
Joy dan Amera hanya diam, saling canggung satu sama lain
untuk memulai pembicaraannya lebih dulu.
Tapi Amera lebih gugup lagi, ia bahkan terus menghantakkan
kakinya, ke lantai pelan. Memasukan bibirnya ke sela-sela giginya,
menghilangkan rasa gugup berhadapan dengan Joy. dengan situasi yang berbeda
dari biasanya. Yang terlihat biasa saat dekat dengannya, seperti teman pada
umumnya.
Apa Joy akan
mengatakan cinta padaku? Ah.. tapi gak mungkin. Gak mungkin dia akan menyatakan
cintanya padaku. Dia itu hanya cinta dengan Alana dan gak mungkin dia menyukai
orang lain selain Alana.
Joy menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba berbicara dengan
Amera dari hati ke hati.
"Amera, maaf ya. Aku hanya bisa ajak kamu ke
cafe." ucap Joy, mencoba memegang tangan Amera. Dengan rasa gugupnya,
buaknya ia gugup karena suka. Tapi ia tidak bisa sebenarnya memegang wanita
kain selain orang yang ia sukai.
"Gak apa-apa kok, kamu ajak aku keluar saja sudah
senang," jawab Amera.
"Oya, kamu mau pesan apa. Biar aku yang pesankan nanti.
Hari ini, aku mau traktir kamu."
"Apa saja, terserah kamu" Alanamenarik bibirnya
masuk ke sela-sela giginya, menhan rasa gugup yang semakin menjalar di
tubuhnya. Ia bingung harus berhadapan bagaimana lagi. Karena ini pengalaman
pertama kali baginya. Bisa dekat dengan dengan Joy seperti ini.
"Baiklah!! Tunggu bentar, ya." Joy beranjak
berdiri. Memesan dua gelas minuman Cafe latte, dan cemilan kecil untuk mereka.
"Oya, kamu kenapa bawa aku ke sini?" tanya Amera,
yang sudah penasaran dengan tujuan Joy.
Joy memegang tangan Amera, di atas meja kembali, mengusapnya
lembut. Joy kembali duduk di depan Amera. "Aku ingin lebih dekat denganmu,
bolehkah?"
Deg..
Seketika jantung Amera berhenti beberapa detik. Mendengar
jara itu membuat hatinya kerasa sangat senang. **** ia tidak tahu tujuan
sebenarnya. Tapi setidaknya ia bisa membuatnya bahagia meski hanya beberapa
hari saja.
Apa aku sekarang
sedang bermimpi, atau aku sekarang berhayal sepertinya aku harus segera bangun
jika ini mimpi. Aku gakmau larut dalam mimpi ini terlalu lama.
Amera mencubit lengannya, mencoba mematikan jika apa yang ia
dengar itu nyata.
“Awww..”
“Ternayat ini bukan mimpi,” gumam Amera.
“Kamu gak mimpi, aku ingin bisa lebih dekat dengan kamu.
Mengenal kamu lebih dalam lagi. Tetapi, jika kamu memang mengijinkan.”
"Apa yang kamu katakan?" tanya Amera ragu.
"Emm.. Aku ingin lebih dekat denganmu. Agar aku bisa
membalas cinta kamu suatu hari nanti." jelas Joy.
"Kenapa kamu mau dekat denganku? Apa kamu sudah mau membuka
hatimu sekarang, untuk orang lain?"
"Gak tahu, aku ingi memulai hidup baru sekarang. dengan
suasana hati baru."
Amera terdiam, menatap wajah Joy, yang terihat pucat, dan
gusrah. Ia bahkan tidak berani menatap ke arahnya.
Apa dia sekarang sudah bisa melupakan Alana. Jika benar, dia
bisa membuka hatinya untukku. Tapi, entah kenapa aku masih ragu dengannya.
Joy, mengernyitkan wajahnya. Menatap Amera sedikit
membungkukkan badanya. Memegang lebih erat tangan garis di depannya itu.
"Gimana kamu mau gak?"
"Emmm... Tapi.."
"Aku akan coba mencintai kamu. Tapi setidaknya aku
ingin kamu selalu ada di sisiku." ucap Joy, mencoba meyakinkan.
Amera menarik napasnya dalam-dalam. Ia kini sudah bisa
meluruskan, untuk memberi kesempatan pada Joy. Setidaknya dengan ini, Joy bosa
memandangnya, dan menghargai perasaannya.
"Baiklah, aku akan coba." ucap Amera, penuh
percaya diri.
"Makasih!!"
