
Amera berjalan perlahan menuju ke depan rumahnya. Ia ingin melihat siapa yang membuat Alana menangis. Dan berniat untuk menutup pintu rumah yang masih tetlihat terbuka.
Apa Alana menangis karena Joy. Atau ada masalah lain. Lebih baik aku buktikan sendiri, rasa penasaranku. lagian Joy jiga dari tadi gak ada, aku cari-cari di rumah juga gak ada.
Amera berjalan semakin cepat, keluar dari rumah, melihat Joy duduk di teras rumah dengan wajah lesu, menunduk ke bawah. Ia mencoba mendekatinya dengan langkah ringan tak mau mengejutkannya nanti.
Amera menepuk pundak Joy, sontak membuat Joy memegang tangannya, tanpa taju siapanyang berada di belakangnya. "Alana maafkan a.." balum sempat melanjutkan ucapanya, ia mendongakkan kepalanya menatap Amera yang berdiri di sampingnya, seketika wajahnya lesu kembali raut wajah nampakbtidak suka terlihat jelas di wajah Joy, Ia beranjak berdiri.
"Kamu mau kemana? Kenapa tadi kamu manggil Alana. Apa kamu masih punya perasaan dengannya." tanya Amera memegang lengan Joy, mencegahnya pergi.
Joy mencoba untuk tersenyum di hadapan Amera.
"Aku gak suka dengannya. Jadi jangan pernah mengira aku suka dengannya. Aku hanya ada masalah dikit dengan Alana." Joy berusaha melepaskan tangan Amera dari tangannya. Dan melangkah pergi, dengan sigap Amera berdiri di depan Joy Menghalangi langkahnya. Ia masih belum puas dengan jawaban yang di berikan Joy olehnya.
"Masalah apa cerita padaku!!" ucap Amera dengan wajah nampak sangat serius kali ini.
"Pergilah!!" ucap Joy lembut, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak emosi.
"Enggak, sebelum kamu bicara semuanya."
Joy menarik napasnya, mencoba untuk sabar kali ini. Ia tidak mau meluapkan kekesalannya pada Amera, yang akan menimbulkan masalah baru nantinya. Laki-laki itu mengembangkan bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya. debgan tangan kengusap pipi Amera. "Kamu tidurlah sudah malam. Ini buakn masalah serius. Aku hanya marah saja tadi dengannya. Udah sekarang kita tidur, lagian aku besok juga masih ujian." ucap Joy lembut.
Amera tersenyum, seakan sentuhannya membuatnya terbius seketika. "Baiklah, tapi kamu harus cepat tidur. Besok bangun pagi dan belajar ya," ucap Amera, melangkahkan kakinya pergi lebih dulu meninggalkan Joy. Ia menoleh ke belakang beberapa detik, tersenyum manis, mengarah pada Joy yang masih berdiri di depan pintu menatap ke arahnya.
Maaf Amera aku gak bisa cerita semuanya. Dan maaf, aku sudah memanfaatkanmu untuk mengisi hatiku yang sekarang entah, apa bisa kamu masuk dalam hatiku. Aku terlalu mencintai adik aku sendiri, seakan aku lupa dengan semuanya.
Joy melangkahkan kakinya pergi, beranjak masuk ke dalam kamarnya. membaringkan tubuhnya di kasurnya. Merentangkan ke dua tangannya dengan hembusan napas kasarnya, seakan dia benar-benar baru melewati masalah sulit.
Alana gimana bisa aku melupakanmu. Aku gak tahu lagi cara aku bisa melupakanmu. Ya, meskipun aku tahu kamu sangat mencintai aku dulu, tapi sekarang hatimu berubah, dan kita juga tetap adik kakak meskipun bukan adik kandung.
-------
Sedangkan Alana juga sama, ia masih membuat dirinya sibuk denyan bukunya, agar bisa melupakan masalah yang ia hadapi.
