My First Love

My First Love
Episode 212



Joy dan Amera hanya diam, saling canggung satu sama lain


untuk memulai pembicaraannya lebih dulu.


Tapi Amera lebih gugup lagi, ia bahkan terus menghantakkan


kakinya, ke lantai pelan. Memasukan bibirnya ke sela-sela giginya,


menghilangkan rasa gugup berhadapan dengan Joy. dengan situasi yang berbeda


dari biasanya. Yang terlihat biasa saat dekat dengannya, seperti teman pada


umumnya.


Apa Joy akan


mengatakan cinta padaku? Ah.. tapi gak mungkin. Gak mungkin dia akan menyatakan


cintanya padaku. Dia itu hanya cinta dengan Alana dan gak mungkin dia menyukai


orang lain selain Alana.


Joy menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba berbicara dengan


Amera dari hati ke hati.


"Amera, maaf ya. Aku hanya bisa ajak kamu ke


cafe." ucap Joy, mencoba memegang tangan Amera. Dengan rasa gugupnya,


buaknya ia gugup karena suka. Tapi ia tidak bisa sebenarnya memegang wanita


kain selain orang yang ia sukai.


"Gak apa-apa kok, kamu ajak aku keluar saja sudah


senang," jawab Amera.


"Oya, kamu mau pesan apa. Biar aku yang pesankan nanti.


Hari ini, aku mau traktir kamu."


"Apa saja, terserah kamu" Alanamenarik bibirnya


masuk ke sela-sela giginya, menhan rasa gugup yang semakin menjalar di


tubuhnya. Ia bingung harus berhadapan bagaimana lagi. Karena ini pengalaman


pertama kali baginya. Bisa dekat dengan dengan Joy seperti ini.


"Baiklah!! Tunggu bentar, ya." Joy beranjak


berdiri. Memesan dua gelas minuman Cafe latte, dan cemilan kecil untuk mereka.


"Oya, kamu kenapa bawa aku ke sini?" tanya Amera,


yang sudah penasaran dengan tujuan Joy.


Joy memegang tangan Amera, di atas meja kembali, mengusapnya


lembut. Joy kembali duduk di depan Amera. "Aku ingin lebih dekat denganmu,


bolehkah?"


Deg..


Seketika jantung Amera berhenti beberapa detik. Mendengar


jara itu membuat hatinya kerasa sangat senang. **** ia tidak tahu tujuan


sebenarnya. Tapi setidaknya ia bisa membuatnya bahagia meski hanya beberapa


hari saja.


Apa aku sekarang


sedang bermimpi, atau aku sekarang berhayal sepertinya aku harus segera bangun


jika ini mimpi. Aku gakmau larut dalam mimpi ini terlalu lama.


Amera mencubit lengannya, mencoba mematikan jika apa yang ia


dengar itu nyata.


“Awww..”


“Ternayat ini bukan mimpi,” gumam Amera.


“Kamu gak mimpi, aku ingin bisa lebih dekat dengan kamu.


Mengenal kamu lebih dalam lagi. Tetapi, jika kamu memang mengijinkan.”


"Apa yang kamu katakan?" tanya Amera ragu.


"Emm.. Aku ingin lebih dekat denganmu. Agar aku bisa


membalas cinta kamu suatu hari nanti." jelas Joy.


"Kenapa kamu mau dekat denganku? Apa kamu sudah mau membuka


hatimu sekarang, untuk orang lain?"


"Gak tahu, aku ingi memulai hidup baru sekarang. dengan


suasana hati baru."


Amera terdiam, menatap wajah Joy, yang terihat pucat, dan


gusrah. Ia bahkan tidak berani menatap ke arahnya.


Apa dia sekarang sudah bisa melupakan Alana. Jika benar, dia


bisa membuka hatinya untukku. Tapi, entah kenapa aku masih ragu dengannya.


Joy, mengernyitkan wajahnya. Menatap Amera sedikit


membungkukkan badanya. Memegang lebih erat tangan garis di depannya itu.


"Gimana kamu mau gak?"


"Emmm... Tapi.."


"Aku akan coba mencintai kamu. Tapi setidaknya aku


ingin kamu selalu ada di sisiku." ucap Joy, mencoba meyakinkan.


Amera menarik napasnya dalam-dalam. Ia kini sudah bisa


meluruskan, untuk memberi kesempatan pada Joy. Setidaknya dengan ini, Joy bosa


memandangnya, dan menghargai perasaannya.


"Baiklah, aku akan coba." ucap Amera, penuh


percaya diri.


"Makasih!!"


