
Semenjak kejadian bertengkar di depab ornag banyak dengan Joy, membuat Cia merasa sangat kesal. Ia mengurung dirinya di kamar. Dan menjauhi keramaian keluarganya yang asyik berbincang di luar. entah apa yang mereka bicarakan, Cia juga tidak perduli. Dan Meskipun mereka membicarakan dirinya juga tidak perduli lagi.
Cia, membaringkan tubuhnya, menutup wajahnya dengan bantal.
"Dasar Joy, ngeselin. Udah di kasih tau baik-baik malah nyolot. Aku gak mau hubungan saudara ini pecah gara-gara perasaan Joy yang membuat semuanya berubah seketika. Aku gak mau itu terjadi.. GAK MAU!! teriak Joy, berbicara dengan bantal masih menutupi mulutnya.
Via kemudian beranjak duduk, teringat tentang Alana. Ia mau mekuoakan Joy, Tapi saat dia oergi dari dia, dan menjauh darinya.
Tok... Tokk...Tokk.
Suara ketukan pintu membuat Cia yang dari tadi terus menggerutu sendiri. Hanya bisa diam, membiarkan pintu itu terkunci.
Tok... Tokk.. Tok..
"Siapa?" teriak Cia.
"Seseorang" jawab orang itu singkat.
Cia nengerutkan keningnya seketika, udah tahu kalau orang. Emang aku mau bukakan pintu buat hantu. pikirnya dalam hati.
"Siapa, kalau gak bilang siapa aku gak mau buka pintu kamar aku" ucap Cia dengan nada semakin kesal.
"Yang pernah kasih kamu lukisan" ucap David.
Cia terdiam, ia teringat siapa yang memberinya lukisan. cia menatap lukisan canfas yang ia panjang di dindingnya. "DAVID!!" ucap Cia.
"Iya!" jawabnya singkat.
Mendengar jika itu benar David, Cia beranjak dari duduknya dan bergegas membuka puntu kamarnya.
"Ia, memasang wajah malesnya menatap ke arah David. "
"Ada apa?" tanya Cia.
Tanoa banyak bicara David, nenarik tangannya keluar dari dalam kamarnya. "Bentar, ku mau nutup pintu" ucap Cai, menoleh ke belakang. Menutup pintu kamarnya.
"Kita mau kemana?" tanya Cia, menatap ke arah David.
"Kita akan pergi sebentar. aku mau bawa kamu ke keluar. Kita jalan-jalan di luar. Aku mau kamu temani aku jalan-jalan. Karena aku gak tahu tempat di sini. Jadi aku ajak kamu" ucap David, melirik ke arah Cia.
"Baiklah, kita pergi kemana?" tanya Cia, dengan wajah sedikit cemberut.
"Pergi ke pantai."
Cia, terdiam sejenak. ia menimang-nimang apa yang di katakan David. "Pergi ke pantai. Sepertinya ide bagus juga. Baiklah. Kita akan pergi ke pantai dekat sini. Tapi kita naik sepeda ya. gimana?" tanya Cia, menarik ke dua alisnya ke atas.
"Naik sepeda?" tanya David memastikan.
"Kenapa kamu gak mau?" tanya Cia memastikan.
"Bukannya aku gak mau, Tapi..."
"Tapi apa?"
"Apa jangan-jangan kamu gak bisa naik sepedah ya." ucap Cia, menggoda, dengan telunjuk tangan mencolek pipi David yang terlibat sangat serius.
"aku memang gak bisa naik sepedah" ucap David.
"Kalau kamu gak bisa naik sepeda, biar aku yang bonceng kamu" ucap Cia, antusias. Ia memegang tangan David. Namun, bukanya David segera bergerak dan beranjak dari tempat ia berdiri. Ia hanya diam, dengan tangan kanan memegang lengan Cia, yang memegang tangannya. Dengan ke dua mata saling tertuju.
"Jangan sentuh aku!!" ucap Davi, melepaskan tangan Cia, di lengannya." ucap David datar.
Cia menelan ludahnya.
Gimana bisa dia bilang begitu. Kalau dia tidak mau di pegang. Terus kenapa tadi dia memegang tangan aku. Dan menarik ku keluar dari kamar. Sekarang malah aku gak boleh pegang. Dasar pria aneh!! Pikir Cia, menatap David dengan bibir agak manyun beberapa senti.
