My First Love

My First Love
Bertemu Ian part 2



Alvin bergegas mengambil kursi roda di gudang. Ia tidak mungkin jika menbiarkan Keyla berjalan sendiri nanti.


"Kita cari kemana?" Tanya Keyla, menatap ke arah Ian dan Sheila yang terliaht sangat bingung. 


"Ma! Pa! Ada apa?" Tanya Joy, yang mendengar keributan. ia bergegas turun tadi. Ia tidak tahu jika keributan itu adalah hilangnya David. lagian dia juga tidak begitu perduli, Ia juga tidak dekat dnegan David. Dia lebih dekat dengan Cia. 


"David gak ada!! Dia pergi entah kemana? Apa kamu gak tahu, dia pergi kamana?" Ucap Alvin, yang mulai bingung. 


"Kamu bantu mereka cari David ya, kasihan. Sia adalah anak teman aku, aku gak mungkin tega membiarkan dia kenapa-nala, lagian dia juga tidak tahu daerah sini, syang!!" ucap Keyla, memegang tangan Alvin. 


"Iya, syang!! Lagian aku juga sekarang belum begitu sibuk. Aku akan bantu dia,"


David pergi, kenapa bisa bersamaa dengan Alana. Apa mereka pergi berdua. Tapi apa benar mereka pergi berdua. Kalau gitu Alana gak pergi ke inggris, aku yakin dia pasti ke Sydney sekarang. Tapi lebih baik aku dengan penjelasan dari mereka dulu. Baru menyimpulkan nantinya .


"Aku gak tahu, coba kita lihat saja di kamarnya. Siapa tahu jika nanti dia meninggalkan surat atau petunjuk lainya," ucap Joy mencoba memberikan solusi pada mereka semuanya. 


"Baiklah, kita cari ke sana."


Keyla tiba-tiba teringat dengan Alana, pikirannya tiba-tiba berkecamuk. Dengan perasaan cemas khawatir jadi satu. 


Ddrrtttt.. drttt.


Ponsel Alvin berbunyi, di balik saku celananya. Ia segera mengambil ponselnya. Menatap suapa yang telepon. 


"Siapa yang?" tanya Keyla. 


"manajer aku! Pasti ada pekerjaan mendesak." ucap Alvin, yang segera beranjak menjauh dari Keyla. Bergegas untuk mengangkat teleponnya.


Keyla menatap Ian, di saat seprti ini dia terlihat sangat baik. Tapi dalam sekejap, kemarin malam dia benar-benar menggila. Seperti bukan Ian yang sebenarnya. Sebenarnya kamu kenapa Ian, apa masalah kamu denganku. kenapa kamu begitu membenciku, bahkan sampai mengucapkan berkali-kali ancaman padaku.


Ian yang sadar ada yang memperhatikannya. ia menoleh ke samping. Menata Keyla, yang diam-diam memperhatikannya. Membuat laki-laki itu tak bisa tersenyum. 


"Apa kamu mau menggodaku, Keyla. Aku yakin kamu pasti menikmati tadi malam. Dan akan meminta lagi padaku, aku akan tunggu, saat suami kamu gak ada nanti." ucap Ian dalam hatinya, tersenyum simpul, dan segera beranjak pergi, menuju ke kamar David, ia menuntun istrinya yang sangat terpukul. Apalagi David sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Mama, kenapa?" tanya Joy, menatap Keyla yang sudah duduk di kursi roda, di bantu ayahnya tadi. 


"Gak napa-napa, hanya terpeleset di toilet tadi. Mama saja yang kurang hati-hati." ucap Keyla mencoba tersenyum di depan anaknya.


"Ya, sudah. Aku sekadang mau pergi, bentar. mau ajak Amera pergi boleh ma?" tanya Joy pada Keyla. 


"Boleh, jangan lama-lama keluarnya.'


"Siap ma!!" Joy bergegas pergi, ia membiarkan Alana menghilang dari pikirannya. Semenjak Alana, pergi tadi pagi, ia sudah berniat tidak akan mau jika bertemu dengannya, tapi jika aku tidak bisa melupakannya nanti. mungkin akan jadi cerita tersendiri nantinya.


"Syang, Joy mau kemana?" tanya Alvin, beranjak mendekati Keyla. 


"Dia mau ajak Amera keluar." jawab Keyla. "Oya, gimana yadi. Apa yang manajer kamu bicarakan?"


"aku harus pergi ke London sekarang. Sudha hampir 2 minggu, aku tidak di kantor. Banyak yang harus di urus. Kanu gak apa-apa kan di sini Atau nanti kamu bisa pergi ke London bersama Cia, Sekalian antar dia kuliah di sana.


"Apa gak bisa di wakilkan?" tanya Keyla, ia masih sangat takut kejadian itu terulang.


