
"Siapa yang ngambek, cuma aku kesal sama kamu?" Gumam Keyla. Wajahnya masih cemberut tak mau sedikitpun menatap Alvin.
"Ya, udah dong kamu udah tua gini masih saja ngambek-ngambekan seperti anak kecil, kamu pasti bingung soal Alana kan?. Sudahlah aku akan pulang kembali minggu depan. Soalnya minggu ini aku ada rapat dengan Client dan berharap semoga kerja sama ini deal. Karena ini adalah saran dari Alana" gumam Alvin.
Keyla terdiam, ia mulai menatap Alana. "Apa maksud kamu?" Tanya Keyla bingung, "Apa Alana benar-benar bantu kamu mengangani perusahaan" ucap Keyla tak menyangka. Ia sebenarnya sangat senang anaknya yang satu itu benar-benar perfeck. Gimana gak dia sudah cantik pintar, pendiam, baik hati juga. Dan bisa dalam berbagai hal yang tak mungkin bisa di nalar oleh anak seusianya.
----00---
Di sisi lain Miko terus merawat Alana yang masih terbaring di rumah sakit, siang malam ia berdiam diri di rumah sakit. Tanpa makan sama sekali. Ia hanya minum satu botol minuman yang ia beli dari kantin rumah sakit untuk menghilangkan rasa laparnya. Dan ia bahkan tak henti memegang tangannya. Dan berharap jika Alana akan cepat sembuh. Orang tuanya saja tak memberi tahunya Alana sakit apa. Dia hanya bisa berharap dia tidak sakit yang serius. Dan secepatnya bisa sekolah kembali.
Masih banyak yang ingin ia lakukan dengan Alana. Namun sepertinya tak mungkin bisa lagi nantinya. Aplagi joy benar-benar sangat marah dengannya. Bahkan mungkin karena dia, Alana capek dan sampai masuk ke rumah sakit. Kalau seandainya aku tidak membawanya pergi kemarin, pasti tidak akan seperti ini, gumam Miko.
Alana perlahan mulai membuka matanya, ia melihat Miko terus memegang tangannya, bahkan ia merasa butiran air mata keluar dari mata Miko menetes tepat di tangannya. Yang membuat ia tersadar dari tidurnya.
Alana terdiam, ia terharu baru kali ini ada lelaki yang sangat perhatian dengannya, bahkan dia benar-benar sangat mencintanya. Dia juga baru melihat lelaki meneteskan air matanya untuknya. Sepertinya dia tulus padaku, gumam Alana.
"Kak Mik" panggil alana yang masih terasa sangat lemas. Tak sanggup untuk beranjak duduk.
"Eh.. Alana, iya kamu sudah bangun"ucap Miko, mengusap lembut pipi Alana.
"Sudah kak!!" Ucap Alana.
"Jangan bergerak terlalu sering, ku bantu kamu ya untuk duduk"ucap Miko. Meulai membantu Alana untuk duduk bersandar di ranjang pasien.
Di balik pintu Joy menatap Alana, sepertinya mereka benar-benar saling mencintai. Jika memang itu yang membuat Alana senang aku terima, dan aku tak akan mengganggi hubungan mereka lagi, gumam Joy.
Meski penuh penyesalan tapi bagaimanapun dia adalah adiknya, tak boleh ikut campur masalah cinta adiknya. Karena itu masalah hati dan tak bisa di paksakan lagi.
Tetesan air mata tak terasa mulai menetes, melihat semuanya. Meski berat dalam hati ia berjuang untuk tetap tegar. Apalagi ia akan kehilangan perhatian adik kesayangannya.
Alana menyipitkan matanya, ia melihat sekilas Joy di luar pintu menatap ke arahnya. "Kak Joy!!"panggil Alana.
Joy sontak langsung pergi begitu saja tanpa perdulikan Alana.
Maaf Na mungkin aku harus jauh dulu, aku gak mau semuanya salah paham, kamu adikku bukan seseorang yang aku cintai, wajah jika aku sangat menjagamu, apalagi kamu tidak pernah namanya jatuh cinta. Aku takut suatu saat kamu tersakiti karena cinta, gumam Joy. Yang mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah sakit.
"Joy!!" Sapa Cia yang baru saja mau masuk ke rumah sakit bersama neneknya.
Joy tersentak ia mulai tersadar dari lamunannya. "Cia kamu gak sekolah?" Tanya Joy.
"He..he.. enggak lagian kan kalian semua gak sekolah, gak enak tahu. Gak asyik gak ada kalian setiap berangkat sekolah dan pulang sekolah selalu sendiri" gumam Cia.
Joy mencoba tersenyum di hadapan Cia. "Kamu tu, bilang saja kalau males sekolah"gumam Joy.
"He..he. Dua-duanya, oya kenapa kamu balik lagi. Udah masuk ke kamar Alana, bukannya dari kemarin kamu gak pulang pasti jaga Alana ya. Gimana kabar dia?. Gak ada hal serius kan?"cerocos Cia tak hentinya terus bertanya.
