My First Love

My First Love
Episode 213



Joy yang sudah sampai di rumahnya, ia segera beranjak masuk


ke  dalam rumahnya. Berlari menaiki


tangga untuk menemui Alana.


"Alana, Tunggu!!" panggil seseorang yag sangat


familiar di telinganya.


Alana yang baru mau masuk ke kamarnya, langkahnya terhenti


saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia masih berdiri di depan pintu. Dengan


tangan memegang knop pintu, yang seakan sudah siap untuk di buka.


Alana menggerakkan kepalanya, menatap ke sumber suara. Ia


melihat Joy, berjalan cepat ke arahnya. Seketika ia mengerutkan keningnya.


Kenapa kak Joy


memanggilku, apa ada masalah ya.


Joy meraih tangan Aana, memegangnya erat, membuat gadis itu


seketika tersadar dari lamunannya, menatap semakin aneh pada Joy.


"Alana, ikut aku!!" ucap Joy, yang tiba-tiba


langsung menarik tangan Alana. Berjalan menjauh dari kamarnya.


“Ehh.. kak Joy mau bawa aku kemana, aku mau letakkan tasku


dulu kan,” ucap Alna, mencoba mengehntikan langkah Joy.


“Sudah diamlah, sekarang kamuikut aku.”


“Kak lepaskan aku!!" Alana mencoba manarik tangannya,


dari cengkraman tangan Joy. "Sebenarnya kita mau kemana?"


"Kamu ikut aku pergi" ucap Joy.


Alana mengerutkan keningnya bingung, mau kemana kakaknya ini


akan membawanya. "Kemana kak?" tanya Alana.


"Ke suatu tempat, tadi mama aku, suruh aku buat anterin


Amera pergi ke toko kue. Dan kebetulan, aku amu ajak kamu ke sana. sekalian mau


beli bahan-bahan kue, kalau kamu ingin buat kue nantinya" ucap Joy,


melepaskan tangan Alana dari cengkramannya.


"kenapa kakak ajak aku, sekarang aku harus


kembali" gumam Alana, membalikkan badannya. Seketika Joy memegang ke dua


bahu Alana, membalikkan tubuhnya menatap ke arahnya membuat ke dua mata mereka


saling tertuju.


Joy, mendekatkan wajahnya ke arah Alana. Dengan tangan


menepuk-nepuh pundak Alana.


"Kamu harus temani aku!!" ucap Joy.


Alan terdiam, ia bingung harus jawab apa, apa


Haduhh... gimana, Apa


yang harus aku lakukan. Kenapa harus seperti ini. Alasan apa lagi yang harus


aku katakan pada kak Joy. kenapa juga dia ngotot banget may aku menemaninya.


Padahal tahu sendiri. Aku itu gak suka kalah melihat dia jalan sama orang lain.


Tapi apa memang dia sengaja, agar aku bisa tahu kalau kak Joy bisa melupakan


aku dan bisa suka dengan wanita lain selain dirinku.. Arrggg.. udah-udah kenapa


juga aku mikirin itu. Aku coba cari alasan alin saja. Pikir Alana.


“Alana kenapa kamu diam?”


“Alana?”


Alan masih diam, membuat Joy merasa bingung, kenapa Alana


tiba-tiba dan. Ia mencoba memanggilnya untuk yang terakhir, mengibaskan


tanganya tepat di depan wajah Alana.


"Alana kamu gak apa-apa kan?" tanya Joy,


mendekatkan wajahnya dengan tangan kanan mengibaskan ke wajahnya berkali-kali.


Seketika membuat gadis itu tersadar dari lemunannya.


"Eh.. iya." ucap Alana, menatap mata Joy yang semakin


mendekat ke wajahnya.


Deg,..


Jantungnya seakan berhenti sejenak, ia seketika menarik


kepalanya ke belakang menghindari Joy yang sangat dekat dengannya.


