My First Love

My First Love
Joy dan Amera



Selesai menikmati makan di luar Joy mengajak Amera bergegas kembali, tanpa pergi kamana-mana lagi. Dan kali ini rumah nampak sangat sepi, tanpa Alana merasa dalam kehidupannya terasa sangat kurang. 


Mereka kini duduk di ruang tamu, bersama dengan keluarganya. Semua berkumpul membahas tentang pertunangan David dan Cia yang sepertinya akan di batalkan. 


David pergi dnegan wanita lain, itu menunjukan jika dia tidak suka dengan Cia, itu yang membuat Sheila dan Ian membatalkan perjodohan. Dan sekarang mereka berniat untuk mempercepat pertungan Amera dan Joy. 


Bagi Keyla itu lebih baik. Karena ia tidka mau jika Alana bisa berhubungan lebih dengan Joy. Entah kenapa ia merasa berat dna tidak tega di buatnya. Jika merka saling terpisah nanti pasti akan lebih menyakitkan.


Joy dan Amera, menjadi pendengar yang baik. Pembicaraan para orang tua itu, bahkan Joy menatap mereka dnegan pandangan kosong, seakan pikirannya melayang jauh, entah kemana. 


Keyla dan Ian saling memandang, rasa canggung terlihat di wajah Keyla. Ia merasa bersalah kali ini dengan Sheila. 


"Keyla gimana menurut kamu jika kita jadi besan nantinya?" tanya Ian, melirik dengan tatapan menggoda. 


"Iya, kita bisa tinggal bersama nanti, semua keluarga kumpul jadi satu. Aku ingin membeli rumah yang bisa muat untu puluhan orang, biar rame semua keluarga berkumpul jadi satu." kata Ian, yang tak hentinya curi pandang dengan Keyla. 


"Iya, imterserah kalian juga. Aku juga nurut jika anak mau tunangan dengan Amera, maka aku akan teraerah ank aku saja" ucap keyla menandang Joy, yabg sepertinya tadi melamun. 


Pasti Joy sangat merindukan Alana. Aku yakin di dibenaknya adalah Alana. Tapi aku harap kamu bisa mengerti perasaan Amera juga. Dia juga suka denganmu, Joy. Jangan sampai kamu menyakitinya. 


"Alana!!" gumam Joy lirih, membuat Amera yang duduk di sampingnya, mendengar apa yang di katakan Joy, langsung menatap tajam ke arahnya, dengan dahibterlihat mengerut. 


"Apa yang kamu katakan, Joy?" bisik Amera tepat di telinga kiri Joy. 


"Maaf!! Tadi aku hanya kepikiran, dia sedikit. Lagian ini pertama kalinya dia pergi ke sana. Aku yakin jika dia kenapa-napa." balas Joy berbisik. 


Joy aku tahu, kamu pasti sangat sulit untuk jauh dnegan Alana. Baru satu haru saja tidak dekat, kamu selalu murung dan seakan kehilangan nyawa kamu sendiri.


Rasa kesal terbesit dalam hati Amera, namun ia hanya bisa memainkan bibirnya, mengigit ujung bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang tersimpan dalam hatinya yang paling dalam. Ia kini mencoba mengerti perasaan Joy, semoga saja dia tidak membuatnya kecewa lagi. 


Joy yang paham tentang perasaan Amera, ia meraih tangan gadis itu, memegang tangan Amera sangat erat, mencoba menyakinkan hatinya. Untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi nantinya. 


"Kamu paham hatiku?" tanya Amera lirih. 


"Sangat paham, aku tahu apa yang terbesit dalam pikiran wanita, saat orang yang ada dalam hatinya, menyebut nama wanita lain." bisik Joy, kembali menatap ke depan, menatap aemua keluarganya. 


"Kalian lagi apa?" tanya Sheila, dan Ian yang dari tadi menatap mereka, kemesraan mereka membuatnya senyum-senyum sendiri. Ian yang suka dengan kemesraan mereka, bukanya menatap istrinya, ia melirik, menggoda ke arah Keyla yang sekarang duduk di samping Cia. 


"Hanya manja-manjaan dikit, gak apa-apa kan, om, tente?" ijin Joy. 


"Gak apa-apa, sekarang kalian juga akan menjadi sebuah cerita cinta yang jauh lebih romantis. Saat tunangan nanti, hubunagn kalian pasti akan lebih romantis, di balut dengan sebuah ikatan" saut Ian. 


"Iya, om." ucap Joy, mencoba tersenyum palsu di hadapan mereka semua, meski dalam hatinya, ia membayangkan Alana tanya ada di sampingnya, tapi itu hal yang tak mungkin. Di sampingnya, adalah calon istrinya kelak.


"Oya, rencana kamu mau kuliah di mana, Joy?" tanya Sheila. 


