My First Love

My First Love
Perhatian Joy



Joy segera, membawa mobilnya pulang ke rumah. Semua sudah mengkhawatirkan dirinya dan Alana. Sudah dari jam setengah dua belas aku pergi belum pulang"


Joy menghentikan mobilnya, di sebuah taman. Ia beranjak ke kursi belakang menatap ke arah Alana. Joy memegang ke dua yangan Alana.


"Apa kamu beri kesempatan kakak kamu ini bentuk jadi pacar kamu" ucap Joy. Seketika membuat Alana bingung.


Ia tidak tahu apa yang harus di lakukan, apalagi Joy telah berbuat bodoh dengan adiknya. Yang tidak bisa Ia pikirkan. Saat Alana hamil nantinya. Gimana nasibnya pendidikannya.


Joy, mengusap lembut pipi Alana, di balas dengan sentuhan lembut tangan Alana. "Kak, makasih. Makasih telah datang. Jika tidak entah aku munhkin bisa magi kedinginan. Tapi kenapa bisa kakak membuat aku merasa hangat saat tubuh aku mengigil hebat. Bahkan nyawaku hampir di ujung tanduk. "


"Udah gak usah di oikirkan itu, yang penting kamu selamat sekarang." ucap Joy bergegas kembali ke kursi depan. Ia mulai mengemudi mobilnya lagi pulang ke rumah.


Tak bituh waktu lama Alana dan Joy sampai di rumah. Dan di sambut dengan senyum senang dari orang tuanya. Mereka memeluk erat Alana.


"Alana kamu baik-baik saja kan?" tanya Keyla, melihat sekujur tubuh Alana. Ia melihat ada yang lecet atau tidak.


"Ma, aku baik-baik saja. Jangan khawagirkan aku. Sekarang aku mau istirahat dulu. Badanku vaoek banget ma. Alana mau istirahat. Kalau mau tanya-tanya oada Alana nanti saja ya ma, tante, om, Papa. dan semuanya. Aku benar-benar pusing sekarang. Aku gak bisa jawab apa-apa lagi." ucap Alana.


"Baiklah, kalai begitu, kamu cepat istirahat. Jangan sampai kamu kenapa-napa nantinya. Mama khawatir denganmu, Na."


"Tapi, nanti kamu harus mandi dulu. Jangan langsung tidur ya. Dna kamu Joy. Kamu juga mandi. Bdan kamu masih basah gitu."


"Iya, Ma"


"Aku je kamar dulu Ma, Om, tante, papa" ucap Alana, bergegas pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Alana, maaf aku langsung masuk. Kamu mau makan apa. Dan sekalian nitip buku gak?" tanya Cia.


"Emangnya kalian semua mau kemana?" tanya Alana.


"Kami mau keluar, belanaja kuas, kuas aku habis. Taoi tenang saja aku hanya bentar kok. Joy, dan bi Ijah juga ada di rumah." ucap Cia.


"Iay, sudha sekalian belanjakan aku buku" ucap Alana.


"Baiklah, buku apa?" tanya Alana memastikan.


"terserah kak? yang penging buku yang bisa di baca. Soalnya sudah lama agk gak belu buku. Dan sekalian kalian kelar aku mau bilang pada kalian." ucao Alana.


"Baiklah!!" ucap Cia bergegas pervi meninggalkan Alana.


Merasa sudah pergi, Alana bergegas menuju kamar mandi membasuh tubuhmya yang terasa lengket.


Alana berendam dalam bathup kamar mandi, ia menurtup matanya, merasakan sensasi air hangat yang membuatnya bisa tertidur pulas


Setengah jam kemudian, Alana bergegas keluar dari kamar, mandi Ia menghusap kepalnya uang masih terasa basah dengan handuk kecil di tangannya. Langkahnya terhenti saat melihat Joy terbaring di kamarnya.


"kak Joy?" gumam Alana. "Kamu sekarang mau bilang apa lagi?"


"Aku gak bialng apa-apa, aku hanya ingin ke sini. Sekalian mau kasih igu di meja. Aku buatkan kamu susu. kamu minum, mau gak mau, kamu harus mai meminumnya.


"Kak!! Ucap Alana berjalan mendekati Joy. Dan duduk di sampingnya.


"Ganti baju sana. Apa perlu kakak kamu ini yang pakaikan kamu baju." ucap Joy, dengan nada tingginya."


"IyaN bentar kak" hcap Alana. Joy uang tidak sabar, berjalan menuju lemari Alana, mengambil benerapa pakaian dalam Alana. "Ini cepat ganti Alana keburu dingin nantinya. Aku hak mau kmau kedinginan lagis seperrti kemarin" ucap Juy, terlihat sangat khawatir dengan Alana. Ia seakan trauma melihat Alana sampai ke dinginnan lagi. Atau masih terlihat ada air di tubuhnya Joy terlihat sudah sangat panik.


Alana tidak marah dengan kakaknya, ia menarik miliknya di tangan Joy. dan segera memakainya.