Joy tersenyum, kembali berdiri tegap dengan ke dua tangan di


lipat keatas dadanya.


"Gimana, kamu mau gak?" tanya Joy memastikan.


Menarik ke dua alisnya ke atas.


Alana menarik napasnya, "Baiklah,” ucap Alana terpaksa.


Joy menarik tangan Alana, berlari keluar rumahnya dan


berhenti tepat di samping mobilnya yang sudah terparkir di depan. “Kak kenapa


juga harus lari-lari sih.” Ucap Alana kesal, dengan badan sedikit menunduk.


Mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


Pandangan matanya tertuju pada Amera yang sudah berada di


dalam mobil Joy, seketika membuat ia berdiri tegap.


“Amera,” ucap Alana tersenyum tipis. Dan langsung di balas


senyuman manis oleh Amera tanpa rasa marah terlihat di wajahnya.


“Sepertinya aku gak jadi ikut kan,” ucap Alana, membalikkan


badanya.


“Alana, aku mau kamu ikut. Aku mohon,” ucap Joy dengan wajah


memelasnya, membuat Alana tak bisa berbicara apa-apa lagi.


Ia menarik napasnya dalam-dalam. “Baiklah, terserah kamu.”


Ucap Alana.


“Terserah bagaimana? Apa kamu mau ikut kita?” tanya Joy


memastikan.


“Tapi gimana dengan Amera. Apa dia bolehkan aku ikut?"


"Amera sudah ada di dalam mobil, kamu bia tanya sama


dia"


"Kalau Joy ajak kamu, aku gak masalah. Kamu ikut saja


Alana" saut Amera penuh dengan keramahan.


"Beneran, nanti aku takutnya ganggu kalian." ucap


Alana, ragu.


"Gak ganggu kok, sekalian nanti kita buat kue


sama-sama. Pasti kamu mau buatkan kue untuk pacar kamu kan?" tanya Amera,


seketika membuat Joy membisu. Rasanya ia ingin marah, kesal terasa di hatinya.


Tapi, itu semua tidak bisa. Dan tidak boleh terjadi. Joy berusaha menahan


hatinya agar ia tidak terpengaruh apa status Alana lagi.


"Udah ayo kita masuk!!" ucap Joy, memegang tangan


Alana. Seketika membuat Amera yang melihatnya, merasa tidak nyaman.


membalikkan badannya lagi, melangkahkan kakinya pergi.


Joy, memegang tangan Alana, mencegahnya pergi. Lalu


memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Tanpa harus menunggu kata 'iya' dari


mulutnya.


"Kak, aku gak mau ganggu kencan kalian" ucap


Alana.


"Udah, diamlah di situ. Dan duduk saja, jangan banyak


bicara" ucap Joy tegas.


"Iya, kamu duduk saja Alana. aku gak apa-apa kok,


lagian kita bisa belanja bareng nantinya" ucap Amera, tersenyum menatap ke


belakang.


Alana terdiam, dengan terpaksa ia menuruti apa yang di


katakan mereka semua.


Joy, mulai menjalankan mobilnya segera pergi dari halaman


rumahnya. "Kamu mau kemana dulu?" tanya Joy, melirik sekilas ke arah


Amera.


"Gimana kalau kita pergi cari makan di luar. Buat ke


dua orang tua kita dan Cia serta david." ucap Amera antusias.


"Emmm.. boleh juga, lagian mereka pasti juga belum


makan. Tapi sebaiknya kita pergi ke toko kue dulu. Dari pada nanti kita makan,


tokonya keburu tutup."


"Baiklah, terserah" ucap Amera.


Alana, hanya diam di belakang. Tanpa suara terucap dari


mulutnya. Ia tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua.


"Alana, kamu mau pergi ke mana lagi nanti?" tanya


Amera menatap ke belakang.


"Eh.. Iya Ra, ada apa?" Alana yang terbangun dari


lamunannya, ia menatap ke arah Amera di depannya.


