My First Love

My First Love
Sakit



Keesokan harinya, alana masih terbaring di ranjangnya. Dengan balutan selimut tebal berwarna coklat keabuan, yang memang itu adalah selimut kesayangannya. Tubuh Alana tiba-tiba mengigil, ia sepertinya kali ini gak bisa masuk sekolah lebih dulu. Entah kenapa, rasanya sekujur tubuhnya mulai panas. Padahal kemarin dia baik-baik saja, tapi setelah bangun tidur, kepalanya terasa sangat pusing dan tubuhnya mulai mengigil dingin.


"Alana kamu sudah bangun belum" panggil keyla pada anak satunya itu.


Keyla hanya terdiam, ia hanya bisa menatap pintu itu tanpa bisa berdiri untuk membukanya, bahkan suaranya saja sangat berat untuk memanggil mamanya. Tubuhnya kini terbungkus rapat selimut tebal miliknya.


"Alana!!" panggil Keyla lagi, perasaannya mulai tidak enak, dengan segera ia membuka kamar Alana. Ia menatap terkejut mendapati anaknya terbaring mengigil dengan balutan selimut tebal.


"Alana, kemu kenapa?" Keyla bergegas mengecek badannya, ia bergegas menuju kotak obat yang terletak di samping meja belajar Alana. Di sana ada tes suhu tubuh, ia segera memeriksa suhu tubuh Alana yang terasa sangat panas seakan membakar tubuhnya.


Suhu tubuh Alana melebihi 40°, keyla sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia berlari teriak dengan sekujur tubuh gemetar tak berhenti panik. Anaknya yang satu itu sebelumnya tak pernah sakit dari kecil . Tapi kini dengan suhu tubuh melebihi 40°. Ini benar-benar membuat Keyla syok.


"Joy cepat keluar" teriak keyla menggedor pintu anaknya itu.


Joy membuka pintunya malas, ya karena memang dia baru saja bangun tidur.


"Ada apa sih ma?" Tanya Joy pada mamanya yang nampak menyipitkan matanya, matanya seakan belum terbuka sempurna menatap samar keyla di depannya.


"Cepat angkat adik kamu, ayo kita bawa ke rumah sakit" Ucap keyla mendorong tubuh anaknya itu segera masuk ke kamar Alana.


"Emang keyla kanapa ma?" Tanya Joy bingung.


"Sudahlah kamu cepat masuk kamar adik kamu?" Ucap keyla masih mendorong masuk tubuh Joy.


Baru pertama kali Joy masuk ke kamar adiknya yang terlihat sangat rapi, beda jauh dengan kamarnya yang selalu berantakan seperti kapal pecah, namun yang ia pikirkan sekarang bukan itu. Jika ia terus menatap kagum kerapian akamr Alana, ibunya pasti sangat marah nanti.


Kini matanya tertuju pada Alana, ia tanpa basa-basi segera mengangkat tubuh Alana, dan berlari turun menuju ke mobil. "Pa, keluarkan mobilnya di garasi, aku mau antar Alana pergi ke rumah sakit" Teriak Joy.


Alvin yang duduk bersandar di sofa, terjingkat seketika melihat Alana sepertinya mengigil. Ia tak mau banyak tanya lagi kali ini, Ia segera berlari mengambil mobilnya. "Kalian duduk di belakang jaga Alana, aku yang akan mengemudi mobilnya ke rumah sakit terdekat" ucap Alvin, ia segera menyalakan mobilnya dan mengemudi keluar dari halaman rumahnya.


Cia yang nampak bingung melihat ibunya teriak-tiriak segera beranjak keluar mengikuti mobil itu.


"Cia! Alana kenapa?" Ucap neneknya.


Wajah cia hang biasanya ceria berubah cemas kali ini.


"Gak tahu nek, mereka berlari cepat sepertinya kondisi Alana parah ya, kenapa mereka panik gitu. Apa kita menyusul ke rumah sakit sekarang nek?" Ucap Cia, yang masih berdiri di depan pintu masuk rumahnya.


Neneknya mengusap kembut pundak Cia.


"Semoga dia baik-baik saja, kamu jangan susul dia dulu. lebih baik kamu sekolah. Dan nanti pulang sekolah semoga dia gak di rawat di rumah sakit. Dan di bawa pulang ke rumah"Gumam Neneknya, merangkul pundak cucunya itu masuk ke dalam rumah. Bahkan Cia saja masih belum mengenakan baju sekolahnya.


