
"Amera kamu sudah siap?" tanya Joy berjalan menghampiri Amera yang masih merias wajah cantiknya, dia sekarang lebih cantik dari yang ia duga.
"Eh.. Syang!! Aku masih bersiap nih. Sebentar lagi aku akan keluar. Oya, mama ada gak di luar. Tolong bilang pada Cia agar dia segera temui mama aku, kasihan dia sendiri," ucap Amera yang masih menatap ke arah cermin di depannya, melihat wajah cantiknya di balik cermin, dengan pantulan bayangan wajah Joy di belajangnya, yang kini sangat terlihat tampan.
Aku sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia. Sangat tamoan, dan orang yang paling aku cintai selama ini. Semoga aku bisa sampai menikah dengannya, aku tidak mau sampai hubungan ini putus dengannya.
"Kamu sangat cantik!!" ucap Joy, ia memegang ke dua pundak Amera, menyentuh wajah cantik Amera di balik cermin.
"Bukanya aku adalan calon istri kamu. Meski kura menikah sangat lama nantinya. Tapi aku ingin merayakan semua hal spesial dalam hidup aku. Dan pertunangan ini seperti pesta pernikahan, meratapi tanpa gaun mewah yang biasa di pakai saat menikah!!" ucap Amera, memegang tangan Joy yang menyentuh pundaknya. Dengan senyum tipisnya, ia melirik wajah Joy.
"Ya, sudah sekarang aku akan pergi dulu. Kamu secepatnya keluar syang. Jangan terlalu tebal make up-nya, nanti kayak badut!!" ucap Joy membuat Amera menguntupkan bibirnya kesal.
"Emangnya aku seperti badut?" tanya Amera.
"Tidak bawelku, kamu itu cantik. Sudah lebih baik sekarang kamu fokus dulu sama make up kamu. Aku cari Cia" ucap Joy beranjak pergi meninggalkan Amera.
------
Dan Ian dnegan Keyla baru saja sampai di bandara, bahkan mereka sedang lari-lari, dan Ian menggendong Keyla ala bridal style, terus berlari mencari taksi untuk segera sampai tepat waktu untuk menghadiri acara pertunangan anaknya.
"Syang!! Kamu jangan buru-buru seperti itu!!" ucap Keyla
"Aku mau kita cepat sampai ke sana. Dan wajtunya sudha mepet Keyla, tibggal 15 menit lagi. Maaf aku harus bawa kamu seperti jni."
"Kamu ke sana saja dulu, aku akan disusul kamu. tolong tinggalkan aku saja di sini. lebih baik kamu hadiri pertunangan anak kamu!!"
"Bukanya Joy juga anak kamu, apa kamu tidak mau jika kamu melihat anak kamu bertunangan!!" ucap Ian, membungkam mulut Keyla seketika.
"Udah itu sopir aku, sekarang kita harus segera masuk ke dalam!!" Ian beranjak membuka pintu mobilnya, dan duduk di jok belakang dengan Keyla.
"Maaf!! Aku harus merepotkan kamu!!"
"Kamu tidak merepotkan aku, syang!! Hari ini adalah awal kita berpisah, sesuai janji kamu. aku tidak akan menganggu kamu lagi, dan hari ini aku akan meninggalkan kamu, tapi seperti biasa aku akan tetap perduli dengan kamu" jelas Ian, mengusap rambut Keyla lembut.
"Oya! Pak! Apa pesta sudah di mulai?" tanya Ian pada sopir yang masih fokus dengan jalan di depannya.
"Belum, tuan. Pesta di mulai mungkin sekitar 15 menit lagi dari sekarang. Jadi tuan masih ada waktu," jawab sopir itu, dia adalah sopir pribadi Ian selama ini. Dia benar-benar sangat baik dan sudah lama ikut dengan keluarganya, mungkin sudah hampir 15 tahun ikut dengannya.
"Sekarang kamu pakai make up dulu, masih ada waktu 15 menit lagi!!" ucap Ian pada Keyla yang sibuk merias dirirnya, wajahnya terlibat sangat p1ucat, yang kini sudah terbalut oleh make up tipis ala dia sendiri, menutupi wajah dan bibirnya yang sudah terlibat pucat.
Selama ini sudah banyak salah dengan semuanya. Dan saat ini juga ia ingin mengucapkan terima kasih padanya.
"Maaf Ian, aku merasa hidup aku sudah tidak lama lagi. Aku berharap semua akan menyangi ku, dan memaafkan semua yang pernah aku lakukan padanya. Aku ingin kembali lagi jadi wanita yang berbeda mulai sekarang." ucap Keyla dalam hatinya.
"Keyla!! kenapa kamu melamun, lihat belepotan lipstik kamu!!" ucap Ian, mengambil tisu di sampingnya, dan mengusap atas bibir Keyla yang masih ada sisa belepotan lisptiknya.
keyla memegang tangan Ian yang menyentuh bibirnya, ke dua mata mereka saling tertuju dalam diam. "Kamu ada masalah?" tanya Ian pada Keyla wajahnya terlihat masih kosong, bahkan pandangan matanya terlihat sangat muram dan pucap, dan kantung matanya sedikit hitam dan bengkak
"Apa kamu habis menangis?" tanya Ian meski tidak ada jawaban sama sekali dari Keyla.
