
Keesokan hari nya keyla bekerja seperri biasanya. Kali ini ia masih belum memutuskan bagaimana langkah selanjutnya untuk menyelesaikan masalah perusahaan nya. Fikiran nya sudah tak bisa menjangkau lagi untuk urusi semua masalah nya dalam waktu hanya beberapa hari saja.
Keyla terlalu banyak fikiran membuat ia tak bisa lagi berfikir jernih. Ia selalu ke bawa emosi saat mengingat kejadian dengan ian atau tentang perusahaan itu.
Ia itu pasti ian yang berencana menghancurkan perusahaan nya. Ian merasa marah pada keyla telah mencapakan nya. Ia ingin berbuwat apa saja agar keyla bisa kembali pada nya. Dan kini ia hanya bisa mengendalikan pasar saham perusahaan keyla agar terus menurun dan gulung tikar.
Kini keyla berjalan sangat lesu badan nya terasa lemas ia berjalan masuk ke kantor tanpa ekspresi apapun di wajah nya nampak kusut dengan langkah kaki seakan di seret paksa untuk masuk.
Keyla terlihat sudah tidak ada daya lagi untuk berdiri tegap. Wajah nya tak seceria biasa nya. Ia berjalan tanpa menyapa para pegawai yang berdiri menyambut kedatangan nya.
Ia mulai duduk di kursi kerja nya dengan dengan wajah lesu.
" miss maaf mengganggu ada seseorang yang mau membeli perusahaan kita dengan harga sangat tinggi, itu akan membuat kita bisa menutupi semua kerugian yang kita dapatkan dari invlasi saham itu" ucap pegawi keyla berdiri di samping nya.
Keyla nampak sudah tak berdaya lagi, ia merasa sangat lelah untuk berfikir lagi. Kali ini keyla sudah mulai pasrah untuk menjual perusahaan alvin dan pulang ke Landon. Mungkin itu awal yang baik buwat keyla untuk menghindari ian dan memulai hidup baru di landon dengan ke dua anak nya.
Dan bisa menenangkan diri di sana bersama ke dua anak nya. " baiklah , kamu siapin semua berkas kamu jual perusahaan kita. Dan kamu jika tidak bekerja dengan saya lagi tolong jaga perusahaan ini agar semakin berkembang entah siapa yang memegang perusahaan ini nanti nya. Tapi jika ian yang memebeli perusahaan ini lebih baik kamu batalkan semua" ucap keyla dengan pandangan kosong matanya memutar melirik seisi rungan nya.
" baik miss, tapi si pembeli ini bukan dari ian ada perusahaan terbesar di Paris yang baru berkembang pesat jauh melampaui perusahaan ian. Dan dia ingin membeli perusahaan kita karena mereka tahu perusahaan kita rugi. Namun ia tetap menjalankan perusahaan kita seperti sistem yang kita lakukan selama ini" ucap pegawai keyla .
Keyla sontak tersadar dari pandangan nya yang terus kosong. Ia mulai semangat lagi mendengar ucapan pegawai nga itu. Ia menatap pegawai yang masih berdiri di samping nya.
" siapa yang beli perusahaan kita" ucap keyla beranjak berdiri memegang ke dua bahu pegawai nya.
" dia merahasiakan nama nya miss, tapi yang saya tahu dia pengusaha muda mungkin seumuran dengan ian" ucap pegawi keyla dengan rasa gugup. Ia takut jika keyla marah dengan nya.
Perlahan keyla melepaskan pegangan tangan nya di bahu pegawai nya. Ia duduk kembali dengan tatapan kosong di mata nya. Ia merasa sudah tak sanggup menjalankan amanah dari alvin untuk menjaga perusahaan nya. Kini ia harus rela menjual perusahaan ini agar perusahaan alvin ini masih bisa berkembang meskipun di tangan orang lain.
Ya selagi masih ada yang mau beli perusahaan ini di saat harga saham perusahaan keyla turun drastis. Kini sudah mulai turun hingga 10% . Hal itu yang membuat keyla semakin syok melihat itu semua. Ia tidak menyangka perusahaan yang di bangun berdua dengan alvin kini harus mengalami kerugian yang sangat besar.
" baiklah kamu segera kekuar siapkan semua berkas dan bawa ke sini aku akan segera tanda tangani semua" ucap keyla
Pegawai itu bergegas keluar untuk persiapkan semua dokumen penting perusahaan yang di bilang keyla. Kini keyla harus merelakan semua nya. " alvin maafkan aku tidak bisa meneruskan perusahaan ini" ucap keyla beranjak berdiri. Ia berjalan mengelilingi ruangan nya dengan tangan menyentuh deretan barang barang yang tertata rapi di ruangan nya.
Sebenar nya ia tidak ingin melepaskan semua nya namun apa boleh buwat ia harus angkat kaki dari perusahaan nya.
Tak lama ian datang tanpa permisi ia masuk begitu saja ke dalam ruangan keyla.