"Gak bisa syang. Banyak Client yang complain nanti. Kamu jangan khawatir. Aku sudah menyuruh orang menyiapkan semua pendaftaran Cia kuliah di London. Jadi kamu bisa cepat pergi ke sana."


keyla dengan berat hati, gimanapun juga ia harus menerima kenyataan, jika Alvin akan pergi bekerja lagi. Ia menarik napasnya dalam-dalam, menghilangkan rasa ragunya. 


Aku pasti bisa melindungi diri aku, masih ada Joy dan orang tua ku di sini.


"Oya, Orang tua kamu di mana, Syang?" tanya Keyla, yang dari kemarin tidak melihat orang tuanya. 


"Biasa mereka menghabiskan hari tua bersama. Ingin jalan-jalan ke luar negeri sayang. Keliling dunia, lagian ini juga keinginan mereka. Biarkan saja syang, mereka sudah berangkat kemarin malam. sopir yang antar, saat kita sudah tidur."


"Ya, udah, kamu berangkat kapan?" tanya Keyla. 


"Manajer aku sudah memberikan aku tiket, jadi aku berangkat sekarang. Pesawat akan take off satu jam lagi."


"Maaf ya, syang. Sekarnag aku siap-siap dulu. Bereskan semua barang-barang. Aku. Nanti biar Bi Inem yang bantu kamu berjalan." 


'Aku vantu kamu, si akamr saja ya."


"Bukanya kamu mau cari Alana. Kamu ingin bertemu dengannya kan. Aku akan kembali nanti. Jika semua pekerjaan sudah selesai, aku akan jemput kamu dan Cia." ucap Alvin, mencium kening Keyla dan bergegas pergi meninggalkannya. Berlari kenuju ke kamarnya, Keyla mendorong kursi rodanya. Mencoba untuk mencari Bi Inem.


"Kamu mau kemana?" tabya Ian, seketika membuat Keyla terdiam, dengan tubuh gemetar. Entah kapan dia lewat, tiba-iba sudha berdiri di belakangnya.


"Bukan urusan kamu!!" jawabnya jutek, mencoba untuk mendorong kursi rodanya lagi, dan bergegas pergi..


"Aku akan bantu kamu, mungkinsekarang suami kamu lagi sibuk dengan selingkuhnya. Apa kanu yakin jika dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu lagi. Aku yakin jika dia bertemu dengannya lagi, pasti diam-diam, Alvin mencarinya." bisik Ian, 


Degg....


Tiba-iba ia berpikir ada benarnya juga yang di bilang Ian. Kenapa tidak berpikir sejauh itu. Lagian Ian juga tidak mungkin tahu, jika dia mencoba mencari tahu semua tentang Alvin.


"Apa kamu punya buktinya?" 


"Bukti jika suami kamu selingkuh?" tanya Ian. 


"Iya, jika kamu ounya buktinya. Tunjukan padaku nanti." ucap keyla. Menarik kursi rodanya menjauh dari Ian. 


"Baiklah, aku akan buktikan padamu. Kamu tahu suami kamu selingkuh Pasti akan terluka. Dan aku gak akan mungkin bisa hidup tenang jika kamu bahagia Keyla. Bukanya kamu dulu suka denganku." ucap Ian, membuat Keyla menghantikan kursi rodanya. 


Ian duku yang aku kenal, bukan seperti ian yang sekarnag. Dulu kamu pendiam, dan sangat cuek terhadap wanita. Bahkan tak oernah tersentuh oleh wanita. Ksnapa kamu bisa berubah seperti ini. Aku suka kamu yang dulu,"


"Terus aoa aku kembali seperti sifat aku yang dulu. Apa kamu mau kembali lagi dneganku."


"Aku gak mau bahas itu sekarang, bye.." 


"Bi Inem!!" Keyla terus berteriak memanggil bi Inem 


"Iya, nyonya." ucap bi Inem berlari menghampiri Keyla. 


Ia yang merasa kesal, beranjak pergi meninggalkan Keyla. Dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar David, istrinya sudah menunggu dirinya duduk di ranjang, dengan air mata yang sudha tak bisa terbendung lagi.


------


Sedangkan Keyla, ia ingin mencari Alana. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Saat mendengar kabar David kabur.


"Bi, antarkan aku ke kamar Alana." ucap Keyla.


"Maaf, nyonya. Sya baru saja mengetuk kamar, Non Alana. Tapi gak ada jawaban dari tadi.c


"Apa.kamu sudah lihat dia tidur atau mandi?"


"Saya gak berani nyonya."


"Baiklah, antarkan aku ke sana sekarang. Kau ingin cari tahu di mana Alana." Keyla mulai cemas dan khawatir jadi satu. Dan Joy tadi juga tidak bilang apa-apa padanya.


Bi Inem membantu Keyla berjalan menaiki anak tangga. "Nyonya kenapa gak bisa jalan?" tanya Bi Inem.


"Terpeleset Bi," 


"Apa perlu aku burut nyonya nanti. "


"gak usah bi, nanti juga sembuh."


"Tapi..."


"Udah gak apa-apa bi, nanti juga 2 atau tiga hari pasti sembuh." ucap Keyla.