"Kamu ganti di kamar mandi saja, nanti aku ambilkan baju kamu" ucap Joy.


Alana hanya menganggukkan kepalanya. dan menuruti apa yang di katakan Joy. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi .


"Kenapa aku merasa sakit pada bagian ini. Apa yang terjadi padaku. Dari kemarin rasanya sakit." batin Alana.


"Alana, ini bajunya. Aku selipkan di pintu. Tangan aku masuk ke pintu" ucap Joy.


Alana segera menhambil bajunya, tanpa banyak tanya lagi. ia segera memakainya. Dalam hitungan menit. Dan bergegas membuka pintunya, berjalan mendekati Joy yang duduk membaca buku di sofa kamarnya.


"Kak Joy, aku kira kamu sudah pergi" ucap Alana, berjalan menghampiri Joy.


"aku nunggu kamu, mau belajar bersama lagi. Dari kemarin aku gak konsen belajar di sekolah. Itu juga gara-gara kamu Alana. Aku terlaku mikirin kamu jadinya aku gak konsen. " ucap Joy, tanpa memperhatikan wajah Alana sama sekali.


"Ya, sudah. emangnya kakak mau belajar apa?" tanya Alana.


"Semuanya, Na. Lagian ajak Cia belajar juga gitu. Dia malah dekat sama David terus. Katanya mau belajar melukis" ucap Joy kesal.


"Sepertinya kak Cia, suka sama David." ucap Alana.


"David si pendiam itu. Apa yang di sukai dari dia" ucap Joy, yang masih fokus dengan bukunya.


"Dia itu pendiam, sepertinya ada masalah yang ia sembunyikan. Tapi kalau sama kak Cia, sepertinnya dia benar-benar baik. Bahkan mau ajari Kak Cia melukis." ucap Alana.


"Via itu gak bisa gambar, ajarai dia itu benar-benar harus dari nol" ucap Joy. "Mencoba meraih tangan Alana, menariknya duduk di sampingnya.


"Kamu duduk. Dan diam!!" ucap Joy, melirik sekilas ke arah Alana.


Joy membaringkan tubuhnya di sofa, meletakkan kepalanya di ke dua paha Alana. Dengan pandangan mata menatap ke wajah Alana dari bawah.


"Kak, Joy. Jangan seperti ini" ucao Alana yang merasa sangat risih.


"Udah hanya menyandarkan kepala saja" Joy memegang dagu Alana, tersenyum tipis. Lalu kembali menatap bukunya lagi.


"Aku boleh pinjam sebentar ya, aku mau belajar. Jadi jangan banyak gerak tetaplah begini" ucap Joy.


Alana hanya diam, menuruti apa kata Joy. Entah kenapa, perasananya sangat dalam, semakin dalam dengan kakaknya. Ia juga tidak tahu mulai kapan. Alana mengangkat tangannya, mencoba menyenguh pipi Joy. Namun, ia takut. Dan mengurungkan niatnya kembali. Ia menurunkan tangannya.


Joy yang sadar, memegang tangan Alana, meletakkan di dadanya. "Rasakan detak jantungku. Maka kamu akan mengerti apa yang kau raskana padamu" ucap Joy pada Alana. Tanpa melirik ke arahnya.


Alana diam, meraskan detak jantung Joy, benar-benar sangat cepat. Sama seperti apa yang ia rasakan. Apa perasaan terlarang ini akan bertahan lama. Entahlah, biarkan waktu yang menjawab semuanya. Meski beda ibu, tapi ini gak boleh. Kecuali aku gak ada hubungan darah dengannya. Ini gak boleh Alana.. gak boleh...


Alana menggelengkan kepalanya pelan. Melupakan semua yang ada di pikirnya.


"Alana, kalau seumpama kita pacaran gimana?" tanya Joy, seketika membuat Alana tersendak ludahnya.


"Apa?Kak Jiy jangan bercanda. Aku tidak suka dengan kak Joy. Dan kita itu saudara . Jadi jangan bicara itu lagi. Aku gak mau orang rumah ada yang mendengarnya." ucap Alana.


"Kalau kamu gak suka dengan aku, kenapa kamu amu pergi ke danau, dan hujan-hujan sampai menunggu aku datang. Dan kamu sangat mengharapkan aku datang. Aku tahu kamu rela melakukan itu semua karena aku. Aku yakin jika kamu gak mungkin gak punya rasa sama dengan aku" ucap Joy, beranjak duduk, menutup bukunya, menatap ke arah Alana.


Joy, tersenyum. Melihat wajah Alana yang terlihat sangat serius memikirkannya. Joy segera mengambilkan susu yang ia buat tadi, memberikan pada Alana. "Minumlah!!" ucap Joy, mengulurkan satu gelas susu itu padanya.


"Masih hangat, cepat minum. Biar tubuhmu bisa fit lagi" lanjutnya


Alana segera mengambil susu itu, lelu meneguknya sampai gabis, menghilangkan rasa gugup dalam dirinya. Saat berhadapan dengan Joy terus seperti ini.