
persiapan sing? aca gunam alana
"Joy, cepat gabung dengan kita. Kenapa kamu masih duduk di sini." ucap Cia, menarik tangan Joy, beranjak pergi meninggalkan Alana sendiri duduk di yaman.
"Tapi Alana?" Joy menatap ke belakang, melihat Alana yang terus menatapnya, perlahan menjauh darinya.
"Sudah jangan pikirkan dia. Dia punya kaki, lagian bisa jalan sendiri. Jadi jangan khawatirkan lagi tentangnya. dia gak begitu penting. Sekarang kuta makan bersama dengan calon mertua kamu dan tunangan kamu!!" gumam Cia, merengkuh tangan kanan Joy, melirik ke belakang, menatap tajam Alana yang masih duduk di tempatnya, menundukkan kepalanya.
"Aku gak akan memaafkan kamu Alana. Aku akan balas dendam pada kamu, atas semua yang kamu lakukan." ucap Cia dalam hatinya, menarik bibirnya sinis.
Joy... Kenapa kamu alam sekali, syang!!" ucap Amera, yang duduk menikmati makanan bersama. Ia beranjak berdiri, memegang tangan Joy, menariknya untuk duduk di sampingnya.
"Aku tadi masih bicara dengan Alana!!"
"Terus di mana Alana sekarang?" tanya Sheila. "Kenapa kanu tidak bawa di sini?"
"Alana tidak mau tante, dia lebih memilih duduk sendiri di taman." saut Cia, sebelum Joy mengatakan yang sebenarnya.
"Oo.. Kenapa gak kalian paksa saja. Dan David mana? Kenapa dia tidak bersama dengan kamu Joy?"
"David pergi dengan pacarnya, tente!!"
"Emm. Ya sudah. Kalian lanjutkan makan. Aku akan pergi temui Alana.
"Gak usah tante, kenapa juga tante temui dia." Cia mencegah sheila untu pergi.
"Ini acara kalian, sebenarnya tante mau kamu bersama David, dan Amera bersama dengan Joy. Tapi sepertinya David pergi dengan oacaranya, dan sekarang kalian bersama saja yang menikmati taman di sini!!" ucap Sheila beranjak berdiri.
"Ya, udah aku ikut tante. Dari pada aku jadi obat nyamuk di sini!!"
"Kamu bagian bawa obat nyamuk semprot nanti kalau ada yang ganggu tinggal semprot. Goda Sheila pada Cia.
"Tente!!" rengek Cia.
"Udah ma, bawa saja Cia pergi Biar dia gak ganggu aku dekat dengan Joy!!".
"Tuh, kan tante. Mereka tidak mau Cia di sini" rengek Cia menegang tangan Sheila, menggoyang-goyangkan tangan kirinya.
"Iya, iya. Sekarang kamu ikut aku!!" Sheila tersenyum, beranjak pergi dengan Cia. Dan Amera menatap wajah Joy dari tadi hanya diam, tanpa banyak bicara lagi.
"Kamu kenapa, syang?" tanya Amera, mengusap pipi Joy.
"Gak ada apa-apa. Tolong singkirkan tangan kamu," Joy menarik tangan Amera dari pipinya
"Kenapa aku gak boleh sentuh kamu!!" decak kesal Amera.
"Amera!! Jangan seperti anak kecil. Aku mau kita pacaran yang biasa saja. Jika kamu ingin bahagia dengan aku nantinya," jawab Joy membuat Amera semakin bingung, ia mengerutkan ke dua alisnya.
"Apa yang kamu jatakan? Kita tidak hanya pacaran sekarang, status kita minggu depan sudah remis jadi tunangan. Tapi jika kamu dan aku siap untuk menikah muda, maka kita akan segera menikah bersama dengan kamu, syang!!" ucap Amera, mengusap wajah tampan Joy dengan jemari-jemari lentiknya.
Joy mulai risih dengan sentuhan Amera, ia menepis tangan Amera di wajahnya. "Amera!! Hentikan!" ucap tegas Joy, membuat Amera menatap tajam ke arahnya, dengan bibir menguntup kesal, ia melihat ke dua tangannya, bersendekap di dadanya.
"Baiklah! Jika kamu tidak suka dengan aku. Kenapa kita teruskan kalau begitu!!" ucap Amera kesal.
"Maksud kamu?" tanya Joy.
"kenapa kamu mau menikah dengan ku jika kamu tidak cinta padaku. Dan kenapa kamu selaku saja membuat aku semakin cinta padanya. Jika kamu ujung-ujungnya hanya buat aku sakit hati. Jika kamu tidak suka, jangan kasuh harapan lebih pada wanita. Jika wanita itu sampai terlena dan berharap jauh padamu. Maka jangan salahkan wanita yang suka dnegan kamu. tapi salahkan sikap kamu yang gak bisa tegas dengan hati kamu sendiri." ucap Amera mengungkapkan isi hatinya.
"Maaf!!" ucap Joy menundukkan kepalanya.
"Maaf!! Apa hanya itu yang bisa kamu ucapkan? Apa kamu masih suka dengannya? Jika kamu masih suka dengan Alana pergi kejar sia, jangan bersama dengan aku lagi!!"
