
Joy yang sudah sampai di rumahnya, ia segera beranjak masuk
ke dalam rumahnya. Berlari menaiki
tangga untuk menemui Alana.
"Alana, Tunggu!!" panggil seseorang yag sangat
familiar di telinganya.
Alana yang baru mau masuk ke kamarnya, langkahnya terhenti
saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia masih berdiri di depan pintu. Dengan
tangan memegang knop pintu, yang seakan sudah siap untuk di buka.
Alana menggerakkan kepalanya, menatap ke sumber suara. Ia
melihat Joy, berjalan cepat ke arahnya. Seketika ia mengerutkan keningnya.
Kenapa kak Joy
memanggilku, apa ada masalah ya.
Joy meraih tangan Aana, memegangnya erat, membuat gadis itu
seketika tersadar dari lamunannya, menatap semakin aneh pada Joy.
"Alana, ikut aku!!" ucap Joy, yang tiba-tiba
langsung menarik tangan Alana. Berjalan menjauh dari kamarnya.
“Ehh.. kak Joy mau bawa aku kemana, aku mau letakkan tasku
dulu kan,” ucap Alna, mencoba mengehntikan langkah Joy.
“Sudah diamlah, sekarang kamuikut aku.”
“Kak lepaskan aku!!" Alana mencoba manarik tangannya,
dari cengkraman tangan Joy. "Sebenarnya kita mau kemana?"
"Kamu ikut aku pergi" ucap Joy.
Alana mengerutkan keningnya bingung, mau kemana kakaknya ini
akan membawanya. "Kemana kak?" tanya Alana.
"Ke suatu tempat, tadi mama aku, suruh aku buat anterin
Amera pergi ke toko kue. Dan kebetulan, aku amu ajak kamu ke sana. sekalian mau
beli bahan-bahan kue, kalau kamu ingin buat kue nantinya" ucap Joy,
melepaskan tangan Alana dari cengkramannya.
"kenapa kakak ajak aku, sekarang aku harus
kembali" gumam Alana, membalikkan badannya. Seketika Joy memegang ke dua
bahu Alana, membalikkan tubuhnya menatap ke arahnya membuat ke dua mata mereka
saling tertuju.
Joy, mendekatkan wajahnya ke arah Alana. Dengan tangan
menepuk-nepuh pundak Alana.
"Kamu harus temani aku!!" ucap Joy.
Alan terdiam, ia bingung harus jawab apa, apa
Haduhh... gimana, Apa
yang harus aku lakukan. Kenapa harus seperti ini. Alasan apa lagi yang harus
aku katakan pada kak Joy. kenapa juga dia ngotot banget may aku menemaninya.
Padahal tahu sendiri. Aku itu gak suka kalah melihat dia jalan sama orang lain.
Tapi apa memang dia sengaja, agar aku bisa tahu kalau kak Joy bisa melupakan
aku dan bisa suka dengan wanita lain selain dirinku.. Arrggg.. udah-udah kenapa
juga aku mikirin itu. Aku coba cari alasan alin saja. Pikir Alana.
“Alana kenapa kamu diam?”
“Alana?”
Alan masih diam, membuat Joy merasa bingung, kenapa Alana
tiba-tiba dan. Ia mencoba memanggilnya untuk yang terakhir, mengibaskan
tanganya tepat di depan wajah Alana.
"Alana kamu gak apa-apa kan?" tanya Joy,
mendekatkan wajahnya dengan tangan kanan mengibaskan ke wajahnya berkali-kali.
Seketika membuat gadis itu tersadar dari lemunannya.
"Eh.. iya." ucap Alana, menatap mata Joy yang semakin
mendekat ke wajahnya.
Deg,..
Jantungnya seakan berhenti sejenak, ia seketika menarik
kepalanya ke belakang menghindari Joy yang sangat dekat dengannya.
Joy tersenyum, kembali berdiri tegap dengan ke dua tangan di
lipat keatas dadanya.
