My First Love

My First Love
Ramalan



Alana tersenyum, melemparkan tubuhnya di atas ranjang, laku membaringkan tubuhnya dengan ke dua tangan merentang, memenuhi ranjangnya dan pandangan matanya mengarah ke atap langit, semula sempat bahas Joy yang membuat hatinya teringat lagi sakit hati yang ia rasakan. Tapi saat melihat mamanya bahagia dengan papanua, ia merasakan bahagia juga, bisa melihat orang yang di sayangi bahagia, hatinya juga imut merasakan bahagia melihat mereka.


"Oua, aku lupa dari kemarin tidak membuka ponsel sama sekali, aku coba lihat dulu!!" ucap Alana, memiringkan tubuhnya ke kiriN mencoba meriah ponselnya yang tepat di meja kecil samping ranjangnya, ia beranjak berbaring kembali di ranjangnya, dengan ke dua tangan terangkat ke atas, menyalakan ponselnya.


Sudah hampir dua puluh panggilan tak terjawab, dan lima puluh pesan dari Joy dan Miko, serta nomor baru yang tiba-tiba menfhubunginya.


Drttt...Drttt...


Ponselnya bergetar, Alana mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak ai kenal. "Siapa ini?" gumam Alana dalam hatinya. Yang langsung mencoba mengangkat telepon dari nomor itu.


"Siapa?" tanya Alana.


"Lupa dengan aku?" suara berat seorang laki-laki yang sangat familiar di telinga Alana.


"Gak taji, tapi jika kamu tidak mau jujur padaku kamu siapa. Mau akan memastikan telepon dari kamu," ancam Alana.


"Baik, bawel!!" ucap laki-laki itu, dari seberang sana "Aku David,"


"Kenapa.kamu bisa tahu nomor aku, apa kamu diam-diam buka ponsel aku?"


"Maaf, aku tak sengaja melihat semua pesan kamu, pacar kamu dari kemarin menghubungi kamu, jadi aku coba lihat pesannya, katanya dia ingin bertemu dengan kamu, sebelum mulai kuliah nanti." ucap Davis.


"Jangan lancang buka ponsel aku sembarangan!!" decak kesal Alana.


"Kenapa? Lagian hanya sekalu, tidak boleh!!"


"Enggak!!"


"Kalau begitu aku minta maaf padamu,"


"Kalau aku gak mau maafin kamu,"


"Aku akan cium kamu!!"


"DAVID!!" teriak Alana semakin geram di buatnya. David membuatnya semakin darah tinggi, ia selaku menggodanya tak hentinya, terus membuat dia marah-marah.


"Alana!! Aku boleh ke rumah kamu?" tanya David, memecahkan keheningan di balik telepon itu.


"Mau ngapain?" tanya Alana


"Bukanya kamu belum selesai belajar berenang. Jadi aku akan ajarkan kamu lagi. Tapi nanti di kolam renang tempat aku berlatih untuk ikut atlet renang. Dan kalau di rumah aku pasti kamu tidak mau, karena ada Joy dan kawab-kawan."


"Kamu sudah tahu gitu," jawab Alan jutek.


"Gimana kamu mau enggak?" tanya David.


"Tapi.. Kau hanya punya waktu beberapa hari tidak bisa belajar lama;"


"Gak masalah, aku akan buat kamu dalam dua hari bisa teknik berenang," lanjutnya.


"Emm.. oke baiklah... Tapi kamu jemput aku, dan aku akan kirimkan pesan nanti, dan ingat jangan bilang pada Joy dan yang lain jika mereka tanya.".


"Tenang saja!!"


"Udah dulu, ya. Aku juga mau menghubungi pacar aku dulu. Sudah hampir satu minggu tidak ada kabar sama sekali."


"Iya baik. Semoga kamu berhasil!!" ucap David yang langsung menutup teleponnya.


Alana tanoa banyak menggerutu gak jelas ia membuka pesan dari Miko. Dan membacanya satu-persatu sebelum dia menghubunginya nanti.


"Alana kamu di mana? Maafkan aku, aku salah, aku mau kita seperti dulu lagi!!" pesan Miko, dan Alana langsung menghubungi Miko, tapi bukanya Miko, dia malah salah pencet menghubungi nomor Joy tanpa ia sadari.