"Ya, kamu tu ya benar-benar deh selalu malas kalau sekolah. Dia baik-baik saja kok. Sekarang Alana lagi istirahat" Ucap Joy. "Aku pergi dulu ya, kamu ke dalam duluan aja. Soalnya lupa nih belum mandi aku dari kemarin"lanjutnya.
"Ih jorok. Ah.. cepat mandi sana"perintah Cia sembari menutup hidungnya.
"Iya, iya bawel" gumam Joy.
"Joy kamu gak lagi menyembunyikan sesuatu kan?" Tanya neneknya, yang mulai curiga dengan mata Joy yang terlihat memerah.
"Gak nek, memangnya menyembunyikan sesuatu apa?" Tanya Joy penasaran.
Cia yang dari tadi berdiri di samping neneknya, menatap bingung dengan pembicaraan mereka. Cia yang dekat dengan Joy saja tidak tahu jika Joy menyembunyikan sesuatu. Ya mungkin aku saja yang gak terlalu paham dengan Joy, gumam Cia.
"Udah lah nek, mungkin itu hanya pikiran nenek saja"ucap Joy mengelak.
Kenapa nenek tahu jika dia punya pikiran, kalau gini akan aku gak bisa bohong sama nenek, jika ada masalah yang menganggu pikiranku, gumam Joy.
"Kak Joy memang ada masalah apa??" Sambung Cia.
"Apaan sih Cia, kamu tuh ya ikut-ikut aja. Udah sekarang kalian ke dalam jenguk Alana. Aku mau mandi dulu" elak Joy lagi.
Joy melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Cia dan neneknya. Meski merka masih menatap kemana arah joy akan melangkah pergi. Joy tak perdulikan itu.
"Udah nek ayok masuk" ajak cia pada neneknya.
"Baiklah!!" Ucap neneknya.
Mereka beranjak masuk ke dalam rumah sakit. Menuju kamar di mana Alana di rawat. Cia terhenti seketika saat membuka seperempat pintunya. Hingga terlihat punggung Miko di sana. "MIKO!!" Ucap Cia terkejut.
Ternyata Miko gak masuk sekolah lagi sekarang, dan ternyata itu semua karena Alana. Dia rela jaga Alana dari kamarin dan rela gak masuk sekolah lagi, gumam Cia.
"Ada apa, ayo masuk"ajak Neneknya.
Cia tersenyum tipis. "Nenek masuk duluan saja" gumam Cia.
"Kenapa udah ayo kita masuk?" Neneknya mulai menarik tangan Cia masuk ke dalam.
Ia hanya bisa menunduk tanpa menatap ke arah Miko. Terasa ia sangat gugup harus bertrmu dengan Miko, semenjak kajadiam kemarin. Ia merasa malu kali ini bertemu dengannya.
"Cia!!, kamu gak sekolah juga?" Tanya Miko.
Cia menoleh seketika ke arah Miko. Ia kaget ternyata Miko masih menganggapnya biasa. Cara bicaranya juga ramah padanya. "Gak!! jawab Cia singkat.
"Oya kemarin ada tugas apa saja, nanti kamu mau gak pinjamin catatan buwat aku"ucap Miko.
"Pagi...ini sarapannya dan jangan lipa obatnya di minum ya "ucap salah satu suster yang masuk menyapa mereka dengan membawa kotak makanan.
"Iya sus makasih ya" jawab Cia penuh keramahan.
"Alana ayo makan, biar aku yang suapin kamu mau gak?" Tanya Miko. Memegang kitak maaknan dan berniat untuk menyuapinya.
Alana hanya diam, ia sekilas menatap ke arah kakaknya Cia yang dari tadi mukanya di tekuk. Meskipun tidak terlalu dekat dengan Cia. Tapi ia paham apa isi hati kakaknya itu.
Alana tersenyum menatap Miko, "Gak usah biar aku saja yang makan sendiri"gumam Alana. Meraih kotak makanan dari tangan Miko.
"Udahlah biar aku yang suapin, pokoknya gak boleh nolak. Lihat tubuhmu masih gemetar gitu jadi aku yang suapin ya" ucap Miko, menarik kembali kotak makannya.
"Gak usah, biar nenek saja yang suapin aku"jawab Alana meraih kembali kotak makannya. Ia memberika pada neneknya.
Miko hanya diam, mengela naoasnya sejenak. Ia tidak marah dengan Alana. Yang penting bagi dia Alana cepat makan dan jangan sampai telat makan nantinya.
"Nek suapin aku ya?"gumam alana pada neneknya. Dan beru kali ini alana mau di suapin neneknya. Bahkan ia tak pernah semanja ini sebelumnya pada siapapun.
Alana tersenyum tipi menatap Cia. Kak aku tahu kamu suka dengan Miko, dari awal aku sudah tahu. Cuma kaka gak berani mengungkapkannya. Mungkin nanti aku akan memberi tahunya kak, aku tak mau kamu tersakiti gara-gara aku, gumam Alana.