
"Gadis sialan, kenapa dia gak sadar, aku di buang begitu saja. Awas saja kamu,"
David beranjak berdiri, dengan tubuh yang masih sempoyongan, membuka pintunya lagi, dengan tangan memegang pintu depannya. "Kepalaku benar-benar sangat pusing," David memegang kepalamya, berjalan masuk ke dalam rumah,Dan berjalan menuju ke ruang tamu, duduk di dengan tubuh yang sekanan masih lunglai tanpa tulang.
Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa, dengan mata yang masih ingin sekali tidur.
-------
"Shhiitt gara-gara David, semua gara-gara dia. Terus sekarang apa yang harus aku lakukan. Semuanya di bawa, kalau hilang, gimana dengan beasiswanya. Gimana dengan kukiku. Arrgggg" Alana tak berhenti mengumpat kesal. Mengacak-caak rambutnya dan tak hentainya menghantakkan kakinya.
"David!!" Alana terdiam, saat melihat David tidak ada di depan.
"Kemana dia? Tapi aku menjatuhkannya di sini. Tapi apa dia bisa jalan masuk ke rumahnya. Emm.. Kenapa rumahnya kasih terkunci kalau di masuk. Kalau dia hilang teru aku tidur di mana? Masak aku tidur di teras rumahnya," ucap Alana, mencoba menegang ganggang pintu rumah itu.
"Ternyata gak di kunci, lebih baik aku masuk saja." Alana berjalan masuk menuju ke ruang tamu, ia menatap ke sofa ruang tamu, melihat sosok laki-laki yang tidur tengkurap di dengan ke dua tangan menggelantung.
"Dia tertidur di sini, lebih baik aku bantu dia saja ke kamarnya.
"Non siapa? Dan tuan David kenapa?"
"Dia mabuk, bantu aku sekarang, ke kamarnya."
"Baik, Non. Tapi kenapa tuam besar gak ada oulanh?"
"Dia pulang sendiri. Dan sekarang cepatan bantu aku. Ini berat," Alana mencoba memopang tangan Joy, meletakkan ke atas pundaknya, di bantu dengan pelayan berjalan membawa David pergi ke kamarnya.
Ia membaringkan tubuh David ke ranjang, melepas semua sepatunya dan beranjak menuju ke sofa.
"Makasih!! sekarang kamu pergilah,"
"Baik, Non!!"
Alana duduk di sofa, membaringkan tubuhnya yang terasa sangat sakit semua. Ia benar-benar tak bisa menahan rasa ngantuknya sekarang. Matanya sudah tinggal setengan.
"Kenapa aku merasa dingin ya, seperrinya di dalam ada selimut," ucap Alana, berja berjalan menuju ke lemari David mencari selimut di lemarinya.
Sekilas Alana menatap wajah David yang tertidur pulas. "Dia tampan tapi mesum. Tapi kenapa dia bisa menolak menikah dengan kaka Cia. Apa karena pacarnya itu. Tapi sepertinya dia bukan laki-laki baik, aku yakin dia tidak hanya punya satu wanita. punya banyak wanita di sekelilingnya. Benar-benar menjijikkan" gerutu Alana dan hernajak pergi menuju ke sofa. Ia ragu mau tidur di sofa, Alana terus menatap sekelilingnya, kamar yang begitu luas, membuatnya benar-benar sangat cantik, dengan nuansa romantis.
"Tapi kenapa rumahnya ini seperti kamar cewek ya. Apa memang dia mendesain seperti kamar ini." ucap Alana.
"Aku gak suka di atur-atur, aku bisa hidup mandiri, aku gak suka kalian terlalu mengengkangku. aku laki-laki, biarkan aku bebas."
Mendengar celoteh David, alana terdiam, mengerutkan keningnya, menatap ke belakang, dan menatap aneh apda David.
"Dia bicara dengan siapa? Kenapa dia bucara seperti itu? Apa memang di keluarga ini, ia merasa di atur-atur atau di kengkang, pantas saja dia tidak begitu suka dnegan keluarganya? terlihat cuek banget dengan keluarganya." ucap Alana.
"Ahh.. Biarkan saja, lebih baik aku tidur sekarang"
------
"Cia!!" panggil Miko, membuat Cia langsung spontan menoleh cepat, dengan ke dua pandangan mata mereka tertuju.
Dan Miko, mengarkan stick ps Mei, dengan tangannya. Agar dia kalah bermain dengannya.