"Gimana, kamu mau gak?" tanya Joy memastikan.
Menarik ke dua alisnya ke atas.
Alana menarik napasnya, "Baiklah,” ucap Alana terpaksa.
Joy menarik tangan Alana, berlari keluar rumahnya dan
berhenti tepat di samping mobilnya yang sudah terparkir di depan. “Kak kenapa
juga harus lari-lari sih.” Ucap Alana kesal, dengan badan sedikit menunduk.
Mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.
Pandangan matanya tertuju pada Amera yang sudah berada di
dalam mobil Joy, seketika membuat ia berdiri tegap.
“Amera,” ucap Alana tersenyum tipis. Dan langsung di balas
senyuman manis oleh Amera tanpa rasa marah terlihat di wajahnya.
“Sepertinya aku gak jadi ikut kan,” ucap Alana, membalikkan
badanya.
“Alana, aku mau kamu ikut. Aku mohon,” ucap Joy dengan wajah
memelasnya, membuat Alana tak bisa berbicara apa-apa lagi.
Ia menarik napasnya dalam-dalam. “Baiklah, terserah kamu.”
Ucap Alana.
“Terserah bagaimana? Apa kamu mau ikut kita?” tanya Joy
memastikan.
“Tapi gimana dengan Amera. Apa dia bolehkan aku ikut?"
"Amera sudah ada di dalam mobil, kamu bia tanya sama
dia"
"Kalau Joy ajak kamu, aku gak masalah. Kamu ikut saja
Alana" saut Amera penuh dengan keramahan.
"Beneran, nanti aku takutnya ganggu kalian." ucap
Alana, ragu.
"Gak ganggu kok, sekalian nanti kita buat kue
sama-sama. Pasti kamu mau buatkan kue untuk pacar kamu kan?" tanya Amera,
seketika membuat Joy membisu. Rasanya ia ingin marah, kesal terasa di hatinya.
Tapi, itu semua tidak bisa. Dan tidak boleh terjadi. Joy berusaha menahan
hatinya agar ia tidak terpengaruh apa status Alana lagi.
"Udah ayo kita masuk!!" ucap Joy, memegang tangan
Alana. Seketika membuat Amera yang melihatnya, merasa tidak nyaman.
membalikkan badannya lagi, melangkahkan kakinya pergi.
Joy, memegang tangan Alana, mencegahnya pergi. Lalu
memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Tanpa harus menunggu kata 'iya' dari
mulutnya.
"Kak, aku gak mau ganggu kencan kalian" ucap
Alana.
"Udah, diamlah di situ. Dan duduk saja, jangan banyak
bicara" ucap Joy tegas.
"Iya, kamu duduk saja Alana. aku gak apa-apa kok,
lagian kita bisa belanja bareng nantinya" ucap Amera, tersenyum menatap ke
belakang.
Alana terdiam, dengan terpaksa ia menuruti apa yang di
katakan mereka semua.
Joy, mulai menjalankan mobilnya segera pergi dari halaman
rumahnya. "Kamu mau kemana dulu?" tanya Joy, melirik sekilas ke arah
Amera.
"Gimana kalau kita pergi cari makan di luar. Buat ke
dua orang tua kita dan Cia serta david." ucap Amera antusias.
"Emmm.. boleh juga, lagian mereka pasti juga belum
makan. Tapi sebaiknya kita pergi ke toko kue dulu. Dari pada nanti kita makan,
tokonya keburu tutup."
"Baiklah, terserah" ucap Amera.
Alana, hanya diam di belakang. Tanpa suara terucap dari
mulutnya. Ia tidak mau mengganggu pembicaraan mereka berdua.
"Alana, kamu mau pergi ke mana lagi nanti?" tanya
Amera menatap ke belakang.
"Eh.. Iya Ra, ada apa?" Alana yang terbangun dari
lamunannya, ia menatap ke arah Amera di depannya.
