My First Love

My First Love
Teman



"Hari ini aku dapat pelajaran baru. Ada baiknya juga aku pikir kalau kita membersihkan toilet bersama. Kita bisa saling akur meski hanya satu hari." Ucap Joy, yang berbaring dengan ke dua tangannya menyangga kepalanya. Ia menatap langit yang terlihat sangat cerah, namun hari sudah semakin sore. Bahkan, bel pulang daei tadi sudah berbunyi menggema di seluruh penjuru sekolahan.


"Iya, lebih baik kita jadi teman sehari. Dari pada kita berantem, tapi gak tahu apa masalah sebenarnya" sindir Miko, yang berbaring di sampingnya. 


Mereka memang saat menbersihkan seluruh sekolahan dalam waktu sehari. Makan saja Alana yang bawakan dari kantin, dia membawakan minuman dan makanan untuk Joy dan Miko. Tetapi seperti biasa, tak ada satu katapun keluar dari mulutnya saat memberikan makanan pada mereka. Dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Joy dan Miko.


"Iya, lagian baru kali ini, pengalaman dalam sejarah aku. Aku bisa ngepel, bersihin kamar mandi, nyapu. Di rumah saja semua tinggal merasakan beres. Sekarang badan dan tulangku, terasa mau rontok di buatnya." Gerutu Joy, yang tak hentinya, terus mengeluh. 


"Badanku juga rasanya mau rontok. Kepala sekolah kejam dengan kita, masak kita seharian gak dapat pelajaran apa-apa hanya suruh bersih-bersih. Mana toiletnya bau lagi" gumam Miko, yang semula jijik dapat toilet laki-laki bau banget. 


"Tapi kita dapat pelajaran saling membantu" saut Joy. 


Drrrttttt... drrrtttt...


Getaran ponsel di sakunya membuat Joy, terdiam dan mengambil ponsel di sakunya sebuah panggilan dari mama. 


"Mama lagi, kenapa dia selalu menghubungiku, aku bahkan di anggap seperti anak kecil yang kemana-mana selalu di cari." Ucap Joy, tanpa menjawab panggilan mamanya, ia memasukan kembali ponselnya di saku bajunya. 


Miko melirik sekilas ke arah Joy, "kamu masih mending, dapat panggilan dari mama kamu. Sedangkan aku hanya, jadi anak yang tak di anggap. Mereka semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tanpa perdulikan aku, pulang gak pulang juga gak di perduliin" ucap Miko penuh dramatis. 


Joy, yang mengerti hati Miko, ia melirik sejenak, menepuk pundak Miko. "Tapi aku yakin orang tua kamu juga syang dengan kamu" ucap joy. 


"Iya, entahlah... tapi setidaknya mereka masih kasih aku uang jajan" gumam Miko, sambil tertawa. 


"Oya, apa Alana nanti juga kuliah di luar negeri?" Tanya Miko, membuat Joy langsung menoleh ke arahnya. 


"Aku gak tahu, sepertinya begitu, entah jurusan apa yang dia ambil. Dia gak pernah cerita jika akan kuliah kemana kalau lulus" ucap Joy. 


"Dia wanita yang pintar, aku yakin di manapun dia akan kuliah nantinya pasti banyak universitas yang menawarkan beasiswa padanya" ucap Miko, dengan senyum tipis menyungging di bibirnya. Ia menatap ke langit, membayangkan wajah Alana ada di depannya tersenyum padanya.


"Iya, aku saja juga entahlah mau kuliah di mana. Semuanya belum terpikirkan. Padahal kita sekolah kurang 2 bulan lagi. Dan semua akan pergi, dan mengambil mata kuliah yang di inginkan masing-masing" ucap Joy, yang tak hentinya penuh dramatis, dengan wajah datar dan sedihnya. 


Joy beranjak berdiri. "Kamu mau kemana?" Tanya Miko. 


"Mau pergi, cari minum" ucap Joy. "Gimana kalau kita di kantin saja. Takutnya nanti Cia cari aku, si bawel itu selalu menuduhku yang enggak-enggak jika aku gak pulang bareng dia" ucap Joy. 


