My First Love

My First Love
Alana



Jam istirahat pun sudah berbunyi menggema di seluruh penjuru sekolah.


Miko masih tetap setia menunggu Alana, untuk sekedar berbincang berdua. Sifat cueknya, membuat miko selalu ingin tahu tentang dia. Bahkan Alana di kenal wanita yang sangat pintar di sekolah, sudah banyak prestasi yang ia dapatkan mulai dari berbagai lomba olympiade, dan masih banyak lagi. bahkan dirinya juga sudah ada universitar di luar negeri yang memberikan dia beasiswa untuk sekolah di sana.


Namun bagi orang tua yang berkecukupan seperti dia, bahkan bisa di kategorikan oebih dari cukup. beasiswa itu tidak begitu penting baginya, ia lebih memilih memberikan beasiswanya ke orang yang lebih membutuhkan dari pada dirinya. Yang juga pintar, namun tidak ada biaya untuk kulia di luar negeri.


Alana itu! lebih suka membantu orang kesusahan, kegiatanya lebih banyak di luar untuk menjalani bakti sosial saat ia libur sekolah, bahkan ia menggunakan uangnya sendiri untuk mengeluarkan semua kebutuhan orang yang membutuhkan. Terkena musibah.


Orang tuanya tak melarang kegiatan Alana, justru mereka sangat bangga dengan anaknya yang satu itu. Lebih pendiam dan aktif dalam kegiatan sosial. Beda dengan kakaknya Cia. Lebih suka berdiam di rumah nonton acara tv kesayangannya bahkan jika bosan pergi hangout bersama teman-temannya.


Dan Joy lebih sedikit tertutup, ia sangat pintar dalam hal bisnis perkantoran ataupun pasar saham. Di usianya yang segitu. Ia sudah berani menanam saham di sebuah perusahaan besar di London, dengan uangnya sendiri pastinya.


--------


Miko berdiri di balik pintu ruang kelasnya, berharap Alana cepat keluar, dan menemuinya. Alana meraih sampah kertas di mejanya dan beranjak keluar dari ruang kelas itu. " Alana tunggu" Ucap Miko mencoba mencegah Alana pergi.


Langkahnya terhenti, kita suara lelaki itu terus memanggilnya. Bahkan lama-lama ia bosan harus berurusan dengan play boy itu.


Alana memutar matanya malas, dengan terpaksa ia melempar senyum samar di hadapan Miko.


"Kenapa kamu tak bosan mengikutiku" Gumam Alana, wajahnya sangat dingin, namun tak bisa membekukan rasa cinta miko padanya. Cintanya semakin membara menbakar hatinya, meskipun Alana tak pernah menganggapnya, terlalu cuek dengannya bahkan juga tidak pernah tersenyum manis di depannya.


Plak... Cia memukul kepala Miko dari belakang.


" Hay bro , ngapain kamu di sini, ayo kita ke kelas" Cia menarik tangan Miko menjauh dari Alana.


Alana terdiam dan berjalan masuk lagi ke kelasnya.


Ya, Miko adalah teman sekelas Cia dan Joy namun, hanya dengan Joy, miko bersiteru dengannya.


" Ini kan jam istirahat, kenapa juga kita ke kelas" Ucap Miko.


Cia menarik dasi miko mendekatkan wajahnya padanya, " Kita ke kelas ngerjakan tugas dari pak Eko tadi, atau apa kamu mau ke kelas berduaan denganku" Ucap Cia dengan nada bercanda, dan tatapan menggodanya pada Miko.


" Ih.. ogah berduaan dengan kamu, mendingan aku stay nunggu Alana di sini" Gumamnya dengan wajah cemberut.


Cia tertawa terbahak-bahak, " kamu mau nunggu adik aku, gak bakalan deh dia mau menemui kamu. Dari pada makan di kantin dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar" Ucap Cia dengan senyum meledek pada Miko.


" Terserah lah, apa salahnya berjuang demi cinta" Gumanya dengan ke dua tangan di atas.


" Lebay deh" Ucap Cia, ia menarik dasi Miko untuk segera pergi dari depan kelas Alana.