"Ada, apa syang!!" ucap Joy seketika membuat Alana terdiam, ia mengingat kembali jika itu bukan suara miko. Alana menjauhkan ponselnya, melihat nama yang tertara di ponselnya 'Joy'. "Kenapa aku menghubunginya, kenapa aku bisa salah pencet?" gumam Alana, berdecak kesal pada dirinya sendiri


"Kenapa kamu diam?" teriak Joy membuat alana seketika menjauhkan telinganya dari ponselnya.


"Apa kamu gak bisa bicara perlahan?" balas Alana berteriak keras di ponselnya.


"Kalau kamu ucap keras, aku juga akan keras juga bicaranya" ucap Joy tak mau kalah.


"Lagian yang mulai duluan kamu, kak Joy. yang nyebelin." balas Alana juga tak mau kalah.


"Apa yang kamu katakan, kamu dari kemarin aku hubungi gak bisa, sekarang kamu pasti sudah kangen dengan aku makanya kamu mebfhubhngiku, kan. Bilang saja kalau kamu tidak mau pergi, kamu di aman sekarang.. Aku akan jemput kamu sekarang?"


"Kamu bicara apa kurang jelas!!" ucap Alana mencoba berpura-pura gak jelas ucapan Joy.


"Jangan beralasan, Alana. Kamu di mana sekarang,"


"Memangnya ada apa?"


"Aku mau bertemu dengan kamu,"


"Aku gak mau bertemu dengan kamu!!"


"Terus kenapa kamu telepon aku!!"


"Aku salah pencet!!" jawab alana menaikan satu oktaf ucapannya.


"Ya, sudah." ucap Joy yang langsung mematikan panggilan telepon Alana. Tanpa ada kata perpisahan darinya untuk Alana.


"Dasar kak Joy nyebelin!! Di matiin gitu saja!! Tapi.. Betar! Kenapa juga aku marah, masih mendorong di matiin ponselnya, biar dia gak telepon aku tetus-terusan


" Eh.. Bukan maksud aku, yang telepon dia, tapi gak sengaja. Dan itu hanya kebetulan, mungkin gara-gara otak kau terbayang wajah Joy dari kemarin" gumam Alana terus menggerutu gak jelas.


"Alana, apa kamu masih sibuk?" tanya Silvia mengetuk pintu kamar Alana.


"Ada apa, ma?" tanya Alana.


"Aku akan pergi keluar sebentar, apa kamu amu ikut?" tanya Silvia.


"Enggak ma!! Aku di rumah saja. Nanti kalau Alana mau keluar, mama akan aku beri tahu" jawab Alana.


"Mama lebih baik berduaan dengan papa Alvin, jangan macam-macam, ya. Dan semakin romantis saja. Sekalian cari gaun pengantin lagi!!" ucap Alana menggoda.


"Apaan sih, Alana. Kamu ini, aku gak mau kalau kamu berpikir macam-macam ya. Aku gak akan melakukan hal bodoh lagi. Karena secepatnya aku mau menikah secwpatnya, agar tidak melakukan hal berdosa itu lagi," ucap Silvia, melangkahkan kakinya pergi menjauh dari kamar Alana.


Dan Silvia yang sudah berjalan menjauh dari kamarnya mendengar teriakan Alana tersenyum tipis, memandang ke arah Alvin yang sudah siap dengan baju keren yang ia pakai, dan harus parfum-nya menyeruak, masuk ke dalam penciumannya, parfum-nya membuat hatinya merasa leleh, lengket seketika.


"Apa kata Alana?" tanya Alvin.


"Dia gak mau ikut, katanya nanti kalau dia mau keluar. Katanya dia akan kirim pesan."


"Baiklah! Kalau begitu kita keluar berdua saja. Aku tidak mau kalah dengan anak muda jaman sekarang." ucap Alvin, mengulurkan tangan kanannya ke arah Silvia, dan langsung di sambut tangan kanan Silvia dengan senyum tipis, malu-malu darinya. Tanpa banyak bertanya lagi Silvia beranjak keluar dari rumahnya, menuju ke mobil yang dua terparkir di depan rumahnya.


"Silahkan naik," ucap Alvin.


"Baik, tuan!!" ucap Silvia. Tersenyum tipis, memandang wajah tampan Alvin di sampingnya, dengan senyum ramahnya.


-------


Pov Amera.