"Baiklah, aku traktir kamu hari ini" ucap Miko beranjak bediri, ia merangkul pudak joy dan beranjak pergi dari loteng sekolahan. Menuju ke kantin yang memang masih buka, dan kebetulan mau tutup tapi mereka nyambar gitu saja beli minuman dan makanan. 


"Mbokk.. Ada bakso?" Tanya Joy, yang sudah duduk di kursi. 


"Bakso udah gak ada. Hanya ada minuman, apa kalian mau?" 


"Ya udah deh, es capucino 2" ucap Joy. 


Miko menepuk tangan Joy, saat melihat Cia seperti orang bingung, sedang mencari seseorang.


"Eh.. itu bukanya Cia, sepertinya dia memang cari kamu". 


"Apaan, gak usah bohong" ucap Joy. 


"Udah cepetan lihat" Miko, menendang kaki Joy agar menoleh ke belakang.


Mata Joy melebar seketika, saat melihat Cia tersenyum dan berjalan mendekat ke arahnya. Ada apa lagi dia mencariku, dia sama saja seperti mama, kemana-mana selalu nyari aku, pikirnya. 


Seorang wanita paruh baya penjual di kantin, membawakan dua gelas minuman dan meletakkan di meja.


"Bental lagi Mbok" sambung Miko. "Oya ini uangnya Mbok" lanjuynya, memeberikan beberapa lembar uang pasa Mbok Jum.


"Joy!! Kamu di cari Alana" mendwngar kata Alana, mereka yang smeula minum tersendak kompak. 


Uhuk.. uhukk.. 


"Apa katamu?" Tanya Joy memastikan. 


"Alana mencari kamu? Katanya kamu ada janji hari ini dengannya." Cia duduk di samping Joy, dengan pandangan mata terutuju pada Miko di depannya.


"Ada janji apa memangnya?" Tanya Miko, penasaran. 


"Entahlah.." ucap Cia. "Eh.. Bentar!! Bentar! Sepertinya ada yang beda" ucap Cia, tersenyum tipis menatap ke arah Joy dan Miko bergantian. 


"Apa yang beda, semuanya sama saja" saut Joy. 


"Eh.. tapi kalian berdua berbeda. Sekarang kalian akur ya?" Tanya Cia menggoda. 


"Akur gimana? Kita masih berantem hanya saja tadi aku haus dan harus minum. Lagian kita seharian bersama di toilet" ucap Joy mencari alasan. 


"Udah, ayo pergi Alana sudah menunggumu di depan" ucap Cia, menarik tas rangsel Joy agar dia cepat berdiri. 


"Bentar!! Aku habiskan minum aku lebih dulu" ucap Joy, yang langsung meneguk habis minumannya. 


"Aku pergi dulu!!" Ucap Cia, pada Miko ia melambaikan tangan perpisahan dengannya. 


Miko hanya diam, saat mendengar jika Joy akan keluar dengan Alana. Bukannya dia cemburu, karena ia juga sudah tahu Joy dan Alana itu adik kakak tapi ada sisi lain dari Alana yang tiba-tiba berubah. Bisa baikan dengan Joy. 


Miko beranjak pergi, ia invin mencari sesuatu yang membuat pikirannya gudah. 


Iya, Miko mencoba mengikuti ksmana perginya Joy dan Cia. 


~


"Di mana Alana?" Tanya Joy. 


"Dia di depan itu" ucap Cia, sengan tangan menunjuk ke arah Alana. 


"Emangnya dia mau ngapain nunggu aku" ucap Joy penuh keraguan.


"Apa kamu gak ingat ada janji apa dengannya. Lagian Alana mana cerita ke aku, ada apa. Hanya saja dari tadi dia mencari kamu" ucap Cia. 


Cia membalikkan badan Joy mendorongnya agar segera pergi. 


"Ingat bilang sama mama!! Jangan biarkan dia khawatir" ucap Joy. 


Cia hanya mengeluarkan senyum menisnya.melambaikan tangan ke arah Joy. 


Joy berjalan menuju ke tempat Alana duduk. "Kamu nunggubaku?" Tanya Joy, duduk di samping Alana. 


"Iya, tapi bentar ada orang lagi yang masih aku tunggu" ucap Alana membiat Joy, negerutkan keningnya.