Hatinya merasa ada yang hilang, di sisa harinya, dia harus kehilangan orang uang paling ia sayangi. Dan dia sudah konsultasi dnegan dokter yang biasa menanganinya, jika memang penyakitnya sangat mematikan, an bahkan kini semakin ganas, dan tidak ada harapan lagi. Dan ini waktu terakhir aku melihat anaknya bertunangan, lain waktu dia tidak akan bisa lagi melihat anaknya menikah dan hidup bahagia dengan cucu-cucunya.
"Apa ada rahasia? Aku kenal kamu sudah lama, aku tahu jika kamu sekarang menyimpan sebuah rahasianya, kan? Jangan bohong padaku, aku syang dengan kamu, "
"Gak ada, nanti kamu juga akan tabu apa yang aku pikrirkan, ini bukan soal cinta. Tapi soal harapan, aku akan bilang pada kamu saat waktunya tiba," ucap Keyla.
"Apa kamu sakit?" tanya Ian.
"Tidak!!"
"Jujur!!" Ian memegang ke dua bahu Keyla mencoba untuk menatap ajah Keyla yang menunduk takut untuk menjawab pertanyaannya.
"Tidak, Ian!!"
"Jujurlah, key!!"
"AKU BILANG TIDAK.." Bentak Keyla membuat Ian terdiam seketika, menarik ke dua tangannya dari bahu Keyla.
Ian hanya diam, ia duduk tegap kembali tanpa perdulikan Keyla, baru pertama kali Keyla membentaknya seperti itu. Membuat hatinya merasa sangat kecewa, perhatian dan rasa khawatirnya di balas dengan ucapan keras olehnya.
Mereka samoai di sebuah pesta yang sudah berlangsung sangat emriah, banyak tamu untuk merayakan pesta tersebuh, dan Alvin dengan Silvia yang tahu pesta itu tidak.mau datang karena mereka juga mealkukan pernikahan di hari yang sama. Tak.mau berlama-lama, seperti apa yang di katakan Alana . Alvin kangsung menikahi mamanya secepat mungkin. Agar bis amelupakan semua yang menyakitkan. Dan meraskana cinta dan kasih syang baru dari mamanya.
Joy dan Amera terlibat sangat mesra, mereka berbincang menikmati orange juice, saling bercanda satu sama lain. Namun Joy teringat tentang Alana, ia memutar matanya, melihat sekelilingnya, mencoba mencari Alana, tetapi percuma dia tidak hadir dalam pestanya. Bahkan papanya sendiri tidak hadir di pesta pertunangan mereka.
Joy tidak tahu jika apanya juga akan menikah, dan Alana memang sengaja tidak memberi tahunya. Dan hanya David yang tahu, karena kemarin dia datang ke rumahnya, hanya untuk bermain bersama. David sekarang jadi teman yang bisa jaga rahasia dari ke dua kakaknya itu.
Hal itu membuat Joy mencengkeram gelas yang ia pegang, lalu meletakkannya kasar membuat orange juice itu tumpah kemana-mana.
"Joy!! Kamu kenapa?" tanya Amera, yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Di saat seperti ini, ia tidak dayang. Aku benci dengannya. Sangat benci!!" umpat Joy, dnegan pandangan mata menajam, mengerang kasar.
"Sudah, jangan pikirkan!! Ini pesta kita!!" ucap Amera.
Dna pesta utama di mulai, mc di pesta itu mengumumkan jika pesta ini adalah pesta pertunangan Amera dan Joy, dan ke dua pasangan itu naik ke atas, yang sudah di siapkan tulisan 'will you marry me' dengan hiasan kelopak bunga, dan berbagai balon warna warni di bentuk sebagus mungkin, dan tak lupa lambang hati yang di bentuk dari lilin.
Mereka saling memakaikan cicin di jari manis mereka, wajah Joy dan Amera sangat sendnah, meski dalam hati Joy merasa ada yang hilang. Dan pertukaran cincin itu mengakhiri dengan sebuah kecupan mesra.
------
Di sisi lain Alana dan Keluarga kecilnya, sedang merayakan hari pertamanya menjadi keluarga bersama. Pernikahan Silvia dan Alvin sudah di lakukan sederhana di rumahnya, dan hanya manajernya yang Alvin undang, dan saat pernikahan ini selelsai, keesokan harinya mereka akan segera pergi pindah ke Inggris, mencari tempat tinggal baru di sana menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia di sana. Tanpa jauh dari masalah yang selama ini terus menghantuinya, di sana awal memulai hidup baru bagi mereka.
"Ma, Pa. Karena hari ini adalah hari penting kalian Aku merasa kalian harus merayakannya dengan sangat sempurna. Kalian bulan madu ke mana?" tanya Alana, menggoda, mama dan papanya, dengan senyum tipis, menatap mereka bergantian.
"Alana, sudah jangan bilang soal bulan madu segala. Kita gak perlu lagi untuk bulan madu, kita akan pergi bersama selamanya bersama. aku gak mau jauh dari kamu sayang!!" ucap Silvia.
Mereka tersenyum, dan saling berpelukan satu sama lain.