My First Love

My First Love
Saling perhatian



"Duduklah!!" ucap Joy lirih.


Alana mencoba mengatur napasnya, dan beranjak duduk kembali di sofa samping Joy.


"Kenapa kamu begitu perhatian padaku?" tanya Joy menatap dalam mata Alana.


"Karena kita adalah saudara, jika salah satu dari kita sakit. Maka tidak salah jika saudara yang sangat perhatian. Dan sesama saudara saking perhatian tidak di larang, kan?" gumam Alana, jawaban Alana tak membuat hati Joy puas, ia menunduk menarik satu sudut bibirnya tipis.


"Aku sudah jahat padamu!! Tapi kanu masih saja suka dengan aku, apa memang kanu mau aku meninggalkanmu. Aku bakan lakukan itu Alana. Karena aku sudah terlalu jahat padamu. Dan kamu bisa marah dengan aku memukul aku sesuka hati kamu." ucap Joy, mendongakkan kepalanya, dengan pandangan lurus ke depan menatap ke dua mata Alana.


"Aku jahat, Alana!! Aku jahat!!" ucap Joy menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kakak gak jahat!! Wajah jika kak Joy terluka. Karena memamg kak Joy sangat menyayangi mama Keyla, dan kalian tidak mau jika mama Keyla dan papa terpisah, aku tahu semuanya. Tapi Cia mungkin terlalu salah paham juga dengan aku sampai dia membenci aku."


"Cia cemburu dengan kamu, bukanya kanu tahu jika Cia suka dengan Miko. Dan itu dia semakin benci dengan kamu, saat dia tahu jika orang yang merebut papa dari kita adalah ibu kandung kamu. Dia semakin benci saat tahu kenyataan itu. Aku yang sudah tahu sejak awal bisa perlahan menerimanya. Tapi Cia tidak. Dia sangat terluka semua orang yang ia sayangi di rebut olehmu " jelas Joy, membuat Alana hanya diam, tak bisa berbicara apa-apa lagi. Ia meratapi semua yang terjadi padanya, dengan ke dua tangan di atas pahanya yang berbalut rok selutut berwarna hitam, mengepal sangat erag, mencengkeram rok selutut miliknya, menahan rasa marah yang menggumpal dalam hatinya selama ini, ia berdengus kesal, dengan napas yang semakin cepat.


Tangan kiri Joy memegeng bahu Alana, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap ke arahnya.


"Kak, maaf tentang semua yang terjadi. Mungkin aku terlalu salah!!" ucap Alana.


Joy menarik tangan kiri Alana, dengan tangan kirinya.


"Maaf!! Aku terlalu emosi tadi!!" ucap joy memeluk tubuh Alana. Mengusap punggungnya, dengan tangan kirinya, san tangan kanan memang sengaja ia sembunyikan, dia semakin mempererat pelukannya, seakan memang tidak mau lepas dari kehangatan tubuh Alana, yang membuatnya semakin tenang. Ia tidak bisa hanya diam, membiarkannya merasa tersakiti oleh perbuatan dari papanya yang terlalu terbawa emosi meluapkan pada Alana. Joy menahan rasa sakit yang semakin menjalar pada tangannya, dengan mata mengernyit, ia melepaskan pelukan Alana.


"Kak Joy!! Kamu tangan kamu!!" ucap Alana, yang memang sengaja melihat tangan Joy yang terluka sangat dalam.


"Kamu tidak apa-apa, kan tadi. Apa kamu ada yang terluka saat aku mengikat kamu." tanya Joy yang mulai khawatir dengannya, teringat saat tadi ia benar-benar seperti orang gila yang takut kehilangannya.


"Aku tidak masalah, tapi lihatlah tangan kamu, ku akan carikan obat dulu. Kamu duduk di sini!" ucap Alana, yang mulai panik, dengan nada tergesa-gesa, ia berjalan keluar dari kamarnya.


"Alana!!" panggil joy, menghentikan langkah Alana tepat di depan kamarnya, dengan pintu yang sudah terbuka.


"Ada apa?" tanya Alana menatap ke arah joy.


"Gak ada apa-apa!!" Joy teraenyum, memandangi Alana yang terlalu khawatir padanya, ari dulu dia selaku seperti itu, saat dia sakit yang paling khawatir adalah dirinya, bahkan khawatirnya sangat berlebihan padanya. Alana membalas senyuman Joy, dan langsung pergi dari kamarnya, untuk mencari kotak obat yang ada di rumah itu.


"Maaf kotak obat di mana?" tanya Alana pada seorang pelayan yang melintas lewat di depannya.