"Apa Miko mau menerimaku suatu hari nanti, saat dia tahu aku sudah tidak Virgin." gumam Alana dalam hatinya, ia melipat ke dua tangannya di atas tumpukan buku, menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
Aku gak sanggup jika dia tahu, hanya dia yang bisa menjagaku. Dia terlalu banyak berkorban untuk aku. Dan aku gak mau melupakannya. Bahkan hatiku sudah mulai nyaman dengannya, bersandar di bahunya saja sudah membuat aku merasa terlindungi.
"Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Joy. Dan setelah kita pindah nantinya. Aku akan merubah semua kehidupanku. Mulai dari cinta baru, dan rumah baru pastinya. Aku akan tinggal sendiri bersama ibu aku, meski harus hidup susah aku akan jalni semuanya."
Alana mengangkat kepalanya, menatap di balik balkon kamarnya, ia melihat sekilas ada seseorang di balkon kamar Joy.
"Apa kak Joy belum tidur?" tanya Alana pada dirinya sendiri. "Ahh.. lupain saja, lagian aku juga gak perduli dengannya. Lebih baik aku tidur." Alana beranjak berdiri, menuju ke ranjangnya.
Drrrttt.. drtttt..
Langkah Alana terhenti, melihat ponselnya yang terus menyala.
Alana segera meraih ponselnya dan beranjak menuju ranjangnya. Ia melirik sekilas pesan dari 'Miko'. Yang seketika membuat raut wajah Alana berubah seketika. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang, menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal dan mulai membaca chat dari Miko.
#Chat Miko.
Miko : Aku baru sampai sayang, kamu pasti sudah tidur ya.
Alana : Belum, aku masih menunggu kak Miko.
Miko : Makasih ya soal tadi, aku merasa sangat nyaman bersama kamu.
Alana : Aku juga sangat nyaman dengan kamu, dan berharap kamu bisa seperti ini terus, Kak.
Miko : Jangan panggil aku kak. Panggil syang ya.
Alana :Belum terbiasa kak..
Miko : ya, sudah gak apa-apa. Sekarang cepat tidur ya. Mimpi indah syang. Dan jam dariku tadi, aku beli couple denganku. Dan besok kamu pakai ya.
Tak ada jawabana dari Alana.
Alana yang ketiduran, dengan tangan menggenggam ponselnya.
----------
Keesokan harinya.
Kringgg.....
Tangan Lana meraih jam backer di sampingnya.
"Baru jam lima pagi," gumam Alana.
"Kamu sudah bangun," Suara serak dan berat itu membuat Alana terjingkat, mencengkram erat selimut yang membungkus tubuhnya, menatap ke sumber suara, melihat Joy di depannya, membuat ia terbelalak terkejut.
"Kak Joy, gimana kamu bisa masuk ke kamarku?" tanya Alana jutek, ia membuka simut tebal miliknya, melihat tubuhnya apa masih utuh atau dia diam-diam mau menodainya lagi.
"Tenang saja, aku baru saja datang. Dan tidak berniat menyentuhmu. Tadi aku melihat pintu balkon kamar kamu gak di kunci, jadi aku coba masuk, sekalian mau lihat kamu bangun tidur." ucap joy tersenyum, beranjak berdiri mendekati Alana.
"Kak, jangan mendekat. Tolong jangan mendekat!!" ucap Alana, menarik tubuhnya sedikit ke belakang dengan tatapan was-was pasa Joy.
"Aku gak akan menyentuhmu Alana. Aku ke sini hanya ingin bicara denganmu." ucap Joy mencoba menjelaskan.
"Bicara apa lagi, kita sudah banyak bicara. jadi lebih baik kak Joy sekarang keluarlah. Aku mau mandi."
Joy merangkak ke ranjang Alana, mencoba mendekatinya agar dia tidak takut. Dan Alana semakin menarik tubuhnya mundur.
"Alana jangan mundur nanti kamu jatuh" ucap Joy mencoba memegang tangan Alana.
"Aaaaa..." Alana yang terjatuh mencoba mencari pegangan, memegang tangan Joy, dan. Brukk.. Tubuh mereka terjatuh bersamaan.
Joy jatuh tepat di atas tubuh Alana. Membuat ke dua mata meraka saling tertuju. Jantung mereka bepacu lebih cepat dari biasanya.
