
"Apa dia benar Alana anak aku?" tanya Silvia menatap ke arah Alana, yang terlihat senyum bahagia di depannya. Rasa kangen pada hati Alana, membuat dia berlari dan langsung memeluk tubuhnya sangat erat.
Alvin hanya diam, menganggukkan kepalanya. Dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
"Syang!! Aku kangen dnegan kamu. Maafkan Ibu!!" ucap Silvia, mengusap lembut rambut Alana, mengusap keningnya sampai rambutnya, lalu mengecup ujung kepalanya. Rasa kangen itu sudah terobati, ia perlahan meneteskan air matanya,
"Ibu! Alana mau ikut dengan Ibu. Alana mau tinggal bersama dengan Ibu!!" ucap Alana, dengan tangan masih mrmeluk ibunya, dan kepalanya sedikit mendongak.
"Iya, nanti kita tinggal bersama. Dan aku gak akan biarkan kamu kenapa-napa syang!! Sekarang kita akan tinggal bersama." ucap Silvia, mengeuup kening Alana, rasa kangen dan syangnya benar-benar sudah terobati.
"Ternyata itu benar ibu Alana. Awas saja kamu Alana rasa marah dan dendam aku benar-benar akan aku sampaikan padamu. Kamu yang harus menanggung srmuanya, semua yang ibu kamu lakukan, dan nanti ada saatnya kamu akan menderita, dan terus menangis." gumam Joy, di dalam mobilnya, mengepalkan ke dua tangannya, lalu memukulkan ke setir mobilnya.
"Ibu, tapi sekarang aku harus pergi dulu. Aku mau ambil barang-barang aku. Ibu tulis saja alamat ibu nanti aku akan datang ke sana dengan teman aku!!"
"Baiklah! Tunggu bentar, ya!" Silvia segera masuk je dalam mobil Alvin, untuk menulis nomor telepon dan Alamat di mana ia tinggal nanti.
Dan Joy yang sudah semakin kesal terus menunggu, ia berdecak kesal, beranjak turun dengan penuh amarah. Bagai di siram air panas, hatinya terasa bergemuruh, seperti air mendirih, melihat ayahnya berada di Sydney bersama wanita yang entah ia tidak kenal. tapi seyelah Alana bilang jika itu ibunya, rasa kesalnya semakin menjadi, aliran darhnya mulai menegang, mengalir begitu vepat naik ke ubun kepalanya. Dan yang lebih parahnya, membuatnya semakin kesal, dia papanya yang menceraikan mamanya tanpa mendengarkan penjelasan darinya.
"Alana!! Ayo pulang!!" ucap Joy, memegang tangan Alana, laku menariknya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Bentar, kak! Aku nau bertemu dengan Ibu aku. Nanti aku akan masuk ke mobil."
"Udah ayo cepat masuk!!" bentak Joy,
"Bentar, kak!!" decak Alana, menatap ke arah Silvia yang masih menulis alamatnya.
"Joy biarkan dulu dia di sini. Kamu tunggu saja!!"
"Jangan bicara padaku. Aku gak suka kamu bicara dan apa lagi ikut campur dengan aku. Aku paling gak suka ada orang penghianat seperti kamu." bentak Joy, me atap tajam ke arah papanya. Dan Alana yang masih saja diam tanpa banyak bicara, ia segera mengangkat tubuh Alana.
"Kak Joy turunkan aku!!" ucap Alana terus meronta, memukul dada bidang Joy, namun dia tidak perduli, ia menahan rasa sakit itu dan terus berjalan masuk ke dalam mobilnya, meletakkan Alana di jok belakang, dan segera ia masuk ke dalam mobilnya.
"Joy!!" panggil Alvin mencoba mencegah Joy. Berlari mengikuti Mobilnya.
Namun Alana sudah masuk ke dalam mobilnya dan beranjak pergi, dengan kecepatan tinggi tanpa perdulikan Alvin.
"
Di sisi lain Keyla dan Ian masih berada di rumah.
"Ian, kamu sudah bangun?" tanya Keyla, menatap laki-laki yang masih berbaring di ranjangnya, dari kemarin dia sibuk dnegan pekerjaannya, sampai pagi hari dia baru tertidur.
"Ian, sudah jam 9 pagi. Apa kamu tidak mau bangun?" tanya Keyla, menggoyang-goyangkan tubuh Ian, tapi tetap saja Ian belum membuka matanya.
"Nanti saja, aku masih ngantuk, syang!!" gumam Ian, masih memejamkan matanya.
Keyla segera membuat nasi goreng untuk Ian, lagian hanya 1 hari di sini. Besok kita akan segera pergi dari sini bersama, tapi setelah itu aku akan pergi meninggalkannya. Dan aku akan segera mencari kehidupan baru. Aku gak mau menganggu Ian dan Keluarganya lagi. Aku tidak akan bisa bersama dengannya.