" bagaimana, aku bisa membeli perusahaan kamu tapi dengan satu syarat kamu harus mau jadi istriku" ucap ian berjalan mendekati keyla dengan tatapan mengancam.
Keyla sontak terkejut melihat ian tiba tiba masuk ke dalam ruangan nya di saat fikirannya sedang kacau ian datang tiba tiba dan buwat masalah lagi dengan keyla.
" apa sebenar nya mau kamu?" Ucap keyla bergegas duduk di kursi kerja nya.
" aku mau kamu jadi istriku, ku akan kembalikan perusahaan ini pada kamu" bisik ian tepat di telinga kiri keyla.
keyla menepis tangan ian dari dagu nya. " ingat sampai kapan pun aku tidak mau jadi istri kamu" bentak keyla.
" jangan bodoh aku tahu kamu sedang kesulitan, kamu pikirkan dulu mau jadi istriku atau aku biarkan perusahaan ini gulung tikar" ucap ian berdiri di samoing keyla.
Keyla menarik kerah ian mendekatkan bibir nya ke telinga kanan ian. Keyla berbisik sesuatu pada nya agar para pegawai tidak mendengar apa yang mereka katakan.
" memang nya di sini hanya kamu orang kaya, ingat kamu memang bisa mengatur semua. Karena kamu yang biwat saham aku jadi anjlok. Itu akibat permainan mu agar aku mau kembali padamu lagi. Aku bukan anak kecil yang terpancing dengan bujuk rayumu lagi. Ya mungkin kemarin aku terlalu bodoh . Sekarang aku sudah sadar apvin juga selalu menantiku" ucap keyla mendorong pelan pundak ian.
" baiklah aku mau tahu sampai kapan. Kamu bisa bertahan. Dan jangan lupa buka kado yang aku berikan padamu kemarin waktu kamu ulang tahun bermesraan dengan dalvin. Jika alvin memang hidup pasti dia akan marah" ucap ian beranjak pergi meninggalkan keyla .
Keyla melemparkan tubuh nya ke jursi di samping ia berdiri. Ia merasa kepalanya ingin pecah berbagai masalah bertubi tubi mulai muncul lagi. Tak lama seorang pegawai datang membawa semua dokumen penting kantor. Ia segera menadatangani segera keoutusan nya untuk menjual perusahaan itu sudah bulat. Ia lebih yakin perusahaan itu di pegang dengan orang lain dari pada ian.
-----------------00------------------
Di sisi lain sheila memergoki ian datang ke kantor kayla lagi. Ia merasa sangat marah suami nya selalu mengganggu istri orang. Dan tak pernah sekalipun menganggap istri sah nya.
" kenapa kamu datang lagi ke sini" ucap sheila menunjuk ke wajah ian.
" bukan urusan kamu, sekarang cepat kita oulang" ucap ian menarik kasar tangan sheila masuk ke dalam mobil.
Ia sejak sheila melakukan hal bunuh diri itu. Ian memutuskan untuk membawa sheila ke rumah nya.
" aku mau turun" teriak sheila yang sudha tidak taham lagi. Kini hati nya sering terguncang membuat ia hilang ke sadaran dan kadang berubah menjadi orang tidak waras.
Sheila berlari turun menuju kejembatan. Ia menaiki tjembatan itu dan merentangakan tangan dengan ke dua mata terpejam menikmati sementar angin sepoi sepoi saat malam hari.
Ian yang terlihat dingin cuej ternyata ia juga perduli dengan keyla. Ia berlari mengikuti keyla.
" sheila kamu jangan bodoh" teriak ian dari bawah jembatan itu.
Sheila tetap tidak mendengarkan ian, ia tetap berdiri di atas jembatan. Hati nya merasa sangat terpukul . Ian tidak penah menganggap nya. Di dalam hati ian hanya ada nama keyla . Keyla. Dan keyla. Ia sekalipun tidak penah menyebut nama nya.
Sebagai istri ia merasa dirinya tidak di hargai. Ia tidak pernah merasa bahagia meskipun sudah menikah selama 10 tahun. Ian tidak penah menatap nya sama sekali. Memabdang hanya sekilas saja ia gidak pernah seolah ian sangat jijik dengan sheila.
Namun di sisi lain ian merasa sheila sangat menvjntai nya. Namun hati nya tetap untuk keyla dan tidak bisa di rubah lagi dengan cinta lain. Tapi ia sebanrnya juga tidak tega melihat sheila terus tersakiti karena ulah nya. Karena mereka dulu adalah sahabat masa kecil. Dan persahabatan mereka melebihi saudara kandung dan kini sheila jadi istri sah ian.
Namun hanya sebagai istri pajangan yang tanpa di sentuh sama sekali. Meski ian merasa sering di sakiti dengan sheila karena selalu merusak hubungan ian dengan keyla namun ia tidak tega terlalu marah dengan sheila. Dan kini ian melihat sheila sangat terpuruk lama lama ia mengindap ganguan mental.