My First Love

My First Love
bab 26



"amanlah, ppa sama mma gak bakalan introgasi aku lebig dalam lagi terkait wanita itu, tunggu aja kamu, kamu bakalan ngerasain pahit nya kehidupan dalam pernikahan, aku gak bakalan kasihan sama kamu. kamu pasti sudah banyak makan garam dalam hidup mu kan, tapi itu belum seberapa, garam yang pasti adalah saat pernikahan akan di mulai, disitulah kamu merasakan arti garam bagi hidup mu sesungguh nya", gumam amlvin lagi. pak albert dan bu shinta sudah tertidur sejak beberapa waktu lalu, alvin mendekati dian sambil menyusuri seluruh tubuh gadis itu dengan mata nya, "lumayan", gumam alvin dan kembali menatap wajah senduh gadis itu, ada sejuta beban yang tersirat dalam wajah teduh itu, wajah polos dan nampak pucat. namun alvin kembali menepis pikiran nya "mana mungkin ada banyak beban dalam lehidupan yang ia jalani, tapi wajah ini seperti nya tak asing, apa hanya kebetulan saja mirip yah", gumam alvin lagi sambil mutat kembali ingatan nya di beberapa tahun lalu pertama kali bertemu gadis yang manis berpakayan seragam SMA. "gak mungkin ahh, dia gadis itu, mungkin perasaan ku saja yang masih mengingat nya, entah aku harus menemui nya dimana, aku sangat merindukan nya, tapi mungkin kah dia seperti perasan ku, gadis yang pernah aku temui itu mungkin sudah punya kekasih, bahkan mungkin saja sudah punya keluarga kecil nya, semoga kita bertemu lagi di kehidupan lain nanti", gumam nya lagi lalu beranjak menuju sofa yang terdapat pada ruangan itu.


waktu semakin bergulir dengan indah nya, hingga sang mentari pagi terbit dengan malu malu nya hingga muncul sepenuh nya pada permukaan dan menerangi seluruh plosok negri membangunkan semua makhluk penghuni dunia, sedangkan alvin masih saja betah tertidur di sofa. perlahan mata dian terbuka lalu menggerakan tangan nya membuka selang oksigen yang semalam masih terpasang, dian sangat terkejut dengan keberadaan nya sekarang, dian menelusuri mata nya di sekeliling ruangan, orang pertama yang ia lihat saat bangunpagi adalah alvin, calon suami nya. perlahan ingatan nya kembali pada kejadian malam yang di temani rintikan hujan mengguyur tubuh nya yang membuat dian terasa sakit kepala dan tiba-tiba mata nya gelap dan di penuhi kunang-kunang lalu dian tak mengetahui apa yang terjadi setelah itu.


"selamat pagk nak, apa kamu sudah bangun?", suara pak albert menghentikan pikiran dian yang kemana-mana. betapa terkejut nya dian melihat mertua nya berada di ruangan itu, ada sebuah tempat tidur jaga khusus keluarga pasien yang di siapkan di dalam ruangan VIP itu, sebenarnya semalam alvin ingin menghantar kedua orang tua nya untuk pulang beristirahat di rumah, tetapi bu shinta dan pak albert tidak ingin meninggalkan dian. "selamat pagi ayah", sapa dian tersenyum lemah. "apa tidur mu baik nak", tanya pak albert lagi "puji tuhan ayah, dian nyaman", jawab dian lagi masih terlihat lemas. "baiklah nak, kamu istirahat saja lagi yah, biar cepat pulih nya dan cepat pulang", jawab pak albert lagi lalu berjalan menuju sofa membangukan alvin. ibu shinta yang mendengar keributan antara alvin dan suami nya terbangun lalu menoleh ke arah menantu nya, bi shinta bangun dari tidur nya lalu menuju tempat tidur dian mengelus pucuk kepala dian dengan lembut bak seorang ibu yang menyayangi anak kandung nya. dian yang menyadari hal itu membukakan mata nya perlahan "terimakasih ma", ucap dian pada bu shinta dengan sangat lemah, "kamu sudah sadar nak?", tanya bu shinta pada dian. "ia ma, nak dian sudah sadar sejak tadi, papa menyuruh nya istirahat lagi agar segera pulih dengan cepat", jawab pak albert sebelum dian menjawab nya. "terimakasih tuhan", ucap bu shinta sambil memeluk dian dan mengucap syukur pada tuhan. alvin yang melihat perlakuan ayah dan ibu nya pada dian semakin memanas, entah ada rasa cemburu, iri hati atau perasaan benci nya yang terlanjur besar pada gadis itu. alvin melangkah menuju tempat tidur dian lalu menatap gadis itu dengan lembut namun sebenar nya hanya berpura-pura agar dian tak mengaduh pada kedua orang tua nya tentang apa yang terjadi.