Alana yang sibuk dengan bukunya, ia menatap sekilas ke arah Cia dan Miko. Ia hanya senyum samar menatap mereka berdua. Gak ada satu orang pun yang bisa menebak perasaan Alana bagaimana, bahkan dia tidak pernah cerita sama sekali ke orang terdekatnya. Dan juga dengan mamanya juga tak mau cerita, apa lagi dengan ke dua kakaknya itu.


Alana meneruskan buku bacaannya, kini ia lebih memilih membaca buku tentang perekonomian perusahaan. Ia sangat tertarik dengan semua itu. Namun di sisi lain ia juga tertarik dengan ilmu kedokteran. Bahkan dia sudah ahli dalam berbagai cara menangani semua penyakit. Tetapi ia masih SMA belum punya ijasah sarjana untuk membuat sebuah praktek sendiri.


Ia tertarik dengan kedokteran karena jiwa sosialnya ingin membantu orang yang membutuhkan, apalagi orang yang terkena sakit parah, namun tidak ada biaya untuk pengobatan ke rumah sakit. Hatinya mudah tersentuh dalam hal seperti itu, bahkan hingga ia tak tertarik merasakan cinta.


" Alana kamu gak ke kantin" Sapa temannya.


" Gak Sel, kamu ke kantin saja duluan. Aku lagi sibuk" Gumamnya.


Alana terdiam kembali, dan melanjutkan bacaanya. Ia sangat sibuk dengan buku. Hari-harinya penuh dengan buku, buku, dan buku.


Seakan otaknya penuh dengan materi semua yang ada dalam buku itu. "Alana kamu gak makan" Joy berjalan menghampiri Alana yang masih duduk di bangkunya sembari membaca buku.


" Kak joy!! gak lagi sibuk" Gumamnya.


" Sibuk terus baca bukunya, ingat kamu harus makan. Kalau kamu gak makan sakit siapa yang bisa ngurus kamu, calon dokter kecil" Ucap joy mencubit pipi adiknya itu.


" kak joy, sakit tahu" Alana terlihat kesal dengan kakaknya.


" lagian kamu sih sibuk sendiri dengan bukumu" Gumanya, joy beranjak duduk di bangku depan Alana, sembari menatap wajah cantik adiknya itu.


" hai, serius sekali sih, udah ayo kita makan" Joy menarik tangan adiknya itu. Alana hanya mengkikuti saran kakaknya, ia tak lupa meraih bukunya, untuk di baca nanti saat di kantin, saat ia boring dengan suasana di sana.


" Kak bisa lepaskan tanganku gak" Ucap Alana.


" Oh iya" Joy melepaskan tangan Alana. Mereka berjalan ringan menuju ke kantin. Dan Miko melihat kejadian itu. Ia merasa iri dengan Joy. Tadi Alana sudah ia ajak ke kantin tapi gak mau, dan sekarang dua sama kakaknya pergi ke kantin.


Brakk..


Cia menggebrak meja, membuat Miko terkejut dari lamunannya.


" Kamu dengar penjelasnku gak" Bentak Cia menatap ke arah Miko, pandangan lelaki itu tertuju pada Alana tak perhatikan Cia sama sekali di depannya. Bahkan dia juga tidak mendengar apa penjelasan Cia tadi tentang bagi tugasnya.


Cia menoleh ke balakang, melihat siapa yang di lihat Miko hingga matanya seolah tak berhenti berkedip.


" Alana! , Joy!, ternyata Joy bisa bawa Alana ke kantin juga" Ucap Cia, dengan suara lantangnya. Untuk manas-manasin hati Miko.


" Eh aku mau tanya padamu?" Miko mendekatkan wajahnya ke arah Cia yang duduk di depannya.


" Apaan?" Ucap Cia datar, sembari meneguk minuman Caffe latte di tangannya.


" Apa joy suka sama adiknya sendiri"


Uhuk..uhukk..


Cia tersendak seketika kendnegar ucapan Miko.


Brakkk....


Cia beranjak berdiri menggebrak meja dengan ke dua tangannya.


" kamu gila, gak mungkin lah dia suka dengan adiknya sendiri" Ucap Cia dengan nada sangat keras. Membuat semua anak di kantin menatapnya bingung. Joy dan Alana juga menatap mereka bingung.


" Hai Cici" Sapa Joy dengan panggilan nya sebagai kakak.


Cia menoleh, " Hay Alana sini makan bersama" Cia manggil adiknya itu untuk makan bersamanya.