Joy membalas senyuman Amera yang terlihat sangat manis di


depannya. Meski belum bisa membuat hatinya bergetar setidaknya. Ia bis


"Permisi, pesananya" ucap waiters, meletakkan minuman


dan makanan pesanan Joy. Dan bergegas pergi.


"Ini apa?" tanya Amera.


"Nasi goreng," ucap Joy, sambil memegang sendok


dan gabu di tangannya.


"Emangnya enak?" tanya Amera tak yakin.


"Mendingan kamu coba dulu deh," Joy, mengulurkan


satu sendok makanan ke mulut Amera.


Amera menautkan ke dua aslinya, menatap bingung ke arah Joy.


"Maksudnya ini?" tanya Amera ragu.


"Buka mulut kamu, kamu rasakan sensasi makanan


Indonesia," ucap Joy, menarik ke dua alisnya, dengan senyum manis


menyungging di bibirnya.


Amera perlahan mrmbuka mulutnya. Merasakan makasan itu masuk


dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan, merasakan masakan itu yang terasa sangat


enak di lidahnya.


"Gimana?" tanya Joy penasaran.


"Emm.. lumayan enak juga. Aku suka" ucap Amera,


menarik matanya ke atas. Seakan ia terlihat masih berpikir lagi.


"Gak enak? Kalau memang gak enak, ku pesankan lainya


saja," Joy mencoba beranjak dari duduknya.


"Eh.. Joy. Enak kok. Siapa bilang gak enak.”


"Tadi, eksprsi wajah kamu gak meyakinian gitu."


"Tadi aku hanya bercanda. Ini beneran enak. Malah aku


ingin belajar mencobanya nanti, kalau kamu ada waktu di rumah." ucap


Amera. Yang mulai melanjutkan makanannya.


Joy, tersenyum. Dan beranjak duduk kembali. "Kalau


memang enak habiskan. Besok, kita coba buat sendiri di rumah. Sekarang akmu


ciba rasakan, bahan apa saja yang di gunakan." ucap Joy.


Amera mengulurkan satu sendok tepat di depan bibir Joy.


membuat Joy mengerutkan keningnya, heran. "Apa ini?"


"Buat kamu, kamu juga harus makan sekarang." ucap


Amera.


"Baiklah," Joy tersernyu, dan menerima suapan


pertama darinya.


Joy membuka mulutnya, menerima suapan dari Amera.


Mereka saling bercanda berdua. Dengan humor masing- masing


yang terlalu datar selera humor mereka. "Eh.. bentar," ucap joy,


mengusap lembut bibir Amera.


Membuat gadis itu gemetar seketika. Mendapatkan sebuah


sentuhan dari Joy. Ia bahkan tidak berhenti memandang wajah gadis itu.


“Maaf,” ucap Joy.


“Eh... Iya gak apa-apa,” Amera dan Joy segera meneruskan


makannya. Dengan lahapnya, mereka memakan habis pesanan yang sudah di pesan


tadi.


“Habis ini kita kemana?” tanya Joy.


“Bagaimana kalau kita pulang dulu, aku mau ambil catatan bahan


kue yang ketinggalna di rumah. Nanti kalau enggak besok aku mau masak kue


banya, katanya sih tante dan mama akan adakan acara di rumah, entah mengadakan


acara apa aku juga tidak tahu.” Ucap Amera.


“Ya, sudah baiklah.” Ucap Joy. Meraih minuman di depannya,


meneguknya perlahan hingga habis satu gelas.


“Oya, nanti kita ajak Alana bagaimana. Aku mau kamu juga


ajarkan Alana buat kue. Biar bisa ia membuatkan pacarnya nanti.” Ucap Joy.


Mendengar nama Alana mmebuat Amera seketika terdiam,


mengerutkan hidungnya. Menahan rasa kesal dalam hatinya.


Sepertinya memang Joy


belum bisa sepenuhnya melupakan Alana.


“Amera apa kamu gak setuju, kalau kamu gak mau ya, gak


apa-apa aku juga gak melarang kamu kok.” Ucap Joy.


“Aku setuju kok. Lagian Alana juga pasti ingin belajar buat


kue juga.” Ucap Amera mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan Joy.


Joy melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Jarum jam


sudah menujukan pukul setengah delapan malam.


“Ya, sudah. Sekarang kita pulang ya, keburu malam nanti.”


“Ya, sudah. Tapi kamu sudah bayar belum. Kalau belum biar


aku yang traktir kamu.” Ucap Amera.


“Udah, sekarang kita langsung pulang saja.” Joy, memegang


tangan amera, berjalan keluar dari cafe tersebut.