
Hati sudah menjelang malam
Amera terlihat masih terbaring di ranjangnya. Ia nerasa bahagia seharian bersama dengan Joy. Meski hanya sebatas menemani dia belajar membuat Kue. Dan saat malam Joy memberi dia pelajaran bahasa asing.
Gara-gara hal itu Amera yang terlalu bahagia, ia sampai terus memikirkannya. Memutar kejadian yang indah bersam orang yang diam-diam sudah lama ia kagumi. Dan meski baru dekat sungguhan dengannya.
Dan Joy masih berdiam diri duduk di atas balkok kamarnya, sambil mengintip kamar Alana yang memang bersebelahan dengannya. Ia terus mengamati Alana dari balik kamarnya.
"Alana di mana," gumam Joy, mengintip semakin dekat.
Alana berdiam diri, duduk di meja belajar, dengan lampu yang tidak terlalu menyala terang.
Ssstttt... Ssssttt.
Desis Joy, memanggil Alana. Membuat Alana yang mendengarnya. Ia menoleh ke arah balkon, kamar Joy. Ia melohat Joy yang sudha berdiri di balkon menagao ke arahnya.
Alana beranjak berdiri, berjalan keluar menuju balkon. "Apa kak?" tanya Alana, berjalan mendekati Joy. Di pinggiran Balkon penghubung kamarnya.
"Mana tangan kamu?" ucap Joy.
"Buat apa?" tanya Alana bingung.
"Udah, mana tangannya" ucap Joy memaksa.
Alana segera mengulurkan tanganya, sesuai apa yang pinta Joy padanya.
"Nih!!" ucap Alana.
Joy hanya diam menarik tangan Alana, menggambar bentuk love di jari manis Alana. Membuat gadis kecil, lugu di depannya itu mengerutkan keningnya bingung.
"Ini aoa kak?" ganya Alana, hellran dengan apa yang di lakukan Joy di tangannya.
"Ini jadi lambang cinta. Saat kamu besar nanti. dan tumbuh jadi gadis dewasa yang mandiri. Kamu bisa tahu apa maksudnya.
"Hemm.. Baiklah. Sekarang udah malam, kak joy gak tidur?" tanya Alana.
"Gak mau, kalau kamu belum tidur aku gak mau tidur" ucap Joy, tersenyum tipis. Mengusap lembut pipi Alana manja.
"Kak, Joy. Tadi pasti capek seharian bersama dengan Amera. " ucap Alana.
Koy tersenyum melihat ekspresi wajah Alana, yang terlihat cemburu dengannya.
"Kamu cemburu ya?" tanya Joy menggoda.
"Siapa yang cemburu. Hanya bilang saja!! udah deh kak, ku gak mungkin cemburu. Kakak itu kaka Aku. Kakak tersayang aku" ucap Alana.
"Kalau kakak emang paling kamu syang. Harusnya Alana nurut apa yang kakak minta" ucap Joy.
"Emang kak Joy mau minta apa?" tanya Alana, bingung.
"Kakak, minta Alana syang dengan kakak lebih dari sekedar kakak" ucap Joy, memegang ke dua tangan Alana.
Alana dengan sigap, menarik tangannya kembali. "Kak, Joy maaf. Kalau itu Alana belom bisa" ucap Alana, menundukkan kepalanya.
"Kenapa, karena kita kakak adik. tapi jika kita bukan adik kandung apa kamu mau menikah dengan aku nantinya" ucap Joy terus terang, membuat Alana terdiam seketika, ia terkejut dengan apa yang di katakan Joy padanya.
Tapi pada akhirnya kita tidak adik kandung tapi sedarah kak. Gumam Alana dalam hatinya.
"Kenapa, kamu diam Alana?" tanya Joy.
"Maaf, kak Lebih baik sekarang tidur. Lagian aku juga ngantuk. Kalau kak Joy mau tetap di sini gak apa-apa." ucap Alana, ia mencoba menghindar dari Joy. Karana ia gak mau menjawab pertanyaan yang sulit untuk ia jawab.
"Baiklah, kalau kamu mau tidur, Selamat tidur." ucap Joy, memegang tangan Alana, mengecupnya mesra.
"Udah sekarang tidurlah" Joy, mengusap lembut ujung kepala Alana. Membuat ke dua pipa Alana memerah seketika.
"Iya kak!!" ucap Alana, bergegas pergi menjauhi Joy. Ia segera membaringkan tubuhnya di ranjang em₩uk miliknya.
Dan Joy, ia masih tetap berdiri di balkon, menatap langit di atasnya. "Alana!!" panggil Joy.
"Lihatlah, ada bulan dan bintang. Mereka akan jadi saksi janji aku. Jika kita bukan saudara kandung. Maka aku akan menikahi kamu saat dewasa nanti. Saat aku menjadi orang yang sukses." ucap Joy, tersenyum tipis.
