
"Tuan! Maaf aku mau pulang sekarang," ucap Silvia, yang sudah terlihat tidak nyaman terus di dekat Alvin, semakin lama maka kana semakin menimbulkan fitnah untuknya nanti. Ia beranjak berdiri, membalikkan badannya, belum sempat melangkahkan kakinya, dengan sigap tangan Alvin memegang pergelangan tangan kanan Silvia, mencegahnya untuk pergi.
"Tunggu!! Jangan pergi, temani aku," ucap Alvin, beranjak berdiri, memeluk Silvia dari belakang, dengan ke dua tangan memegang tangan putih milik Silvia, meletakkan mesra di perut wanita itu.
"Tolong jangan seperti ini!!" ucap Silvia, mencoba menepis tangan Alvin yang semakin merengkuhnya erat.
"Tidak ada yang tahu di sini hanya ada kita berdua." ucap Alvin, melepaskan r3ngkuhannya, memegang ke dua lengan Silvia, membalikkan badanya menatap ke arahnya.
"Jangan seperti anak kecil. Kamu sudah punya keluarga, lebih baik sekarang pulang dan selesaikan masalah kamu, kamu tidak sepatutnya berada di sini. Dan ingat, aku tidak mau kamu menjadikan aku sebagai pelampiasan kamu yang, dalam masalah keluarga kalian berdua" jawab Silvia, memegang tangan Alvin, lalu melepaskan tangan Alvin dari bahunya. Ia menggenggam erat tangan Alvin dengan ke dua telapak tanganya.
"Lebih baik kamu sekarang, pulanglah!! Selesaikan baik-baik. Jika kamu ada hal yang ingin kamu ceritakan, kamu bisa hubungi aku." ucap Silvia, beranjak pergi, dengan sigap tangan Alvin, memegang tangan Silvia, menariknya masuk dalam dekapan hangat tubuhnya, dan langsung mengecup lembut bibir tipis Silvia.
"Emmpp.. Empp" Silvia terus meronta, memukul dada bidang Alvin.
Silvia mengumpulkan semua tenaganya untuk mendorong kuat dada Alvin dengan ke dua tangannya. "Hah.. Hah.. Plakkk!"
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Alvin, membuat bekas tangan di pipinya.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan bertindak seenaknya padaku," ucap Silvia, beranjak pergi masuk ke dalam awak kapal, tepat di samping nahkoda kapal yang memang dari tadi menatap mereka.
Drrttt.. Drtt..
Alvin terdiam, mengambil ponselnya yang tiba-tiba bergetar di dalam sakunya. Dengan tangan kanan, memegang pipinya. "Apa yang aku lakukan padanya? Kenapa aku bisa bertindak bodoh padanya, kenapa? Kenapa?" umpat kesal Alvin, melemparkan ponsel di tangannya oenuh emosi ke laut.
"Keyla, kamu yang memulai semuanya. Kamu yang membuat aku seperti ini. Aku benci dengan kamu, sudah tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Aku tidak mau lagi menemui kamu." teriak Alvin, di ujung kapal, merentangkan ke dua tangannya, lalu memejamkan matanya, merasakan hembusan angin sepoi dengan desiran air membuat pikirannya perlahan semakin tenang.
Silvia yang melihatnya, hanya bisa diam. Ia tak bisa mencegah Alvin membuang ponselnya secara cuma-cuma. Silvia yang sudah tidak mau lagi bertemu dengan Alvin, ia hernajak pergi meninggalkannya, secara diam-diam.
"Aku mau kamu segera pinggirkan kapal ini, aku mau pergi." ucap Silvia pada nahkoda kapal itu.
"Baik!!"
Kapal itu perlahan mulai mulai menuju ke pinggiran, di mana mereka akan menurunkan para penyewa atau penumpang kapal untuk menyebarang, dan sekedar keliling menatap indahnya pemandangan jembatan diri tengan laut.
Alvin yang emrasakan kapalnya berhenti, ia menatap ke belakang, dengan tatapan semakin menajam.
"Kenapa kapalnya minggir!!" umpat kesal Alvin, melangkahkan kakinya penuh emosi.
"Aku akan sewa kapal ini, hanya satu jam. Tapi aku akan gunakan sendiri kapal ini," ucap Alvin, yang memang sok, meski ia memang mawir menggunakannya, tapi tidak ada satu-pun yang tahu tentang hal itu.
"Baik, tuan!!"
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Silvia, melipat ke dua tanganya di atas dadanya.
Tanpa banyak bicara Alvin menarik tangan Silvia untuk ikut lagi dengannya. "Duduklah!!" bentak Alvin, membuat wanita itu, menciut seketika. Tubuhnya yerlihat mulai gemetar saat melihat wajah Alvin yang begitu, menakukat!! Saat dia marah, apalagi saat tatapannya, seperti seekor elang yang ingin memasngsa habis makanannya.