Amera yang merasa kesal melihat Joy yang hanya diam mematung di depannya. Ia beranjak berdiri. "Amera, kamu mau kemana?" tanya Joy, membuat langkah Amera terhenti.
"Jangan cegah aku jika kamu tidak bisa mencintai aku!!"
"Aku suka dengan kamu. Siapa bilang aku tidak mencintai kamu. Aku tadi lagi suntum. Aku gak bisa berpikir jernih. Banyak masalah yang menganggu aku. Dan aku bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang." gumam Joy, membuat Amera berhenti melangkahkan kakinya, ia menoleh cepat ke arah Joy, tersenyum tipis memandang Joy yang masih diam duduk di depannya.
"Kamu beneran suka dengan aku, kan?" tanya Amera.
"Iya!!"
"Buktikan!!" gumam Amera.
"Dengan apa?" tanya Joy bingung.
"Cium aku!!"
Joy menciut seketika, ia bingung apa yang harus di lakukan. Ia tidak bisa mencium Amera.
"Kenapa diam? Apa kamu gak mau? Berarti kamu gak suka dengan aku!!" gumam Amera kesal, ia mrnguntupkan bibirnya lagi.
Joy memberanikan dirjnya, melangkahkan kakinya cepat mendekati Amera, meletakkan ke dua telapak tangannya di pipi Amera, dan mengecup lembut bibirnya, membuat Amera terdiam seketika, tersenyum tipis, menerima lembut kecupan Joy di bibirnya. Amera menatap ke depan, melihat Alana yang berjalan kenarahnya, melihatnya sedang kecupan mesra di depannya, membuat langkahnya terhenti.
"Joy!!" ucap Amera melepaskan kecupanya, menarik napasnya sejenak, laku ia mengecup Joy lebih dulu, kini kecupan mereka semakin panas, membuat Alana yang melihatnya dari kejauhan semakin kesal, ia mengigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal dalam hatinya, ingin sekali ia menjerit keras, tapi tidak ada tempat untuknya meluapkan semua kegundahan dalam hatinya. Hatinya seakan di hantam batu besar menjadi sebuah kepingan kecil yang sudah retak. Seperti cintanya, yang selaku di bumbui adegan hot Amera dnegan Joy terus menerus membuat hatinya semakin mengecil, dan semakin retak, perlahan akan hancur menjadi abu cinta, yang tak bisa lagi di sembuhkan.
"Aku kira dia benar suka dengan aku. Dia masih mengharapkan aku. Tapi aku salah, Joy hanya mempermainkan aku. Dia bisa kecupan dengan wanita lain di depanku." gumam Alana penuh rasa kecewa dalam dirinya, ia meneteskan air matanya, seketika langsung menyeka air matanya dengan punggung tangannya, dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
Amera melihat Alana pergi, seperti sebuah kemenangan tersendiri baginya. bisa membuat dia semakin hancur, melihat kenyataan jika Joy hanya suka dengannya.
"Makasi, ya. Syang!!" ucap Amera, memegang ek dua pipi Joy, dnegan kepala sedikit mendongak ke atas.
"Aku syang dengan kamu!!" ucap Joy.
"Aku juga, sangat syang dengan kamu. Aku mau hubungan kita lebih dari ini. Kita akan menikah dengan segera, syang!!" ucap Amera.
"Kalau menikah tunggu aku jadi orang yang sukses, biar aku bisa bahagiakan kamu Kita tunangan lebih dari cukup untuk mengikat hubungan kita."
"Tapi jika hanya tunangan, hubungan kita bisa hancur kapan saja!!" gumam Amera, ia takut jika Joy akan meninggalkannya.
"Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu. Bukanya aku sudah janji akan menikahi kami. Dan itu sudah janji aku, tidak akan pernah aku ingkari!!" jelas Joy, memeluk tubuh Amera, mengusap kepala belakangnya lembut, dan Amera menerima pelukannya dan tersenyum tipis ia merasa sangat bahagia bisa mendapatkan Joy, laki-laki yang dia impikan dari dulu. Bisa mendapatkannya adalah anugerah tersendiri untuknya. Tidak akan pernah aku ingkar lagi.
"Makasih syang!! Kamu sudah membuat ku percaya dnegan kamu.!!" Amera melerpakan pelukan joy, memegang ke dua tangannya. Aku sudah siapkan sesuatu buat kamu, yang!!"
"Sesuatu apa?" tanya Joy bingung.
"Dulu kamu ulang tahu. Aku belum memberi kado buat kamu. Dan sekarang aku sudah siapkan kadi spesial untuk kamu!!" gumam Amera, membuat Joy terdiam yak bisa banyak bicara lagi.
Joy mencubit ke dua pipi Amera. "Kamu itu ngeselin banget, sih!! Kamu tahu hak, kalau aku syang buat kamu!!" gumam Amera kesal.
"Joy!! Kamu suka jahil, ya!!"
"Lagian kamu lucu. Emosi saja ada ekspresinya, gak galam! Tapi menggemaskan!!" ucap Joy, mengusapkan ujung kepalanya lembut.
Alana mendongakkan kepalanya? dengan ke dalam, jangan dan lagi yang terlika nantinya.r
gambarnya untuk bisa dilihat dengan ora g lai . "Kamu jadii foto apa?" tanya Joy.
Mereka segera menikmati kebersamaan mereka, saling menyuapi saat samalam lain.