
"meskipun pada akhir nya aku tak bisa bersama nya, setidak nya aku pernah berharap untuk memiliki nya dan berusaha menemuinya", dian berbicara pada hati nya sendiri. tepat nya mungkin meyakini diri nya sendiri. dian beranjak menuju kamar nya, sebab sedari tadi dian berada di ruangan kerja mendiang ayah nya yg kini menjadi ruangan kerja pribadi nya. dian menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh muka nya. lalu kembali ke tempat tidur empuk nya, dian menatap wajah teduh sahabat nya yang lagi tertidur pulas lalu tersenyum. dian tertidur sesaat hingga matahari terbit lagi dengan malu-malu nya di balik sela-sela kaca jendela kamar. winda perlahan menerjaplan mata nya berkali-kali lalu menatap jam yang berada di atas nakas kamar dian, "ahh sudah jam 06:00 pagi ternyata", gumam winda lalu berbalik sambil meregangkan badan nya dan mendapatkan wajah dian yang masih meringkuk di balik selimut enggan untuk beranjak dari tempat tidur nya, winda yang melihat kelakuan sahabat nya tersenyum geli.
"ayo ahh bangun... bangun... gimana mau jadi istri sang CEO siih, bangun nya aja kesiangan kayak gini", sambil menarik selimut yang membalut tubuh gadis kukit putih itu. dian yang pasrah dengan apa yang di lakukan sahabat nya itu terpaksa bangun dari tidur nya sambil melemparkan bantal pada wajah sahabat nya sambil tertawa bersama.
dian memasuki kamar mandi, mengguyurkan seluruh tubuh nya dari kepala hingga ujung kaki menggunakan shower air hangat dan menggunakan shampo beraroma vanila pada rambut coklat panjang nya. sedangkan di luar winda menunggu hingga berjam-jam lama nya namun belum ada tanda-tanda dian keluar dari ritual nya. hingga winda menuju kamar tamu di rumah itu itu untuk melakukan ritual mandi nya juga. "tuh anak kebiasaan mandi lama banget, mandi apa bobok sih disana", sambil berlalu dari kamar dian dan melangkah dengan cepat menuju kamar mandi ruangan tamu. winda sangatlah tahu betul dengan rumah dian, apalagi winda sering berkunjung ke rumah dian hingga bermalam disana, jadi tidak lah heran jika winda sangat hafal dengan rumah dian.
dian keluar dari kamar mandi dengan namun tak ditemui sosok sahabat nya winda. "kemana siih tu anak? ", gumam dian sambil berlalu menuju meja rias mengeringkan rambut dan mulai merias diri nya sendiri dengan beberapa produk pada wajah cantik nya, tak butuh bedak yang mahal untuk memolesi wajah cantik nya, dengan bermodal make up tipis pada wajah nya saja, dian sangat lah cantik. lalu menuju ruangan ganti dan mengambil gaun brokat berwarna putih lalu mengenakannya. sangat cantik dan anggun, di tambah dengan lipstick berwarna pink peach memolesi bibir tipis nya, sungguh dian sangatlah cantik, siapapun yang memandanginya pastiakan terhipnotis. hehehe
winda yang telah selesai dengan ritual mandi nyapun membuka knop pintu kamar dian dan mendapati sahabat nya yang telah menyiapkan diri nya untuk menjalani hari baru ini. "lo mandi nya lama banget sih dian, gimana nanti lo jadi istri pak bos kalo mandi aja kelamaan gitu, bisa-bisa laki lo pergi kerja gak sarapan deh", dengus winda pada sahabat nya. dian yang mendengar omelan sahabat nya hanya bisa mengangkat bahu nya sambil berjalan keluar kamar lalu berbalik ke arah winda "lo kalo mulai ngomel kayak emak emak deh, ganti sana temani gue nemu bos lo di studio XXX buat prawed", jelas dian lalu berlalu menuju meja makan untuk sarapan pagi. "haaaa??? prawed?? mendadak amat sih? bukan nya prawed nya gak jadi kan? waktu itu si pak bos bilang nya langsung nikah aja tanpa prawed, sudahlah...!", pikir winda, tak butuh waktu lama, winda sudah berada di meja makan bersama dian untuk ikut sarapan pagi.
"pak bos dimana yah?", tanya winda pada dian yang kelihatan tenang tak memikirkan hari ini. "tunggu aja, ntar juga pasti dateng", jawab dian malas. winda yang mendengar jawaban sahabat nya hanya bisa memutar kedua bola mata nya. "gimana stelah lo nikah kalau kalian gak saling kontak gini sih, dimana-mana, orang kalo mau nikah, pastinya pasangan saling kompak, gak kayak kalian berdua, kayak musuh aja sih. aneh gue", gumam winda gemes sambil memainkan handphone nya. dian tetap pada posisi nya tak memedulikan apa yang keluar dari mulut sahabat nya. "andaikan lo jadi gue wind, pasangan hidup yang akan aku nikahi ini nanti nya akan hidup bersama hingga maut memisahkan tanpa ada nya rasa cinta, tanpa ada nya rasa saling ingin memiliki, tapi mau gimana lagi, mungkin inilah garis takdir ku hidup dengan nya, entah apapun yang akan terjadi nanti, hanya aku, dia dan tuhanlah yang mengetahui nya, semoga akan ada rasa cinta yang tumbuh seiring berjalan nya waktu", dian membatin
yang ditunggu akhir nya tiba dengan menggunakan mobil mewah berwarna hitam. dian yang melihat lelaki itu turun dari mobil seakan memutar memori nya ke beberapa tahun lalu, namun dian menepis pemikiran nya "mana mungkin sih dia kakak yang waktu itu nolong aku, jelas berbeda di lihat dari sifat nya", batin dian mengembalikan lamunan nya. alvin melangkah dengan mantap menuju dian dan winda. dian yang melihat tatapan datar alvin hanya bisa menunduk. tak ada perasaan apapun pada alvin saat ini. "ayo kedalam", pintah alvin pada dian, dian menuruti pintah alvin hanya mengikuti langkah pria muda itu dari balik punggung nya.
setelah melakukan berbagai pemotretan, alvin pergi begitu saja meninggalkan dian dan winda. betapa sedih yang di rasakan dian, winda yang melihat nya ikut merasakan apa yang di rasakan sahabat nya. bagaimana pun, winda juga seorag wanita kan. winda hanya bisa mengelus punggung sahabat nya dengan berkata "sabar yah, wanita sebaik kamu, sepintar kamu, secantik kamh, akan ada jalan terbaik di balik rencana tuhan, tetap kuat dan berdoa", dian yang mendengar nasihat sahabat nya tak kuat menahan bendungan air mata yang sedari tadi ia tahan dan akhir nya pertahanan nya runtuh seketika dan memeluk sahabat nya sambil terisak-isak. sedangkan di sudut lain ada sepasang mata yang melihat adegan kedua sahabat itu dan mendengarkan apa yang dikatakna winda pada sahabat nya.
.
.
.
hay guys,, terimakasih sudah selalu setia membaca novel ku ini. mohon koreksi nya bila ada yang kurang demi tercapai kesuksesan nya novel ku ini. terimakasih. 🙏🙏🙏🥰🥰