My First Love

My First Love
33. PERNIKAHAN



"kamu mau kemana lagi bair saya antarin?? " alvin bertanya pada dian yg duduk di sebelah kiri nya.


"tidak kemana-mana, tolong hantarkan saya pulang ke rumah saja", jawab dian sambil menatap ke samping jendela mobil enggan untuk menatap wajah alvin sang CEO


"kenapa kamu gak nemu pacar mu dulu baru pulang?", alvin bertanya lagi pada dian.


"pacar?? saya gak punya pacar!", jawab dian sambil menekan pada kata pacar.


"hahahaahha lalu si br****k yang waktu di lobi itu siapa? bukan kan dia pacar mu? kamu pasti se....", alvin belum melanjutkan pembicaraan nya lagi. sebab dian memalingkan wajah nya pada alvin tanpa ekspresi dan kata-kata.


Dian terus memandangi wajah lelaki didepan nya hingga alvin memutuskan untuk memarkirkan mobil di pinggiran jalan.


"ada apa?", alvin bertanya pada dian lembut.


"seharus nya saya yang bertanya pada anda, kenapa?", jawab dian lembut lalu tersenyum kecut.


alvin yang berada dalam situasi canggung itu hanya bisa tersentak dengan jawaban dian lalu menutup mata nya belan dan menarik nafas panjang.


"maaf", ucap alvin tanpa melihat wajah dian yang kini menjatuhkan butiran permata bening dari pelupuk mata nya.


alvin kembali melajukan mobil nya pelan menuju rumah dian.


sesampai nya di depan rumah, dian membuka pintu mobil dengan pelan dan menutup nya kembali dengan pelan.


dian berjalan tanpa berpamitan pada pemilik mobil itu.


alvin masih saja setia menatap punggung gadis yg sebentar lagi akan dinikahi nya.


"ada apa dengan hati ku sih? apa aku terhipnotis oleh mata nya? apa aku mulai jatuh cinta pada nya? kenapa setiap kali mematap mata nya, seakan dia menjelaskan sesuatu, kenapa serasa ada keteduhan di mata nya? apa dia malaikat? kenapa dia tidak membenci ku? tidak memarahi ku? atau mencaci maki aku? kenapa dia begitu lembut? ad apa dengan hati nya sih? aaaaghhh sial.. jangan sekarang...!!! aku harua mencapai tujuan ku.", gumam alvin.


alvin melajukan kembali mobil nya menuju kediaman orang tua nya.


sedang kan di kamar dian masih enggan menggantikan pakayan nya dengan piyama.


dian berbaring di tepih tempat tidur hingga akhir nya terlelap.


"apa kamu sudah mengahantar nak dian sampai di rumah nya nak?", bu shinta bertanya pada putra nya yang baru tiba sejak kepergian nya dengan dian sejak pagi tadi hingga larut malam.


"ia ma", jawab alvin singkat sambil berjalan menuju lift.


"pasti ada sesuatu", gumam bu shinta melihat anak nya tidak menggunakan tangga.


alvin berbaring di tepi tempat tidur juga sambil memijat kening nya yang terasa berdenyut.


enggan untuk mengganti pakaian nya dengan piyama juga. hinngga waktu menunjukan pukul 01:00 dini hari, baru lah alvin tertidur.


alaram di pagi hari menunjukan pukul 05:00, dian enggan membuka matanya dan hanya meringkuk dibalik selimut, hingga mata hari pagi kembali menyapa nya melalui celah jendela kamar seakan memeluk tubuh nya dengan hangat.


"akhhhggg", dian menjerit karena terjatuh dari tempat tidur hingga membentur di lantai.


"ya ampun god... aku ternyata gak mandi semalam, betapa capek nya aku ini", gumam dian sambil terguling di dalam selimut.


dian berdiri menuju kamar mandi dan melakukan ritual pagi nya dengan memanjakan tubuh nya didalam bathup berisikan air hagat.


kring....kring...kring..


"hallo syalom", jawab bi sum dibalij telephone rumah dian.


"syalom, apa nak dian nya ada di rumah bi?", tanya bu sinta pada bi sum dari balik telephone.