"Amera!!" panggil Joy, berjalan mendekati amera yang duduk sendiri di teras rumahnya, menikmati secangkir kopi hangat, menatap matahari terbenam.


"Ada apa?" tanya Amera datar.


"Tumben kamu cuek pada suami kamu?"


"Aku lagi berpikir, apa aku bisa beneran menikah dengan kamu?"


Joy mengerutkan keningnya, entah kenapa, kerusakan setap apa amera tiba-yiba berubah, dan dia mulai meragukan cinta Joy padanya. Padahal memang sebenarnya Joy tidak suka sama sekali dengannya, rasa sukanya hanya sebatas teman gak lrbih, dan cinta pertamanya hanya satu yaitu saudaranya sendiri.


Bagi joy meski banyak yang menentang cintanya, ia tidak perduli. Tapi untuk saat ini, dan demi meluruskan dendamnya, ia harus mengikuti sandiri wara bertunangan dengan Amera, kalau menikah atau tidak dengannya aku juga tidak tahu tentang itu semuanya. Biarkan takdir hanya akan menjawabnya. San aku tinggal menjalani saja, gimana takdir aku berputar.


"Apa kamu meragukan cinta aku?" tanya Joy, duduk di samping Amera menatap wajahnya ymyangbterlihat sangat datar, meraih satu cangkir putih di depannya itu meneguknya perlahan, lalu meletakkannya kembali.


"Kamu ada hubungan apa dengan Alana?"


Joy mengerutkan dahinya. "Maksud kamu apa? Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku hanya ingin berteman saja dengannya,"


"Berteman? kenapa sangat dekat seperti itu. aku tidak suka jika kamu terus berteman dengannya. Apa kamu gak tahu aku cemburu,"


Joy tersenyum, memandang Amera. "Kamu cemburu dengannya aku hanya ingin bilang jika aku hanya akan melakukan balas dendam dengannya. dan aku tidak akan jatuh cinta lagi dengannya. jadi kamu jangan khawatir soal itu. Aku hanya sayang dengan kamu, dan kita akan segera bertunangan, kan!" ucap Joy membuat Amera menatap ke arahnya.


"Apa benar yang kamu katakan?" tanya Amera memastikan.


"Kenapa juga aku berbohong padamu, gak ada gunanya," ucap Joy, meraih cangkir Amera, meneguk kopi itu.


"Itu kopi aku Joy!!" umpat Amera kesal.


"Memangnya gak boleh jika aku satu gelas berdua dengan calon tunangan aku!!" Joy mencolek dagu Amera, membuat gadis itu yang tadinya marah-marah, dan jutek gak jelas, dia berubah malu-malu di buatnya.


"Sekarang kamu gak.marah, kan?" tanya Joy memastikan, mendekatkan wajahnya ke arah Amera, dengan kedua tangan menyangga dagunya, dengan senyum tipis, memasang wajah cute face miliknya.


Amera menahan senyumnya, ia menepuk wajah Joy yang membuatnya ingin sekali tertawa. "Joy... Jangan pasang wajah seperti itu, jijik tahu!!" gumam Amera.


"Jijik tapi cinta, kan?" kata Joy membuat gadis itu terbungkam seketika, wajahnya masih malu-malu.


"Nanti malam kita pergi ke cafe?" tanya Amera.


"Emmm.. oleh juga. Memangnya kamu mau ajak aku makan di luar," ucap Joy, mencubit pipi Amera.


"Iya, aku ingin membuatkan sebuah kejutan buat kamu. Dan sebagai bukti jika aku suka sungguhan dengan kamu. Dna berharap kamu bisa melakukannya juga seperti itu."


"Ya, lihat saja nanti. Oya, adik kamu kemana?" tanya Joy yang tiba-tiba teringat tentang david.


"Memangnya kenapa? Gak seperti biasanya kamu tanya sial adik aku!!"


"Karena aku mau tahu ke mana dia pergi. Dan setiap dia pergi kita harus ikuti. Aku gak mau jika dia bisa tertarik dengan Alana."


"Memangnya kenaoa? Apa kamu cemburu, sampai kamu mau mengawasi kemana adik aku pergi, padahal itu bukan urusan kamu. Dia pergi kemana saja dengan siapa saja aku juga tidak terlalu memperdulikan itu." ucap Amera, raut wajahnya mulai terlihat muram, ia selaku di baut kesal oleh Joy.


