My First Love

My First Love
Pertemuan setelah sekian lama



#Ian Pov


“Keylah, bangunlah. Key.” Ian mentap Keyla yang berbaring di ranjang tak sadarkan diri, bahkan ia sudah memanggil dokter namunmasih saja ia belum sadar dan kata dokter,Keyla hanya syok dan butuh waktiuntuk istirahat, aggar pikirannya bisa tenang, tapi ia merasa sangat berbeda bagaimana jadinya jika Keyla nanti sadar apa dia akan tetap Syok dengan apa yang sudah terjadi.


Meski ian kerasa sangat senang, ia bisa membalaskan sebuah kejutan tak terduga itu pada mereka, tapi saat melihat Keyla yang ta berdaya di ranjang, ia merasa sangat bersalah.


“Ian, kenapa Keyla?” tanya Sheila, berjalan masuk ke kamar Ketyla, yang memang sudha terbuka dari tadi.


“Iya, om, kenapa mama,” saut Cia, yang langsung memangis memeluk mamanya.


“Ini semua gara-gara papa kamu, dia meninggalkan Alana adan pergi dengan wanita lain. Sekarang mereke bersama dengan wanita lain," ucap ian.


"Apa om bilang, jangan bercanda. Gak mungkin papa seperti itu." umpat kesal Cia, menatap tajam ke arah Ian.


"Mungkin, karena papa sudah punya anak dari wanita lain. Dan itu yang membuat ibu sampai menderita selama ini. Dan juga kita dekat dengan anak papa." saut Joy. Berjalan masuk menuju ke kamar bersama dengan Amera, ia memegang tangan Amera sangat erat menunjukan pada semua orang tentang hubungannya, hubungan palsunya.


Cia menautkan ke dua alisnya, ia menggelengkan kapalanya tak percaya. Jika papanya seperti itu, orang yang selama ini, ia percaya tapi ternyata papanya telah berkhianat.


"Gak mungkin, ayah gak mungkin seperti itu, gak mungkin... "Cia berjalan mundur, ia tak mau menerima kenyatan, Cia memegang kepalanya. mangacak-acak rambutnya kasar dengan tangisan yang sudah semakin pecah, tak terkendali di pikirannya.


"Apa yang kamu katakan, Joy?" tanya Amera menatap ke arah joy.


"Yang aku katakan adalah kenyataan jika anak papa ada di sini juga,"


"Memangnya siapa?"


"Alana, dia anak papa!!"


"Apa Alana?" tanya Cia menatap ke arah Joy.


"Iya,"


----


"Aku sudah memutuskan sekarang. Akan menikah dnegan kamu. dan kamu gak boleh menolaknya. Bukanya kamu juga punya anak, dari hubungan terlarang denganku. Dan aku akan berusaha mencintai kamu." ucap Alvin, mengusap lembut wajah Silvia.


"Apa kamu yakin, dengan apa yang kamu katakan. Apa kamu bisa mencintai aku nantinya?" 


"Iya, tapi sekarang kita cari Alana. Dan kita pulang ke London. Aku mau memberikan kejutanannya di ulang tahunya ke 16. 


"Iya, tapi bukan masih kama, Ulang yahinya, masih 2 tahun lagi. Sekarang dia masih 14 tahun, apa kamu lupa."


"Maaf.. Aku lupa, sekarang kita pergi cari sama-sama, aku ingin mencari hiduran, san melupakan masa lalu." Alvin mencoba meneluk Silvia, sengan sigap wanita itu, menceganhnya, mendoekbg dadanya menjauh. 


"Jangan sentuh aku!!" ucap Silvia. "Aku sudah biarkan sarapan buat kamu. Sekarang kamu makalah. Alana juga tidak mau kamu sakit nantinya. Jangan pikirkan masalah yang membuat kamu merasa tidak tenang. Setelah makan aku akan membawa kamu ke suatu tempat. Kamu bisa meluapkan sebuah unuk-unek kamu di sana." Silvia beranjak berdiri, dan melangkahkan kakinya pergi ke ruang makan. Di ikuti Alvin, yang berjalan dengan jaga jarak denganya


Dia wanita yang berbeda, tidak mudah di sentuh orang lain. Dan jarang sekali ada wanita seperti dia, dia sangat baik, tidak murahan, cantik, pinta, dan dia ternyata wanita yang sempurna. Aku menyesal dulu menikahi Keyla. Tapi jika bukan karena aku sudha berhubungan dengannya, yang membuat aku merasa bersalah. Mungkin aku bisa menemukan tambatan hati.Kenapa semua terjadi secara kebetulan.


"Duduklah, mau sampai kapan kamu berdiri di situ. Cepat makan, kita pergi sambil cari Alana nantinya."


Alvin segera duduk, dan menikmati makanan yang di buatkan sendiri olehnya. Istrinya dulu saja tidak pernah masak lagi sekadang, dan selalu beli, tapi dia sangat cinta dengannya dulu. Sekarang setelah semuanya terbongkar, seakan cinta itu perlahan mulai rontok satu persatu.


"Aku boleh tanya padamu?"


"Tanya apa" 


"Kenapa kamu gak menikah selama ini?"


"aku gak mau sakit hati!! Aku menganhgap semua laki-laki sama saja. Dan aku benci mereka smeuanya"


"Apa kamu mengharapkan aku?" tanya Alvin, memegang tangan Silvia di atas meja makan. 


"Apa yang kamu katakan, aku tidak pernah sama sekali mengharapkan kamu. Aku ingin hidup bahagia sendiri."