"maafkan saya,saya tidak sengaja melakukan hal semalam, saya berjanji untuk tidak mengulangi nya lagi. maafkan saya yah?", kata alvin pada dian yang di buat selembut mungkin hingga dian tak menyadari bahwa permintaan maaf alvin hanyalah sebuah akting belaka. dian hanya mengangguki kepala nya pelan.


"pa aku ke kantor sekarang mengurusi beberapa berkas pah", alvin hendak berpamitan pada ayah nya "tidak bisa, kamu tidak boleh pergi sebelum pernikahan mu selesai, mulai hari ini sampai 1 bulan setelah pernikahan mu, kamu tidak boleh mengurusi kantor, papa yang akan melakukan semua pekerjaan kamu, kamu hanya perlu menyiapkan diri untuk pernikahan dan bulan madu mu sudah papa dan mma siap kan", jawab pak albert tegas dam penuh penekanan pada setiap kalimat nya membuat alvinyang memdenngarkan nya diam tak berkutik hanya menarik nafas lalu membuang nya secara perlahan. "baik pa", jawab alvin lalu kembali duduk. "mampuslah aku, kenapa aku malah terjerat dalam lubang yang telah ku gali sih", alvin membatin namun tetap terlihat tenang-tenang saja. dian yang mendengar percakapan antara ayah dan calon suami nya itu hanya tercengang tak berkomentar apapun .


bu shinta memasuki ruangan VIP itu dengan membawa buah-buahan, lalu meletakan nya do sebuah nakas dekat dian dan dan mencuci buah-buahan itu lalu mengupas apel dan rambutan, dan juga jeruk, "vin.. kemarilah nak", pintah bu shinta pada alvin. "napa perasaan gue gak enak gini sih", alvin membatin lalu berdiri mendekati ibu nya dan diaan. "ada apa ma", alvin bertanya pada ibu nya. "nih.. suapkan pada calon istri kamu", pintah bu dian sambil memberikan buah-buahan yang telah di kupas nya pada alvim "ap apa ma? suap? mama ajalah", jawab alvin. 'gak apa-apa ma, biar dian aja", kilah dian, dian juga tidak mau jika harus di suapi lelaki seperti alvin. jika saja alvin mau menerima dian dan mencintai nya dengan apa ada nya, mungkin saja dian akan mau. tapi kenyataan nya tidak seperti itu, meski alvin telah kelihatan tulus meminta maaf pada nya, hal itu bukanlah jaminan bahwa alvin telah berubah, dian pun tidak mungkin membatali pernikahan yang telah di jodohkan kedua keluarga itu. namun dian tetap mengingat akan apa yang telah di sepakati oleh orang tua nya saat masih hidup. yang dian pikirkan adalah, tidak mungkin jika kedua orang tua nya tidak memikirkan kebahagiaan nya kelak. alvinpun terpaksa melakukan hal yang di inginkan mama nya.


.


.


.


hay guys...terimakasih telah membaca novel ku ini, jangan lupa like dan komentar nya ya, mohon saran dan masukan nya demi tercapai kesuksesan novel ku ini. terimakasih 🥰🥰


god bless you all ❣️❤️