Amera tersenyum tipis, "Kamu mau beli makanan apa nanti?


Nanti kalau Joy dan aku yang nentuin. Kamu gak suka." ucap Amera.


"Udah!! terserah kalian saja. Aku nurut saja"


gumam Alana.


"Syang!! Alana itu kemana saja nurut" ucap Joy,


mengusap rambut panjang Amera, yang terurai sepunggung.


Pemandangan itu membuat Alana merasa sangat risi, ia mencoba


tidak melihat apa yang mereka lakukan di depannya. Ia tidak mau melihat


kemesraan mereka yang sepertinya sengaja di pamerkan, agar ia tahu jika Joy


bisa melupakan Alana.


“Amera, kamu mau bikin kue buat siapa?’ tanya Joy lembut,


emlirik ke arah Alana.


“Buat kamu, aku mau bikin kue spesial buat kamu nantinya.


Dan kamu harus sebagai orang pertama yang mencicipi kue buatan aku.” UcapAmera


sangat antusias.


“Pastinya.”


Drrtttt.... drrrtt..


Alana segera mengambil ponselnay di dalam tas, yang


sepertinya ada pesan samuk.


Ia mentap layar ponselnya yang masih menyaala sebuah pesan


dari ‘Miko’ membuat Alana mlebarka matanya.


Ia teringat jika ada janji dengan Miko jika nanti malam dia


akan dtaang ke rumahnya, dan bertemu di halaman belakang rumahnya.


Alana segera membuka pesan dari Miko.


“Alana, jangan ketiduran ya, aku mau kasih sesuatu buat kamu


nantinya.”


Alana mengerutkan ke dua alisnya. Telintas banyak pertanyaan


dalam benaknya.


Apa yang akan di berikan Miko padanya? Apa sesuatu yang


spesiaal, atau hal lain, tapi dia sudah banyak memberinya kejutan.


Joy yang menyadati Alana terus memandang ke arah ponselnya,


Siapa yang


menghubunginya.. apa Miko, sepertinya dia memang suka dengan Miko.


-------


Sampai di toko kue, Alana pergi berpencar di dalam, mencari


bahan kue sekalian. Ia ingin membuat kue juga untuk MIko, sebagai tanda terima


kasih untuknya. Selama ini miko sudah banyak berkorban untuknya.


Ia melihat Jy dan Amera yang terus bercanda satu sama lain,


dan saling jahil. Alna hanya tersenyum, dan beranjak pergi ke rak yang lainya,


untuk memilih beberapa bahan kue lainya.


Alana mencoba mengambil coklat di rak atas, mencoba


memanjatya di tangga kecil yang kebetulan berada di sampingnya.


Aaaaa...


Alana tergelincir dan jatuh tepat di tangkapan ke dua tangan


Joy. Ke dua mata mereka saling tertuju satu sama lain.


“Kak Joy.” Gumam Alana pelan.


“Joy, kamu sudah dapat bahannya.” Ucap Amera seketika


lengkahnya terhenti melihat Joy dan Alana saling memandang.


Amera mencoba untuk sabar dan melangkahkan kakinya mendekati


Joy, menepuk pundaknya. Membuat Joy tersadar dan lansgung menurunkan Alana.


“Amera,” ucap joy gugup.


“Kak aku pergi dulu ya, mau cari bahan kue yang lainya.”


Ucap Alana, mencoba menghindari Joy dan Amera.


“Alana, apa kamu mau buat kue juga?” tanya Joy. Membuat


langkah Alan aterhenti.


Alana menoleh ke samping, tersenyum tipis melihat Joy.


 “Iya,”


“Buat siapa?” tanya Joy semakin penasaran.


“Bukan urusan kak Joy.” Alana segera melangkahkan kakinya


pergi.


Untuk memilih berbagai bahan yang ia butuhkan nantinya. Tapa


perdulikan Joy dan Amera yang masih berdiri di belakangnya.