"ehh ia bu ada di kamar, mungkin lagi mandi", jawab bi sum sopan.


"oh baiklah bi, pantesan saya menghubungi nya tapi di luar jangkauan, tolong sampaikan pada nya, nanti jam 10 pagi, nak alvin menjemput nya yah", jelas bu shinta pada bi sum.


"baik bu, nanti saya sampaikan pada non", selamat pagi.


lalu sambungan terputus.


dian yang baru membuka handle pintu nya di kagetkan dengan kedatangan bi sum.


"pagi non, tadi ada telephone dari nyonya besar, kata nya nanti jam 10 pagi den alvin jemput non di rumah." kata bi sum


"jemput bi? alvin? ada apa lagi yah bi?", tanya dian.


"gak tau non, bukan nya 4 hari lagi non nikahan kan?", kata bi sum.


"ia sih bi, baiklah aku ganti baju lagi kalo gitu bi", kata dian lalu berbalik kembali kekamar menggantikan dres panjang berwarna hijau di padu kan dengan lipstik berwarna zambrut,


Alvin datang dengan menggunakan mobil BMW berwarna putih menjemput dian. alvin membunyikan klakson nya berkali kali


"siapa sih di sana? gak ada akhlak banget", gumam dian sambil membukakan pintu rumah nya, ternyata alvin.


dian menarik nafas panjang nya lalu mendekati sang calon suami. lalu membukanan pintu mobil di kursi penumpang.


"ngapain kamu di belakanh sana? cepetan duduk di depan, kamu pikir aku sopir mu?", omel alvin.


"maaf pak, saya di bellakang aja, di depan gak nyaman", jawab dian.


"cepetan deh di depan. kamu alesan banyak amat, pusing aku", pintah alvin.


dian yang tak mau ribut akhir nya menuruti sang CEO. mobil akir nya melaju menuju salon kecantikan.


"ngapain kita kesini pak?", dian bertanya.


"membersihkan tubuhmu dari sisa-sisa kotoran", alvin mempertegas tiap kata nya.


dian hanya menuruti kemauan alvin. "baiklah",


jawab dian lalu menuju salon di depan nya.


"apa ibu kh sudah menelfon kalian?", kata alvin pada sang manager tempaf itu.


"ia pak", jawab sang manager sopan lalu menuntun dian ke ruangan VIP.


yah salon itu juga milik pak albert yang di kelolah oleh ibu shinta. alvin menunggu dian kurag lebih 3 jam lama nya.


"lama banget sih", gumam alvin.


dian keluar dari ruangan VIP menemui alvin, betapa terkejut nya alvin melihat sang calon istri yang berparas cantik.


"sudah, kemana lagi kita sekarang?", dian bertanya pada alvin yang masih terbengong menatap nya.


"ahh eh, sorry", jawab alvin gelagapan.


"kita ke restorant keluarga, papa dan mma sudah menunggu disana", jawa alvin sambil berjalan di depan dian.


dian hanya bisa mengekori nya.


tiba saat nya alvin dan dian mengikat janji suci di depan altar. setiap kata demi kata di lantunkan dengan indah dan cermat, tanpa ada nya kesalahan, mengucap janji sehidup semati dalam menjalani bahtera rumah tangga. dian yang merasa ada sejuta kesedihan di hati nya, merasa ada yang kurang, merasa sendiri ditengah keramaian orang didalam geraj itu akhir nya menjatuhkan air mata nya yang bening, menangis terisak isak saat janji yang dinucapkan pada sang suami dan pada tuhan telah ia lakukan dengan baik. alvin mencium kening istri nya dengan lembut.


di hati alvin hanya ada rasa nyaman, kemarahan dan kebencian nya hilang seketika saat janji yang ia ucapkan pada sang istri dan tuhan.


semua nya bersorak sorai menepuk tangan menyaksikan dua insan yang saling mengucap janji suci.


.


.


.


.


...hay guys... jangan lupa like, dan vote novel ku ini yah... maaf karena sempat berhenti untuk beberapa hari lama nya, maklum, aku harus bekerja β˜ΊοΈπŸ™πŸ’™



...