"Berhasil!!" ucap Miko, kembali menatap ke depan tv.
"Miko!!" teriak Cia kesal, memukul bahu Miko berkali-kali.
"Miko, kamu kalah. Jangan curang deh."
"Siapa yang curang, lihat dulu ke depan. Kita lanjutkan lagi, aku yakin kamu pasti kalah." ucap Miko penuh percaya diri, ia menenggor bahu Cia, membuat gadis itu terpental ke samping.
Cia meneggor balik bahu Miko semakin keras.
"Apa yang kamu lakukan!!"
"Kamu yang mulai duluan!!"
"Awas ya!"
"Lagian kamu curang, aku yakin gak bakalan menang" ucap Cia, dengan ke dua bahu mereka saling mendorong, seakan pertempuran sengit sedang terjadi. Dan ke dua tangan mereka masih fokus menggerakan stick.
"Kalian ngapain malam-malam berisik tahu gak," ucap Joy, yang baru saja pulang, entah dua pergi kemana. Semenjak dia marah dengan Cia tadi, ia pergi dan tanpa sepengetahuan Cia dan keluarganya.
"Lagian salah sendiri belum tidur, kamu dari mana?" tanya Cia oada Joy, yang berjalan kendekatinya.
"Aku cati hiburan di luar.: hawab datar Joy.
"Kenaoa kamu gak bilang tadi, tau sekedar ajak Amera, sia tidur di ramjangku."
"Biarkan saja dia tidur," ucap Joy, dusuk di sofa, melihat Cia dan Miko yang lagi seru-serunya main ps.
"Cia sini!!" ucap joy, meraih stick os Cia.
"Joy, kembalikkan!!"
"Gak mau!!" Joy melanjutak permainan Cia, dengan siku kiri menghalangi Cia agar tidak mendekatinya. dan Cia terus saja mencoba untuk meraih yang jadi milik ya.
"Joy, kembalikan!!" bentak kesal Cia.
"aku gak mau, lagian tadi kamu sudah main. Jadi sekarang kamu lihat aku dan Miko main"
"Nyebelin tahu gak!!" ucap Cia, melipat ke dua tangan di dadanya, dan beranjak duduk di atas sofa, memandang mereka berdua main, dengan bibir menguntup sempai ke depan."
Mereka bertiga bermain sampai larut malam. Bhakn Miko yang semua bernatem dengan Joy, mereka meluoakansejenak perseliaihannya selama ini. dan baru pertama kali dama sejarah Miko dan Joy baikan, dan bermain bersama. Bahkan sampai menjelang pagi. Hingga ketiduran di lantai, Dan Cia ketiduran di atas sofa miliknya.
"Mwreka berdua kenapa tidur di lantai?" gumam Cia, beranjak duduk, Ia mengusap ke dua matanya, dan beranjak berdiri, membantu mereka berdua agar bisa tidur pulaa. Cia mengangkat tubuh Miko, membantunya tidur di sofa.
"Berat banget dia," gerutu Cia, menjatuhkan tubuh Miko, lalu mengambilaknselimutnya, menyelimuti dirinya.
"Jangan pergi!!" gumam Miko.
Tanpa sadar Miko menarik tangan Cia, membuat gadis itu terpental ke tubuhnya, hingga bibir mendarat ke bibir Miko.
Apa yang aku lakukan kenapaa ciuman ini lagi Kenapa kecupan pertama aku jatuh pada Miko. Sduah dua kali tanpa senagaja. Ia melepaskan tangan Miko yang memegang tangannya. Ia menatap ke arah Joy yang masih tertidur.
"Joy... kenapa dia tidur di sini, baru pertama kali dia tidur di lantai." gumam Cia. Ia membangunkan Joy untuk pergi ke kamarnya.
"Joy!! Masuklah ke kamar kamu,"
"Jam berapa?"
"Sudah masuklah. Jangan tidur di lantai," ucap Cia, menarik-narik tangan Joy agar segera beranjak bangun dan pergi dari ruang tamu.
"Jangan menggangguku, ini masih sangat malam, kenapa kamu menyuruhku untuk masuk,"
"Memangnya kamu mau tidur di sini, sudah masuk sendiri ke kamar. Kau mau tidur" ucap Cia, bergegas pergi meninggalkan Joy yang masih malas untuk bangun.
"Joy bernajak pergi menuju kemaenya, dengan rasa kesal yang menyelimuti hatinya.