Alana hanya diam, duduk di ranjangnya, menatap ke arah Joy. Dan membalasnya sebuah senyuman dan berbaring lagi.
Joy, beranjak pergi. Ia sudah dapat jawaban dari senyuman Alana, itu membuktikan jika dia mau. Joy langsung masuk ke dalam kamarnya dan mulai mrmejamkan matanya, memulai mimpi indah bersama dengan Alana.
-----
Keesokan harinya...
Alana bangun kesiangan lagi, ia terlihat terburu-buru menyiapkan semua bajunya.
"Alana, kamu sudah bangun sekarang?" tanya Joy, semenjak kejadian kemarin Joy, kembali lagi selalu membangunkan Alana. Dan selalu mengingatkan Alana jika menunjukan jam sudah siang dan hampir telat .
"Iya, kak. Bentar masih siap-siap" gumam Alana, yang masih menyiapkan buku yang akan ia bawa. Ia menatap ke depan kaca sekilas, melihat baju dan rambutnya, apa sudah rapi apa belum. Wajah Alana sekarang semakin beda, ia terlihat lebih cantik, dengan senyum yang selalu terpancar di wajahnya
Joy bersnadar di balik pintu kamar Alana, yang dari tadi tidak kunjung di buka olehnya. Membuat Pria itu merasa bosan terus menunggu Alana.
"Aku masuk boleh?" tanya Joy.
Alana sekarang mulai berubah, ia tidak mau lagi bermusuhan dengan keluarganya. Dan hubungannya dengan Joy juga sudah mulai baikan, meski mereka masih tetap tidak saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa sadar jika perasaan itu membuatnya saling menyakiti. Tapi kini mereka mulai Paham dengan perasaannya.
Joy, perlahan masuk ke dalam kamar Alana, ia membantu Alana, memberekan buku-bukunya yang berserakan di meja. "Kak Joy, apa kak Cia sudah menunggu di mobil" tanya Alana.
"Cia, sudah di mobil. Sekarang ayo kita berangkat" ucap Joy, dengan tangan tak sengaja memegang tangan Alana, yang mau mengambil bukunya. Ke dua mata mereka saling tertuju.
Kak, apa kamu tahu apa yang aku rasakan. Seakan aku memang ke makan omongan aku sendiri. Jika aku tidak mungkin menyukai kak Joy. Tapi sekarang kenyataannya berbeda. Aku benar-benar menyukai kakak. Kakaklah yang membuat aku jauh cinta seperti ini, entah kenapa aku sering menolak perasaan ini tapi, perasaan ini semakin besar. Apalagi saat kamu tidak perhatikanku, seakan ada yang hilang dariku. Pikir Alana, yang masih tetap menatap mata Joy di depannya.
Alana, aku tidak bisa menjauh dari kamu Alana, aku gak bisa. Aku merasa kehilangan kamu saat aku menjauhi kamu. Aku sayang dengan kamu Alana, dan aku akan selalu menjaga kamu sampai kapan-pun. Itu janji aku untukmu. Gumam Joy. Yang masih sama memandang mata indah Alana di depannya.
"Eh... Alana, lebih baik kita sekarang berangkat" ucap Joy, mengakiri pandangannya.
"Iya kak, Joy" ucap Alana, tersenyum tipis.
Alana, bergegas keluar dari kamarnya. Dan Joy mengikuti mereka dari belakang. Ia terus tersenyum tipis. Memikirkan kejadian tadi malam yang membuatnya tidak bisa tidur.
Dan, Alana, yang jalan di depan Joy. Juga tersenyum, memutar memori kenanagan kemarin malam. Hari yang indah buat mereka berdua. Namun, dengan perasaan yang masih sama cinta tapi tidak bisa bersatu.
Alana masuk ke dalam mobil, yang pintu sudah terbuka lebih dulu. di bukakan khusus oleh Joy.
Alana menatap ke arah Joy, yang menyambutnya dengan senyum tipis. Ia segera masuk ke dalam mobil, dan langsung di ikuti dengan Joy.
Cia yang duduk di depan, menatap mereka dari balik Spion, yang terlihat malu-malu, dan tangan saling berpegangan.
"Apa mereka sudah gila? Aku gak tahu kalau mereka akan melakukan hubungan terlarang ini. Apa yang harus aku lakukan, aku gak bisa memisahkan mereka. Sudah berbagai cara, tapi masih saja tidak bisa merubah perasaan mereka." gumam Cia dalam hatinya.
Joy dan Cia duduk di belakang, saling bercanda satu sama lain. Tanpa perdulikan Cia, yang memang selalu curiga dengan mereka.
"Ehem... " Cia, berdahem memecah candaan mereka.
"Alana, kamu tadi tidak di jemput Miko?" tanya Cia.