Selesai masak, Keyla beranjak menuju kamar mandi, ia segera membasuh tubuhnya sebelum Ian sudah bangun dari ranjangnya.
"Sepertinya dia tidurnya lebih baik aku n di kamar sebelah!!" gumam Keyla, berjalan mengendap-endap, ia sengaja memelankan kakinya agar tidak terdengar oleh Ian, dan menganggu tidurnya.
"Keyla!! Apa kamu sudah siap?" tanya Ian, yang tiba-tiba sudah terbangun tanpa ia sadari. Keyla menoleh perlahan menatap ke arah Ian.
"Kamu sudah bangun" tanya Keyla, berdiri tegap menatap ke arah Ian.
"Lagian kamu ngapain jalan seperti itu. Apa kamu mau menghindar dariku? Atau kamu mau pergi dari hadapanku sekarang?" tanya Ian, beranjak duduk menatap Keyla yang sudah terlihat gugup, ia tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di kepala ranjangnya.
"Emm... Aku-- Bukanya ak--ku."
"Kamu jangan gugup, aku gak marah dnegan kamu atau kamu takut aku melukai kamu lagi. Dan aku tidak akan pernah melukai kamu, karena aku sangat mencintai kamu. Dan kita tidak akan pernah berpisah sampai maut memisahkan kita." ucap Ian, beranjak berdiri, menampakkan kakinya perlahan dengan langkah ringan, ia berdiri tegap di depan keyla, memegang ke dua tangannya, mencengkeram sangat erat, mengangkat ke dua tangannya di depan dadanya.
"Kamu jangan khawatir tentang kuta, kamu dan dia. Kita akan tetap bersama. Jika mereka bersama apa kita gak bisa bersama juga," ucap Ian.
"Maksud kamu apa? Apa kamu akan menikahi aku? Tapi gimana dengan anak kamu, dia akan menikah dengan Joy dan kamu harus tahu itu, kita gak bisa menikah Ian. Kecuali hanya satu, membatalkan pernikahan mereka dan menjodohkan Joy dengan wanita lain,"
"tenang saja, ku sudah pikirkan itu semua. Aku sudah atur, dan dia akan menikah dengan anak dari saudara aku. Bukanya anaknya juga perempuan, tapi dia memang lebih muda, berjarak 2 tahun dari Joy." ucap ian.
"Aku sudah merencanakan pertemuan mereka nanti saat kuliah, aku sudah atur semuanya. Dan aku yakin perlahan rasa cinta itu akan tumbuh di hati mereka, tanpa di sadari," jelas Ian melanjutkan ucapannya.
"Tapi entah aki bisa bilang dia akan mencintai wanita itu atau tidak. Anak aku Joy sangat keras krpala, dia suka hanya dengan Alana. Dan aku bahkan sampai menentang merek tapi tetap saja. Dia gak pernah mau jauh dengannya, aku bingung, aku gak mungkin jika membiarkan mereka menikah. Jika mereka menikah maka semua akan terulang lagi, aku akan bertemu dengan Alvin lagi, orang yang telah menyakiti aku!!"
"Kamu jangan khawatir, syang!! Aku sudah bilang akan atur semuanya. Jari kamu jangan khawatir tentang hal itu. Soal cinta serahkan pada hati Joy. Aku yakin Joy akan suka denyanya, dia cantik, dan juga gak kalah pintar, tapi satu lagi, dia sangat pendiam juga sama dengan Alana."
"Baiklah!! Aku terserah padamu, sekarang aku mau mandi dulu, kalau kamu mau makan aku sudah siapkan di meja, kamu makan saja dulu keburu dingin nanti, gak enak!!"
"Aku mau mandi berdua," ucap Ian, memeluk tubuh Keyla.
"Hak mau!! Aku mandi sendiri saja, aku sudah capek dari kemarin kamu sudah berkali-kali ajak aku. Sekarang aku mau kamu cepat makan, ekali-sekali nurut padaku." gumam Keyla, mendorong tubuh Ian menjauh darinya. Ia membalikkan badannya melangkahkan kakinya pergi.
"Kamu mau kemana? Apa kamu gak mau di sini dulu. Temani aku makan, kita makan bersama!!"
"Fak mau, aku mau mendi dulu, setelah itu kita makan, oke!!"
"Baiklah terserah kamu!! Aku tunggu!!" ucap Ian, mengusap rambut Keyla, membuat wanita itu tersipu malu.
"Udah cepat mandi, jangan senyum-senyum tetus!!" Keyla beranjak pergi meninggalkan Ian.