Kak kenapa di saat aku amu melupakanmu, dengan cinta baru tapi kamu selalu membuat aku tidak bisa melupakanmu. Jika terus seperti ini apa aku sanggup, seperti ini terus.
Joy menyentuh bibir Alana, membuat Alana terkejut. Dan sontak gadis itu mendorong tubuh Joy menjauh darinya.
"Jangan sentuh aku!!" ucap Alana tegas, dengan tatapan tajamnya dan beranjak duduk.
"Aku hanya mau membersihkan sesuatu di bibir kamu tadi," ucap Joy.
"Apa, gak usah cari Alasan" ucap Alana kesal, dan bangkit dari duduknya.
"Tunggu!!" Joy menarik tangan Alana kuat, hingga jatuh dalam pangkuannya. "Kamu boleh mencintai orang lain, uka dengan orang lain. Tapi aku mauu kamu harus selalu ingat dengan aku, jangan pernah melupakanku Alana.
"Kak, lepaskan tanganku! Aku mau mandi sekarang," Alana mencoba berdiri berkali-kali namun Joy terus menariknya.
Ia menyentuh dagu Alana. Dna bergumam dalam hatinya.
Bibir ini yang pernah di cium oleh Miko, ku gak terima dan aku gak mau ada bekas orang lain di bibir kamu.
dan mengecupnya, belum sempat ia menikmati Alana mendorong tubuh Joy, dan. Plaaakkkkk.. Tamparan keras lagi mendarat di pipinya. Hingga meninggalkan bekas tangan Alana di pipinya.
Joy yang semakin geram dengan Alana, ia memegang ke dua tangannya, menguncinya dan mengecup kasar bibir Alana.
"Ummmm... Emmmm.." Alana mencoba meronta namun ia semakin terpojok di pinggran ranjangnya.
Kecupan Joy semakin menjadi, dan semakin dalam. Membuat gadis itu semakin tidak terima. Alana mengigit bibi bawah Joy hingga berdarah. Joy tak perduli, ia menghentikan sejenak, menarik napasnya. Mencium kembali bibir Alana semakin menjadi.
Alana meneteskan air matanya.
Kenapa kak Joy jahat padaku, kenapa dia begitu tega pada adiknya sendiri.
Melihat hal itu, Joy melepaskan tangan Alana dan dengan terpaksa menyudahinya.
"Kenapa kamu seperti ini denganku kak, kenapa?" ucap alana semakin menangis tersedu-sedu.
Joy mencoba menyeka air matanya dan terus di tepis oleh Alana. "Aku gak rela jika bibir kamu di cium dengan laki-laki lain." ucap Joy jujur.
Alana menautkan ke dua alisnya, menatap bingung ke arah Joy. "Aku tahu apa yang kamu lakukan dengan Miko. kalian berciuman dan aku gak terima, aku gak mau kamu jadi wanita murahan yang dapt di sentuh laki-laki lain." ucap Joy menggebu.
Alana nenggertakkan rahanya, menatap semakin kesal ke arah Joy.
"Apa kamu yang bisa nenyentuhku begitu, apa itu maksud kamu." ucal Alana menatal tajam ke arah Joy, dengan senyum sinisnya, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Jangan harap
kakak bisa seenaknya mengaturku. Dan bisa menciumku sesuka kamu. Kita itu adik, kakak. Jangan perasaaan lain tumbuh di antara kita. Ingat itu!!" Alana beranjak berdiri, menuju ke kamar mandi. Ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan menoleh ke bekajang.
"Lebih baik kak joy oergi. Aku gak mau melihat wajah kak Joy lagi. Aku benci dengan Kak Joy." ucap Alana tegas.
Deg..
Kata itu membuat Joy terdiam, membisu seketika. Gimana bisa ia melakukan itu. Tapi ia memang tidak ingin ada bekas bibir orang lain di bibir Alana. Meski merasa sangat lega, tapi ia tidak bisa jika terus seperti ini.
Joy menyadarkan punggungnya di pinggir ranjang Alana, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.