Amera tersenyum tipis, "Kamu mau beli makanan apa nanti?
Nanti kalau Joy dan aku yang nentuin. Kamu gak suka." ucap Amera.
"Udah!! terserah kalian saja. Aku nurut saja"
gumam Alana.
"Syang!! Alana itu kemana saja nurut" ucap Joy,
mengusap rambut panjang Amera, yang terurai sepunggung.
Pemandangan itu membuat Alana merasa sangat risi, ia mencoba
tidak melihat apa yang mereka lakukan di depannya. Ia tidak mau melihat
kemesraan mereka yang sepertinya sengaja di pamerkan, agar ia tahu jika Joy
bisa melupakan Alana.
“Amera, kamu mau bikin kue buat siapa?’ tanya Joy lembut,
emlirik ke arah Alana.
“Buat kamu, aku mau bikin kue spesial buat kamu nantinya.
Dan kamu harus sebagai orang pertama yang mencicipi kue buatan aku.” UcapAmera
sangat antusias.
“Pastinya.”
Drrtttt.... drrrtt..
Alana segera mengambil ponselnay di dalam tas, yang
sepertinya ada pesan samuk.
Ia mentap layar ponselnya yang masih menyaala sebuah pesan
dari ‘Miko’ membuat Alana mlebarka matanya.
Ia teringat jika ada janji dengan Miko jika nanti malam dia
akan dtaang ke rumahnya, dan bertemu di halaman belakang rumahnya.
Alana segera membuka pesan dari Miko.
“Alana, jangan ketiduran ya, aku mau kasih sesuatu buat kamu
nantinya.”
Alana mengerutkan ke dua alisnya. Telintas banyak pertanyaan
dalam benaknya.
Apa yang akan di berikan Miko padanya? Apa sesuatu yang
spesiaal, atau hal lain, tapi dia sudah banyak memberinya kejutan.
Joy yang menyadati Alana terus memandang ke arah ponselnya,
Siapa yang
menghubunginya.. apa Miko, sepertinya dia memang suka dengan Miko.
-------
Sampai di toko kue, Alana pergi berpencar di dalam, mencari
bahan kue sekalian. Ia ingin membuat kue juga untuk MIko, sebagai tanda terima
kasih untuknya. Selama ini miko sudah banyak berkorban untuknya.
Ia melihat Jy dan Amera yang terus bercanda satu sama lain,
dan saling jahil. Alna hanya tersenyum, dan beranjak pergi ke rak yang lainya,
untuk memilih beberapa bahan kue lainya.
Alana mencoba mengambil coklat di rak atas, mencoba
memanjatya di tangga kecil yang kebetulan berada di sampingnya.
Aaaaa...
Alana tergelincir dan jatuh tepat di tangkapan ke dua tangan
Joy. Ke dua mata mereka saling tertuju satu sama lain.
“Kak Joy.” Gumam Alana pelan.
“Joy, kamu sudah dapat bahannya.” Ucap Amera seketika
lengkahnya terhenti melihat Joy dan Alana saling memandang.
Amera mencoba untuk sabar dan melangkahkan kakinya mendekati
Joy, menepuk pundaknya. Membuat Joy tersadar dan lansgung menurunkan Alana.
“Amera,” ucap joy gugup.
“Kak aku pergi dulu ya, mau cari bahan kue yang lainya.”
Ucap Alana, mencoba menghindari Joy dan Amera.
“Alana, apa kamu mau buat kue juga?” tanya Joy. Membuat
langkah Alan aterhenti.
Alana menoleh ke samping, tersenyum tipis melihat Joy.
“Iya,”
“Buat siapa?” tanya Joy semakin penasaran.
“Bukan urusan kak Joy.” Alana segera melangkahkan kakinya
pergi.
Untuk memilih berbagai bahan yang ia butuhkan nantinya. Tapa
perdulikan Joy dan Amera yang masih berdiri di belakangnya.