"Kota obat? Emm.. Biar aku ambilkan saja. Non tunggu dulu!!" ucap pelayan itu, yang langsung pergi mengambilkan kotak obat, dan Alana hanya diam, menghentakkan kakinya, menunggu pelayan David mengambilkan kotak obat.


"Ini non, kotak obatnya. Maaf lama!!"


"Udah gak apa-apa, ku bawa dulu!!" ucap Alana, yang lansung mengambil kotak obatnya, dan berlari meninggalkan pelayan yang masih berdiri di temoatnya, ia segera masuk ke dalam kamar Joy. Lalu menutup pintunya, Joy yang duduk dengan tangan menyandarkan pinggiran sofa di sebelah kanannya, darah masih terus menetes perlahan dari tangan Joy. Tanpa Alana sadari ada darah di rambut tepat di atas pelipisnya, saat Joy menyilakan rambut Alana tadi.


"Maaf lama!! Kamu pasti nunggu aku, ya!!" ucap Alana, terburu-buru, ia segera membuka kota obatnya, dan beranjak duduk di samping Joy, memegang tangan kanan Joy, yang sudah di penuhi darah.


"Aku gak bawa air, bentar!! Aku ambilkan air dulu!!" gumam Alana, yang beranjak berdiri, berlari keluar kamar Joy, dan Joy hanya tersenyum melihat Alana yang terlalu panik dengannya.


"Alana dari dulu kamu masih saja sama, kamu selalu panik saat melihat aku terluka, kamu tak pernah sedikitpun cuek padaku, dan membiarkan aku kesakitan sendiri. Sebenarnya apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu suka dengan aku? Atau rasa suka kamu hanya sebatas kakak dan adik?


Joy terus bertanya pada dirinya, dia sembari menunggu Alana yang mengambil air untuk membersihkan darah di tangannya.


"Kak Joy!!" teriak Alana, berlari membawa satu baskom air, dan handuk di pundaknya.


"Lama lagi ya!!" ucap Alana, dengan napas yang masih ngis-ngosan, ia meletakkan baskom di meja depannya. Dan duduk mencoba mengatur napasnya lebih dulu, ia meraih handuk di pundaknya, memasukan ke dalam baskom berisikan air.


Joy memegang tangan Alana, dengan tangan kirinya.


"Alana! Maafkan aku!!" ucap Joy.


"Kenapa minta maaf!! Kak Joy gak salah, Alana dan Ibu Alana yang salah, telah datang dalam kehidupan kalian, membuat hidup kalian jadi berantakan, dan membuat hancur keluarga kalian. Mungkin memang venar, kata Cia jika kak Joy tidak boleh dekat dengan aku lagi. Jika kak Joy dekat dengan aku, takutnya terluka sama seperti mama kak Joy!!" gumam Alana.


Joy tersenyum, mengangkat tangan kirinya, menyilakan rambut Alana yang berantakan belum sempat ia rapikan gara-gara berlarian bolak-balik ke dapur.


"Kenapa? Memangnya aku jelek, ya. Atau rambut aku sangat berantakan. Apa aku perlu rapikan sekarang Atau aku harus rubah oenampilanku," tanya Alana tak hentinya, dengan nada gugupnya menghadapi sentuhan lembut jemari tangan Joy yang membuatnya semakin grogi.


"Alana!!" Joy memegang dagu Alana, menghentikan kepalanya yang terus bergerak salting saat melihatnya terhenti, Alana menatap ke depan, tepat pandangannya lurus. Ke dua mata mereka saling tertuju, dengan jari tangan Joy masih di pelipis Alana, memegang helaian rambut gadis itu.


Alana menelan ludahnya perlahan, dan bola mata hitam milik Joy membuatnya terbius, napasnya mulai berjalan dengan normal, ia perlahan bisa mengatur napasnya kembali. Dan Joy masih memegang helaian rambutnya, lalu menyilakan di belakang telinganya.


"Kamu cantik!!" ucap Joy lirih.


"Maksud kamu?" tanya Alana mengernyitkan keningnya, tak mendengar begitu jelas apa yang di katakan Alana.


"Udah lupakan saja!!" Ucap Joy gugup, ia memalingkan pandangannya berlawanan arah.


Kenapa aku jadi grogi begini di depan Alana. Padahal aku setiap hari selalu bersamanya. Tapi jantung dan hati aku tak bis adi kontrol dengan sempurna, ku tahu aku masih perduli dengannya, masih cinta dengannya. Tapi entah apa yang akan terjadi ke depannya. biarkan waktu yang menjawab semuanya.