"Kamu marah lagi. Padahal aku hanya ingin bilang kalau kamu mau saudaraan dengan Amera kamu juga siap jika adik kamu suka dengan Alana. Dan memangnya kamu mau jika aku bertemu dengannya terus nantinya setiap hari,"


Amera menguntupkan bibirnya kesal, ia menggelengkan kepalanya, dengan ke dua tangan bersedekap. "Kalau kamu terus melihatnya lagi. Nanti kamu jatuh cinta lagi padanya. Aku gak mau itu terjadi, lebih baim sekarang kamu cepat pergi cari dia di kamar ada tidak, soalnya dari tadi aku duduk di sini gak ada," jelas Amera.


"Nah, Gitu. Jangan terus menyalahkan aku, dikit-dikit percaya dengan aku. lagian aku tidak mungkin bohong dengan kamu, baby!!" Joy mencubit pipi kanan dan kiri Amera, menarik bibirnya yang masih terlihat manyun.


"Senyum dong!!" ucap Joy.


"Kamu harus janji, jangan suka lagi dengan Alana!!" ucap Amera, mengulurkan jari kelingkingnya, dan langsung di balas, sebagai ikatan janji mereka berdua.


"Oke aku janji, tidak akan suka lagi dengannya!!" ucap Joy tegas.


"Sekarang cepat masuk, kita bicara di dalam. Jangan bicara di keluar!!" ucap Joy, memegang tangan Amera beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. Dan langsung duduk di ruang tamu, seketika langkahnya terhenti, ke dua mata mereka tertuju pada Davud dan Cia yang sibuk main game bersama di ruang keluarga.


"Lihat!! Adik aku lebih dekat dengan Cia, bukan alana."


"Tapi kemarin dia dekat dengan Alana."


"Tapi hanya satu hari saja. Sekarang dia berubah, kan. Dan lama-lama sifat Alana juga banyak laki-laki yang tahu, dan pergi menginggalkannya, wanita murahan seperti dia."


"Jangan bilang jika dia wanita murahan, ia bukan wanita murahan" ucap tegas Joy seketika di balas dengan tatapan tajam oleh Amera.


"Kenapa kamu malah bela dia lagi?" tanya Amera berkacak pinggang menatap tajam ke arah Joy.


"Aku hanya tidak mau jika.kamu menghina orang lain.Lagian derajat kita semua sama tidak ada yang membedakan di antara kita. Jadi jangan meremehkan orang lain, kita belum tentu bisa menjalani gugup seperti mereka." jelas Joy membuat gadis bersamanya tergum-kagum dengannya, yang tak hentinya bahkan setiap hari dia selalu memujanya, tak mau jauh darinya, bahkan dia juga tidak mau pergi ke sekolah dulu, hanya karena sering di hina oleh teman-tekannya, dan ia pertama kali kenal dengan Joy di sebuah pesan, dia yang mengirimi aku pesan, setelah itu dia pergi, meninggalkan Joy tanpa membalas pesannya lagi saat dia sudah tumbuh dewasa, an dulu dia sadar jika dia tidak pantas jika harus bersanding dengan orang yang beanr-benar sangat kaya. Bahkan bisa di bilang jika kamu adalah pangeran kota. Kaku hanya gadis biasa, yang hanya ingin masuk ke istananbe4harap dapat kehidupan baru.


"Apa kamu orang yang pernah menghubungi aku dulu, nama aku Baby!!" ucap Joy yang baru sadar dengan teman lamanya itu.


"Iya, kamu sekarang di mana?" tanya Alana cemburu.


Tanpa banyak bicaranya masuk kamu alam kamarnya, dan kembali lagi ke tempatnya masing-masing, yaitu di kamarnya


"Sampai jumpa nanti, jangan banyak bicara lagi. Aku akan menunggu kamu di rumah. Dna aku ingin semuanya ajah cantik kamu di acara esok, jangan lupa untuk datang. Untuk menghadiri pesta pernikahan kuta. Dan kita juga sudah janjian untuk pergi lari-lari pagi harus, tapi kamu harus bangun sebelum jam sudah menginjak pagi."


"Iya, maaf aku sudha terlalu cemburu dengan kamu. dan selalu bajas Alana dan Alana lagi? aku sayang dengan kamu, tapi aju juga takut kamu kenapa-napa!!" Ucap joy mengusap rambut Amera membuat rambut gadis itu berantakan seketika.