My First Love

My First Love
Baikan



Kak Joy, kenapa kamu seperti ini. Apa hanya gara-gara rasa sakit hati kamu pada ibu aku, karena papa kamu bersama dengannya. Jujur aku juga kecewa dengan ibu aku, kenapa dia merebut suami mama. Dan aku tidak tahu jika keluarga kalian jadi hancur hanya gara-gara ibu kandung aku... Maafkan aku!!" Alana menggeser tubuhnya, mencoba mendekati Joy, ia mencoba berdiri, meski dnegan tangan dan kaki terikat, Alana yang sudah bisa berdiri, ia melompat mendekati Joy yang masih melamun tanpa sadar jika Alana mendekatinya. Gadis itu duduk di samping Joy, menyandarkan kepalanya di bahunya. Seketika membuat Joy tersadar dari lamunannya.


"Apa yang kanu lakukan?" tanya Joy.


"Empp.. Empps.." Alana mencoba berbicara dengannya, menggelengkan kepalanya, dan terus meneteskan air kaaya, pandangan matanya melirik ke arah telapak tangan kanannya, yang terus mengeluarkan darah segar.


"Jangan lakukan itu lagi, Kak Joy. Aku gak bisa melihat kamu terluka. Kamu boleh sakiti aku, tapi jangan pernah sakiti diri kamu sendiri. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku melihat ini seakan bukan seperti kakak aku yang dulu lagi. Aku tidak bisa Kak, tidak bis membiarkan kamu kenapa-napa" gumam Alana dalam hatinya, memandang wajah kakaknya di depannya.


"Aku syang dengan kamu!!" ucap Joy, menatap wajah Alana, melepaskan kain di mulut Alana.


"Kak Joy!!" ucap Alana, menyandarkan kepalanya di dada bidang Joy, tangisannya menajdi, hingga tetesan air mata jatuh tepat di baju yang Joy berikan.


"Aku gak mau kak Joy melukai diri kanu sendiri. Jangan seperti ini, aku tahu ini sangat berat, masalah yang sangat berat. Tapi semua pasti ada jalan keluarnya. Aku harap kak Joy bisa mengerti, dan kamu juga harus cari tahu kenapa papa, mama kamu bisa cerai, dan sebelum langsung menuduh ibu aku, sebagai orang ke dua dalam rumah tangga mereka." ucap Alana mengungkapkan isi hatinya.


"Aku syang dnegan kamu!! Dan aku juga tahu apa yang kamu rasakan. Tapi jangan ikut campur dengan urusan pribadi aku. Kamu hanya sebagai saudara tiri, kamu gak bisa bersama dengan aku Alana. Itu juga yang membuat aku kesal, di sisi alin aku ingin kamu di sisiku, agar aku bisa menenangkan hati aku untuk bisa menerima kenyataan, tetapi itu tidak, ku tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat mereka semuanya merenggut kebahagiaanku dan Cia." jelas Joy, mengusap kepala Alana, yang masih mendarkan kepalanya di dadanya.


"Kak!! Maafkan aku!! Aku juga pernah membuat hati kamu sakit. Tapi apa kamu sudah baca surat aku, yang aku taruh di laci meja, aku mengungkapkan semua perasaanku di kertas itu." ucap Alana mendongakkan kepalanya menatap Joy.


"Kenapa kamu tidak bilang?" ucap Joy, meletakkan tangannya di ke dua pipi Alana. "Aku tidak tahu jika kamu memberikan surat padaku. Aku kira kamu sudah lupa dengan kamu, dan pergi begitu saja!!" ucap Joy.


"Aku meninggalkan ponsel yang kamu berikan dulu padaku di laci meja belajarku, bersama dnegan surat itu!!"


"Aku gak masuk ke dalam kamar kamu, semenjak kamu pergi. kepergianmu, aku selaku bersama dengan Amera, meluangkan waktu bersama. Agar aku bisa melupakanmu."


"Dan kami berjanji akan menikahinya, apapun yang terjadi.!!"


"Iya, aku akan menikahinya nanti. Dan kamu akan selaku aku cinta," ucap Joy.


"Maksud kamu apa kak?" tanya Alana.


"Aku tidak mau jika kamu pergi dariku. Aku sangat menyangimu. Dan kamu tidak boleh menikah dengan siapapun jika bukan dengan aku. Dan aku akan menikahi Amera hanya sebatas menepati janji, san biarkan au beberapa bulan menikah dengannya, dan langsung memutuskan pernikahan itu, aku akan mencari kamu dan menikahi kamu " ucap Joy, mengusap ke dua pipi Alana lembut, membuat wanita itu terdiam, terbius dengan tatapannya yang melelehkan hatinya.


"Tapi kita tidak bisa menikah!!" ucap Alana.