"Eh.. Pria aneh..!!" Cia keceplosan berbicara, ia seketika menutup mulutnya rapat-rapat. dengan tangan kanan menapuk mulutnya pelan berkali-kali.
"kenapa kamu bicara seperti itu.. kenapa" ucap Cia pada dirinya sendiri.
"kamu gak papa beneran?" tanya David memastikan. "Dan kamu tadi bilang apa? Pria aneh. Siapa yang pria aneh" ganya David mematikan. Dengan tatapan sedikit menajam.
Cia, memutar matanya, hanya diam, memutar bibirnya, tanpa perhatikan David yang berbicara.
"Anda vicara dengan saya" tanya Cia, senyum tipis. Mandang David. Cia memegang unung baju David, menariknya turun daru tangga. Berjalan keluar.
"Jangan sentuh bajuku. Kalau sobek apa kamu mau jahit" ucap David, seketika ia menghela. napasnya beratnya. Ia harus bersabar menghadapi laki-laki yang tidak jauh beda dengan Alana.
Jika bertahun-tahun dengan Alana aja bisa hadapi. Kalau hanya satu bulan dengan orang ini tidak bisa hadapi dengan sabar.
"Baiklah.. Kalau begitu ikuti aku" ucap Cia. Ia mengambil sepeda di halaman rumahnya.
"Cia, kamu mau kemana?" tabya Keyla, dari balik balkon kamarnya. Menatap ke arah Cia dan David.
"Lihatlah anak kamu, mereka lama-lama dekat. aku yakin mereka mau menikah muda" ucap Alvin, yang berdiri di samping Keyla.
"Iya, sepertinya begitu. Kita lihat saja perkembangannya" jawab Keyal.
"Pergi ke pantai, Ma!!" teriak Cia, yang menatap ke arah balkon kamar orang tuanya, yang memang ada di depannya persis.
"Ya, udah hati-hati. Jaga David. Dia tidak tahu kota ini. Jadi jangan tinggalkan dia sendiri. Kalian harus bersama terus" ucap Keyla, dengan suara kerasnya.
"Iya, Ma!!" ucap Cia, yang langsung naik ke sepeda.
"Kamu naik di belakang" ucap Cia, pada David di belakangnya.
David segera naik, ke boncengan. Dan memegang pinggang Cia.
"Katanya tadi gak mau di pegang. kenapa sekarang kamu pegang aku." Tanya Cia heran dengan sifat David. Yang memang sangat membingungkan.
"David hanya diam, dan ia semakin bepegangan erat. Sekana memang dia takut jika naik sepeda.
"Kenapa kamu diam? apa kamu takut baik sepeda. Atau kamu memang sengaja biar bosa pegang aku ya?" goda Cia. Yang terus mengayuh dengans ekuat tenaganya. Semakin mempercepat ayunannya. Hingga tak butuh waktu lama dua puluh menitN ia sampai di sebuah pantai. Yang terlihat sangat ramai pengunjung. Melihat sunset, yabg sebentar lagi akan terlihat jelas.
"Udah sampai, sekarang kamu cepat turunlah" ucap Cia. Yang beranjak turun dan meletakkan sepedanya. Ia memegang tangan David yang dari tadi tanya diam Ia memegangnya menuntun sampai ke pinggir pantai.
Banyak banget pengunjung dsri berbagai negara berkumpul di sana.
"Kita sampai di pantai, sekarang kamu senang."
"Ini pemandangan yang paling bagus buat gambar" ucap David duduk di pasir pantai.
"Kok kamu duduk di situ?"
"Emangnya kenapa?"
"Gak apa-apa, tapi kenapa kamu langsung duduk gitu saja"
David menarik tangan Cia, agar duduk di sampingnya. Kita lihat sunset.
" baru kali ini aku melihatnya. Aku gak pernah keluar dari dulu. Meski keluar juga karena hapal jalan ke arah sekolahanku.
Cia melirik ke arah David, yang diam memandang pemandangan pantai yang bagus di depannya.
"syang syangkali" Aku belum bisa lukis kalau gak ada canfas.
"Oya, aku mau kamu kapan-kapan bawa aku ke sini. Aku mau lucis kamu di pantai." ucap David, seketika membuat Cia menoleh ke arahnya bingung dengan apa yang di katakan.