"Kak Joy, aku gak tahu kenapa aku bisa suka dnegan kamu, apa kita terlalu bersama atau soal perhatian kamu dulu ke aku, yang berlebihan." gumam Alana dalam.hatinya, dengan tangan yang mulai membersihkan darah yang sudha mengering di lengan dan telapak tangan Joy.


"darah kamu banyak sekali, kak." ucap Alana, membersihkan semuanya, dan Joy hanya diam, tersenyum memandangi Alana yang perhatian denganya. Ia sangat senang jika Alana perhatian, hatinya tak mau berhenti mandang wajahnya.


"Sekarang aku kasih obat dulu!!" gumam Alana, yang memberikan alkohol untuk menghentikan darah segar yang terus keluar!!"


"Aw---" ringtih Joy.


"Sakit, kak?" tanya Alana, yang mulai menarik tangannya.


"Udah, gak apa-apa lanjutkan lagi!!" ucap Joy, mengusap ujung kepala Alana.


"Beneran gak apa-apa?" tanya Alana yang ketakutan melihat Joy kesakitan.


"Iya, teruskan!!" ucap Joy, menahan rasa sakit saat satu tetes obat itu masuk ke dalam tangannya.


"Benar kamu, aku akan bersihkan lengan kamu, ternyata ada darah yang sudah kering" ucap Alana, mengambil handuk basa dan mengusapnya pada Joy, membersihkan semua sis darah di tangannya, laku meletakkan kembali di baskom yang berisikan air putih yang sudah tak putih lagian warnanya sudah berbuah menjadi merah darah.


Joy bahkan tak hentinya terus memandang wajah Alana, yang terlihat sangat serius saat melihat dia terluka. Dia mengusapnya penuh perhatian, dan memberikan obat tanpa rasa takut terlihat di wajahnya.


Alana mulai meraih tangan kanan Joy yang terluka, ia segera memberikan obat merah, dan membalutnya dengan perban, dengan sempurna.


"Sudah selesai, sekarang kamu bisa coba menggerakkan tangan kamu. Jika masih susah bergerak jangan terlalu di paksa, tapi jika perban aku mengganggu tangan kamu, aku akan kecilkan lagi balutan perbannya." ucap Alana, tanpa menatap ke arah Joy, dia mulai merapikan semua obat, memasukan ke dalam kotak obatnya kembali.


"Makasih!! Kamu sangat perhatian padaku!!"


"sudahlah, lagian hanya perhatian kecil!!" ucap Alana, tersenyum tipis, ke dua mata mereka saling tertuju, dan mereka saling membalas senyuman mereka masing-masing, dengan pandangan mata semakin dalam, penuh arti yang tak terungkap.


Tok... Tok... tok...


"Alana apa kamu di dalam?" suara berat seorang laki-laki menghentikan pembicaraannya. Alana menatap ke arah pintu, dan beranjak berdiri.


"Kamu mau kemana?" tanya Joy, memegang dengan Alana, mencegahnya pergi.


"Aku mau bertemu dengannya, lagian apa salah jika aku ingin bertemu dengan David."


"Enggak!! Kamu tunggu di sini duly, aku akan memastikan siapa yang datang. Aku gak mau jika Cia merencanakan sesuatu lagi, dan membuat kamu terluka. Sudah cukup aku yang membuat kamu terluka tadi. Sekarang aku gak tega jika harus melihat kamu tersakiti lagi."


"Alana!! Cepat keluarlah. Aku ingin berbicara dengan kamu" teriak seorang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya, engan tangan kanan terus menggedor pintunya yang seakan sudah mau roboh di buatnya.


"Aku harus temui dia sebentar, ada hal yang aku ingin bicarakan padanya."


"Baiklah, tapi kanu kembali lagi, kak. Kamu ke sini lagi bersama dengan aku. Aku ingin kamu tetap di sini, bersama dengan aku, kita saling berbincang satu sama lain lagi." ucap Joy, memegang tangan Alana.


"Baiklah!! Aku akan ke sini, sekarang kanu lebih baik istirahat lagi saja, tenangkan hati kamu, jangan terlalu terbawa emosi lagi. Dan ingat jangan sampai tangan kamu terluka lagi. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu lagi nantinya Dan pastinya aku akan marah besar padamu." jelas Alana melepaskan tangan Alana, dan melangkahkan kakinya pergi menuju ke depan pintu.


"Alana, jika kamu gak ada di dalam aku pergi sekarang," ucap David yang sudah tidak sabar lagi.