"Kenapa? Apa kamu gak mau menikah dengan aku, tau kamu akan menikah dengan Miko, kekasih kamu itu? Atau dnegan David?" tanya Joy menggebu, pandangan matanya mulai tajam, penuh emosi dalam setiap nada bicaranya.


Alana hanya diam, tersneyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Seakan sudah memebrikan jawaban untuk Joy. Jika dia tidak memilih di antara mereka.


Joy segera melepaskan ikatan tangan dan kaki Alana. Dia mencoba berbicara baik-baik dengannya, tanpa harus menyakiti dia lagi.


"Jika kamu ingin tahu jawabannya?" rabya Alana.


"Iya, apa alasan kamu tidak mau meniakh dnegan aku?"


"Aku meniakh dengan kamu atau tidak, biarkan takdir yang menjawabnya. Aku juga ingin fokus dengan sekolah dan karir aku lebih dulu. Aku gak mau menunda-nunda lagi, aku ingin segera punya usaha sendiri atau apapun!!" ucap Alana, memegang ke dua tangan Alana.


"Apa kamu akan pergi jauh dari kehiduapn aku?" tanya Joy, dnegan mata sekana herharap jika Alana tidak jauh darinya.


"Kenapa kakak bilang begitu. Bukanya kak Joy marah denganku dan tadi kanu sangat emosi melihatku, dan kenapa kak Joy juga memisahkan aku dengan ibu aku. Apa sebenarnya yang kak Joy inginkan dariku, apa emang kak Joy mau menyakitiku, membuat aku menderita agar semua orang tahu jika aku adalah anak orang yang merebut kebahagiaan keluarga kamu!!" jelas Alana tanpa rasa marah sama sekali dalam bicaranya.


"Jangan pergi!!" ucap Joy yang sudah melepaskan semua ikatannya, ia memeluk tubuh Alana sangat erat. Ia mencoba mengungkapkan isi hatinya, tanpa rasa canggung dalam dirinya.


"Aku minta maaf, aku lakukan semuanya agar kamu tetap di sisi aku. Aku gak mau pergi jauh dari kamu." ucap Joy, yang masih memeluk erat tubuh Alana, dan pelukannya semakin erat.


"Aku tetap akan pergi, kak. suatu hari nanti kan, kita kuliah di tempat yang berbeda. Dna punya asa depan yang berbeda. Jadi jangan seolah kita akan bisa dekat lagi. Dan ingat, kakak juga harus membuktikan pada papa kamu, akan bisa menunjukan gimana kamu bisa hidup sukses jika tanpa papa sama sekali.," ucap Alana memberikan semangat untuk kakaknya. Alana tersenyum, memegang ke dua bahu Alana. Dan di balas dengan senyuman oleh Joy, ia mengernyitkan matanya, menahan rasa sakit tangannya, bahkan darah segarnya terus menetes, jatuh ke lantai putih, bahkan sudah sampai mengering, ia menyembunyikan tangan kanannya, di belakang sofa, agar Alana tidak melihat dia menahan sakit tabganya, yang tak sebarapa di bandingkan dengan sakit hatinya.


"Baik, aku juga akan buktikan pada kamu. Suatu hari aku akan mencari kamu, di manapun kamu berada aku akan tetap mencari kamu, sampai bertemu dengan kamu, walau aku harus mencari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati kamu," ucap Joy, mencium lembut kening Alana, membuat hati gadis di depannya itu perlahan luluh dengan kecupan lembutnya, berbeda dari biasanya Joy yang kasar dan sangat nafsu denganya.


"Kak Joy!!" ucap Alana, menatap wajah joy yang nampak menahan sakit.


"Apa luka kak Joy gak kenapa-napa?" tanya Alana memastikan, mencoba meraih tangannya, namun Joy semakin menyembunyikan di belakang punggungnya. Dan Alan tidak menyerah begitu saja, ia beranjak berfikir, menatap ke bawah lantai putih yang sudah di penuhi dengan darah, membuat ke dua mata Alana terbelalak seketika.


"Ini yang kamu bilang gak apa-apa?" tanya Alana kesal.


"Aku gak napa-napa, jangan khawatir padaku!!" ucap Joy, kembali menegaskan.


"Kakak bilang gak apa-apa jika sudah keluar darah sebanyak ini. Ini harus di obati, kak" Alana mencoba meriah tangan kanan Joy, namun Joy tetap saja menyembunyikan tangannya, tak mau Alana melihat dan menyentuh tanganya.


"Sudah jangan khawatir, ini hanya luka kecil. Nanti juga akan sembuh sendiri.


"Gimana aku gak khawatir, kamu mengeluarkan begitu banyak darah kamu hilang gak apa-apa. Apa nunggu sampai kamu kehabisan darah baru kamu hilang jika kamu sakit!!" berdecak Alana kesal, dengan raut wajah yang mulai muram, menatap tajam ke arah Joy.