah denganku, Apa anak-anak kamu menerima ku, tidak akan, mereka pasti tidak suka denganku. Dan jangan harap aku bisa menikah denganmu. Aku gak mau jadi pelampiasan semata Kamu sekarang masih marah, lebih baik kamu minum dulu dan tenangkan pikiran kamu. Jangan berbicara dengan emosi yang masih menggebu." Via memberikan satu gelas minuman, dan Alvin langsung mengambilnya, meneguk habis minumannya tanpa tersisa, ia mencoba mengatur emosinya. Dengan ke dua tangan memegang lengan Silvia, menarik napasnya panjang-panjang. Mencoba untuk memutuskan yang terbaik.
"Baiklah, tapi aku tidak mau hanya di jadikan pelampiasan. Aku mau jika kamu suka dengan aku. Jika tidak aku tidak mau menikah." ucap silvia.
"Baiklah, aku akan menuruti, apa katamu!!"