"Kamu jangan bohong lagi sekarang, aku ingin kamu bicara jujur. Lagian tidak ada yang susah jika kita bisa jujur." ucap Alvin. 


"Aku bilang enggak,, Ya enggak.!!" ucap tegas Silvia. 


"Sekarang kamu makan, jangan banyak bertanya lagi!!"


Ia berharap bisa mendapatkan kebahagiaan baru dengan keluarga baru nantinya. 


"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Alvin.


"Jangan tanya!! Makanlah dulu, nanti kamu juga akan tahu sendiri." gumam Silvia.


Selesai makan Silvia beranjak pergi menuju ke teras rumahnya.


"Cepat naik ke mobil" 


"Kita naik mobil?" tanya Silvia.


"Iya, memangnya kamu mau jalan kaki. Kamu bisa bicara. Di mana alamatnya. Maka aku langsung menuju ke sana." Memangnya kamu hafal jalanan di Sydney." 


"Kenapa gak tahu, aku udah tahu semuanya." ucap Alvin. 


Ailvia melangkahkan kakinya berjalan masuk ke mobil. San dengan temang duduk di depan.


--------


Alana yang baru pulang jalan-jalan dengan David dan pacarnya. Ia merasa sangat geram, harus jadi obat nyamuk mereka berdua. Padahal ia gak mau pergi dengannya, tapi karena di oaksa, mau gimana lagi. Ia tidak bisa berbuat apa-apa juga. dan dengan terpaksa ikut cari hiburan semata. 


Alan beranjak menuju ke kamarnya, dan bergegas mencari kopernya. Yang Tadi David bilang sudah di kembalikan."


"Mana kopernya?" tanya Alan jutek. 


"Ada di dalam?" 


"Gak ada David," geram Alana. 


"Mungkin kamu gak bisa lihat,"


"Mungkin mata kamu yang katarak, udah jelas-jelas gak ada. Atau kamu hanya ingin membohongiku ya?" umpat kesal Alana, dengan ke dua tangan mengepal dan terangkat sudah ingin sekali menonjok wajahnya. 


"David, kamu harus bantu kau?"


"Bantu apa?" tanya David dengan pandangan bingung


"Koper aku tas kau, dan semuanya masih di mobil teman kamu. Kamu harus segera menghubunginya. aku gak mau terus pakai baju ini. Sangat pendek, aku malu. dna jika kamu gak mau, maka aku akan bilang pada pembantu kamu untuk telefon om Ian , dan tante Sheila, jika kamu bawa pacar kamu pulang ke rumah. Kamu mabuk, dan sebagainya." ancam Alana, mendekatkan wajahnya.


"Iya, iya aku akan bantu kamu untuk ambil koper kamu. Tapi aku gak tahu di mana nomor teman aku. Kamu tahu smeua nonor teman aku ada di ponsel aku, dan ponsel aku sekarang berada di tas kamu. Jika tas kamu di sana. Gimana aku bisa menghubungi mereka." ucap David semakin kesal.


Alana semakin kesal di buatnya. "Kamu bisa pergi ke rumahnya. Kalau kamu temannya, pasti kamu tahu di mana rumah teman kamu itu. Dan aku yakin jika dia gak jauh dari rumah kamu."


"Oke, terus kamu mau naika pa ke sana, mau naik taksi?" tanya David.


"Ya, naik mobil atau montor, atau apa gitu. Aku gak mau tahu, aku mau secerlatnya koper aku itu kembali. Jadi jangan banyak alasan."


" Terserah kamu, Kamu tahu kunci mobil semua di sembunyikan om Ian. Karena aku pernah ketahuan minum di bar. Dan saat itu Om Ian marah, menyita kunci mibilku. Kamu tahu sendiri, aku tadi di atar jemput wanita, pakai mobil dia bukan mobil aku."


Alana menunjuk kening David, mendorongnya pelan. "Makanaya jangan banyak minum, gitulah kamu kalau banyak minum, om Ian bener kalau kamu itu masih di bawah umur jangan banyak minum."


"Memangnya kenapa, hanya buat senang-senang,"


"Dasar orang aneh, laki-laki paling aneh yang penah aku temui. Tapi kamu akan mengerti kenapa om Ian sering melarang kamu. itu pastinya ada sebabnya. Dan dia juga pasti sangat sayang dengan kamu. Dia gak mau kehilangan kamu." ucap Alana, seketika ia tertegun sejenak, teringat apa yang di katakan. "Kamu tadi bilang Om, bukannya dia orang tua kamu, kenapa kamu panggil dia om." tanya Alan.


"Itu, bukan urusan kamu. Udah gak usah bahas itu lagi. Dan jangan ikut campur dengan masalah pribadi aku."


"Siapa juga yang mau ungkit masalah pribadi kamu, aku hanya tanya. Yang penting koper aku segera balik. Aku di sini hanya untuk bertemu dengan orang tua aku, tapi kamu gak mau mebnatu aku sama seklai, kamu amalh mengajak aku pergi dengan pacara kamu. Senang-senang dangan pacar kamu itu." umpat kesal Alana.


"Kau malu pakai baju seprrti ini di depan semua orang," lanjutnya.


"Kenapa malu, aku tidak memegang kamu. Meskipun kamu pakai baju yang menggoda, tapi aku tidak tertarik. Sama sekali, Alana!" 


"Aku gak tanya, kamu tertarik atau tidak. Aku hanya ingin tanya saja. Apa kamu gak bisa diam, kenapa kamu selalu menggangguku."


"Karena kamu menarik, dan mudah sekali di ganggu," gumam David.