
sinar matahari menampakan cahaya nya melalui cela jendela seakan menyentuh dan menyapa sepasang suami istri itu, dian perlahan membuka mata nya. perlahan ia mendapatkan wajah teduh sang suami yang masih tertidur pulas, wajah sang suami yang terlihat sangat damai di hati nya.
perlahan dian turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, di lihat nya jam dinding yang masih bergulir. ia terburu buru ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandi pagi nya.
gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar sangat nyaring di telinga alvin, alvin pun perlahan menerjapkan mata nya lalu perlahan bangun dan membuka tirai jendela, sang suria seakan menyapa nya dengan hangat. sudut bibir nya terangkat seolah mengucapkan terimakasih pada sang surya yang selalu setia menyapa nya setiap pagi..
30 menit waktu telah berlalu, dian keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dengan menggunakan handuk sebagai penutup rambut.
betapa alvin tak ingin melepaskan tatapan nya dari wanita yang selama hampit 1 tahun itu bersama nya, menemani hari-hari nya.
"morning", sapa alvin pada sang istri yang masih berdiri mematung di depan kamar mandi.
"emh em morniiiing", jawab nya dengan malu-malu pada sang suami.
alvin melangkah mendekati dian yang masih terpaku di depan kamar mandi itu dan membekap kedua lengan nya, lalu memapah sang istri kedepan meja rias.
dian yang mendapatkan perlakuan semacam itu sontak terkejut namun tetap tenang mengikuti arah sang suami.
"silahkan duduk tuan putri", kata alvin mempersilahkan dian untuk duduk di depan cermin besar.
alvin perlahan memasukan colokan pengering rambut untuk dian dan membuka handuk yang menutupi kepala nya. dan mulai mengeringkan rambut sang istri.
"aku bisa sendiri, kamu pergi mandi aja dulu", kata dian menahan pergelangan tangan sang suami yang kini mulai memegang gagang pengering rambut itu.
"sudahlah, gak apa-apa sayang ku, setelah ini baru aku mandi", jawab alvin mantap dan mulai dengan pekerjaan nya. alvin terlihat sangat mahir, sedangkan dian masih tertegun melihat perilaku baik sang suami pada nya. aroma rambut dengan wangi vanila itu sangat menggoda, begitu harum hingga menghipnotis nya.
namun ia tersadar saat rambut sang istri telah kering sempurnah, ia lanjut mengambil vitamin untuk rambut, lalu di usapkan pada kepala sang istri, dian merasa tak enak hati mendapatkan perlakuan manis sang suami namun tetap menurut.
"selesai, sekarang aku mandi dulu yah, kamu bersiap-siaplah, kita akan berangkat pagi ini ke maldives untuk berbulan madu, aku harap honey month kita tidak terlambat", sambil memberikan kecupan pada pipi kiri sang istri.
dian yang hanya terdiam di tempat nya memandang punggung sang suami memasuki kamar mandi, ada getaran yang berbeda di dalam dada nya. entahlah pokok nya tidak seperti biasa nya.
dian lalu kembali menatap wajah nya di depan cermin sambil tersenyum malu dan bergegas menuju ruangan ganti untuk menggantikan pakaian.
di ruangan lain terdapat ivan yang masih mengelus kening nya sambil melirik jam di pergelangan tangan nya.
"lama banget sih,kenapa gak cepeetanturun nya, apa semua pasangan suami istri yang telah menikah akan lupa waktu? bukan kah hari ini mereka pergi ke maldives? apa mereka lupa?", gerutu ivan
tak berselang lama, dian pun turun bersama dengan alvin, kedua nya terlihat sangat cocok satu dan lain nya, membuat orang yang melihat pun sangat iri dengan pasangan muda itu.
ivan yang telah menyadari keberadaan alvin dan dian juga terpanah melihat keanggunan istri sang bos tak bekedip sedikitpun.
"aku congkel mata mu", suara avin berat melihat ivan yang terus menatap dian. .
"apakah kalian jadi berangkat? kenapa lama sekali? gua dah sampai rontok nungguin kalian turun tapi gak turun-turun. " omel ivan sambil mencibirkan bibir nya pada alvin namun tidak pada dian.
ia memperlakukan dian dengan baik, sebab ia memutuskan untuk memanggil dian dengan sebutan kakak ipar.
alvin tak memperdulikan ocehan yang di lontarkan ivan, bagi nya ivan hanya sebagai pengganggu dan perusak mod nya setiap hari.
ketiga nya pun menuju ke ruangan makan keluarga pak albert untuk sekedar sarapan bersama di pagi hari.
"morning ma, pa,.", jawab dian sambil menarik kursi untuk di duduki nya.
dian mengambil beberapa potongan roti dan di olesi selai anggur untuk sang suami, dan diri nya.
semua orang terlihat sangat asik dengan makanan nya di pagi itu,.
tiba-tiba ponsel dian bergetar tanda ada panggilan masuk dari sang sahabat baik nya bernama winda.
"maaf saya menerima panggilan sebentar", kata dian pada semua yang ada di meja makan.
"silahkan nak", jawab bu sinta dan pak albert,. sedangkan alvin hanya menganggukan kepala nya.
"hallo selamat pagi win, apa apa? kog tumben pagi-pagi udah nelfon?", sapa dian lalu bertanya kepada winda.
"oh yah, aku dengerin kalian mau ke maldives untuk honey month, apa benar begitu an?", winda langsung bertanya tanpa menhawab sapaan dari dian
"ehem, ia kenapa? mau ikut?tapi kamu harus punya pasangan kalau mau pergi. heheh", jawab dian dan menekan pada kata pasangan
"hahaha boleh, aku sudah membelikan tiket nya, dan yang memesan nya juga adalah asisten ivan, jadi aku akan berpasangan dengan nya. boleh kan?", jawab winda semangat
"what?? ivan?," dian tak berharap ivan yang akan winda sebutkan sebagai pasangan, ia kembali mengulangi nama yang winda sebutkan baru san.
sebenar nya sih gak apa-apa jika itu adalah ivan, toh inti nya kan winda baik-baik saja, bukan kah ivan memang terlihat begitu cocok sebagai pasangan winda di kemudian hari?
"ia ivan!!, aku akan menunggu kalian di bandara pagi ini jam 10.00. okay", tut tut tut, tanda panggilan pun terputus
dian menggelengkan kepala nya tanpa memikirkan apapun lagi lalu kembali me meja makan.
"siapa yang menelfon sayang?", alvin bertanya pada dian sambil mengerutkan kening nya.
"ohh, itu yang, si winda mau ngikutin kita ke maldives. gak apa-apa kan? toh dia juga membawa pasangan nya", jawab dian sambil melirik pada ivan di sebrang meja
"uhuk uhuk uhuk, ehemm", ivan terbatuk
"cepat minun air nya nak", kata bu sinta sambil menyodorkan segelas air mineral pada ivan yang muka nya mulai memerah karena menahan malu dan terbatuk mendengar apa yang dikatakan dian barusan.
"thanks mom", jawab ivan setelah air yang di gelas tetandas habis oleh nya.
"pelan-pelan dong sayang, kamu kan tetap pergi ke maldives juga", kata pak albert papa ivan lagi.
"apa? lo pergi juga? napa sih lo mau ngikutin kita?", kata alvin kesal pada ivan.
.
.
.
hay guys tolong fong di vote novel ku ini ... makasiih