Silvia hanya diam, dan duduk menatap Alvin yang sudah mulai menjalankan kapalanya, menuju ke tengah laut, tepat memandang indahnya jembatan Harbaur yang membentang, di depannya.
"Kenapa kamu bawa aku ke sini lagi?" umpat kesal Silvia, menghentakkan kakinya, beranjak berdiri, melangkahkan kakinya mendekati Alvin.
"Aku gak mau kamu pergi!"
"Kenapa? Aku berhak pergi, lagian kamu bukan siapa-siapa aku. Dan tidak pe4nah ada ikatan tentang kita."
"Kita masih ada ikatan. Apa kanu lupa kita punya anak?" umpat Alvin menatap ke arahnya.
"Anak? Apa kamu tahu dia bukan anak kamu!!" desah Silvia, menunjuk wajah Alvin.
Alvin memegang tangan Silvia, "Apa yang kamu bilang?" tanya Alvin, semakin mencengkram erat tangan wanita itu.
Apa yang aku katakan tadi, kenapa kamu bodoh, Silvia. Kenapa kamu bilang padanya. Sekarang semua hancur masa depan anakku juga. Aku gak bisa bayangkan itu semua nantinya. Apa yang harus aku lakukan lagi.
"Apa yang kamu katakan tadi? Jawab aku! Apa yang kamu katakan itu bemar? Atau hanya untuk menghindariku?" tanya Alvin bertubi, ia mencengkeram erat lengan Silvia, menggoyangkan berkali-kali.
"Aku.. Aku hanya ingin berbohong padamu," ucap Silvia ragu, dengan nada pelan, dan kepalanya yang menunduk.
"Kamu yakin?" tanya Alvin memastikan.
"I-iya.. Aku yakin." ucap Silvia. Ia melangkahkan kakinya mundur dan duduk lagi. Di tempat duduk, kapal kecil yang ia tumpangi.
Alvin memegang tangan Silvia duduk di ujung kapal menikmati pemandangan luar.
"Kenapa kamu berbohong padaku?" tanya Alvin. Melirik ke arah Silvia.
"Gak usah di bahas!!" ucap Silvia, mengalihkan pandangannya.
"Memangnya kenapa? Apa kamu gak suka nahas itu? Apa kamu gak suka melihat anak kita? Dan kenapa kamu bicara jika dia bukan anak kita?" tanya Alvin beruntun. Silvia terdiam seketika, mendengar hal itu, membuat ia bimbang, jawaban apa yang harus ia lakukan, apalagi jika anaknya kuliah di Inggris, meskipun dapat beasiswa, tapi dia juga butuh biaya banyak nantinya. Jika jujur sekarang, Alana akan hidup mendenrita, hanya dia yang bisa membantu keuangannya, nanti.
"Silvia? Kenapa kamu diam?"
Silvia menarik napasnya dalam-dalam, menahannya sebentar, lalu mengeluarkan secara perlahan. "Dia anak kamu!!" udah jangan di bahas lagi. Jika soal perasaan, jawaban aku sudah jelas tadi!!" ucap Silvia, memalingkan wajahnya. Memutar matanya malas, melihat Alvin yang terus saja mendekatinya
"Kenapa kamu tidak mau menatapku?" tanya Alvin.
"Karena kamu bukan siapa-siapa aku!!" ucap Silvia tegas, tanpa menatap ke arah Alvin.
Alvin membaringkan tubuhnya, menatap ke langit.
"Kamu boleh tidak menganggapku, tapi semua masih sama. Kita ada ikatan dari anak kita, meski belum sepenuhnya menikah."
Silvia hanya diam, melirik sekilas ke arah Alvin.
Maaf, aku tidak bisa cerita semuanya pada kamu. Aku sangat syang pada Alana. Dia anak aku, tapi bukan anak kamu. Maaf! Tentang semuanya. Aku sudah lama menikah, tapi suami aku sudah lama pergi, dan belum sempat melihat anaknya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Alvin, melirik ke arah Silvia.
"Bukan urusan kamu," jawab Silvia jutek.
Kruukkk...
Silvia mengusap perutnya, yang entah kenapa tidak bisa di ajak kompromi, rasa lapar mulai menjalar di tubuhnya.
"Kamu lapar?" tanya Alvin, menaeik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, melirik Silvia.
"Enggak!!" Jawab Silvia malu-malu, ia memalingkan wajahnya.
Alvin nenarik tabgan Silvia hibgga hatuh tepat di dadanya. Ke dua mata mereka saling tertuju.
Silvia yang merasa gugup, ia mengedip-ngedipkan matanya.