"Di Amerika tante, oya tente kapan balik lagi ke Sydney?" tanya Joy. Terpikir dalam benak Joy, ingin pergi ke sana. mengisi waktu liburan beberapa hari ini. 


"Memangnya kamu mau ke sana?" tanya Ian. 


Ian melirik ke arah Keyla, yang terdiam. Dengan kepala sedikit menunduk.


"Kenapa kamu diam, apa kamu setuju jika kita smeua ke Sydney?" tanya Ian, menatap Kwyla.


"Iya, Key. Bukanya kalian semua juga belum pernah ke Sydney. Waktu dewasa, ya kalau Joy dan cia masih kecil, dia sering jalan-jalan. Tapi waktu remaja, mereka sudah jarang sekali keluar rumah kan, apalagi jalan-jalan ke luar negeri." saut Sheila, berharao jika mereka semua bisa liburan ke sana.


"Aku juga ingin segera pulang, sekalian mencari David. Aku harap jika dia sudah pulang ke Sydney," lanjut Sheila, menatap Ian, memegang erat tangannya.


"Iya, Ma. Kita ke sana, ya!!" sambung Cia.


"Iya, bemar kata Cia, lagian bukannya aku dan Amera mau tunangan. Gimana kalau aku tunangan di sana?" Joy mencoba untuk menberi solusi, kali ini Keyla yang semula diam menunduk, ia mengangkat kepalanya tegap, menatap ke depan.


Keyka menarik setiap sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis. "Baiklah, jika itunyang kalian inginkan. Mama setuju, tapi sama papa kamu ya?" ucap Keyla, melirik ke aeah Ian, yang sepertjnya yidak suka dengan keoutusan Keyla mengajak Alvin.


"Bukanya dia sibuk?" ucap datar Ian.


"Aku akan ciba bicara nanti dengannya. Jika memang dia bisa, kenapa gak sekalian bersamanya, lagian aku gak bisa pergi jika tanoa Alvin. dan jika Cia dan jiy ingin ke sana. Silahkan kalian bersngkat saja, mama bisa nhnggu papa kalian semua.


"Kenapa kamu nunggu dia? Kamu bisa menghubunginya jika sudah sampai di Sydney. Dan kalian bukanya bisa bertemu di sana."


"Tapi...."


"Iya, Key. Kamu bilang pada suami kamu, jika kamu ada di Sydney, biar dia bisa nyusul mamu ke rumah kita." saut Sheila, sekaan tidak memoervolehkan Keyla untuk menolaknya.


"Baiklah!!" ucap Keyla, menunsukkan kepalanya. Ia dengan terpaksa harus menerimanya."Jadi aku ingin minta ijin dulu pada suami. Jika boleh maka dia akan pergi dengan anak-anaknya.


"Baiklah kalau gitu. Aku sekarnag pergi dulu. Mau ke kamar, sekalian mau menghubungi sjami aku dulu."


"Kenapa juga di hubungi, dia utuk naik pesawat, dan dia pasti beru berangkat." Decak kesal Ian. Seakan dalam otak keyla benar teracuni oleh Alvin.


"Baiklah Amera dan aku pergi dulu!" ucap Joy yang sudah melihat jarum jam menunjukan pukul 10 pagi. Ia memegang gangan Amera dan beranjak bangkit daei duduknua.


"Aku juga mau pergi, ya." Cia berlari mengimuti langkah kaki Amera dan Joy, Cia memang sengaja ingin sekali menggoda dua saudaranya itu.


"Kalian tadi pagi kemana, pagi-pagi sudah nongkrong di cafe lagi. Makan gak ajak-ajak. Gitu sekarang kalian dengan aku, saudara enggak? Dan kamu Amera, kalau kamu mau menikah dengan Joy, nanti di Sydney, traktir shoping ya?" goda Cia, berjalan di samping Joy dan Amera, menuju ke lantai dua.


"Gak usah, dari oada buat traktir kamu. Labih baik biat tabungan nikah!" ucap Joy, menatao tajam ke arah Cia.


"Kalau nikah dengan Amera, keungan juga tanggung janwab kamu nanti Joy. Lagian aku gak minta kamu, kalau kamu itu lelit. Makanya lebih baik aku minta Amera saja, sudah cantik baik, gak pernah sombong." Cia terus merayu, berjalan di depan Joy dan Amera, dengan langkah mundur, ke dua wajah mereka saling menatap.


Amera, mengusap lengan Joy. "Syang, biarkan saja. Hanya traktir sekali gak msalah." keta Maera, memberla Cia, ia juga ingin pergi belanja debgan Cia nantinya.


"Ya, sudah kalau dia jadi bagian kita? harus nurut apa kata aku sekarang," ucap Lantang Cia.


"Jangan harap, Amera nurut padamu!!" umpat keala Joy, memegang tanganya, menariknya ke belakang. Seakan melindungi Amera dari seseorang yang ingin menyeramkan di depannya