Joy membalas senyuman Amera yang terlihat sangat manis di
depannya. Meski belum bisa membuat hatinya bergetar setidaknya. Ia bis
"Permisi, pesananya" ucap waiters, meletakkan minuman
dan makanan pesanan Joy. Dan bergegas pergi.
"Ini apa?" tanya Amera.
"Nasi goreng," ucap Joy, sambil memegang sendok
dan gabu di tangannya.
"Emangnya enak?" tanya Amera tak yakin.
"Mendingan kamu coba dulu deh," Joy, mengulurkan
satu sendok makanan ke mulut Amera.
Amera menautkan ke dua aslinya, menatap bingung ke arah Joy.
"Maksudnya ini?" tanya Amera ragu.
"Buka mulut kamu, kamu rasakan sensasi makanan
Indonesia," ucap Joy, menarik ke dua alisnya, dengan senyum manis
menyungging di bibirnya.
Amera perlahan mrmbuka mulutnya. Merasakan makasan itu masuk
dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan, merasakan masakan itu yang terasa sangat
enak di lidahnya.
"Gimana?" tanya Joy penasaran.
"Emm.. lumayan enak juga. Aku suka" ucap Amera,
menarik matanya ke atas. Seakan ia terlihat masih berpikir lagi.
"Gak enak? Kalau memang gak enak, ku pesankan lainya
saja," Joy mencoba beranjak dari duduknya.
"Eh.. Joy. Enak kok. Siapa bilang gak enak.”
"Tadi, eksprsi wajah kamu gak meyakinian gitu."
"Tadi aku hanya bercanda. Ini beneran enak. Malah aku
ingin belajar mencobanya nanti, kalau kamu ada waktu di rumah." ucap
Amera. Yang mulai melanjutkan makanannya.
Joy, tersenyum. Dan beranjak duduk kembali. "Kalau
memang enak habiskan. Besok, kita coba buat sendiri di rumah. Sekarang akmu
ciba rasakan, bahan apa saja yang di gunakan." ucap Joy.
Amera mengulurkan satu sendok tepat di depan bibir Joy.
membuat Joy mengerutkan keningnya, heran. "Apa ini?"
"Buat kamu, kamu juga harus makan sekarang." ucap
Amera.
"Baiklah," Joy tersernyu, dan menerima suapan
pertama darinya.
Joy membuka mulutnya, menerima suapan dari Amera.
Mereka saling bercanda berdua. Dengan humor masing- masing
yang terlalu datar selera humor mereka. "Eh.. bentar," ucap joy,
mengusap lembut bibir Amera.
Membuat gadis itu gemetar seketika. Mendapatkan sebuah
sentuhan dari Joy. Ia bahkan tidak berhenti memandang wajah gadis itu.
“Maaf,” ucap Joy.
“Eh... Iya gak apa-apa,” Amera dan Joy segera meneruskan
makannya. Dengan lahapnya, mereka memakan habis pesanan yang sudah di pesan
tadi.
“Habis ini kita kemana?” tanya Joy.
“Bagaimana kalau kita pulang dulu, aku mau ambil catatan bahan
kue yang ketinggalna di rumah. Nanti kalau enggak besok aku mau masak kue
banya, katanya sih tante dan mama akan adakan acara di rumah, entah mengadakan
acara apa aku juga tidak tahu.” Ucap Amera.
“Ya, sudah baiklah.” Ucap Joy. Meraih minuman di depannya,
meneguknya perlahan hingga habis satu gelas.
“Oya, nanti kita ajak Alana bagaimana. Aku mau kamu juga
ajarkan Alana buat kue. Biar bisa ia membuatkan pacarnya nanti.” Ucap Joy.
Mendengar nama Alana mmebuat Amera seketika terdiam,
mengerutkan hidungnya. Menahan rasa kesal dalam hatinya.
Sepertinya memang Joy
belum bisa sepenuhnya melupakan Alana.
“Amera apa kamu gak setuju, kalau kamu gak mau ya, gak
apa-apa aku juga gak melarang kamu kok.” Ucap Joy.
“Aku setuju kok. Lagian Alana juga pasti ingin belajar buat
kue juga.” Ucap Amera mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan Joy.
Joy melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Jarum jam
sudah menujukan pukul setengah delapan malam.
“Ya, sudah. Sekarang kita pulang ya, keburu malam nanti.”
“Ya, sudah. Tapi kamu sudah bayar belum. Kalau belum biar
aku yang traktir kamu.” Ucap Amera.
“Udah, sekarang kita langsung pulang saja.” Joy, memegang
tangan amera, berjalan keluar dari cafe tersebut.