"Enggak kak, katanya Miko juga kesiangan tadi. Jadi langsung berangkat ke sekolahan." jawab Alana lembut.
"La, emangnya kalian sudah jadian, ya. Kenapa gak bilang-bilang. Kalau kalain itu sudah jadian" gumam Cia, dengan nada sedikit bercanda.
Joy, yang mendengar nama Miko, membuat ia merasa gerah. Ia terdiam seketika, mengerutkan bibirnya kesal.
"Gak kok kak, aku hanya teman, sama dia" gumam Alana.
"Teman, tapi nanti bisa jadi cinta. Apalagi kamu selalu bersama dengannya sekarang, cinta itu berawal dari kebiasaan, Alana." ucao Cia, semakin menbuat hati Joy terasa di siram air panas, hingga mendidih sampai ke otaknya. Cia seakan memang sengaja membuat Joy terpancing, agat ia tahu jika Joy benar suka dengan Alana. Ia ingin membuktikan dan melihat lebih jelas lagi, hubungan mereka berdua.
"Gak mungkin kak, aku gak ada perasaan sama sekali." ucap Alana tegas.
Cia, menganggukkan kepalanya pelan, seakan paham dengan apa yang di katakan Alana. "Baiklah!!" ucap Cia, melirik ke arah Joy, yang hanya diam menundukkan kepalanya. Dengan wajah kesal, dan raut wajah yang semula ceria terlihat penuh dengan aura emosi dalam tubuhnya.
Lima belas menit perjalana, mereka sampai di depan gerbang sekolahan. "Alana, kamu di cari Miko tu" ucap Cia, menoleh ke belakang, dengan pandangan mata ke arah Miko, ia menunjuk Miko agak Alana melihatnya.
"Kenapa.miko menungguku?" tanya Alana, dalam hayinya.
Ia bergegas turun, lebih dulu. Meninggalkan Joy dan Cia yang amsih di dalam mobilnya.
Cia memandang ke arah Joy, yang diam, bergegas turun dari mobil, menggendong tas rangselnya di punggung, keluar dari mobilnya. Tanpa seuntai kata keluar dari mulutnya.
"Sepertinya Joy, Cemburu dengannya" gumam Cia.
----
Kak Miko, Ada apa?" tanya Alana berjalan menghampiri Miko.
Miko memegang ke dua bahu Cia. Dengan badan sedikit membungkuk berbicara dengan Alana, yang memang lebih penndek darinya.
"Aku nunggu kamu, aku kira tadi kamu gak berangkat sama Cia. Kalau kamu belum berangkat aku mau jemput kamu, telat bagi aku gak masalah. Asalkan kamu gak berangkat sendiri." ucap Miko.
"Udah, sekarang ayo masuk kak" ucap Alana.
Joy hanya diam, melihat mereka dari jauh. Ia tidak bernai marah dengan Miko. Semenjak kejadian kemarin. Saat ia memukul Miko, banyak yang mengira jika dia suka adiknya sendiri. Jadi sekarang ia hanya bisa diam, melihat mereka dari jauh. Joy tidak mau membuat Alana malu nantinya, karena ucapan anak-anak sekolah tentangnya dan dirinya.
Joy, berjalan lebih dulu. Melintasi Alana dan Miko tanpa menoleh ke arah Mereka. "Kak Joy!!" oanggil Alana, mencoba mengejar Joy yang tiba-tiba berjalan semakin cepat.
"Alana!!" Miko, memegang pergelangan tangan Alana, mencegahnya pergi.
"Biarkan saja Joy, bisa jalan sendiri. Sekarang aku antar kamu masuk ke kelas kamu ya." ucap Miko, memegang bahu Alana dari bekakang, mendorongnya pelan menuju ke kelasnya.
"Tapi, Kak Miko, aku mau bicara sama kak Joy dulu" ucap Alana
"Sudah, nanti saja bicaranya ya. Sekarang sudah mu di mulai jam perlajaran pertama" ucap Miko, yang sudah sampai mengantarkan Alana tepat di depan pintu kelasnya.
"Ya, sudah nanti bilang sama kak Joy ya, kalau aku mau bicara dengan dia, jam istirahat." ucap Alana.
"Baik deh" ucap Miko, mencoba tersenyum. Meski ia merasa aneh dengan Alanandan Joy.
Ahh.. lupain saja, gak mungkin jika mereka pacaran. Mereka adik kakak, dan itu gak akan mungkin bisa bersatu sampai kapanpun. Dan Alana hanya milikku, dan aku gak akan menyerah untuk mendapatkan cinta tulus Alana.. Aku akan terus berjuang demi cintamu Alana. Pikir Miko.
Ia menatap kelas Alana dari kejauhan, melihat Alana yang sudah mulai duduk dan mengeluarkan bukunya.