Ia masih mengenakan kaos pendek dan berbalut celana hotpend pendeknya.


"Baik nek nanti kabari lagi ya nek soal keadaan Alana, aku takut dia kenapa-napa nek" Ucap Cia, ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukan pukul 06.40.


"Gawat bisa telat aku" umpatnya.


Ia segera beranjak pergi menuju kamarnya dengan langkah terburu-buru.


Tit..tit...


"Ternyata benar Miko?" Gumam Cia


Ia segera memakai baju secepat kilat, tanpa balutan make up. Ia bahkan menyisir rambutnya tak begitu rapi. Yang penting baginya ia cepat turun dan menemui Miko.


Cia menatap wajahnya ke kaca lebih dulu. "Sudah cantik" gumamnya dengan senyum manis mereka di wajahnya


Ia segera turun menemui Miko yang pastinya nunggu Alana bukan dia. Tapi setidaknya kini ia bisa berangkat sama Miko.


"Hai Ko!!" Sapa Cia melambaikan tangan ke arah miko.


Miko melelaskan helm full ficenya yang menutupi wajahnya "Hai. Di mama Alana?" Tanya Miko, ia nelihat ke belakang Cia. Rumah yang terlihat sepi. Joy juga tidak ada di belakangnya. Dalam hati ia terus bertenya, kemana mereka berdua, apa sudah berangkat lebih dulu.


"Nanti aku ceritain di jalan, sekarang kita berangkat sudah telat nih" Ucap Cia, belum kasih kode ia meraih helm di bdlakang dan segera naik ke belakang boncengan montornya.


"Tapi Alana gimana?" Tanya Miko, ia berniat untuk jemput Alana, tapi 2 hari ini malah Cia yang ada di boncengan belakangnya.


Miko menarik napas panjangnya, ia segera menyalakan mesin mobilnya lagi. Dan menarik gasnya melaju dengan kecepatan standart keluar dari halaman rumahnya.


"Cia!!, sebenarnya Alana kemana sih?" Tanya Miko menoleh ke belakang sekilas menatap Cia.


"Alana dia sakit dan sekarang di bawa ke rumah sakit" Ucap Cia. Spontan Miko mengerem montornya mendadak, membuat Cia merengkuh pinggang Miko. Jantung Cia berdetak sangat cepat di saat moment seperti ini.


"Kenapa kamu gak bikang dari tadi" ucap Miko, bahkan di tak perduli masih berhenti di tengah jalan.


Cia manarik pantatnya ke balakang, ternyata ia hanya perduli dengan Alana, gumamnya.


"Sekarang di rumah sakit mana dia" tanya Miko, ia terlihat sangat panik kali ini.


"Kamu minggirin dulu montornya, apa kamu mau mati dintengah jalan gini" ucap Cia.


Miko dengan segera meminggirkan montornya ke pinggir jalan, ia beranjak turun dan melepaskan helm full ficenya.


"Di mana?" Tanya miko lagi.


" Aku gak tahu!" Gumam Cia menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, ku gak bisa antar kamu ke sekolah" Ucap Miko.


Cia terbelalak seketika. Miko begitu tega dengannya bahkan dengan sahabatnya sendiri dan lebih memilih orang yang ia sanyangi.


"Taxi!!" Panggil Miko.


Taxi itu berhenti tepat di depan mereka, "Pak antar dia ya, nanti dia akan tunjukan jalannya. Ini jangnya untuk ongkos sampai ke sekolah" Gumam Miko beranjak menaiki montornya lagi.


Ia kini berbalik Aron menuju ke rumah Alana lagi. Berharap ada informasi di sana di amam Alana di rawat. Kekhawatiran Miko membuat Cia merasa sangat terasingkan kali ini.


Cia berdengaus kesal, ia beranjak naik ke dalam taxi. Hatinya bagia di tusuk-tusuk mawar berduri. Gak bisa ia bayangkan kenapa ia harua menyukai sahabatnya sendiri dan di sisi lain sahabatnya tidak pernah mencintainya. Dia kebih memilih adiknya yang jauh segalanya darinya.